HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 99. Mencari Bukti


__ADS_3

Ustadz Alzam meraup wajahnya kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghidupkan mesin mobil.


Baru saja menghidupkan mesin mobil ponselnya terdengar berdering. Ustadz Alzam mengurangkan niatnya untuk menjalankan mobil dan memilih menerima telepon dulu barangkali ada hal yang penting.


"Sarah." Ustadz Alzam memeriksa ponselnya dan ternyata Sarah yang menelpon.


Ustadz Alzam nampak berpikir sekilas dalam hati mengira pasti wanita itu sudah tahu tentang kedatangan Bintang ke toko dan memukul dirinya.


"Tapi tahu dari siapa dia? Bukankah aku sudah berpesan kepada Nanik agar tidak memberitahukan pada Sarah? Apa mungkin Mega? Astaghfirullah hal adzim."


Daripada berburuk sangka ustadz Alzam langsung mengangkat telepon Sarah.


"Assalamualaikum, ada apa Sarah?"


"Kak, kak Alzam tidak apa-apa?" terdengar suara bernada kuatir dari balik telepon.


"Jawab dulu salamnya Sarah!" Ustadz Alzam mengingatkan.


"Waailaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, maaf Kak saya terlalu terburu-buru bicara karena sangat menghawatirkan kakak."


"Tidak apa-apa."


"Kak Alzam tidak apa-apa?" ulang Sarah pertanyaannya tadi.


"Alhamdulillah saya masih baik-baik saja."


"Kak, Kak Alzam ada masalah? Kenapa tidak bicara pada Sarah?"


"Masalah apa sih Sarah? Kakak baik-baik saja kok."


"Kak Alzam jangan berbohong. Kak Alzam ditolak tadi kan di acara yang mengundang kakak. Mereka tidak mau kan mendengarkan ceramah Kak Alzam karena menganggap kak Alzam itu pembinor." Terdengar nafas berat Sarah setelahnya dari dalam telepon.


"Kau sudah tahu semuanya?" Ustadz Azam pasrah. Tidak mungkin menutupi sesuatu yang memang sudah tidak bisa ditutupi.


"Sarah tahu semuanya Kak dan pemicunya adalah video saat Kak Alzam menggendong Mentari di malam itu saat Mentari pingsan itu kan Kak, apa ada waktu yang lain lagi?"


"Menurutmu?" tanya ustadz Alzam, dia merasa Sarah mencurigai dirinya bahwa dia pernah mengendong Mentari di waktu yang lain.


"Kak Alzam tahu apa maksudku."


Ustadz Alzam menggeleng. "Sudahlah kalau kau tidak percaya padaku." Ustadz Alzam hendak mematikan sambungan teleponnya.


"Kak!" seru Sarah lagi, dia tahu kakaknya itu pasti akan mematikan ponselnya. "Iya aku percaya sama kakak. Video yang beredar di medsos itu adalah video malam itu," ucap Sarah kemudian.


"Ya sudahlah kalau kamu sudah paham."


"Loh kok kakak malah diam saja dibegitukan? Tidak mau mengklarifikasi?" tanya Sarah heran.


"Sudahlah Sarah percuma, kita tidak punya bukti untuk mengelak. Nanti saya minta saja rekaman cctv lengkap dari petugas di gedung apartemen itu."


"Dan saya akan mengumpulkan wartawan agar kakak bisa mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar dan hanya fitnah semata. Siapa sih orang yang telah berani memfitnah kakak? Ingin rasanya kuhajar habis-habisan tuh orang."


"Assalamualaikum." Ustadz Alzam langsung menutup sambungan telepon saat mendengar suara Sarah yang bernada amarah.

__ADS_1


"Ah malah ditutup lagi." Sarah jadi kesal sama kakaknya sendiri.


"Kenapa Sarah?"


"Fin antar aku yuk!" ajak Sarah pada salah satu temannya.


"Kemana Sar?"


"Sudah ayo jangan banyak tanya!"


Perempuan yang dipanggil Fin itu pun mengangguk dan berjalan menuju mobilnya. Setelah duduk di kursi kemudi dia langsung mengemudikan mobilnya menuju tempat yang diperintahkan Sarah.


Di tempat lain ustadz Alzam segera mengemudikan mobilnya. Sebelum pulang ke rumah dia terlebih dahulu mampir ke gedung apartemen di mana kejadian dalam video itu terjadi. Setelah bertanya-tanya pada beberapa orang akhirnya ada yang mau mengantarkan pria itu ke ruangan yang mengelola cctv di gedung apartemen itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria muda yang nampak duduk di kursi sambil menyilangkan kaki.


"Saya ingin meminta rekaman video lengkap."


"Video apa?"


Ustadz Alzam pun menceritakan rekaman yang dimaksud. Dia berusaha keras mengingat tanggal berapa kejadian itu berlangsung dan juga posisi kejadian itu dalam apartemen.


"Sebentar, Mas menginginkan rekaman lengkapnya apa Mas punya potongan rekamannya biar saya bisa cepat dalam mencarinya?"


"Sebentar." Ustadz Alzam akhirnya menelpon Sarah kembali dan meminta Sarah untuk mengirimkan video itu. Ustadz Alzam tahu pasti Sarah telah menyimpan video yang telah dilihatnya tadi.


Beberapa saat kemudian.


"Baik, akan saya cari." Pria itu tampak mengotak-atik barang di ruangannya kemudian memeriksa lewat komputer.


"Ini dia." Pria itu tampak bersemangat menemukan hal yang dicari.


"Iya itu betul Mas, coba putar dari depan!"


"Oke siap." Tangan pria itu pun lincah menari-nari di atas keyboard. Namun, tiba-tiba dia terhenti dengan kaget.


"Kenapa Mas?" tanya ustadz Alzam melihat orang di depannya kini terdiam bingung.


"Maaf Mas saya tidak bisa menemukan rekaman sebelumnya, yang ada cuma seperti video di ponselnya saja."


"Kok bisa Mas?" tanya ustadz Alzam bingung.


"Waduh saya juga tidak tahu Mas. Kemungkinan besar sebelum rekaman itu diambil cctv dalam keadaan rusak atau mungkin saja dalam perbaikan jadi rekaman sebelumnya tidak bisa ke ambil," jelas programmer cctv itu.


"Mana bisa Mas menjelaskan hanya dengan kemungkinan seperti ini. Ini sangat krusial loh Mas, hanya dengan rekaman sebelumnya itu yang bisa menyelamatkan harga diri saya." Ustadz Alzam terlihat kecewa.


"Coba Mas ingat-ingat malam itu."


Pria yang di ajak bicara ustadz Alzam tampak manggut-manggut sambil berpikir.


"Sepertinya yang bertugas waktu itu bukan saya Mas."


Keduanya tampak diam.

__ADS_1


"Iya benar Mas waktu itu bukan saya yang bertugas. Kebetulan malam tanggal itu saya menemani istri saya yang lagi lahiran," ucap pria muda tadi.


"Mas tidak berbohong, kan?" Ustadz Alzam tidak yakin dengan alasan pria di depannya sebab pria ini terlihat seperti tidak punya istri karena terlihat sangat muda.


"Mas tidak percaya? Baiklah saya tunjukkan buktinya." Pria itu mengambil ponsel setelah mengotak-atik lalu memperlihatkan pada ustadz Alzam.


"Itu buktinya kalau saat itu saya sedang menemani istri saya lahiran."


Ustadz Alzam melihat galeri ponsel pria tersebut. Terlihat di sana pria ini nampak tersenyum memegang bayi merah di samping istrinya yang terbaring sehabis melahirkan.


"Bagaimana Mas nya masih tidak percaya? Itu ada tanggal dan jam saat foto itu diambil."


"Saya percaya, kau menikah muda ya?" tanya ustadz Alzam sambil menepuk pundak pria itu.


Lelaki itu tampak tersenyum dan mengangguk. "Saya takut tidak bisa mengendalikan syahwat Mas kalau pacaran terlalu lama dengan kekasih saya. Daripada terjerumus ke lubang dosa mending saya menikah saja biar halal. Sudah dapat yang enak malah dikasih pahala lagi." Pria itu tampak tersenyum canggung.


"Bagus, memang seharusnya seperti itu. Kalau sudah mendapatkan yang cocok dan siap apalagi yang akan ditunggu?"


Pria itu tersenyum lagi. "Dan wanita dalam video tadi kekasih Mas?"


Ustadz Alzam menggeleng. "Bukan, kalau itu kekasih saya ngapain saya cari video yang terpotong sebagai bukti. Dia itu istri orang dan saya hanya menolongnya. Makanya saya minta tolong carikan video sebelum itu agar kesalahpahaman ini tidak berlanjut."


"Oh maaf Mas, saya lupa tadi. Sebentar ya saya cari lagi." Pria itupun pun berusaha mencari apa yang diinginkan ustadz Alzam, tetapi sayang tetap tidak bisa menemukannya."


"Bagaimana?" tanya ustadz Alzam sudah tidak sabar.


"Sebentar aku tanya keberadaan pak Yanto dulu. Yang bertugas waktu itu adalah beliau."


Ustadz Alzam tampak mengangguk. Pria itu berjalan keluar untuk bertanya pada karyawan lainnya.


Beberapa saat karyawan itu kembali ke samping ustadz Alzam.


"Bagaimana Mas?"


"Pak Yanto sudah mengundurkan diri katanya Mas," sesal pria tadi.


Ustadz Alzam tampak menarik nafas berat.


"Maaf ya Mas, saya tidak bisa bantu," ucap pria itu lagi.


"Tidak apa-apa. Mas nya tahu dimana tempat tinggal Pak Yanto?"


Pria itu menggeleng. "Sayang saya tidak tahu. Kata teman-teman dia pindah keluar kota, cuma tidak ada yang tahu alamatnya sekarang."


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih telah mau saya repotkan.


Assalamualaikum."


"Sama-sama, wa'alaikum salam."


Ustadz Alzam berlalu dari ruangan itu dengan pria tadi memandang kepergiannya dengan tatapan kasihan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2