HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 59. Mencari Bukti(2)


__ADS_3

Tama mengangguk dan langsung bergegas ke kamar. Namun bukan kamar Pandu yang di datangi melainkan kamar Warni.


Tama hanya melihat kamar tersebut dari lubang pintu. "Tidak ada rahasia kan di kamar ini?" Tama berpikiran macam-macam. Rasa penasarannya membuat ia ingin masuk dan memeriksa keadaan di dalam.


"Pa ngapain ke sini?" tanya Gala melihat sang papa belum pergi ke kamar Pandu. Namun, Tama tidak menjawab.


"Kamar Pandu yang di sana!" tunjuk Gala pada sebuah kamar yang berada di samping kamar Mentari.


Tama mengangguk dan langsung berjalan ke arah kamar Pandu berada.


Sampai di dalam kamar Tama langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Namun, dia tidak bisa tidur karena masih penasaran dengan kamar Warni.


Gala yang melihat papanya sudah tidur duduk di sampingnya. Di pinggir ranjang. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Bintang. Meminta dia untuk datang lebih awal dan menghandle pekerjaannya dulu sebelum dirinya datang.


"Ah, kasihan Bintang." Gala merasa bersalah bukannya membantu Bintang, dirinya malah ikut menyembunyikan Mentari dan sekarang ditambah lagi dia merepotkan Bintang.


"Tapi ini bukan urusanku. Ini urusannya Paman Winata." Jiwa cueknya kembali lagi.


"Ah aki benar-benar mengantuk sekarang." Gala terlihat menguap dan merentangkan tangan. Kemudian dia berbaring di samping papanya.


Beberapa saat kemudian dengkuran halus terdengar dari mulut Gala.


"Dia sudah tidur." Tama bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Bintang.


"Mana kuncinya?" Tama mencari-cari kunci rumah yang tadi dipegang oleh Gala.


Beberapa saat memeriksa ternyata Tama tidak menemukan kunci tersebut di samping Gala.


"Dimana nih anak menaruh kunci tersebut?" Tama memeriksa saku celana Gala tetapi masih belum menemukan kunci itu.

__ADS_1


Tama bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah meja yang berada di samping ranjang di sisi Gala. Kebiasaan Gala selalu meletakkan kunci mobil dan dompetnya di meja dekat ranjang kalau di rumahnya sendiri.


"Kok juga tidak ada?" Tama hanya melihat dompet Gala saja yang terletak di tempat itu. Tidak ada kunci.


Tama berjalan keluar rumah. Dia tidak akan bisa tidur kalau dalam gelisah seperti ini. Dia berniat berjalan-jalan meski hanya di dalam ruangan.


Tama berjalan ke ruang tamu, duduk dan menyandarkan bahunya pada sandaran sofa. Melihat ke arah dinding yang terpampang foto keluarga yang sudah mulai lusuh. Entah karena lamanya umur foto itu atau mungkin juga foto itu sebelumnya tidak terbungkus oleh pigura kaca.


Terlihat seorang laki-laki menggendong anak perempuan kira-kira berumur 5 tahunan. Putri kecil itu terlihat mencium pipi laki-laki yang menggendongnya bersamaan dengan seorang wanita yang berdiri di samping laki-laki tersebut. Tama menebak anak kecil itu pasti Mentari dan yang perempuan dewasa itu adalah Warni. Mereka terlihat bahagia membuat Tama mengingat saja masa lalunya bersama sang istri.


"Mengapa aku gelisah seperti ini?" Tama menarik nafas panjang dan menghembuskan secara kasar.


Dia kemudian mencoba memejamkan mata agar tidak terus-menerus mengingat akan rasa penasarannya dan masa lalunya itu agar tidak merasa sedih lagi. Dalam hati juga meyakinkan bahwa Mentari memang bukan putrinya melainkan putri orang lain. Bukankah sudah jelas-jelas Mentari mempunyai seorang ibu yaitu Warni yang dijumpainya tadi di rumah sakit dan ayahnya pasti yang ada dalam foto tadi. Yang entah dimana keberadaan laki-laki itu. Tama tidak tahu.


"Ya di rumah ini tidak ada yang mencurigakan kok. Hanya aku saja yang terlalu sensitif karena begitu yakin Mentari adalah putriku. Bukankah dalam dunia ini memang banyak wajah orang-orang yang begitu mirip sedang mereka tidak ada hubungan darah atau kekeluargaan sekalipun.


Begitulah Tama menyakinkan diri agar dirinya berhenti berharap. Walaupun kenyataannya hati dan pikirannya tidak sinkron. Dia hanya tidak ingin kecewa setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


dimanfaatkan?


Sepersekian detik akhirnya dia berhasil tertidur di sofa. Namun, tak berlangsung lama karena ternyata dia bermimpi buruk tentang sang istri.


Tama terbelalak, matanya memandang lurus ke arah pintu rumah. Namun, pikirannya masih belum fokus melihat sekitar. Tubuhnya juga bermandikan keringat.


"Rosa mengapa kau selalu menghantuiku dalam mimpi sehingga aku selalu sulit untuk bisa tidur lama. Apa karena aku belum menemukan putri kita, ataukah karena aku yang belum ikhlas melepas kepergian mu? Ah, Rosa izinkan aku tenang agar bisa berpikir jernih." Saat berbicara sendiri samar-samar Tama melihat kunci yang masih tergantung di handle pintu.


Tama mengucek mata, ternyata dia tidak salah lihat. Gala memang membiarkan kunci tersebut tergantung di sana.


Pria itu bangkit dari duduk dan dengan langkah yang sedikit oleng akibat terbangun dari tidur dengan mendadak ditambah tubuhnya yang mengeluarkan keringat banyak, membuat dia kehilangan keseimbangan karena kekurangan cairan.

__ADS_1


Tama meraih kunci yang tergantung itu dan langsung bergegas ke kamar Warni. Tekadnya yang ingin melupakan asumsinya bahwa Mentari adalah putrinya yang hilang sirna sudah.


Tama melirik ke ke sana kemari seperti orang yang ingin mencuri saja. Setelah memastikan Gala tidak ada di dekatnya ia langsung membuka pintu kamar Warni dan menguncinya dari dalam. Ia mencari sakelar lampu di dinding kemudian menyalakan lampu kamar.


Masuk ke dalam kamar Warni ia mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti bahwa Mentari memang benar-benar putrinya atau justru sebaliknya.


Langkah pertama Ia langsung menuju lemari pakaian. Memeriksa apa saja yang ada di dalam.


"Ah tidak ada yang penting." Tama segera menutup lemari itu lagi.


Dia kemudian celingak-celinguk mencari tempat lain yang sekiranya bisa memberikan dia bukti.


"Laci, ya laci itu." Tama berjalan dengan tergesa-gesa ke arah laci dan membukanya.


Ia tersenyum mendapatkan ada sebuah album foto di sana.


Mungkin dari sini aku bisa menemukan bukti.


Belum apa-apa Tama sudah terlihat senang.


Ia meraih album itu dan membukanya. Ada foto Mentari sejak kecil, foto Warni saat hamil. Laki-laki tadi yang Tama pikir adalah suami Warni dan juga Pandu. Sayangnya Tama tidak menemukan foto Mentari saat bayi padahal itu ya dicari Tama dari tadi. Hanya foto bayi Pandu yang ada di sana. Tama bisa tahu karena foto tersebut disandingkan dengan foto Pandu saat sudah berumur kira-kira 2 tahunan.


Kalau ada foto Mentari saat bayi Tama pasti bisa menyimpulkan bayi itu Cahaya ataukah bukan karena dia begitu mengingat akan bayinya itu.


"Ckk, kemana lagi aku akan mencari bukti? Kalau Gala tahu pasti aku akan dianggap tidak waras lagi." Saat kebingungan itu tiba-tiba ada benda yang terjatuh dari halaman belakang album itu.


"Apa itu?"


Tama berjongkok untuk meraih benda tersebut.

__ADS_1


Tama terbelalak melihat benda yang ada di tangannya kini. Ini kan ....?"


Bersambung ....


__ADS_2