HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 68. Kerjasama


__ADS_3

Sore hari Bintang tampak lemas. Fisik dan psikologis benar-benar tidak mendukung dalan pekerjaannya. Ternyata Gala seharian memang benar-benar tidak masuk kantor.


"Kate aku pulang duluan ya, kamu bereskan semua ini!" perintah Bintang pada Katrina membuat wanita itu mendumel sendiri dalam hati.


"Nih Bintang semakin nggak benar, masa istri hamil ditinggal terus, bahkan masih disuruh membereskan semua ini." Tentu saja Katrina hanya mengeluh dalam hati. Kenyataannya dia mengangguk di hadapan Bintang kini.


"Baiklah aku pergi dulu, tapi aku tidak pulang ke apartemen ya, aku mau pulang ke rumah saja. Kangen sama mama," ucap Bintang beralasan kemudian berlalu dari hadapan Katrina.


Katrina melepas kepergian Bintang dengan tatapan malas dan kesal.


"Sial!" Katrina melempar berkas yang ada di atas meja kemudian memungutnya lagi.


"Pak Gala saja mengizinkan saya untuk cuti, nah dia yang suami sendiri menyuruhku masuk kerja." Sampai saat ini Katrina belum mengerti arah pikiran Bintang.


Tangannya bergerak lincah merapikan semua pekerjaan Bintang yang belum selesai kemudian menumpuk berkas itu pada salah satu tempat.


"Akhirnya kelar sudah." Katrina mengambil tasnya yang berada di atas meja kemudian melangkahkan kaki keluar kantor.


Karena tidak membawa mobil akhirnya dia menunggu taksi lewat di depan perusahaan Gala. Tidak begitu lama menunggu akhirnya ada taksi yang berhenti di depannya.


"Stop Pak! Stop!"


Sopir taksi menghentikan kendaraannya.


"Kemana Nona?" Sopir taksi menanyakan tujuan penumpangnya setelah Katrina masuk dan duduk.


"Ke restoran dulu Pak!" perintah Katrina. Sebelum pulang ke apartemen dia ingin mengisi perutnya dulu agar sampai di sana tidak repot-repot memesan makanan. Apalagi Bintang tidak akan pulang ke apartemen malam ini. Biarkan dia memanjakan perutnya kini, setelah sampai ke apartemen dia hanya perlu mandi dan setelah itu dia langsung bisa beristirahat.


"Ke restoran mana Non?" tanya sopir taksi itu lagi untuk memastikan.


"Restoran manapun boleh Pak."


"Oke." Sopir taksi mengangguk dan membawa taksi ke sebuah restoran.


"Sudah sampai Non." Sopir taksi menghentikan mobilnya tetap di depan restoran.

__ADS_1


"Baik terima kasih Pak, ini ongkosnya." Katrina membayar ongkos sesuai yang tertera di taksi meter.


Setelah turun dari taksi dia melangkah dengan santai masuk ke dalam restoran. Memesan menu dan menunggunya dengan tidak sabaran.


"Lama banget sih, aku sudah sangat lapar ini." Mendumel sendiri sambil meremas perutnya. Bayi yang ada dalam kandungannya terlalu pemilih, makan di restoran yang ada di dalam gedung apartemen rasanya tidak enak padahal menunya juga beragam.


Beberapa saat kemudian pesanan datang. Seorang pelayan menata makanan di atas meja sambil melirik si pemesan makanan. Dalam hati berpikir seorang diri kok pesanannya banyak seperti tiga orang.


"Ah, mungkin masih menunggu temannya." Pelayanan itu bergumam dalam hati, menyimpulkan sendiri.


"Silahkan dinikmati Mbak hidangannya!" Pelayan itu berbasa-basi.


"Terima kasih Mbak." Setelah mengatakan itu Katrina langsung memulai makan. Melahap semua yang terhidang di depannya.


Pelayanan tadi melayani pelanggan lain sambil melirik ke arah Katrina yang makan seperti orang kerasukan.


"Nih orang nggak baca doa apa hingga makannya seperti itu? Astaghfirullahal adzim kenapa aku jadi ngurusin orang. Mungkin karena dia lagi hamil." Pelayan itu beristighfar dalam hati sambil memandang perut Katrina yang memang buncit.


"Silahkan dinikmati Pak!" Pelayan itu mempersilahkan pria di hadapannya untuk menikmati makanan yang dipesan.


Pria itu tersenyum penuh makna. "Akhirnya ketemu juga, kau tidak bisa lari kemanapun. Ke lubang semut pun aku tetap akan menemukanmu." Pria itu menikmati menu yang dipesannya, tetapi tetap saja ekor matanya mengawasi Katrina.


Sampai pria itupun selesai makan Katrina belum juga selesai menyantap menu yang dipesannya tadi.


Beberapa saat kemudian Katrina terlihat meminta bill saat itu pria ini berjalan mendekat.


"Kau lupa dengan kewajibanmu ya!" Pria itu duduk di kursi di depan Katrina.


Katrina yang tadinya memanggil pelayan akhirnya menoleh.


"Arka, ngapain kamu ke sini?"


"Ngapain? Ya meminta jatah lah. Bulan ini kau masih belum mentransfer jatahku," ucap Arka dengan entengnya.


"Aku sudah tidak punya uang," ketus Katrina.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, pokoknya dalam 24 jam uang 20 juta sudah harus ada di tanganku."


"Arka! Kau pikir mendapatkan uang sebanyak itu mudah hah?" bentak Katrina dia sudah tidak tahan lagi diperas terus.


"Kamu seorang sekretaris dan suamimu Bintang sebagai asisten. Selain itu dia juga anak orang kaya. Apa uang dalam jumlah kecil seperti itu sangat susah untukmu?"


"Jelas sangat susah. Kamu pikir kami tidak punya kebutuhan sendiri apa? Apalagi sekarang Bintang sepertinya curiga dengan keuanganku yang tidak pernah bisa cukup. Kalau kamu begini terus Bintang bisa menceraikan ku dan memilih si Mentari itu menjadi istri satu-satunya."


"Aku tidak perduli, kalau tidak ada 20 juta jangan salahkan aku kalau Bintang akan tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kau pikir aku tidak tahu di apartemen mana kalian tinggal sekarang? Atau kalau tidak ke sana aku bisa datang ke kantor tempat kalian bekerja dan membeberkan kebenarannya."


"Hah kau mengancam ku lagi?" tanya Katrina dengan sinis. Matanya tajam menatap Arka.


"Jangan pernah kau mengancam ku lagi, karena sebelum itu terjadi maka aku akan membunuh anak dalam kandunganku ini." Katrina menantang Arka dengan meremas perutnya sendiri.


Nyali Arka ciut mendengar ancaman Katrina.


"Kau pikir aku takut mati, begitu Arka? Aku tidak masalah kalau harus mati dengan bayi ini," ucapnya lagi.


Arka tidak menjawab, Katrina ternyata sudah tahu kelemahannya.


"Daripada kamu memerasku dengan cara seperti ini terus lebih baik kau bantu aku untuk menyingkirkan perempuan dari desa itu agar Bintang bisa seutuhnya menjadi milikku. Kamu tahu? Dengan seperti itu maka bayi dalam kandunganku ini yang akan menjadi pewaris tunggal perusahaan Tuan Winata. Kamu tahu itu artinya apa Arka?"


Arka terlihat tersenyum, dalam hati membenarkan perkataan Katrina.


"Kau akan jadi ayah dari pemilik perusahaan besar dan kau bebas akan meminta apapun pada putramu ini," jelas Kartina.


Arka hanya manggut-manggut mendengar perkataan Katrina.


"Boleh juga usulmu. Aku akan mencari cara untuk menyingkirkan wanita itu dalam rumah tangga kalian." Arka terlihat bersemangat.


"Bagus kalau begitu, aku harap kau bisa menjadi teman kerja yang bisa diandalkan daripada harus menjadi lawan yang tidak menguntungkan," ucap Katrina dengan senyuman miring.


"Akan saya usahakan, akan kucari kelemahan wanita itu dulu," ujar Arka.


"Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan. Aku akan senantiasa setia menunggu hasil kerjamu," ucap Katrina lagi dengan ekspresi yang sangat senang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2