HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 214. Kemarahan Gala


__ADS_3

"Mas Gala! Pandu beli tiga. Tidak apa-apa, kan?" Pandu berlari ke arah keduanya yang saat ini nampak canggung.


"Tidak apa-apa. Sekarang kita balik saja," ucap Gala sambil melihat ke arah pelayan yang berjalan mendekat sambil menenteng bungkusan makanan pesanannya.


Pandu menyodorkan kartu kredit ke tangan Gala. "Terima kasih Mas."


"Sama-sama Pandu."


Setelah membayar Gala langsung keluar dan berjalan menuju mobil. Sarah berjalan di belakangnya dengan menunduk. Pandu berjalan di samping Sarah dengan senyuman manis sebab telah mendapatkan mainan robot impiannya.


Mereka masuk ke dalam mobil tanpa ada yang bicarakan sepatah kata pun.


Pandu yang melihat ekspresi dari keduanya menjadi bingung. Dia yang tidak mengerti dengan urusan orang dewasa hanya memilih diam saja.


Sarah merasakan hal yang tidak nyaman sebab kali ini Gala menyetir mobilnya agak kurang konsentrasi sehingga hampir saja menabrak sepeda motor yang melintas di depannya.


"Astaghfirullahaladzim." Sarah menekan dadanya karena kaget Gala mengerem secara mendadak.


"Hati-hati Pak." Akhirnya Sarah bersuara. Tidak ada jawaban dari Gala membuat Sarah paham sebenarnya Gala teramat kecewa padanya.


"Maafkan aku Pak, mungkin aku egois, tapi aku tidak ingin terperangkap antara perasaan cinta yang terlalu dalam dan sakit hati," batin Sarah.


Tidak begitu lama mobil mereka sudah terparkir di depan rumah sakit. Gala turun dengan tergesa-gesa dan dengan setengah berlari dia masuk ke dalam bangunan rumah sakit.


"Mas Gala marah ya Kak?" tanya Pandu sebab semakin lama ekspresi Gala semakin kentara bahwa dirinya memang sedang marah.


"Marah kenapa Pandu?"


"Marah karena Pandu membeli 3 mainan sekaligus." Pandu melihat mainan di tangannya dengan perasaan hambar.


"Tidak Pandu, Pak Gala ada masalah lain," ujar Sarah agar Pandu tidak bersedih lagi. Lagipula bukan masalah mainan juga yang membuat Gala marah, tetapiĀ gara-gara dirinya sendiri.


"Sudah yuk masuk!"


Pandu mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Gala sudah terlebih dahulu sampai di ruangan Mentari. Pria itu sudah menyerahkan makanan pada ustadz Alzam.


"Aku balik lagi ya Dek, Ca, ibu juga."


"Kenapa terburu-buru Mas. Apa tidak sebaiknya duduk dulu sebentar."


"Tidak usah Dek Alzam. Ada meeting mendadak," tolak Gala dan langsung keluar lagi dari ruang rawat Mentari.


Di perjalanan keluar Gala dan Sarah berpapasan. Saat melihat wajah Sarah Gala lalu berpaling dan berjalan cepat hingga jarak mereka berjauhan.


"Pak Gala benar-benar marah? Jadi saat mengatakan tidak apa-apa tadi dia berbohong? Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?" gumam Sarah dan langsung mempercepat langkahnya menuju kamar Mentari.


"Mas Gala sudah keluar lagi kok kamu baru balik?" tanya Mentari saat melihat tubuh Sarah di depan pintu.


"Sarah sama Pandu berjalan sambil mengobrol tadi jadi lama sampainya. Iya kan Pandu?"

__ADS_1


Pandu mengangguk dan berjalan ke arah Warni.


"Mainan? Dapat darimana lagi?"


"Dibelikan Mas Gala Bu."


"Pandu! Jangan begitu terus dong Nak. Nggak enak minta dibelikan mainan sama Nak Gala terus jika ke kota ini."


"Udahlah Bu, orang Mas Gala nggak punya tanggungan selain papa, dia kan nggak punya anak dan istri juga. Kalau nggak diamalkan mau dibuat apa coba uangnya. Lagian cuma mainan segitu doang," ujar Mentari.


"Tapi Me ...."


"Udahlah Bu, Mas Gala itu kakak saya dan Pandu adik saya. Jadi anggap saja keduanya juga bersaudara. Tidak ada salahnya kan membelikan mainan untuk adik sendiri? Toh Pandu jarang ke sini juga."


"Baiklah terserah kamu," ucap Warni pasrah.


"Bu, Kak, Sarah pamit pulang dulu ya!"


"Loh kamu juga mau balik Sarah? Tadi Mas Gala terburu-buru sekarang kamu juga," protes ustadz Alzam.


"Sepertinya mereka kompak sok sibuk nih," imbuh Mentari menggoda sang adik ipar.


"Iya tadi Mbak Nanik telepon katanya ada yang ingin segera dibicarakan denganku."


"Baiklah, pergi sana!"


"Assalamualaikum." Sarah langsung berjalan keluar.


***


Di kantor Prasdiatama.


Gala berjalan menuju ruangannya. Duduk dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.


Terdengar suara ketukan pintu. Gala mendongakkan wajahnya.


"Masuk!"


Pintu nampak di buka, terlihat Diandra dengan anggun berjalan menuju meja Gala.


"Ada apa?" tanya Gala dengan tatapan dingin. Sepertinya pria itu kembali seperti dulu lagi. Seperti saat-saat belum bertemu Mentari.


"Ini proposal yang harus bapak periksa dan saya juga ingin mengingatkan bahwa nanti siang bapak ada agenda dengan Pak Firdaus, manager dari perusahaan Mekar Jaya."


"Tunda pertemuannya!"


"Ditunda? Bagaimana mungkin Pak?"


"Ya sudah kalau tidak mau kau pergi sendiri aja," ketus Gala sambil menerima proposal yang diberikan oleh Diandra.


"Ini apaan?" Gala menekan rincian yang ada dalam profosal.

__ADS_1


"Itu rincian laporan keuangan perusahaan kita Pak."


"Kamu bisa berhitung nggak sih! kurang nol saja bisa fatal tahu!Apa saat kau bersekolah nilai matematikamu dibawah lima!" bentak Gala.


"Maaf Pak, akan saya perbaiki." Diandra kaget melihat tingkah Gala yang berubah seratus persen.


Tentu saja Diandra tidak tahu sikap Gala seperti apa sebelumnya sebab dia bisa dibilang baru menggantikan Katrina.


"Perbaiki atau kamu akan saya pecat!" Gala melempar proposal ditangannya begitu saja.


Diandra berlari mengejar dan menangkap proposal itu.


"Permisi Pak," pamitnya setelah berhasil menangkap proposal tadi. Tanpa menunggu jawaban Gala Diandra langsung keluar dari ruangan.


"Kenapa Lo?" tanya Kiki yang berjalan santai ke arahnya dan melihat raut wajah ketakutan di wajah Diandra.


"Pak Gala marah-marah hanya karena ada sedikit kesalahan."


"Sudahlah perbaiki sekarang. Mungkin dia lagi ngambek."


"Baik Pak Kiki."


Diandra kembali ke ruangannya, sedangkan Kiki berjalan mendekat ke arah Gala.


"Ada apa Pak pagi-pagi kok sudah marah-marah?"


"Lihat jam, apakah saat ini masih bisa dikatakan pagi?" Gala menatap Kiki tajam membuat pria itu bergidik ngeri.


"Sekarang masih jam sembilan masa sudah mau dikatakan siang?" batin Kiki.


"Ya sudah deh yang waras ngalah," gumam Kiki.


"Kau pikir aku gila," bentak Gala.


"Aih mendengar ternyata dia."


"Bahkan suara hatimu saya mendengarnya," ucap Gala dengan tatapan menusuk dan aura yang begitu dingin.


Mendengar kalimat yang diucapkan Gala, Kiki yakin saat ini sang bos pasti kesurupan sebab Gala yang asli tidak akan pernah bersikap seperti itu.


Kiki lalu membaca doa dengan mulutnya yang komat-kamit bak Mbah dukun saja. Setelah itu itu dia minum air putih yang ada di atas meja Gala lalu menyemburnya ke segala arah.


"Kurang ajar kau! Keluar!" bentak Gala sebab air yang keluar dari mulut Kiki mengenai wajahnya.


"Kau yang keluar setan!" teriak Kiki bermaksud ingin mengusir setan yang bersemayam dalam tubuh Gala.


Buk.


Gala langsung menimpuk kepala Kiki dengan dokumen yang masih menumpuk di mejanya.


"Ah kepalaku pusing Pak!" seru Kiki kemudian terduduk di lantai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2