
Pak sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih lagi sebab melihat Bintang yang sepertinya tidak nyaman tidur di mobil.
"Pak kenapa malah ngebut seperti ini?" protes Tuan Winata pada sopirnya itu.
"Biar cepat sampai Tuan, kasihan Den Bintang biar cepat istirahat di kasur."
Tuan Winata tidak keberatan saat mendengar alasan pak sopir. "Tapi tetap waspada dan hati-hati, jangan sampai menabrak sesuatu."
"Baik Tuan, itu sudah pasti."
Tuan Winata mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata seperti putranya. Namun, Tuan Winata tidak bisa tidur seperti Bintang.
Tidak ada rintangan yang berarti saat pak sopir melajukan mobilnya dengan kencang karena kendaraan di jalanan tidak sepadat tadi siang. Hingga saat perjalanan sudah jauh tiba-tiba mobil mengerem mendadak ketika melihat sebuah truk yang mengangkut babi-babi berhenti mendadak di depan mobil mereka.
Kepala Bintang terbentur pintu mobil di sampingnya hingga membuat pria itu bangun seketika dari tidurnya.
"Pak kau ingin kita semua mati tak berguna ya," protes Bintang pada pak sopir.
Tuan Winata yang tadinya memejamkan mata akhirnya membuka mata merasakan mobil berhenti dan mendengar protes dari Bintang.
"Ada apa?" tanya Tuan Winata.
"Ini pak sopir Pa, masa main ngerem mendadak kebut-kebutan dia pastinya sedari tadi," keluh Bintang.
"Maaf Tuan saya terpaksa sebab kalau tidak mengerem mendadak mobilnya bisa menabrak itu." Pak sopir menunjuk kendaraan yang berhenti di depannya.
"Tidak apa-apa Pak, ayo kemudikan lagi mobilnya dengan santai saja, hari sudah malam dan kita tidak akan kemana-mana lagi, bukan? Jadi buat apa terburu-buru? Bintang pun sudah bangun dari tidurnya."
"Baik Tuan."
"Papa nih, sopir buat kesalahan malah dibilang nggak apa-apa," protes Bintang.
"Ya terus papa harus gimana? Harus marah-marah begitu?"
"Ya paling tidak ditegur kek, ini malah dibilang nggak apa-apa. Iya sekarang kita selamat karena mujur kalau tidak kita bisa mati sekarang juga."
"Bukankah kau tadi mengatakan mau mati sekarang saja dan bahkan tidak takut pada neraka. Kalau menurut papa sih lebih baik mati secara tidak sengaja tabrakan misalnya daripada harus mati karena alkohol."
"Kalau saya sih tidak memilih kedua-duanya Tuan," sambung pak sopir akan pembicaraan anak dan ayah itu.
"Kalau bisa memang jangan kedua-duanya Pak, itupun kalau terpaksa harus memilih. Semoga kita semua dijauhkan dari hal itu."
__ADS_1
"Aamiin."
"Siapa yang mengatakan mau mati dan siapa yang mengatakan tidak takut neraka? Papa ini ngaco masa ada manusia seperti itu," protes Bintang tidak terima papanya mengatakan dirinya berkata seperti itu. Pria itu tidak ingat apa saja yang sudah dilakukan, bahkan diucapkan oleh mulutnya sendiri.
"Ada yaitu Den Bintang." Sopir yang menjawab membuat mata Bintang melotot seketika.
"Jangan salahkan pak sopir karena yang dikatakannya memang benar adanya. Kamu memang mengatakan hal itu tadi di bar. Makanya jangan suka membuat diri sendiri menjadi tidak sadar dengan apa yang telah kita ucapkan ataupun katakan. Takut-takut keluar perkataan jelek dari mulut kita dan terwujud. Bukannya ucapan adalah doa? Jadi bicara yang baik-baik saja."
Bintang termenung, dalam hati berpikir kenapa papanya seperti ustadz Alzam saja, jadi suka berceramah.
"Hidup mati seseorang memang sudah ditentukan waktunya oleh Tuhan dan papa yakin kok pak sopir bisa mengambil pelajaran dari semua tindakan yang telah diperbuatnya karena dia sudah tua. Nah yang perlu diingatkan nih kamu sudah dewasa masih seperti remaja labil saja. Ngambek dikit mabuk-mabukan. Cemen namanya, maunya lari dari kenyataan, tapi tidak bisa move on dari masa lalu."
Bintang diam karena disindir oleh sang papa.
"Mati memang sudah ditentukan kapannya oleh Allah, tapi kalau bisa jangan kita dekati hal-hal yang buruk agar bila tiba saatnya nyawa kita dicabut, malaikat maut akan mencabut nyawa kita dalam keadaan husnul khotimah bukan sebaliknya su'ul khotimah."
Bintang hanya mengangguk mendengar nasehat sang papa. Tuan Winata tersenyum melihat putranya seperti orang penurut saja.
"Semoga dia benar-benar mendengarkan perkataanku dan mengingatnya, jangan sampai masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri," ucap Tuan Winata dengan penuh harap.
"Pa mobilku ketinggalan." Tiba-tiba Bintang mengingat mobilnya yang tertinggal di perkirakan bar.
"Biar papa akan menyuruh orang-orang papa saja yang akan mengambilnya."
Terima kasih Pa."
Tuan Winata hanya mengangguk dan langsung merogoh ponsel di saku jasnya lalu menelpon seseorang.
***
Katrina merenggut melihat bos di perusahaan itu mendatangi meja Arka saat waktu makan siang dan mereka berdua berbicara serius dan sesekali tampak tertawa.
Katrina mendekat ke arah Arka sambil memainkan kedua tangannya.
"Kate?" Arka terlihat kaget mendapati Katrina juga sudah ada di ruangannya.
"Katanya mau makan siang bareng."
"Iya sebentar."
"Ibu tidak ada yang mau dibicarakan lagi dengan saya? Kalau tidak ada saya permisi dulu mau makan dengan teman di kantin," pamit Arka.
__ADS_1
Wanita yang menjadi bos dalam perusahaan itu menatap Katrina dengan ekspresi tidak suka lalu berkata 'iya' pada Arka.
"Baik Bu terima kasih. Kalau begitu saya pergi dulu."
Wanita itu mengangguk dan menatap kepergian Arka dengan Katrina dimana Katrina menggenggam tangan Arka dan menarik pria itu dari dalam ruangan.
Sepertinya mereka bukan hanya teman biasa saja," gumam wanita paruh baya itu dan langsung menelpon seseorang. Setelah menutup panggilan telponnya wanita itu tampak tersenyum bahagia.
"Ngomong apa kamu dengan Bu Bos?" tanya Katrina saat mereka berdua berjalan menuju kantin.
"Bukan apa-apa hanya tentang pekerjaan saja."
"Sampai waktu jam istirahat belum kelar?" tanya Katrina penuh selidik.
"Iya begitulah kalau Bu Bos sedang mendiskusikan pekerjaan, dia tidak akan berhenti sebelum selesai dan menemukan titik terang."
Katrina hanya mengangguk mendengarkan pemaparan Arka. Mau menerka-nerka pun bahwa keduanya memiliki hubungan lebih dia tidak berani karena dia tidak memiliki bukti. Namun, dia yakin wanita itu menyukai Arka. Semoga saja Arka tidak menyukai wanita itu, begitu harapan Katrina dalam hati.
Tidak mungkin Arka menyukainya, bukankah dia begitu bucin padaku?
Mereka sampai di kantin memesan makanan yang disukai masing-masing. Setelahnya kembali ke ruang kerja masing-masing.
"Kate angkat barang yang itu!" Seorang karyawan yang lebih senior menyuruh-nyuruh dirinya. Katrina pun mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan.
Aku benar-benar jadi babu sekarang, awas ya kalau aku sudah naik jabatan, akan aku basmi kalian semua.
"Yang itu juga Kate!" perintahnya lagi.
"Hei jangan mentang-mentang kamu senior ya kamu memperlakukan diriku seperti ini!" bentak Katrina.
"Itu kan memang tugasmu Kate."
"Tugas-tugas! Noh nyuruh yang lain juga biar tidak hanya ongkang-ongkang kali saja."
"Tapi sekarang giliran mu Kate, kalau kamu nggak minat mending nggak usah kerja. Sana pergi dan jadi pengemis di jalanan!"
Mendengar perkataan senior itu Katrina murka. Wanita itu langsung mengambil sebuah dus yang berisi barang-barang dan melemparkan ke kepala senior yang menurutnya menyebalkan tersebut.
"Kate!" Semua karyawan berteriak melihat kepala temannya yang bercucuran darah karena telah dibanting dengan dus yang berisi barang logam tersebut.
Bersambung.
__ADS_1