HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 166. Kampus


__ADS_3

"Waduh kok jadi aku ditugaskan ke perusahaan ini?" Sarah kaget melihat surat pengantar yang diserahkan temannya yang menyatakan dia ditugaskan untuk melaksanakan magangnya di perusahaan Pradiatama.


"Memangnya kenapa? Itu perusahaan bagus kok," jawab Rika salah satu sahabatnya di kampus itu sambil cengengesan.


"Bagus-bagus. Kalau bagus kenapa tidak kau ambil sendiri," kesal Sarah karena Rika menukar tujuan praktik kerja lapangannya.


"Kan kamu sendiri yang setuju mau ditukar kemarin-kemarin? Ya udah aku langsung minta persetujuan dosen dan ternyata dikabulkan."


"Balikin ke awal! Kamu kan nggak bilang kalau tempat magangmu ke perusahaan itu," protes Sarah.


"Mana boleh Sarah, bisa-bisa aku disemprot dosen nanti karena dianggap mempermainkan dia. Lagi pula dosen mengatakan pihak kampus sudah mengkonfirmasi ke semua perusahaan yang bekerja sama dengan kampus kita siapa-siapa saja nama-nama mahasiswa dan mahasiswi yang akan ditugaskan ke masing-masing perusahaan. Lagipula perusahaan ini ada di kota nenek saya jadi sekalian saya bisa tinggal dengan nenek di luar kota untuk beberapa bulan ini."


Sarah hanya menggaruk kasar kepalanya hingga hijabnya terlihat berantakan.


"Kenapa sih kamu kok kayak orang stres gitu?"


"Ah kamu nggak ngerti aja sih, aku takut kalau ditugaskan ke perusahaan itu." Sarah tidak mau Gala akan mengerjai dirinya nanti. Lagipula dia juga masih malu untuk bertemu laki-laki itu pasca kejadian di kamar mandi di kediaman Gala tempo hari.


"Emang perusahaan itu angker ya?" tanya Rika penasaran.


"Iya ada jurig nya," kesal Sarah.


"Ih ngeri bet untung aku tukar," ujar Rika sambil bergidik ngeri. Gadis itu mengusap lengannya kala Bulu kuduknya seakan berdiri semua.


"Please Rik tukaran lagi ya, biar aku yang memohon pada dosen. Nanti aku traktir kamu makan sepuasnya," rayu Sarah sebab Rika memiliki kebiasaan senang makan.


"Ogah ah mending aku tidak dapat makan gratis daripada aku menjadi santapan jurig." Rika tidak mau.


"Bagaimana kalau jurig yang aku maksud adalah pria tampan dan bertubuh kekar? Wajahnya juga kaya oppa-oppa Korea loh." Sarah seakan muak mengatakan Gala tampan, tetapi terpaksa untuk merayu Rika.


"Ogah aku tetap tidak mau. Lagipula bekerja di perusahaan besar bisa membuatku tersesat nantinya karena ruangannya besar dan berlantai banyak."


"Ya gimana mau maju kalau pikiranmu seperti itu. Bekerja di perusahaan besar itu enak, kalau kinerjamu bagus pas lulus kuliah akan langsung direkrut untuk bekerja di sana dan yang jelas gajinya besar." Masih saja merayu.


"Biar saja. Kalau cocok, kalau nggak bisa dibentak-bentak. Atut." Gadis itu tertawa renyah.


Sarah menggeplak kepala Rika karena kesal.


"Auw sakit tahu Sar, main geprak nih kepala memangnya kepalaku ayam geprek apa," protes Rika.


"Biarin, biar penyok sekalian. Nanti aku buatkan sambal terasi biar jadi tempe penyet sekalian," ujar Sarah membuat Rika memberengut seketika. "Kejam amat sih jadi manusia," protesnya.


"Biarin."


"Tuh tukar saja sana sama Maila!" Rika menunjuk seorang mahasiswi yang berjalan ke arah mereka berdua.


"Hai kalian magang dimana?" Maila yang ditunjuk menghampiri keduanya dan ikut duduk di kursi panjang yang berada di taman kampus.


"Perusahaan Pradiatama, mau tukaran nggak?" Sarah mencoba menawarkan pada Maila.


"Wah boleh dong kayaknya tuh perusahaan bagus, tapi kira-kira nggak bakal dimarahi dosen kalau main tukar-tukaran begini?" tanya Maila ragu.


"Nggak bakal, kita kan bebas menentukan sendiri kemana kita akan magang." Bagi Rika yang penting Sarah sudah dapat tukaran, masalah mereka dimarahi oleh dosen atau tidak dia tidak perduli yang penting bukan dirinya yang dimarahi.


"Bodoh amat, biar mereka tanggung jawab sendiri," ujar Rika dalam hati. Gadis itu tahu pihak kampus sudah mengurus semuanya jadi kalau harus di tukar-tukar lagi akan sangat merepotkan.


"Coba aja yuk, kali aja dibolehin sama dosen," saran Sarah dan Maila mengangguk.


"Oke yuk."


Mereka berdua bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan dosen. Namun, mereka berhenti kala melihat Rika tidak ikut di belakang mereka.


Sarah berbalik dan memanggil Rika. "Rik ayo ikut!" teriak Sarah sambil melambaikan tangan ke arah Rika.


Rika pura-pura meringis dan memegang perutnya. "Sorry perutku sakit kayaknya mau beol nih." Setelah mengatakan itu Rika langsung berlari ke arah toilet yang ada di pinggir taman.


Sarah menggeleng dan akhirnya berbalik lagi. Mereka berdua langsung menuju ruangan dosen mereka.


"Mau ditukar lagi Sarah?" tanya Dosen tersebut saat Sarah mengutarakan keinginannya. Sarah dan Maila kini sudah duduk di kursi di depan dosennya.


"Iya Pak, saya ingin menukar dengan perusahaan yang dirujuk untuk Maila dan ternyata Maila setuju."


"Pihak kampus sebenarnya sudah membantu memilihkan perusahaan yang sesuai dengan kemampuan kalian masing-masing karena ingin agar kalian tidak perlu repot-repot mencari informasi tentang perusahaan mana sekiranya yang cocok untuk kalian masuki, dan kami juga memilihkan perusahaan yang bagus-bagus disini. Meskipun demikian bukan berarti kami tidak membebaskan kalian untuk memilih sendiri, cuma waktunya saja yang sudah mepet. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kalian mengkonfirmasi?"


"Maaf Pak sebenarnya rujukan ke perusahaan yang kemarin itu sudah cocok dengan saya tapi ternyata diambil Rika."


"Oh iya ya, beberapa hari yang lalu Rika datang untuk menukarkan dengan perusahaan yang seharusnya untukmu, tapi kenapa kamu tidak mencegah?"


"Saya tidak tahu Pak sebab beberapa hari ini saya tidak masuk kuliah karena kesehatan yang sedikit terganggu."


"Katanya sudah mendapatkan persetujuan darimu?"


"Iya Pak tapi dia belum menginformasikan perusahaan mana tempat dia magang tiba-tiba saja sudah ditukar. Saya tidak mau mau jika harus ke perusahaan Pradiatama."

__ADS_1


"Kenapa? Perusahaan itu adalah perusahaan besar dan kemampuanmu saya rasa bagus untuk bekerja di sana."


"Tapi saya tidak berminat Pak magang di sana." Untung saja Sarah dekat dengan dosen tersebut dan dosennya ini bukan jenis dosen killer seperti yang lain.


"Coba lihat perusahaan rujukan untuk Maila!"


Maila menyerahkan surat pengantarnya pada dosennya itu.


"Perusahaan Ardia Winata? Bagus juga nih perusahaan. Tidak kalah sama perusahaan Pradiatama."


"Berarti boleh dong Pak?" tanya Sarah antusias. "Itu bukannya perusahaannya Tuan Winata ya?"


"Iya benar."


"Iya Pak kalau boleh saya mau kalau ke tempat itu." Sarah masih saja antusias.


"Maila nya bagaimana?"


"Boleh Pak, perusahaan Pradimiatama sepertinya lebih dekat ke kosan saya jadi bisa hemat BBM," sahut Maila.


Dosen itu tampak berpikir sesaat.


"Sebenarnya ini semua tidak boleh karena waktunya yang sudah mepet. Lusa kami sudah akan melepas kalian, tapi tidak apa-apalah biar bapak urus secepatnya asal kalian tidak memberitahukan mahasiswa yang lainnnya karena kalau mereka juga melakukan hal yang sama dengan kalian hal ini akan membuat kampus kerepotan."


"Baik Pak kami berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun. "Iya kan Maira?"


"Iya Sar tentu saja kita akan tutup mulut."


"Baiklah kalau begitu."


Saat dosen tersebut sedang menulis pada kertas masuklah seorang mahasiswa ke dalam ruangan itu.


"Selamat sore Pak," sapa pria itu pada dosen yang sedang menunduk. Dosen itu mengangkat wajahnya.


"Ada apa Rommy?"


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."


"Silahkan duduk dulu!"


Rommy pun mengangguk dan duduk di samping Sarah. Sarah menjadi tak karuan melihat Rommy duduk di sebelahnya. Gadis ini merasa gelisah. Hatinya masih terpaut pada lelaki itu, tetapi lelaki itu sudah bertunangan dengan sahabatnya sendiri.


"Ngurusin surat pengantar magang ya?" tanya Rommy pada Sarah dan Maila.


"Ke perusahaan Ardia Winata." Jawaban Rommy sontak membuat Sarah kaget. Gadis ini lalu meringis.


"Kamu sendiri ke perusahaan mana?" tanya Rommy pada Maila.


"Ke perusahaan Pradia ...."


"Ke Ardia Winata juga dan aku ke Pradiatama," potong Sarah akan perkataan Maila.


"Loh?" Maila dan dosen yang duduk di depannya menjadi kaget dan menatap bingung ke wajah Sarah.


"Tidak kebalik Sarah?" tanya dosen tersebut barangkali Sarah salah bicara.


"Tidak Pak sepertinya saya akan tetap mengambil magang di perusahaan Pradiatama sebab perusahaan itu adalah perusahaan yang bagus."


Maila terdiam, bingung dengan sahabatnya yang tiba-tiba berubah seperti ini.


"Serius?" tanya dosen itu lagi untuk memastikan.


"Iya Pak biar Bapak tidak jadi repot hanya gara-gara saya."


Bukan hanya Maila dan dosen yang dibuat bingung, Rommy pun yang baru datang juga ikut bingung melihat gelagat Sarah yang aneh.


"Ayo Mai kita keluar saja!" Sarah menarik tangan Maila keluar dari ruangan dosen membuat dosen itu jadi geleng-geleng kepala.


"Aneh, ada apa dengan tuh anak? Tidak biasanya plin-plan seperti itu kalau mengambil keputusanmu," gumam dosen tersebut sambil terus menggelengkan kepalanya.


"Ada apa dengan Sarah Pak?" tanya Rommy penasaran.


"Ah tidak ada apa-apa. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku!"


Rommy mengangguk dan mulai bercerita sedangkan Sarah yang melihat Rika malah mengintip ke ruangan dosen dari balik pintu langsung menjitak kepala Rika.


"Auw deman banget sih memukul kepalaku. Awas kalau otakku lemot nanti kamu yang tanggung jawab!" Rika cemberut.


"Otakmu tuh nggak dipukul aja sudah lemot, jadi jangan nyalahin Sarah," protes Maila.


"Iya ya saya enggak nyangka gitu pihak kampus malah memilihkan perusahaan besar sekelas perusahaan Pradiatama pada dia padahal kata dosen tadi disesuaikan dengan kemampuan," ujar Sarah.


"Mungkin pas lagi pembagian yang membagi-bagi itu lagi sakit kepala," sambung Maila.

__ADS_1


"Iya deh ngaku aku oon," ucap Rika ketus sambil memanyunkan bibir membuat kedua sahabatnya itu tertawa renyah.


"Puas kalian?"


"Puas lah," jawab Sarah semakin membuat Rika kesal. Namun, sebenarnya anak ini tidak akan pernah bisa marah jika Sarah sedang menggodanya.


"Bagaimana dengan rencana kalian tadi, disetujui nggak sama dosen?" tanya Ria basa-basi padahal dia sudah tahu.


"Disetujui sih, tapi Sarah malah urung membuang-buang waktu saja." Maila yang menjawab dengan raut wajah yang kecewa.


"Sorry ya, karena aku sudah membuatmu kecewa nanti aku kasih kue gratis."


"Siapa yang mau kue, aku nggak ulang tahun kok," protes Maila padahal keu yang dimaksud Sarah bukanlah kue tart.


"Terus kamu maunya apa?"


"Ke pusat permainan aja," sahut Maila antusias.


"Ogah ah kayak anak kecil saja," protes Sarah.


"Di sana ada permainan orang dewasa juga Sarah, kudet sih Lo."


"Biarin, kalau aku nggak mau, ya nggak mau. Minta yang lain saja."


"Shoping, gimana kalau itu?"


"Boleh," jawab Sarah.


"Aku ikut dong," mohon Rika.


"Nggak boleh," sahut Sarah.


"Yaaa, tapi aku tahu loh kenapa dia tadi mengurungkan niatnya untuk tukaran tempat magang."


"Iyakah, karena apa?" tanya Maila penasaran.


"Karena perusahaan Ardia Winata juga tempat Ro ...."


Sarah langsung membekap mulut Rika sebab di sampingnya sedang melintas Rommy yang baru keluar dari ruangan dosen.


"Oke aku nggak akan ngomong, asal ditraktir juga dong!" Rika mengedipkan matanya ke arah Sarah.


"Oke, dasar teman toxic lo suka malak teman," protes Sarah dan Rika hanya menanggapi kalimat Sarah dengan tertawa kecil.


"Malah tertawa lagi," kesal Sarah.


"Aku tuh bukan teman toxic tapi teman semanis madu. Kalau nggak percaya nih jilat lenganku."


"Huek."


"Huek."


Sarah dan Maila pura-pura muntah bersamaan.


"Lebay kalian," protes Rika.


"Eh tapi kenapa hari ini kamu kok bawaannya kayak kesal terus sih?" tanya Maila yang tidak mengerti dengan perubahan Sarah hari ini.


"Itu gara-gara dia tuh yang membuatku harus magang di perusahaan Pradiatama," jawab Sarah masih dengan ekspresi kesal.


"Apa salahnya?" tanya Rika dengan enteng.


"Jangan-jangan ada yang tidak beres nih dengan Sarah," terka Maila.


"Ya biasanya kalau dia ingin menghindari suatu tempat pasti karena ada orang yang dia suka, tapi membuatnya patah hati," tebak Rika seperti Sarah yang menghindar dan tidak ingin magang bareng Rommy.


"Benarkah Sarah?" tanya Maila penasaran.


"Kalau orang yang disuka nggak ada tapi kalau musuh memang ada di sana." Jawaban Sarah membuat kedua sahabatnya terhenyak.


"Musuh?"


"Sarah punya musuh?"


"Iya musuhnya tuh jurig," tekan Sarah membuat keduanya menjadi bingung.


"Ngomong apa sih Lo, aneh gitu dari tadi," protes Maila.


"Sudah-sudah, katanya mau shoping. Hari sudah hampir petang ini. Kalau ada Kak Alzam pasti Sarah kena marah keluyuran di jam seperti ini."


"Oke ayo cepat!" Maila menarik tangan Sarah keluar kampus takut traktiran Sarah menjadi gagal saat ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2