HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 39. Istri Kedua Harus Nurut Pada Istri Pertama


__ADS_3

Katrina tersenyum puas.


"Kalau begitu aku mau pulang ke sana sekarang," ucap wanita tersebut dengan menampakkan senyum termanisnya.


Bintang hanya mengangguk dengan perasaan yang entah. "Kalau begitu kita bersiap-siaplah kita akan pulang sekarang!" perintah Bintang.


"Aku sudah siap apa yang akan dipersiapkan," ucap Katrina.


"Baiklah saya urus pembayarannya dulu." Bintang berjalan keluar dan menemui Mentari yang masih fokus menyantap makanannya sambil sesekali masih menahan ringis.


Bintang duduk di samping Mentari dan memandang istri mudanya itu dengan perasaan yang tidak enak. "Ada apa Mas?" tanya Mentari heran melihat ekspresi Bintang yang tidak biasanya. Laki-laki itu menggeleng.


"Kalau Mas Bintang mau tinggal di apartemen Katrina dulu tidak apa-apa. Dia lagi sakit memang butuh perhatian lebih dari Mas Bintang."


"Makanlah dulu, kita bicaranya nanti," ujar Bintang. Mentari mengangguk dan langsung fokus makan kembali.


Bintang memandang Mentari yang sedang menyantap makanannya. Mentari melirik Bintang dengan ekor matanya dan mengernyit karena melihat ada kejanggalan dalam ekspresi Bintang. Mendadak perasaannya jadi tidak enak.


"Sudah makannya, kenapa tidak dihabiskan?" tanya Bintang saat Mentari menyudahi makannya sedang makanan masih banyak.


"Aku makan di rumah lagi nanti sebab kalau dihabiskan takut perut tambah sakit karena terisi full secara mendadak." Mentari beralasan padahal tiba-tiba selera makannya hilang seketika melihat kekhawatiran yang nampak di wajah Bintang. Feeling-nya buruk sekali. Dia pikir Bintang akan menceraikan dirinya dan akan menjadi suami Katrina seutuhnya.


Bintang mengambil botol mineral yang masih ada dalam plastik dan membuka tutupnya lalu menyerahkan pada Mentari. "Jangan lupa obatnya langsung diminum." Mentari mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan sang suami.


"Sudah. Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Mentari setelah selesai menelan kedua obatnya.


"Begini Me ...." Bintang menjeda ucapannya sebentar. "Katrina ingin tinggal di apartemen kita. Aku tidak bisa menolaknya sebab melihat kondisinya seperti itu. Apa kamu setuju?"


Mendengar pernyataan Bintang Mentari terlihat syok. Untuk sementara dia diam tidak menjawab.


"Bagaimana Me?" tanya Bintang lagi karena istri keduanya itu tidak menjawab.


"Terserah Mas Bintang itu kan apartemen Mas bukan milikku."


"Jangan begitu Me. Jangan mengatakan seperti itu. Apartemen milikku berarti juga milikmu. Makanya aku izin dulu padamu sebelum membawa Katrina ke apartemen."


"Terus kalau aku menolak bagaimana?"

__ADS_1


Bintang terdiam mendapat pertanyaan seperti itu dari Mentari.


"Tidak kan Mas? Ya sudah bawa saja. Toh aku tidak akan pernah berhak atas semuanya."


"Me aku mohon pengertiannya."


"Bawalah! Dia juga berhak atas apa yang menjadi milikmu." Mentari berkata dengan nada suara yang datar dan tidak mau menatap wajah Bintang.


"Aku pulang duluan," pamitnya lalu bangkit dan berdiri. Rasa sakit di perutnya tiba-tiba menghilang begitu saja.


Mentari beranjak keluar. Bintang hanya melongo melihat Mentari pergi begitu saja. "Tunggu di mobil Me kita pulang bareng!" teriak Bintang.


Mentari tidak menjawab ataupun menoleh. Dalam hati Bintang berpikir istrinya sedang marah. Bintang langsung kembali ke dalam dan membawa Katrina pulang.


"Kita pulang sekarang!"


"Sudah diurus biaya rumah sakitnya?" tanya Risa.


"Sudah." Jawab Bintang padahal belum. Biarlah dia meminta seseorang saja nanti. Apalagi yang punya rumah sakit kenal dengannya.


"Gendong!" pinta Katrina dengan suara manja.


"Nggak bisa," jawab wanita tersebut.


"Ya sudah ayo." Bintang langsung meraih tubuh Katrina dan menggendongnya. Meski tahu Katrina berbohong karena yang terluka adalah tangan bukan kakinya. Namun, karena ingin cepat menyusul Mentari, Bintang memenuhi keinginan Katrina. Sontak perempuan ini semakin merasa senang.


"Ayo Tan!" ajak Bintang pada Risa sambil membawa tubuh Katrina keluar ruangan. Risa pun mengangguk dan mengikuti langkah Bintang di belakang.


"Pelan-pelan Bin, jangan lari-larian seperti itu kenapa," protes Katrina karena Bintang membawanya tubuhnya sambil berlari.


"Bagaimana kalau aku terjatuh?" protesnya lagi karena Bintang masih saja berlari dan tidak membalas ucapannya.


Saat mentari melihat Bintang mengejar dirinya sambil menggendong tubuh Katrina ia yang tadinya ingin pulang dengan taksi akhirnya masuk ke mobil Bintang.


Bintang bernafas lega melihat Mentari masuk mobil padahal dari tadi dia khawatir takut istrinya itu kabur dari rumah.


Mana mungkin Mentari melakukan itu karena kalau sampai ia melakukan hal tersebut maka Tuan Winata akan menagih semua uang yang telah dikeluarkan untuk membayar hutang-hutang orang tuanya di kampung dan juga biaya membangun rumah serta kiriman yang ditanggung tiap bulannya kepada Warni dan Pandu.

__ADS_1


Karena sudah tenang melihat Mentari masuk ke dalam mobil kini Bintang berjalan dengan santai dan memasukkan tubuh Katrina ke dalam mobil pula.


"Sebelum pulang ke apartemen milikmu kita berhenti saja di apartemen Katrina dulu ya Bintang sebab Tante masih ingin mengambil baju-baju milik Katrina biar tidak repot dua kali," ucap Risa.


"Baik Tante," sahut Bintang.


"Aneh sama mertua bukannya manggil ibu malah manggil Tante, dan anehnya lagi si ibu Katrina nyerocos aja manggil Bintang nggak ada awalan Nak di depan," batin Mentari. Ia kini menyadarkan bahunya pada sofa mobil tanpa mau ikut campur atas pembicaraan ketiganya. Matanya ia pejamkan.


Kalau di kampung mah semua pasti ada sebutannya nggak langsung panggil nama kecuali sebaya.


"Biar saya yang turun," ucap Risa ketika sampai di depan gedung apartemen Katrina. Bintang mengangguk sedangkan Katrina membisikkan password pintu apartemennya pada Risa, sang mami.


Beberapa saat kemudian Risa kembali dengan baju-baju Katrina dan masuk kembali ke dalam mobil.


Sampai di apartemen Bintang, Mentari langsung masuk kamar sedangkan Bintang meletakkan tubuh Katrina di kamar yang lainnya. Setelah itu ia beranjak ke meja makan dan makan malam seorang diri. Ingin mengajak Mentari untuk menemani, dia tidak enak karena melihat Mentari sepertinya marah.


"Bintang saya pamit pulang dulu. Tolong jaga Katrina dengan baik," pesan Risa pada menantunya.


"Iya Tan, tidak makan dulu? Maaf tadi lupa mengajak karena Bintang benar-benar sudah lapar."


"Iya tidak apa-apa. Tante sudah kenyang kok. Ngomong-ngomong mana istri mudamu itu? Mengapa tidak melayanimu makan?"


"Dia sedang sakit Tante. Sudahlah ini juga dia yang menyiapkan tadi tapi belum sempat Bintang sentuh gara-gara Katrina main bunuh diri saja tadi."


"Kalau bukan karena dia mana mungkin Katrina bunuh diri. Kamu juga Bintang, niat nggak sih nikahin anak Tante? Sudah dikawin sirih di sia-siakan lagi."


"Bukan begitu Tante ...."


"Ah sudah-sudah Tante tidak mau mendengar alasanmu itu. Sama kayak perempuan itu. Alasan saja sakit. Sakit apa? Orang Tante lihat tadi dia sehat-sehat saja." Setelah mengatakan itu Risa berlalu pergi dari hadapan Bintang dan beralih menemui Mentari di kamarnya.


"Ada apa Tante?" tanya Mentari heran. Benar-benar tidak punya peraturan. Main nyelonong saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ingat ya kamu itu cuma istri kedua jadi apapun yang terjadi kamu harus nurut sama Katrina sebagai istri pertama."


Mentari menelan ludah mendengar perkataan tadi. Kalau tebakannya tidak meleset Katrina ingin tinggal di tempat ini juga karena ingin memperlakukan dirinya seperti pembantu.


Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus berhati-hati. Siapa tahu wanita itu merencanakan hal licik lainnya terhadap diriku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2