
Sedangkan Sarah sendiri setelah dari rumah sakit tidak pergi ke toko kue miliknya, tetapi langsung pulang ke apartemennya sendiri.
Sampai di dalam kamarnya ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya dengan kedua tangan.
"Maafkan aku." Sarah benar-benar dilema. Setitik air mata jatuh di pipi manisnya.
"Biarkan saja lebih baik sakit dan kecewa sekarang daripada nanti-nanti." Ia bangkit dari berbaring dan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan harapan setelah mandi pikirannya akan fresh kembali.
***
Sore hari Mentari sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Setelah berembug akhirnya mereka memilih pulang ke rumah ustadz Alzam bukan ke rumah Tama. Warni dan Pandu pun akhirnya ikut ke rumah ustadz Alzam.
Tentu saja semua itu atas izin Tama mengingat di rumah ustadz Alzam ada Sarah dan juga ibunya yang bisa membantu mengurusi cucunya dibandingkan di rumahnya sendiri yang hanya mengandalkan pembantu saja.
Setelah beberapa menit berada di perjalanan akhirnya mereka sampai juga ke rumah ustadz Alzam.
Baby Izzam terdengar menangis saat berada dalam gendongan Warni dan tetap menangis ketika digendong mertuanya.
Mentari mengambil alih dan langsung menyusui putra kecilnya tetapi, tetap saja bayi itu menangis dan tidak mau menyusu.
"Sini gendong sama Abi saja." Ustadz Alzam meraih putranya dari tangan Mentari dan langsung menimang-nimang bayi merah itu sambil membacakan shalawat.
Tidak menunggu lama akhirnya baby Izzam tertidur dalam dekapan ustadz Alzam.
"Sudah tidur?" tanya Mentari dengan suara berbisiknya sebab takut membangunkan si kecil.
Ustadz Alzam mengangguk dan langsung menaruh putranya ke dalam box bayi.
"Sepertinya kalau besar nanti dia akan nurut sama abinya," ujar Warni melihat cucunya malah anteng saat dalam dekapan ustadz Alzam.
"Gimana nggak anteng Bu, sebab suara abinya sangat merdu sekali. Mau baca apapun terdengar menyentuh hati, baik baca shalawat, mengaji ataupun mengumandangkan adzan. Saya saja seumpama hanya mendengar suara tanpa melihat orangnya pasti jatuh cinta apalagi lihat orangnya, lebih cinta lagi," ujar Mentari dan langsung tersenyum.
"Mulai menggombal," protes ustadz Alzam.
"Siapa yang menggombal? Orang aku serius."
"Sudah tiduran sana biar stok ASI-nya banyak kalau istirahat!" perintah ustadz Alzam.
"Nggak ngantuk Abi, lelah tiduran terus." Mentari meraih ponselnya lalu membuka aplikasi menulis online-nya.
Wanita itu menghela nafas sebelum akhirnya mengetikkan sesuatu.
Ustadz Alzam mengernyit melihat sang istri begitu fokus pada ponselnya. Pria itu mendekat dan mengintip pada layar ponsel Mentari. Namun, Mentari langsung menyembunyikan ponselnya.
"Chat-tan sama siapa? Kok disembunyikan?"
"Hehe ... sama siapa tebak?" Bukannya menjawab malah main tebak-tebakan.
__ADS_1
Warni dan sang ibu langsung pamit untuk beristirahat karena cucu mereka sudah terlelap.
"Mana aku tahu Ummi."
Mentari langsung membalik ponsel sehingga layarnya menghadap ustadz Alzam. Dia tidak mau membuat sang suami berpikiran macam-macam.
"Oh itu. Sejak kapan kamu menulis novel online?"
"Sejak belum menikah malahan, sejak masih gadis." Mentari terkekeh.
"Saat menikah denganku, kok Abi nggak pernah lihat?"
"Iya karena aku nulisnya sembunyi-sembunyi," sahut Mentari.
"Biasanya ummi nulisnya pas Abi lagi nggak ada di rumah. Lagi ngisi ceramah misalnya," lanjutnya.
"Kenapa?"
"Takut nggak boleh sama Abi."
"Kenapa tidak boleh? Coba lihat!"
Mentari memberikan ponselnya pada sang suami dan ustadz Alzam membacanya. Mentari terlihat risau.
"Lanjutkan saja!" Ustadz Alzam mengembalikan ponsel Mentari.
"Bolehlah kalau cuma menulis seperti itu, tetapi ingat ya Ummi nulis itu yang baik-baik sebab tulisanmu akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat. Kalau suatu saat jasad kita sudah kembali ke tanah dan roh kita sudah kembali ke sisi Allah SWT, tulisan kita masih dibaca banyak orang."
(Nasehat untuk Author sendiri juga✌️)
"Iya Abi. Bagaimana kalau sebelum aku up aku kasih dulu ke Abi agar dicek pantas apa tidaknya aku publikasi."
"Boleh. Nanti aku sisihkan waktu untuk itu. Kalau Abi ada di luar kota kau bisa kirim via WA. Nanti aku cek setelah menyelesaikan ceramah atau sebelumnya juga bisa kalau ada waktu."
"Baik Abi. Abi memang suami yang terbaik."
"Jangan terlalu berlebih," ucap ustadz Alzam sambil mengecup kening sang istri.
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari arah pintu.
"Wa'alaikum salam Warahmatullahi, Bintang? Ayo silahkan masuk!"
"Maaf ustadz saya mengganggu. Saya ke sini ingin menjenguk baby Izzam sekaligus ingin memberikan titipan dari mama untuknya. Sebenarnya sudah tadi pagi sih cuma saya bawa kerja dulu."
"Nggak apa-apa ayo duduk dulu!"
"Nggak usah aku langsung pulang saja. Yang ini dari Mama, dan yang satu ini dariku buat keponakan pertama." Bintang menyodorkan 2 set parcel bayi ke tangan ustadz Alzam.
__ADS_1
"Wah terima kasih banyak nih. Omnya Izzam baik banget."
"Boleh kan lihat baby Izzam dulu?"
"Boleh silahkan!"
Bintang pun berjalan menuju box bayi dan melihat baby Izzam yang tertidur pulas. Senyum Bintang mengembang tatkala baby Izzam tidur sambil tersenyum seolah melempar senyum pada dirinya.
"Semakin hari semakin mirip dirimu ustadz, seperti duplikat saja," ujar Bintang sambil berjalan ke arah ustadz Alzam.
"Alhamdulillah," jawab ustadz Alzam.
"Kalau begitu saya permisi pulang ya!"
"Loh kok buru-buru, kita ngeteh dulu!"
"Tidak perlu ustadz saya masih ada urusan, jadi tidak bisa berlama-lama. Saya pamit ya!"
"Iya."
"Me, saya pergi ya."
Mentari hanya menjawab dengan anggukan. Bintang pun keluar dan meninggalkan rumah ustadz Alzam.
Setelah Bintang pergi ustadz Alzam duduk di samping Mentari kembali.
"Aku salut padanya, dia benar-benar berubah menjadi orang yang baik."
Mentari yang tidak ingin berkomentar tentang Bintang hanya mengangguk saja.
"Kalau Abi nanti tidak bisa menemanimu lagi, kembalilah padanya. Abi yakin dia pasti akan membahagiakanmu. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi padamu seperti dulu."
Mendengar ucapan ustadz Alzam tentu saja Mentari langsung terbelalak.
"Apa maksud Abi? Abi akan meninggalkan Ummi? Apakah Abi akan menikah dengan wanita lain?"
"Ah tidak, maafkan Abi. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa Abi sadar. Kalau masalah kesetiaan jangan pernah ragukan Abi."
"Aku nggak mau berpisah dengan Abi." Mentari langsung memeluk erat tubuh ustadz Alzam sambil meneteskan air mata.
"Kok jadi mewek sih, sudah-sudah!" Ustadz Alzam mengusap-usap bahu Mentari.
"Aku mau shalat ashar Ummi." Ustadz Alzam melepaskan pelukan Mentari yang kini terlihat menghembuskan nafas berat.
"Sudah jangan bersedih lagi, Saya tidak akan kemana-mana," ucap Alzam lalu pergi ke kamar mandi sedangkan Mentari hanya mengangguk sambil mengusap air matanya lalu bangkit dari ranjang untuk melihat keadaan putranya.
Bersambung.
__ADS_1