HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 34. Seperti Pinjam Suami Orang


__ADS_3

"Nanti aku kasih tahu. Sekarang kita makan dulu. Tara ... nasi goreng spesial buatan Bintang untuk Nyonya tersayang sudah selesai," ucap Bintang sambil membawa dua piring ke atas meja.


"Ayo dicicipi!" perintah Bintang.


Mentari pun mengangguk. Menyendok nasi goreng di piring dan meniup-niupnya karena masih panas.


"Bagaimana rasanya?" tanya Bintang saat Mentari sudah selesai mengunyah satu sendok nasi tersebut.


"Lumayan, bumbunya pas," jawab Mentari membuat Bintang sangat senang.


"Kalau begitu suapin dong!" pinta Bintang.


"Ih jorok ah, Mas Bintang kan belum mandi. Sikat gigi sana dulu!"


"Kamu kayak Mama saja saat mengingatkanku untuk sikat gigi pas masih kecil."


Mendengar Bintang menyebut mamanya Mentari mengingat pertemuan dengan Arumi kemarin. Wanita itu tampak terdiam.


"Jangan ngambek lagi ah. Ya sudah aku sikat gigi dulu," ucap Bintang langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi. Dia tidak ingin momen kebersamaannya dengan Mentari terganggu lagi karena membuat wanita itu jadi kesal hanya karena hal sepele tersebut. Seperti mamanya dulu yang pernah ngambek seharian hanya gara-gara sang putra tidak mau sikat gigi. Padahal Mentari tidak ngambek hanya ingat pertemuannya dengan Arumi yang menyakitimu hatinya.


Setelah selesai menyikat gigi Bintang kembali ke samping Mentari dan ikut menikmati masakannya sendiri.


"Ternyata aku bisa masak juga," ucap Bintang. Mentari hanya menunjukkan dua jempol tangannya.


"Kenapa Mas Bintang nggak sekalian mandi? Ini sudah jam berapa loh takutnya Mas Bintang nanti telat ke kantor."


"Hari ini sengaja aku izin pada Pak Gala untuk menemanimu seharian."


Mumpung Katrina lagi nurut," batin Bintang.


"Berarti aku juga nggak kerja dong," ucap Mentari.


"Boleh, kamu boleh kerja kok.Biar nanti saya antar," ucap Bintang.


"Mas Bintang serius?" tanya Mentari tak percaya.


"Iya tapi sekarang habiskan dulu makanannya."


Mentari mengangguk dan terus menyantap nasi goreng buatan suaminya. Sesekali menyuapi Bintang karena porsi yang Bintang berikan terlalu banyak.


"Curang kamu, kalau aku ikut menghabiskan nasi goreng di piringmu siapa yang akan menghabiskan yang ada di piringku?" protes Bintang.


"Habiskan sendiri," ucap Mentari lalu terkekeh.


"Curang," ucap Bintang lagi sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke bibir Mentari. Wanita itu menggeleng.


"Ayo buka mulutnya kalau tidak, izin untuk bekerja aku cabut lagi," ancam Bintang dan akhirnya Mentari menurut. Kalau sampai hari ini dia tidak masuk kasihan Nanik yang akan bekerja sendirian sedang dia tahu data Pesanan yang untuk hari ini sudah banyak.


"Aku mandi duluan ya Mas," pamit Mentari setelah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Jadi kamu belum mandi juga?"


"Udah sih Mas tapi aku berkeringat lagi ini. Gara-gara Mas Bintang masakin nasi gorengnya pedas."


"Aih bukannya kamu suka yang pedas-pedas?"


"Iya sih."


"Kalau begitu aku tambahin yang pedas-pedas aja ya biar kamu tambah berkeringat," ucap Bintang absurd.


"Apaan sih Mas?" tanya Mentari tidak paham.


"Yang hot-hot maksudnya," jelas Bintang. Mentari hanya menelan ludah mendengar penjelasan Bintang.


"Mandi bareng yuk!" ajaknya sambil mengedipkan sebelah mata.


Mentari bergidik ngeri melihat tingkah Bintang. Dulu saat-saat baru menikah Bintang selalu mengajaknya mandi bersama dan ujung-ujungnya mereka harus mandi kembali dan kali ini adalah mandi wajib.


"Jangan sekarang lah Mas lain kali aja. Yah, yah yah!" rajuk Mentari. Dia tidak ingin datang terlambat ke toko. Dia sudah berjanji pada Nanik untuk datang lebih awal pagi ini.


"Aku maunya sekarang, please!" pinta Bintang sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon.


Akhirnya Mentari mengalah, ia


mengangguk pasrah. Ia pun tidak mau berdosa karena menolak keinginan suaminya. Bintang tersenyum menang lalu menggendong tubuh sang istri ke kamar mandi.


Sementara Bintang bersemangat melancarkan aksinya pikiran Mentari melayang jauh ke sana. Nanik pasti sudah menunggunya di toko.


Bagaimana ini? Mbak Nanik pasti menganggapku ingkar janji.


Hingga akhirnya Bintang terlihat tepar barulah Mentari bernafas lega.


Ah akhirnya aku bisa lepas juga.


Padahal Biasanya Mentari yang paling bersemangat ketika Bintang mengajaknya bercinta. Namun, kali ini mengapa Mentari tidak bisa menikmatinya. Apa karena ia merasa sakit karena sudah lama tidak tersentuh atau bahkan karena pikirannya lebih fokus pada pekerjaan.


"Bersihkan dirimu dulu dan bersiap-siap! Setelah ini aku akan langsung mengantarmu," ujar Bintang.


Mentari mengangguk dan mandi setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan berdandan.


Sekarang giliran Bintang yang membersihkan diri. Mulutnya tak henti tersenyum. Pagi ini dia benar-benar senang dan puas. Iya yakin semalam Mentari menolak dirinya hanya karena kesal saja bukan karena sudah ada pria lain di hati Mentari. Bintang menyesal telah menuduh Mentari macam-macam.


"Sudah berdandannya, nggak usah cantik-cantik!" Bintang tidak ingin istrinya dilirik orang lain kalau berpenampilan cantik.


"Katrina aja boleh dandan cantik mengapa aku tidak?" Mentari protes.


"Kamu beda sama dia. Kalau kamu mah tidak berdandan saja sudah cantik."


"Alasan, buktinya di kantor tempatmu bekerja tidak ada yang satupun yang tahu bahwa aku itu istrimu kecuali Pak Gala. Sedangkan Katrina semua tahu bahwa dia itu istrimu. Kamu pasti malu kan mengenalkan aku pada semua karyawan di sana?"

__ADS_1


"Bukan begitu, itu bukan kantor milikku jadi rasanya tidak pantas aku mengenalkan istriku pada mereka."


"Tapi Katrina? Semua tahu."


"Entahlah mereka tahu sendiri atau mungkin Katrina yang memberitahukan mereka. Aku tidak pernah memberitahukan itu kecuali sama Pak Gala. Itupun karena dia mendesak agar aku jujur."


Mentari hanya manggut-manggut.


"Sudah ayo berangkat," ajak Bintang yang sudah selesai memakai bajunya. Pria itu hanya memakai celana pendek dan kaos.


Mentari yang sudah siap pun mengangguk.


Mentari mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar disusul Bintang di belakang.


"Me jangan buru-buru kenapa sih?"


"Takut telat Mas, ini sudah jam berapa."


"Ya sudah ayo!" Bintang mengambil tangan Mentari dan menggenggamnya lalu berjalan beriringan menuju pintu keluar unit apartemen.


Belum sempat membuka pintu, terdengar bel berbunyi.


"Siapa Me?" tanya Bintang.


Mentari menggeleng. "Tidak tahu."


Biasanya Sarah tapi tidak mungkin dia masih ada di sini sekarang. Ini sudah hampir jam delapan. Apa mungkin Katrina?


Wajah Mentari terlihat pucat melihat sang suami akan diambil Katrina kembali.


Kamu kenapa pucat seperti itu?" tanya Bintang. Dia mulai curiga lagi.


Jangan-jangan yang datang ... ah tidak mungkin Mentari selingkuh.


Bintang menepis pikiran buruknya. Dia tidak ingin berpikiran yang tidak baik tentang Mentari.


"Pasti Katrina Mas," sahut Mentari.


"Jadi itu alasan kenapa wajahmu terlihat khawatir?"


"Ini gara-gara kamu sih Mas. Aku berasa pinjam suami orang tahu jadi istrimu."


"Kamu ada-ada saja," ucap Bintang sambil tertawa.


"Malah ketawa lagi," kesal Mentari.


"Abisnya kamu itu lucu, pakai istilah pinjam suami segala."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2