HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 253. Bertolak Belakang


__ADS_3

"Sarah kamu kenapa?" tanya Gala sambil menepuk-nepuk pipi Sarah. Melihat Sarah tidak bereaksi, pria itu langsung membawa istrinya ke dalam kamar.


Sementara Tama langsung menelpon dokter pribadi keluarga.


Semua kerabat menyusul Gala ke lantai atas untuk melihat keadaan Sarah selanjutnya.


Gala pun membaringkan tubuh Sarah di atas ranjang dan berusaha membuat istrinya sadar.


"Sarah bangun Sayang!" Gala mengusap-usap wajah istrinya.


"Bu bagaimana ini?" tanyanya panik sambil memeriksa denyut nadi Sarah. Gala sedikit menghela nafas lega karena nadi di lengan Sarah masih berdenyut.


"Tidak usah panik Nak Gala dia mungkin hanya kecapekan saja," ujar mertua perempuannya memenangkan Gala agar tidak berpikiran macam-macam.


"Nak Mentari tolong ambilkan benda yang berbau tajam, minyak kayu putih, minyak angin atau parfum. Pokoknya seadanya lah!"


Wanita tua itu hanya pandai menasehati Gala agar tidak panik dirinya sendiri malah terlihat lebih panik.


"Baik Bu." Mentari menyerahkan Izzam pada ayah mertuanya dan segera mencari yang diminta oleh sang ibu mertua.


Beberapa saat kemudian kembali dengan minyak angin di tangan.


"Ini Bu." Mentari mengulurkan minyak angin itu ke tangan mertua perempuannya.


"Tolong buatkan anak saya teh manis!" pinta ayah Sarah.


"Baik Tuan." Seorang pembantu bergegas pergi ke dapur.


"Ngapain kamu ke sini? Jangan-jangan Bu Sarah pingsan karena syok melihatmu," bisik Kiki di telinga Diandra.


"Saya bukan jin Pak Kiki, jadi tidak bisa membuat orang lain pingsan," protes diandra dengan suara berbisik pula.


"Minggir dokter mau lewat!" perintah Tuan Winata agar orang-orang menyingkir dari pintu dan memberikan jalan bagi dokter untuk melangkah ke arah Sarah.


Sementara itu Gaffi tampak menangis dalam gendongan Arumi.


"Sabar Sayang mami kamu belum sadar, minum susu formula saja ya!" ucap Arumi sambil menimang-nimang Gaffi agar terdiam.


"Gala susu formulanya ada di mana? Di kamar Gaffi, kan?" tanya Arumi kemudian.


"Tidak ada Bi, Sarah tidak mau putra kami minum susu formula. Katanya selama dirinya masih mampu, seratus persen pakai Asi. Jadi kami tidak menyediakan susu formula," sahut Gala.


"Aduh bagaimana ini?" Arumi ikut panik sebab tangisan Gaffi semakin kencang padahal biasanya bayi itu jarang menangis.


"Sini Ma, Meme bawa keluar saja!" Mentari meminta Gaffi dari tangan Arumi.

__ADS_1


"Ini teh manisnya Tuan," ujar pembantu di rumah itu.


"Taruh saja di atas meja itu Bi, nanti berikan kalau Sarah sudah sadar," ujar ayah Sarah lagi.


"Bi tolong belikan susu formula untuk Gaffi sebagai persiapan. Siapa tahu Sarah masih lama sadarnya," jawab Mentari.


"Merek apa Non?"


"Cari aja yang terbaik Bi."


"Baik Non!"


"Uangnya minta sama papa!" perintah Mentari lagi.


"Siap Non."


Mentari pun melangkah keluar kamar hendak membawa Gaffi keluar rumah untuk mencari angin segar.


"Bagaimana Dok?" tanya Gala ketar-ketir. Dia takut nasibnya akan seperti Mentari yang ditinggalkan pasangannya setelah memiliki anak. Gala khawatir dan takut Sarah menyusul sang kakak.


"Istrimu tidak apa-apa, hanya saja tekanan darah dan gula darahnya rendah. Tolong jaga pola makannya! Sepertinya istrimu ini sering telat maka atau bahkan kurang makan. Seharusnya orang hamil dan menyusui itu makanannya dilebihkan minimal satu piring setiap hari dibandingkan orang biasa."


"Tidak bahayakah keadaan istri saya sekarang Dok?"


"Baik Dok."


"Ini saya kasih vitamin dan obat penambah darah. Nanti kalau istrimu masih lemah atau belum sadar juga langsung bawa ke rumah sakit saja!"


"Baik Dok," sahut Gala. Namun, hatinya masih tidak bisa tenang.


"Kalau begitu saya permisi dulu karena ada pasien lain yang harus segera ditangani. Permisi semuanya!"


"Terima kasih Dok," ucap orang-orang yang ada dalam ruangan itu dan Gala hanya menatap punggung dokter itu yang melangkah keluar. Dalam hati Gala sudah berpikiran macam-macam. Kalau sampai Sarah kenapa-napa dia tidak akan menggunakan dokter itu lagi sebagai dokter keluarga sebab dokter itu meninggalkan Sarah masih dalam keadaan belum sadar.


"Bangun Sayang, tuh putramu menangis. Dia butuh Asi-mu," ujar Gala sambil mengguncang tubuh Sarah siapa tahu dengan cara seperti itu Sarah mau sadar dari pingsannya.


Namun, sayang yang dilakukan Gala percuma saja sebab Sarah masih tidak bergeming.


"Hah." Gala terlihat putus asa sebab Sarah belum sadar juga.


"Lima menit lagi belum sadar terpaksa aku harus membawamu ke rumah sakit," ucap Gala tidak sabaran membuat kedua mertuanya hanya geleng-geleng kepala.


Dalam pikiran keduanya mungkin saja Gala tidak pernah menghadapi orang pingsan seumur hidupnya sehingga sedikit norak seperti ini.


"Sabar Nak," ucap mertua lelakinya lagi sedangkan mertua perempuannya masih fokus berusaha membuat Sarah sadar.

__ADS_1


"Ca! Ca!" panggil Gala mendengar suara tangisan putranya masih terdengar meskipun sudah agak samar karena Mentari membawa anak itu menjauh dari semua orang.


"Sebentar saya panggil," ucap Arumi lalu bergegas keluar kamar dan berlari mengejar Mentari yang sudah hampir keluar dari rumah.


Mentari langsung menoleh mendengar ada yang memanggil namanya.


"Iya Ma?"


"Kamu dipanggil Gala di kamar!"


Mentari mengernyit, tetapi kemudian mengangguk meskipun tidak tahu apa yang kakaknya itu inginkan.


Mentari berbalik dan melangkah kembali ke kamar Gala.


"Iya Kak?" tanya Mentari saat sampai di pintu.


"Bawa Gaffi ke sini!"


"Mentari mengangguk dan memberikan Gaffi pada ayahnya.


"Susu formula untuknya sudah dibeli?"


"Mungkin sebentar lagi bibi akan sampai," ujar Mentari mengingat tidak jauh dari kediamannya itu ada minimarket.


Gala mengangguk.


"Terus nangis sayang agar mamimu bangun!" perintah Gala pada putra kecilnya membuat semua orang yang ada di sekitarnya malah kebingungan. Bukannya mendiamkan Gaffi, tapi Gala malah melakukan yang sebaliknya. Menyuruh bayi itu semakin menangis.


"Bapak pikir Bu Sarah itu tidur sehingga bisa dibangunkan dengan tangisan bayi?" protes Kiki.


"Kau diamlah Ki! Kalau tidak bisa membantu lebih baik tidak usah ikut campur!"


Kiki hanya bisa menelan ludah mendengar protes dari atasannya itu.


"Ayo sayang menangis lebih kencang!" perintah Gala lagi pada bayinya membuat semua orang menganggap Gala tidak waras dan anehnya semakin Gala menyuruh putranya untuk menangis, bayi itu malah semakin memelankan suaranya dan akhirnya tangisannya reda.


"Kau berhasil Mas," ucap Mentari sumringah. Bisa dicontoh nih untuk Izzam."


"Mana bisa? Izzam kalau disuruh nangis ya tambah kencang nangisnya," bantah Bintang yang benar-benar tahu sifat dari putra Mentari itu.


"Kak aku tidak mau! Aku harus kembali ke Gaffi," ujar Sarah lalu membuka mata dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sarah!" Akhirnya Gala bernafas lega melihat istrinya sadar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2