
Setelah selesai mengganti pakaiannya Mentari langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Dalam situasi yang membuat moodnya hancur seperti sekarang dia tidak ada gairah untuk melakukan aktivitas apapun. Apalagi kala mengingat tuduhan Bintang tentangnya dia merasa sangat hancur sekarang.
Mentari mencoba memejamkan mata. Ingin rasanya ia segera terbang ke alam mimpi karena yakin di alam sana bisa menemukan kebahagiaan. Ya begitulah selalu pikiran Mentari setiap kali merasa lelah dengan kehidupan nyata. Ingin rasanya dia tidur dan tak, kan pernah bangun kembali.
Bintang yang sudah stabil emosinya menatap ke arah kamar. Tidak terlihat Mentari keluar dari sana.
Bintang menghela nafas dan menunggu sebentar. Melihat Mentari tidak keluar juga dari dalam kamar ia bergegas masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Ternyata dia telah melihat Mentari dalam keadaan tidur membungkuk dengan melipat kedua kakinya ke depan dada seperti layaknya janin dalam rahim.
Bintang menilik wajah Mentari, wajah wanita terlihat sendu, ada gurat kesediaan berbaur sisa air mata di pipi Mentari. Matanya terlihat merah karena terlalu banyak menangis.
"Maafkan aku Me, aku terlalu cemburu buta padamu," ucap Bintang.
Mentari yang sebenarnya tidak tidur, tetapi hanya pura-pura saja ingin rasanya berteriak dan mengatakan bukan kamu saja yang bisa merasakan cemburu, tetapi aku juga. Namun, itu tidak dia lakukan karena dia sedang malas berbicara pada Bintang. Berpura-pura tidur saat ini adalah pilihan yang tepat untuk menghindari Bintang.
Tiba-tiba Bintang kaget ketika mendapati benjolan di dahi Mentari bahkan di ujung benjolan itu mengeluarkan sedikit darah.
"Me, kamu ini kenapa?" tanya Bintang niatnya bicara sendiri padahal Mentari mendengar setiap perkataan dari Bintang.
Namun, tetap Mentari tak ingin menjawab apapun pertanyaan dari Bintang.
Bintang mengingat-ingat bahwa ketika dirinya menarik Mentari dari rumah Gala benjolan itu masih belum ada.
Bintang terlihat kaget karena baru sadar bahwa ketika dirinya mendorong tubuh Mentari ke dalam mobil, wajah Mentari terbentur dasboard mobil.
"Me maafkan aku." Bintang semakin merasa bersalah.
Namun, berapapun banyaknya Bintang meminta maaf padanya rasanya sangat sulit bagi Mentari untuk memberikan maaf terkecuali Bintang menarik ucapannya yang menuduh dirinya berselingkuh dengan Gala. Mentari bertekad akan diam saja nanti ketika Bintang terus saja mengajaknya bicara.
Karena tidak ada reflek dari Mentari saat diajak Bicara Bintang sangat yakin bahwa istrinya memang sudah tidur dengan nyenyak.
Bintang bangkit dari duduknya dan mencari kotak obat. Dia membubuhkan obat merah pada kapas dan sedikit menekan pada luka Mentari di benjolan itu. Dia kemudian memberikan plester pada kapas itu agar melekat di dahi Mentari.
Selesai mengobati Mentari, Bintang beralih mengobati dirinya sendiri. Dia meringis saat obat itu menyentuh lukanya yang menimbulkan efek perih. Mentari hanya melirik kemudian pura-pura tidur lagi.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati lukanya sendiri Bintang tidak langsung mandi dia menunggu agar obat itu meresap sebentar di kulitnya. Dia memilih pergi ke dapur, membuat kopi untuk dirinya sendiri dan juga teh hangat untuk Mentari.
Setelah selesai meneguk kopinya sendiri dia kembali ke kamar dan meletakkan teh hangat untuk Mentari di meja, di dekat lampu tidur.
Untuk sesaat Bintang menatap Mentari kembali, lalu ketika dirasa obatnya sudah meresap ia pun berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dia langsung ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur bersama Mentari.
Begitu lama pura-pura tertidur akhirnya Mentari benar-benar bisa tertidur pulas.
Bintang hendak memejamkan mata ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Terpaksa dia bangkit lagi dan mengambil ponsel yang ia letakkan tadi di samping gelas teh.
"Katrina?"
Bintang keluar dari kamar mendapati orang yang menelponnya adalah Katrina.
"Iya Kate ada apa?"
"Aku keluar dari kantor Kate," sahut Bintang.
"Maksudnya?" Katrina sama sekali tidak paham.
"Aku mengundurkan diri dari perusahaan," jelas Bintang.
"Bagaimana mungkin Bin? Kenapa kau lakukan itu di saat kita butuh uang untuk biaya lahiran anak kita nantinya," keluh Katrina.
"Untuk itu kamu tidak perlu ikut memikirkan, biarkan menjadi tanggung jawabku saja," tegas Bintang.
Katrina hanya menganga di depan ponsel. Syok dengan keputusan Bintang.
"Kamu kalau tidak nyaman bekerja di situ silahkan berhenti juga, aku tidak akan melarangnya lagi." Setelah mengatakan itu Bintang langsung menutup panggilan telepon Katrina.
Di kantor sana Katrina semakin tidak paham dengan cara berpikir Bintang. Dia menggeleng dan berkata, "Tidak aku tidak akan mengundurkan diri. Susah payah aku mencari kerja. Masa tidak ada angin, tidak ada hujan harus berhenti sih," kesal Katrina.
__ADS_1
"Pak Gala juga, ya ampun semakin pusing nih kepalaku kalau begini," gumam Katrina karena Gala belum datang juga ke kantor.
Wanita itu lalu menyandarkan bahunya pada sofa dan melamun, memikirkan bagaimana caranya Bintang bisa memenuhi kebutuhan dirinya kalau sudah tidak bekerja di perusahaan Gala lagi.
Di tempat lain, di kediaman Pradiatama, pemilik rumah terlihat syok karena Mentari ditarik begitu saja dari rumah itu. Pria itu ditahan oleh Gala ketika ingin mengejar Mentari. Oleh karena itu Tama kini diam kembali seperti dulu.
"Papa harus bersabar dulu, kalau kita menahan Mentari di sini sekarang bisa saja Bintang akan semakin marah pada Mentari. Kasihan dia Pa. Papa tenang saja, Gala akan berusaha agar Mentari tidak menjauh dari papa. Kalau perlu nanti Gala akan membicarakan semuanya pada paman Winata. Gala yakin paman pasti bisa membantu.
Tama tetap diam membisu tak mau menjawab dengan sepatah katapun.
"Pa!" panggil Gala, tetapi tetap tak ada tanggapan.
"Argh!" Gala mengacak rambutnya kasar. "Mengapa bisa kacau seperti ini? Ya Tuhan ampuni aku." Gala meraup wajahnya kasar.
"Bik setelah pekerjaan bibi selesai bawa papa ke kamar! Aku pergi ke kantor dulu," perintah Gala kepada bibi yang sedang membersihkan lantai dari pecahan beling maupun makanan yang tercecer.
"Baik Den." Setelah mendengar jawaban pembantunya Gala meraih proposal itu dan membawa ke kantor.
Sesampainya di kantor.
Plak!
Gala meletakkan proposal dengan kasar di meja Katrina. Katrina mengernyit dan langsung menatap wajah Gala yang tampak marah. Katrina berpikir apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Gala marah seperti itu.
Apakah ada yang salah dalam proposal itu?
"Buatkan proposal yang baru, ini sudah kotor!" perintah Gala dan Katrina hanya bisa menggaruk-garuk kepala.
"Apa yang kamu tunggu? Buatkan cepat!"
"Iya Pak." Katrina bangkit dari duduknya. Meraih proposal itu dan langsung melakukan apa yang sudah ditugaskan. Dia tidak mau Gala memecatnya. Katrina yakin Bintang pasti berseteru dengan Gala sehingga ia memutuskan keluar dari perusahaan dan Katrina tidak mau masalahnya keduanya akan merambah kepada profesinya.
Bersambung
__ADS_1