HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 119. Ketuk Palu


__ADS_3

"Loh kok ...." Gala heran dengan hasil tes DNA yang terpampang di depannya.


"Masa iya sih Aldan memang anaknya Bintang?" Gala tidak dapat mempercayai hasil tes tersebut.


"Kalau memang Aldan adalah putra Bintang kenapa pula Katrina memanggil laki-laki itu ke dalam ruangan saat akan melakukan pengambilan sumsum miliknya?" batin Gala tidak mengerti dengan teka-teki itu.


Sepertinya harus dilakukan tes ulang, tapi untuk saat ini siapa orang yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil sampel keduanya tanpa meninggalkan kecurigaan.


Saat memikirkan hal itu tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo!"


"Pak, lima belas menit lagi meeting akan dimulai." Terdengar suara Kiki dari seberang telepon.


"Baik saya akan segera kembali," ucap Gala dan langsung bergegas pergi.


Gala keluar dari dari bangunan rumah sakit dengan tergesa-gesa bahkan ia berjalan dengan setengah berlari. Setelah sampai di parkiran rumah sakit dia menyetir mobilnya ke luar area rumah sakit dengan pelan. Namun, saat sampai di jalan raya segera Gala tancap gas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Arka yang sedari tadi mengintip saat tahu Gala pergi segera keluar dari persembunyiannya.


"Ah akhirnya, tidak salah aku menunggu di rumah sakit waktu itu." Arka tersenyum lebar saat mengingat dirinya telah berhasil menukar rambut Bintang dengan rambutnya sendiri.


"Sekarang aman," ucapnya lagi, bermonolog sendiri.


"Arka kau ada di sini?" tanya Katrina yang kebetulan lewat dan melihat Arka senyum-senyum sendiri.


"Iya, aku sudah menuntaskan misi penyelamatan," ucap Arka bangga.


Katrina tampak mengerutkan dahi tidak mengerti. "Memang apa yang sudah kamu lakukan?" tanyanya penasaran.


"Menutup rahasia yang hampir saja terbongkar," jawab Arka.


"Sudahlah kamu terlalu berbasa-basi," ucap Katrina dan langsung meninggalkan Arka yang berdiri di depannya.


"Hai Kate tunggu!" panggil Arka pada Katrina.


"Apa lagi?" tanya wanita itu sambil berbalik.


"Kau harus lebih berhati-hati!" seru Arka membuat Katrina berjalan lagi ke arah Arka.


"Maksudnya?"


"Mertuamu dan Gala itu mencurigai bahwa Aldan bukanlah anak Bintang makanya mereka melakukan tes DNA antara keduanya tanpa sepengetahuanmu," tutur Arka.


"Benarkah, terus bagaimana? Apakah mereka sudah tahu bahwa Aldan bukan anak Bintang?" tanya Katrina ketir.


"Kau tidak perlu khawatir aku sudah membereskan semuanya. Rambut Bintang sudah aku tukar dengan rambutku sendiri," beber Arka membuat Katrina bernafas lega.


"Baguslah kalau begitu, sekarang aku harus kembali ke kamar Aldan dulu takut mama lama menunggu," pamit Katrina pada Arka.


"Tunggu dulu!" Arka menarik bahu Katrina agar tidak pergi.


"Lepaskan Arka! Aku harus pergi sekarang, jika orang melihat keberadaan kita aku takut mereka akan curiga dan memberitahukan pada Bintang ataupun keluarganya.


"Berikan itu dulu!"

__ADS_1


"Apa? Aku tidak punya uang. Imbalannya kubayar nanti setelah Bintang menikahiku, sah secara negara."


"Aku tidak meminta uang."


"Terus?"


"Berikan makanan itu aku lapar," tunjuk Arka pada bungkusan yang dipegang Katrina.


"Ah kamu makan aja mau nebeng juga," protes Katrina. Bagaimana mungkin pria ini bisa disejajarkan dengan Bintang kalau dalam keuangan saja kere.


"Aku tidak sempat makan saat tadi membuntuti Gala," terang Arka.


"Baiklah ini." Katrina memberikan makanan bagian Bintang pada Arka lalu bergegas pergi untuk menyerahkan makanan yang lain kepada Arumi sekaligus menjaga putranya. Katrina yakin Bintang pasti sudah makan saat sampai di rumah sakit nanti.


***


Bintang menemui para wartawan untuk menginformasikan tentang ketidak benaran berita yang beredar. Dia memberikan video lengkapnya agar tidak ada orang yang salah paham lagi atas Mentari dan ustadz Alzam.


Dalam bicaranya itu Bintang juga meminta maaf pada Mentari dan ustadz Alzam. Dia juga meminta Mentari segera menelpon dirinya untuk menyelesaikan masalah yang masih menggantung.


Terpaksa Bintang mengatakan itu sekaligus karena tidak ada waktu untuk mencari Mentari sedangkan dia sama sekali tidak tahu dimana Mentari sekarang berada.


"Mentari tuh mantan suamimu," tunjuk Reni pada sebuah televisi yang menyala di dinding toko.


"Biarkan saja," ucap Mentari cuek.


"Tapi sepertinya dia ingin berbicara sesuatu yang penting denganmu," tebak Reni.


"Hal penting apa? Kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi," ujar Mentari.


Mentari mengangguk. "Mungkin saja, boleh ku pinjam hapemu?"


"Memang hapemu kenapa, tidak ada pulsa? Apa tidak ada baterai?" tanya Reni heran. Bukannya apa, dari tadi Mentari tampak memainkan benda itu sambil menunggu pembeli, tapi sekarang malah ingin meminjam ponsel Reni.


"Aku tidak ingin dia tahu nomorku," jelas Mentari.


"Oh," ucap Reni sambil menyodorkan ponsel miliknya pada Mentari.


"Terima kasih," ucap Mentari.


"Sama-sama," jawab Reni.


Mentari menepi, mencari tempat yang nyaman untuk berbicara dengan Bintang.


"Halo aku Mentari ada apa?"


"Aku sudah mengurus surat perceraian kita, besok harap hadir ya di persidangan jam 9 pagi biar urusannya cepat kelar." Terdengar hembusan nafas berat Bintang dari balik telepon.


"Baik aku akan datang tepat waktu." Setelah itu Mentari langsung mematikan sambungan telepon. Dia malas mendengar suara Bintang.


"Me! Me!" panggil Bintang sebab dia belum selesai bicara. Sayangnya tak ada jawaban dan setelah dicek ternyata panggilan teleponnya sudah dimatikan oleh Mentari.


"Ah sudah putus ternyata." Bintang meletakkan ponselnya kembali ke pada saku jasnya.


Esok hari sengaja Mentari izin tidak masuk bekerja karena harus hadir dipersidangan begitupun dengan Bintang. Kedua orang itu sama-sama ingin bersiap-siap lebih awal.

__ADS_1


Reni pun ikut izin tidak masuk kerja karena ingin menemani Mentari yang tidak ada yang menemani di persidangan.


"Kamu kenapa sih Me?" tanya Mentari heran melihat tangan Mentari tampak gemetar.


"Aku gugup Ren," ucap Mentari sambil meletakkan kedua tangannya di atas tangan Reni.


"Tanganmu dingin sekali, hahaha." Reni tertawa menggoda Mentari.


Dari arah belakang sana Bintang memasuki ruangan dan mencari keberadaan Mentari. Setelah melihat dimana Mentari duduk Bintang berjalan ke arah wanita itu.


"Kau tenang saja Me perpisahan ini hanyalah untuk sementara. Suatu saat nanti kita akan bersatu kembali. Aku tahu kita saling masih saling mencintai, kan?"


Mentari mengernyit lalu memalingkan muka. Perkataan Bintang membuatnya sangat muak.


Bintang duduk di kursi lain dan menghadap ke depan dengan tenang.


"Apa katanya Me?" tanya Reni penasaran.


"Suatu saat nanti kami akan bersatu kembali katanya, gila nggak sih? Sudah stres kali dia."


"Mungkin dia sudah begini," ucap Reni sambil memiringkan jari telunjuk di dahinya.


"Mungkin kali," ucap Mentari. Wanita itu tertawa bersama membuat Bintang melirik ke arah mereka.


"Sudah, sidang sepertinya akan segera dimulai," ucap Reni ketika melihat hakim berjalan menuju mejanya.


Suasana hening sesaat. Tampak Katrina datang dan duduk di belakang Bintang. Sengaja wanita itu hadir untuk menyaksikan proses persidangan kedua.


"Siapa dia?" tanya Reni yang memang tidak pernah melihat Katrina.


"Biasa istri kesayangan," jawab Mentari.


"Oh."


Sidang pun berjalan lancar. Setelah melakukan sesi tanya jawab yang panjang akhirnya hakim meminta mereka untuk melakukan mediasi terlebih dahulu.


Mentari menolak dan menjelaskan bahwa dirinya dan Bintang tidak mungkin bisa melakukan mediasi karena talak yang jatuh padanya adalah talak tiga dan meskipun bukan talak 3 sekalipun Mentari mengatakan tidak akan pernah kembali pada Bintang.


Bintang memandang tak percaya pada Mentari dengan semua yang diucapkan oleh wanita itu yang seakan membenci Bintang. Bintang terlihat kecewa. Namun, dia harus menahannya dan bersabar dengan ucapan Mentari karena suatu saat dia pasti akan mendapatkan Mentari kembali.


"Seharusnya kamu tidak hadir saja Me biar putusan lebih cepat," ucap Reni.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih!" protes Mentari pada Reni.


"Sorry aku lupa."


Setelah keduanya mengatakan tidak akan pernah melakukan mediasi dan keputusan mereka sudah bulat untuk berpisah ditambah dengan talak 3 yang terjadi diantara mereka akhirnya hakim mengetuk palu dan memutuskan mereka resmi bercerai. (Mohon maaf seumpama tidak sama dengan di dunia nyata karena othor tidak pengalaman. Biar alurnya cepat saja✌️)


"Alhamdulillah," ucap Mentari lega. Akhirnya perkara dirinya selesai sudah. Dari tadi dia sempat khawatir karena banyak pasangan suami istri yang sampai berbulan-bulan belum selesai juga dengan perkata perceraian mereka.


"Wah selamat ya Me."


"Terima kasih ini semua berkat bantuanmu," ucap Mentari sambil tersenyum senang.


Bersambung.

__ADS_1


Kopi! Kopi! Kopi! Siapa yang menjanjikan kopi. Mereka sudah resmi bercerai 🤭


__ADS_2