HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
Bab 239. Hamil?


__ADS_3

Semakin siang, tubuh Sarah bertambah tidak nyaman. Sarah berkali-kali menghubungi nomor telepon Gala masih tidak diangkat juga. Mencoba menelpon Mentari ternyata mendengar tangisan Izzam yang begitu kencang sehingga Sarah terpaksa memutuskan sambungan teleponnya.


"Sudahlah aku tidur saja." Sarah tidak tahu harus menelpon siapa lagi untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Mau minta tolong mertuanya Sarah merasa sungkan.


Wanita itu memaksa untuk berbaring sebab tubuhnya terasa semakin lemah.


Di kantor Gala langsung memeriksa ponsel yang tadinya dia setel mode senyap sebab baru saja menyelesaikan meeting. Dia tidak mau saat sedang fokus berbicara ada bunyi ponsel yang berdering dan menggangu jalannya rapat penting.


"Sarah!" Gala kaget melihat ada panggilan telepon sampai 10 kali dari istrinya.


"Ada apa dengan dia, apa mau minta maaf lagi?"


Namun, Gala langsung tertuju pada chat yang masuk ke dalam ponselnya. Buru-buru pria itu memeriksa.


[ Pak pulang sebentar, tubuhku lemas sekali dan sedari pagi muntah-muntah. Mau minta antar sama Kak Mentari, Izzam sedang nangis, mau minta karyawan kak Alzam buat nganterin ke rumah sakit, takut Pak Gala salah paham.]


"Sarah sakit?" Buru-buru Gala keluar dari ruangan.


"Kok buru-buru, Pak?" sapa Kiki.


"Sarah tidak enak badan, saya harus mengantarnya ke rumah sakit. Perusahaan kamu dulu yang handle ya," ucap Gala sambil terus melanjutkan langkahnya.


"Siap Pak!" teriak Kiki sebab posisi dirinya berdiri sudah jauh dengan Gala.


"Pak, antar saya pulang!" perintah Gala pada sopir pribadinya.


"Baik, Den." Segera pria itu bersiap. Setelah Gala masuk ke dalam mobil, pak sopir mengeluarkan mobil dari area perusahaan dan menyetir menuju rumah sang majikan.


"Lebih cepat lagi, Pak!" perintah Gala.


"Sepertinya di depan ada kemacetan, Den."


"Cari jalan alternatif saja!"


"Baik."


Di tengah perjalanan Gala menelpon Tama untuk membantu melihat keadaan Sarah.


"Bagaimana, Pa?" tanya Gala panik.


"Nak Sarah masih berbaring di tempat tidur, katanya dia sering mual dan muntah dan sekarang tubuhnya terkulai lemas. Kata bibi dia tidak mau makan. Kamu masih lama? Kalau iya, biar papa yang bawa dia ke rumah sakit saja."


"Tidak lama Pa, paling sepuluh menit lagi."


"Baiklah kata Nak Sarah dia akan menunggumu."


"Baik Pa."


Tepat sepuluh menit kemudian Gala sudah berlari menapaki anak tangga.


"Bagaimana, Pa?"


"Kamu lihat sendiri di dalam!"


Gala langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Tampak bibi sedang memberikan teh hangat kepada Sarah.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


Sarah berhenti minum dan mengangguk. Gala langsung menggendong tubuh Sarah keluar dari kamar.

__ADS_1


"Pa, Gala pergi bawa Sarah ke rumah sakit dulu."


"Iya, hati-hati, Nak."


"Jalan, Pak!" perintah Gala setelah meletakkan tubuh Sarah di dalam mobil.


Pak sopir pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Sarah kamu apanya yang sakit?" tanya Gala sambil membelai rambut istrinya yang masih terbungkus hijab. Namun, tampak berantakan.


"Kepala rasanya mau pecah dan perut sakit terus," ujar Sarah dengan wajah yang terlihat meringis.


"Maaf aku tidak mendengarkan panggilan teleponmu karena ponselku mode senyap. Aku baru baca chatmu setelah selesai rapat bersama beberapa petinggi perusahaan."


"Iya Pak, nggak apa-apa, Sarah mengerti kok." Sarah membenahi kepalanya yang merosot dari pangkuan Gala.


"Maaf ya Pak, Sarah sudah mengecewakan Bapak."


"Sudah jangan pikirkan itu dulu, kesehatanmu lebih penting."


Sarah mengangguk, menatap wajah Gala di atasnya dan tersenyum.


"Kenapa?" tanya Gala penasaran melihat Sarah malah tersenyum. Dia tidak tahu saja betapa khawatirnya Gala saat ini.


"Sarah bahagia kalau Bapak perhatian seperti ini. Huak!" Sarah terlihat mual lagi.


Buru-buru Gala mengambil plastik hitam dan membukanya.


"Muntah di sini saja dulu!"


Sarah menggeleng. "Nggak jadi."


Tiga puluh menit di perjalanan akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sakit.


"Bagaimana, Dok? Istri saya sakit apa?" tanya Gala setelah dokter keluar dari ruang periksa diikuti Sarah di belakangnya.


"Duduk dulu Pak Gala, Ibu Sarah."


Keduanya pun mengangguk dan duduk.


"Sakit apa, Dok?" Gala tidak bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban. Dia begitu takut istrinya mengidap penyakit berat.


"Istri Pak Gala tidak sakit–"


"Tapi?" Gala yang tidak sabaran segera memotong ucapan dokter.


"Pak, jangan memotong pembicaraan kenapa? Tidak sopan tahu!"


Dokter mengernyit mendengar sebutan Sarah untuk Gala. Dia berpikir apa dirinya salah dengar tadi bahwa Gala menyebut Sarah istri.


"Pak Gala tidak sabaran ternyata. Maaf, kalau boleh tahu, Bu Sarah ini apanya Pak Gala?" tanya dokter untuk memastikan status pasangan itu sebelum menjawab pertanyaan Gala sebab dia menjadi ragu.


"Dia istri saya Dok," sahut Gala.


"Oh." Dokter itu terlihat tertawa. Ternyata dirinya tidak salah dengar.


"Ada yang aneh?" tanya Gala bingung sambil menggaruk kepalanya.


"Tidak, hanya saja bingung, Bu Sarah manggilnya Pak, apa kalian sudah punya anak sebelumnya?"

__ADS_1


"Tidak ada Dok. Kami memang pasangan aneh," ujar Gala yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sarah.


"Awas jangan terlalu bersemangat melototnya, entar pas mau muntah nggak ada tenaga, lagi," goda Gala.


"Saya sempat berpikir hubungan kalian atasan dan karyawan tadi, selamat ya Pak Gala, Bu Sarah hamil." Dokter menyampaikan kabar baik itu sambil tersenyum manis.


"Mana mungkin, Dok?" Keduanya berkata serempak karena kaget.


"Loh mana mungkin bagaimana?" Dokternya menjadi bingung.


"Katanya kalian suami istri dari tadi? Apa kalian tidak merasa pernah melakukan hubungan intim?"


"Kalau itu jangan ditanya lagi Dok, itu mah sudah hampir tiap hari. Sudah jadi makanan sehari-hari semenjak kami menikah."


Sarah langsung mencubit paha Gala.


"Auw sakit Sarah!" pekik Gala.


"Ini rumah sakit Pak, jangan sampai suara Bapak mengusik penghuni rumah sakit lain."


"Biarin saja Sarah asal jangan membangunkan penghuni kamar mayat saja," Jawab Gala enteng.


Dokter yang ada di depannya hanya menggeleng.


"Maksud saya bagaimana mungkin saya hamil sedangkan saya hampir tiap malam sebelum tidur meminum pil KB." Sarah memandang wajah Gala dengan rasa bersalahnya.


"Hanya hampir? Tidak rutin, bukan?"


Sarah mencoba mengingat-ingat.


"Pernah lupa juga sih Dok." Wanita itu menggaruk kepalanya.


"Oh pantas kalau begitu, mungkin yang pas lupa itu yang jadi janin."


"Ini beneran, Dok?" tanya Gala masih tidak percaya.


"Beneran Pak Gala, memang Bapak pikir saya bercanda? Tunggu saya ambil hasil USG nya!" Dokter berlalu dari hadapan pasangan suami istri itu dan beberapa saat kembali dengan hasil laporan USG.


"Pak Gala lihat sendiri."


Gala langsung meraih kertas dari tangan dokter.


"Kalau belum yakin juga, bisa di tes pakai testpack saja," saran dokter wanita itu.


"Tidak perlu Dok, saya percaya kok." Gala terlihat antusias.


"Sayang–" Gala menatap Sarah.


Sarah mengangguk. "Doa Pak Gala dikabulkan. Bukankah Pak Gala ingin segera memiliki anak?"


"Kamu tidak senang?" tanya Gala curiga.


"Senanglah Pak, kenapa nggak? Anak itu rezeki dari Tuhan dan Sarah juga bahagia kalau Pak Gala bahagia."


Gala mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Saya akan meresepkan obat agar bisa mengurangi rasa mual Bu Sarah dan ini obat penambah darahnya, jangan lupa rutin diminum. Tekanan darah Bu Sarah rendah, itu yang menyebabkan kepalanya seakan terasa mau pecah."


"Baik, Dok."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2