
Mentari mencoba menguatkan diri meski kenyataannya hatinya remuk redam. Dia mengambil ponsel agar pikirannya tidak terfokus pada Bintang dan Katrina yang sedang memadu kasih di kamar sebelah. Ia membuka aplikasi menulis online-nya, mulai menulis bab selanjutnya.
Baru dapat lima kata dia berhenti karena tidak fokus.
"Cekk, Mereka sungguh berisik! Mengganggu saja," desis Mentari. Dia mulai berselancar di media sosial barangkali dengan mengikuti postingan sahabat-sahabatnya ia bisa mengendalikan emosinya saat ini.
"Akkh!" Mentari mendengus kesal mendengar suara Katrina yang mendesah begitu keras. Sepertinya wanita itu memang sengaja mengeraskan suaranya untuk memanas-manasi Mentari.
Kali ini Mentari memutar musik dan memasukkan headset ke telinga. Sayangnya, meski sudah tidak mendengar suara-suara gaib itu lagi tetap saja dia merasa tidak nyaman.
Mentari bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar apartemen. Daripada dia stres di dalam mendingan dia jalan-jalan di luar apartemen walaupun hanya mencari angin segar saja.
Meski dalam kelam malam, paling tidak mungkin saja dia masih bisa menemukan kesejukan dalam belain angin malam itu seperti harapnya dalam pernikahan ini. Semoga masih ada angin segar untuk kelanjutan pernikahannya nanti setelah Katrina hadir dalam rumah tangga Mentari dan Bintang meski memang dia bukan yang pertama.
Sampai di lorong-lorong apartemen Mentari merenungi nasib. Andai saja ayahnya tidak berpulang mungkin dia sekarang masih berstatus pelajar dan adik serta ibunya tidak akan menjadi tanggungan orang lain.
"Ayah aku rindu." Mentari meneteskan air mata. Bayang-bayang masa kecilnya yang bahagia meski dengan kesederhanaan melintas di pikirannya.
"Andai ayah tidak pergi Mentari tidak mungkin terjebak dalam pernikahan ini." Sekuat-kuatnya wanita, baik itu istri pertama maupun istri kedua mereka sebenarnya sama-sama tidak ingin diduakan. Apalagi saat sadar posisinya hanya sebagai istri kedua, hal itu semakin menambah beban di hati Mentari.
"Aduh." Mentari memijit pelipisnya. Memikirkan saja sudah membuat Mentari pusing apalagi harus menjalani pernikahan poligami ke depannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan kuatkan hatiku dan semoga Mas Bintang bisa berlaku adil kepada kami berdua."
Sesak, dada Mentari terasa sesak bahkan keadaan sekeliling tampak berputar dalam penglihatan. Dia duduk berjongkok di lantai sambil menyandarkan bahu dan kepalanya pada dinding lorong-lorong apartemen.
"Aduh kenapa tambah sakit?" Dia memijit kepalanya lebih keras lagi, tetapi tenaganya habis sudah.
Bug
Mentari oleng dan tubuhnya membentur lantai. Ia pingsan.
Untuk beberapa saat tidak ada yang menolong karena posisi lorong-lorong malam ini sepi.
Hingga akhirnya, seorang laki-laki berkalung sorban menemukannya sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Sepertinya hanya pingsan saja." Ia menoleh untuk mencari bantuan tetapi tidak menemukan siapapun di tempat itu.
Ustad Alzam mengangkat tubuh Mentari dan menggendong menuju sebuah ruangan.
"Sarah buka pintunya!" Ustad Alzam dengan susah payah mengetuk pintu.
Beberapa saat pintu apartemen dibuka.
__ADS_1
"Kakak, dia siapa?"
"Nanti saya jelaskan buka pintu kamar dulu."
Sarah mengangguk dan membuka pintu kamarnya.
Ustad Alzam masuk dan membaringkan tubuh Mentari di atas ranjang.
"Coba kamu sadarkan dia!"
Sarah mengernyit tetapi tetap melakukan yang diperintah. Tangannya bekerja membalurkan minyak kayu putih pada kening Mentari dan sesekali menaruhnya di depan hidung.
Namun, mulutnya tidak tinggal diam. "Kakak dia siapa? Dan mengapa dia pingsan?"
"Saya tidak tahu nama dia siapa dan juga tidak tahu kenapa dia pingsan."
"Loh kok bisa?" tanya Sarah penasaran.
"Aku tadi menemukan dia di lorong menuju kamarmu sudah dalam keadaan pingsan."
"Baiklah kalau begitu kakak tolong jaga dia saya ingin membuatkan teh hangat dulu biar nanti kalau dia sadar bisa langsung diminum."
__ADS_1
"Baiklah." Ustad Alzam duduk di sofa sedang Sarah beranjak ke dapur.
Bersambung....