HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 173. Mencari Bintang


__ADS_3

Katrina terpaksa kembali ke apartemen sebab tidak menemui Bintang di rumah kedua orang tuanya.


"Sudahlah jangan pikirkan Bintang. Sekarang waktunya tidur saja."


Katarina merebahkan tubuhnya di ranjang lalu memejamkan mata. Wanita itu sudah teramat lelah hari ini. Kejadian di kantor tadi pagi saja sudah sangat menyita pikirannya apalagi kalau harus ditambah memikirkan Bintang yang tidak tahu rimbanya malam ini.


Cahaya matahari perlahan menembus kaca apartemen kamar Katrina. Wanita itu tidak sadar telah melupakan menutup gorden kamarnya semalam.


Katrina menggeliat, meraih ponsel yang ada di atas meja samping ranjang dan melihat jam yang tertera di layarnya.


"Ah masih jam enam, apalagi aku sudah tidak bekerja lagi. Tidur lagi ah." Katrina menarik selimut dan bergelut di dalamnya. Hari ini adalah hari bermalas-malasan baginya.


Katrina bangun saat jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, itupun karena perutnya terasa lapar. Kalau tidak mungkin saja dia akan terus tidur hingga sore menjelang.


"Aku akan makan apa?" gumamnya sendiri. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Kenapa bahan-bahan habis semua sih? Malas belanja, malas masak mending aku cari makanan cepat saji saja." Katrina turun ke bawah untuk mencari makan.


"Kenapa orang-orang pada menatapku? Ada yang salah denganku?" Katrina heran melihat orang-orang yang menatapnya aneh. Tidak biasa dia mendapatkan tatapan tidak nyaman dari sesama penghuni apartemen tersebut.


"Biarkan saja, yang penting mereka tidak mengganggu diriku," gumamnya sambil terus berjalan menuju sebuah restoran yang terletak di lantai satu apartemen tersebut.


Sejauh Katrina melangkah sejauh itu pula dirinya mendapatkan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.


"Ada apa sih?" Niatnya ingin makan di tempat ia urungkan dan meminta pelayan untuk membungkus saja pesanan makannya.


Setelah selesai memesan makanan Katrina langsung kembali ke unit apartemen dengan bungkusan makanan di tangannya.


Wanita itu langsung menuju dapur dan mengambil piring di sana. Tidak kuat menahan lapar Katrina langsung makan di dapur.


"Ah kenyang, sesimpel ini hidup sendiri, tapi kenapa aku malah memilih hidup bersama orang yang nggak jelascseperti Bintang?" Katrina mulai jenuh dengan pria itu. Namun, ambisi untuk menjadi orang kaya belum padam dalam dirinya meskipun dia sendiri tidak tahu caranya untuk mewujudkan hal itu mengingat Bintang sudah mulai cuek dengan keberadaan dirinya.


Katrina melangkah menuju kamarnya. Sampai saat dirinya berada di depan kaca rias, wanita itu menggeleng tidak percaya. "Pantas saja orang-orang menatapku aneh."


Penampilan Katrina kacau balau. Baju kusut dengan rambut yang tampak berantakan dan di sudut matanya dipenuhi belek. Rasanya Katrina mau muntah melihat penampilan dirinya saat ini. Padahal biasanya wanita itu tidak akan keluar ketika penampilannya belum perfeck.


"Dasar perut tak tahu diri, gara-gara dirimu yang lapar di waktu yang salah aku jadi orang yang terlihat memalukan di mata orang-orang. Hilang sudah imageku," keluhnya.


Buru-buru Katrina masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai seperti biasa dia merias dirinya hingga terlihst sempurna.


"Hari ini aku kemana ya? Cari kerja dilarang sama Arka, dan kalau ketahuan bisa gagal dia yang katanya mau nanggung kebutuhan aku. Bintang ... ya Bintang, aku harus mencari dia."


Katrina melangkahkan kakinya keluar dari apartemen menuju mobilnya yang terparkir. Sebelum dia kemana-mana dia terlebih dahulu ke rumah mertuanya lagi.


Sampai di depan rumah Tuan Winata, Katrina tidak menemui Arumi, tetapi hanya bertanya pada satpam untuk memastikan apakah memang sedari kemarin Bintang tidak ada di tempat itu atau hanya akal-akalannya Arumi saja.

__ADS_1


"Tidak ada Non, sudah lama Den Bintang tidak ke sini." Jawaban pak satpam itu membuat Katrina urung untuk masuk ke dalam. Padahal pak satpam itu hanya berbobot sebab sudah diwanti-wanti oleh Arumi.


Tidak menemukan Bintang di rumah orang tuanya, kini Katrina menuju kantor tempat Bintang bekerja.


"Tidak ada Mbak hari ini Pak Bintang tidak bekerja."


Katrina mengernyit. "Bapak tidak berbohong, bukan? Saya ini istrinya Pak, saya hanya ingin menemui sebentar saja karena ada hal penting yang harus dibicarakan sekarang juga."


"Tidak ada Mbak, saya tidak berbohong. Kalau Mbaknya tidak percaya, Mbaknya bisa langsung mengecek ke ruangan Pak Bintang langsung. Mas Jon antar dia ke ruangan Divisi pemasaran dan pengembangan!" perintah karyawan tersebut pada seorang cleaning servis yang bekerja di kantor tersebut.


"Tapi pak Bintang katanya hari ini tidak masuk kerja Pak."


"Tidak apa-apa. Antar saja biar Mbak ini percaya!"


"Baik Pak."


"Ayo Mbak!"


Katrina mengangguk dan mengikuti orang yang telah mendapatkan amanat untuk mengantarnya ke ruangan Bintang.


"Itu Mbak mejanya Pak Bintang dan sekarang kosong. Mbak bisa bertanya pada teman-teman satu ruangan Pak Bintang mungkin mereka ada yang tahu Pak Bintang ada dimana."


"Baik Pak terima kasih."


"Sama-sama Mbak, maaf saya harus pergi sekarang."


"Pak, Bapak dengar tidak perusahaan ini membutuhkan karyawan baru ataukah tidak?" Mendapatkan uang bulanan dari Arka memang menarik, tetapi punya jabatan tinggi di perusahaan jauh lebih menarik. Siapa tahu perusahaan ini membuka lowongan pekerjaan di posisi yang bagus?


"Setahu saya tidak Mbak. Kalau mau Mbak bisa bergabung bersama kami. Anggota kami masih kurang," jelas pria itu.


"Jadi OB?" tanya Katrina tidak percaya. Apa lelaki itu tidak melihat penampilannya yang berkelas?


Pria itu hanya mengangguk.


"Ogah ah, masa aku jadi OB? Malu-maluin aja. Mau ditaruh dimana mukaku?" Katrina meremehkan.


"Kalau begitu saya permisi." Pria itu berlalu pergi. Malas menghadapi Kartika yang sudah bisa ditebak oleh pria itu adalah wanita yang sombong dan angkuh.


Katrina bertanya pada karyawan satu divisi dengan Bintang. Namun, jawaban mereka tetap sama. Bintang tidak bekerja hari ini dan tidak ada satupun yang tahu kemana pria itu sebab Bintang tidak meminta izin bahwa dirinya tidak akan masuk kantor.


"Baiklah terima kasih semuanya. Saya permisi." Katrina melangkahkan kakinya keluar dari kantor sambil mengira-ngira dimana kiranya Bintang saat ini berada.


"Kalau tidak ada dimana-mana, pasti dia ada di rumah Mentari," batinnya.


Katrina masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya di jalanan dengan kecepatan tinggi. tujuannya kini adalah rumah ustadz Alzam.

__ADS_1


"Cari siapa Mbak?" tanya seorang warga tatkala Katrina melongo dari balik pagar sebab tidak ada yang membukakan pintu pagar untuknya.


"Orangnya ada nggak Mbak?" tanya Katrina pada tetangga ustadz Alzam tersebut.


"Sedang ada di rumah sakit sebab istri dari ustadz Alzam masuk rumah sakit," jelas warga tersebut.


"Mentari sakit?" tanya Katrina memastikan.


"Iya Mbak."


"Sakit apa?" tanyanya lagi.


"Nggak tahu Mbak, tapi kemarin saya melihat istrinya ustadz itu berdebat dengan pria lain dan setelah itu saya mendengar kabar terakhir masuk rumah sakit. Saya belum sempat bertanya apakah karena laki-laki itu yang memang membuat istri ustaz sakit ataukah ada hal yang lainnya."


"Pria lain?"


"Ya kayaknya mereka kemarin berselisih dan saat saya berlari menghampiri istri ustadz Alzam dia terlebih dahulu dibawa oleh pria itu masuk ke dalam mobil lalu mengebut. Jadi nggak kekejar."


Katrina mengernyit. Dia langsung mencari foto Bintang di galeri ponselnya lalu menunjukkan kepada wanita yang ada di hadapannya kini.


"Apakah ini prianya yang kemarin membawa mentari?"


Wanita yang diajak berbicara oleh Katrina sedari tadi memandang foto Bintang yang ada di dalam ponsel secara seksama sebelum akhirnya menyimpulkan.


"Iya-iya benar dia lelaki yang kemarin."


"Terima kasih Mbak atas informasinya."


"Sama-sama dan saya permisi dulu ya."


"Eh Mbak tunggu!"


Terpaksa warga itu berhenti dan menoleh lagi pada Katrina.


"Ada apa ya Mbak? Ada yang bisa saya bantu lagi?"


"Mbaknya tahu Mentari dirawat di rumah sakit mana?"


"Dengar-dengar di rumah sakit Harapan sehat, ya itu kayaknya."


"Oke terima kasih, saya akan angsung ke sana."


"Ya Mbak sama-sama dan saya permisi juga."


Katrina hanya mengangguk sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit Harapan Sehat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2