
Sudah seminggu Mentari keluar dari apartemen Bintang dan sudah lima hari dia masih bertahan dengan pekerjaan sebagai kuli bangunan. Mentari menyeka keringat dengan ujung kerudungnya setelah mengangkut semen ke sebuah mobil pick up di jalan raya depan toko tempatnya bekerja beserta para pekerja lainnya.
Ya sekarang Mentari memang menggunakan kerudung karena peraturan di toko itu setiap karyawan wanita diharuskan memakai kerudung. Mentari sekarang juga harus memakai seragam toko. Kaos panjang dan training menjadi seragamnya saat dia bertugas.
"Mentari! Bos memintamu untuk ikut membantu Reni di meja kasir saja," ucap seorang mandor sambil berjalan ke arah Mentari dan memberikan satu botol minuman segar ke tangan wanita itu.
"Terimakasih Pak, tapi saya masih sanggup kok membantu kalian." Bukannya tidak ingin dengan pekerjaan yang ditawarkan, tetapi Mentari mengerti di toko yang tidak terlalu besar itu tidak membutuhkan kasir tambahan. Mungkin mandor ataupun pemilik toko hanya kasihan padanya dan Mentari tidak mau memanfaatkan itu dan tidak ingin pula toko tersebut merugi hanya karena menggaji karyawan yang tidak bekerja.
"Tapi sampai kapan kamu akan bekerja seperti ini? Apakah suamimu tidak pernah mencarimu lagi?"
Semua orang sudah melihat berita di televisi dan terpaksa Mentari menceritakan masalah pribadinya itu agar teman-temannya di tempat ini tidak ikut menjudge dirinya wanita yang tidak benar.
Sebenarnya tanpa Mentari bercerita pun mereka semua sudah tahu itu hanya gosip yang belaka. Mereka semua paham bagaimana pribadi sang bos. Jadi mereka semua menganggap berita itu dibuat oleh seseorang sebagai batu sandungan pada karir ustadz Alzam yang mulai menanjak. Biasa, semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin menerpa.
Mentari menggeleng. "Saya tidak tahu, mungkin saja tidak." Mentari berkata dengan nada suara yang datar. Dia sudah tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan Bintang. Dia sudah mati rasa pada pria yang tidak bisa menjaga hatinya itu. Hampir setahun Mentari menunggu Bintang berubah, tetapi lelaki itu sama sekali tidak berubah. Biarlah dia yang mengalah karena dengan ini Mentari merasa lebih lega.
Reni yang duduk di meja kasir berjalan mendekat melihat pembicaraan Mentari dan mandor tampak serius. Reni juga ikut duduk di lantai dan ikut nimbrung.
"Kenapa kau tidak meminta cerai saja?" timpal Reni.
"Hais kok ngomong begitu sih Ren? Salah paham itu harus diluruskan bukan malah diakhiri dengan cerai," protes mandor.
"Ya, sebab kalau mendengar cerita Mentari saya kesal sih Pak dengarnya. Sudah tidak bisa adil, plin-plan, gampang percaya lagi tanpa cari bukti terlebih dulu." kesal Reni. "Kalau saya punya suami seperti dia tidak sampai setahun, palingan sebulan saja sudah kulempar ke laut biar dimakan hiu sekalian."
"Hati-hati ngomong ucapan itu adalah doa loh. Entar benar dapat suami yang begituan," timpal karyawan lain.
"Amit-amit," sahut Reni.
"Sudah, itu ada pembeli," tunjuk Mentari ke arah seorang pria yang turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka.
Semua orang mengangguk dan kembali ke posisi masing-masing.
"Cari apa Mas?" Mandor mendekati pria itu dan bertanya.
"Granit yang berwarna putih ada tidak?"
"Oh ada di sebelah sana. Mari saya antar."
Pria itu mengangguk dan berjalan mengikuti mandor setelah sampai dia memilih barang kemudian bernegosiasi masalah harga.
"Kami di sini memasang harga pas dan tidak bisa ditawar Mas, tapi kalau Mas nya membeli dalam jumlah yang banyak nanti akan diberikan diskon," jelas mandor tersebut.
"Baiklah, tapi bisa diantar sampai ke rumah, kan?"
"Oh bisa nanti teman saya yang akan mengantarkan barangnya ke tempat Mas pakai mobil pickup," jelas mandor lagi.
"Baiklah kalau begitu saya setuju."
"Kalau begitu segera ke kasir untuk mengurus pembayarannya. Mas kasih alamat rumah Mas saja biar nanti langsung diantar."
"Oke siap."
__ADS_1
Setelah mengurus pembayaran, pria itu berlalu pergi dan semua karyawan mulai bekerja kembali termasuk Mentari.
***
Setelah satu Minggu mencari siapa orang yang telah tega menyebar video Mentari dan kakaknya, akhirnya Sarah mengambil kesimpulan bahwa Bintang, suami Mentari sendirilah yang melakukan hal itu.
Tentu saja dia sampai menekan Nanik untuk menceritakan semua yang terjadi saat sebelum video itu beredar di dunia maya. Sarah mendapat bocoran dari seseorang bahwa Bintang pernah datang ke tokonya dan mengamuk.
Mengintrogasi sang kakak, Sarah tidak mendapatkan apa-apa karena pria itu tidak mau membahas masalah itu lagi. Terpaksa menekan Nanik dan Mega untuk menceritakan semuanya. Tentu saja diikuti ancaman akan memecat keduanya kalau tidak mau terbuka.
Sarah memutuskan untuk melabrak Bintang karena sangat kesal pada Bintang sebab semua orang yang telah mengundang ustadz Alzam untuk mengisi ceramah secara serentak membatalkan undangannya.
Sarah mendatangi unit apartemen Bintang, tetapi tidak menemukan keberadaan pria itu malah mendapat sambutan dengan wajah masam dari Katrina.
Masih sangat kesal Sarah memutuskan untuk mendatangi kantor tempat Bintang bekerja.
"Ini kan tempatnya?" Sarah ingat saat mengantar Mentari menemui Bintang waktu itu. Sarah langsung memarkiran mobilnya di parkiran perusahaan Gala. Sarah belum tahu saja bahwa Bintang sudah tidak bekerja di tempat itu lagi karena Mentari memang tidak bercerita.
"Mau kemana Mbak?" tanya resepsionis melihat Sarah nyelonong saja masuk tanpa konfirmasi terlebih dulu padahal resepsionis itu tahu Sarah tidak bukanlah karyawan di tempat itu.
"Mau bertemu asisten kalian, tenang saja saya sudah ada janji." Sarah berlalu begitu saja tanpa mau mendengar jawaban dari resepsionis yang tampak menghubungi ruangan sang bos.
Saat resepsionis itu menyadari sang asisten tidak ada janji dengan siapapun, saat itu Sarah sudah tidak nampak lagi di hadapannya.
Sarah buru-buru masuk ke dalam lift tanpa melihat lift tersebut khusus untuk siapa.
Seorang pria yang hendak menahan pintu lift yang hampir tertutup tak sengaja menarik ujung hijab Sarah yang sedang melangkah masuk hingga kepalanya terbuka.
"Astaghfirullah hal adzim siapa sih ini?" Sarah tampak merapikan jilbabnya kembali.
"Dasar," ucap Sarah sebal.
"Hei kau harus bertanggung jawab!" seru Sarah saat melihat ekspresi Gala yang masih datar dan dingin.
"Kenapa aku harus bertanggung jawab?" Terpaksa Gala membuka mulut karena melihat wanita fu hadapannya aneh.
"Kau sudah membuat auratku kelihatan," jawabannya dengan mulut memble.
Gala malah jadi terkekeh. "Terus kamu mau apa? Mau aku nikahi karena telah melihat rambutmu itu?"
Sarah jadi melotot.
"Kau pikir aku menyukai auratmu itu? Sorry aku tidak minat."
"Tapi kau ...."
"Sorry jangankan melihat rambutmu melihat tubuhmu sekalipun aku tidak akan terang*ang. Kau lihat di bawah sana banyak wanita-wanita seksi, tetapi aku sama sekali tidak berminat menyentuh mereka.
Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Gala segera keluar.
"Tapi kau harus minta maaf!" teriak Sarah hingga pintu lift hampir kembali menutup. Namun, segera Sarah keluar.
__ADS_1
"Tidak perlu suruh siapa suruh menggunakan lift ini." Gala ikut berteriak.
"Mas ruangan asisten perusahaan ini yang mana?" tanya Sarah pada seorang karyawan yang melintas di tangannya dengan mendekap buku laporan keuangan.
"Yang itu Mbak," tunjuk orang yang di tanya.
Amarah Sarah kembali lagi mengingat nama Bintang. Kemudian dengan langkah besar dia masuk ke ruangan asisten perusahaan Praditama.
Brak!
Sarah langsung menggebrak meja sang asisten.
"Kurang ajar kamu ya Bin!" Sarah berkata dengan keras sehingga Gala yang hendak masuk ke ruangannya sendiri jadi urung karena penasaran dengan ulah yang akan dilakukan Sarah.
Gala terkekeh melihat Sarah salah orang sebab memanggil orang di hadapannya dengan sebutan Bin.
"Dasar laki-laki pecundang. Kalau kamu ingin menceraikan Mentari ya ceraikan saja tidak usah menyeret kakakku dalam urusan rumah tangga kalian. Kau tahu gara-gara kamu menyebar video yang tidak benar itu karir kakakku hancur seketika," geram Sarah. Namun, dia kaget saat orang di hadapannya mendongak ternyata bukan Bintang.
"Maaf Anda bicara dengan siapa?" Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja. Memang dari tadi dia fokus menelpon seorang klien dari perusahaan jadi tidak begitu mendengar perkataan Sarah meski sekilas mendengar bunyi gebrakan meja.
Pias, wajah Sarah terlihat pucat Gala yang berdiri di depan pintu malah tertawa lepas.
"Maaf saya salah orang," ucap Sarah dengan sesal. "Kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin bertemu Bintang," jelas Sarah.
"Bintang? Siapa dia?" tanya pria itu heran.
"Bintang itu mantan asisten di perusahaan ini," jelas Gala sambil berjalan ke arah Sarah dan sang asisten.
"Pak, kapan bapak kembali dari luar kota?" tanya asisten tersebut.
"Tadi pagi dan saya langsung ke sini."
"Oh, selamat datang kembali Pak."
Gala hanya menjawab dengan anggukan.
"Bapak?" gumam Sarah
"Ya ini perusahaanku dan lift yang kamu tumpangi tadi adalah lift untuk petinggi perusahaan. Jadi simpulkan sendiri siapa yang harus meminta maaf."
Tiba-tiba saja bibir Sarah menjadi kelu.
"Sarah, dengar! Ini Kiki bukan Bintang," jelas Gala masih dengan bersedekap dada.
"Maaf kalau begitu aku salah orang. Permisi!" Sarah segera bergegas untuk pergi. Namun, tangannya segera ditarik oleh Gala.
"Lepaskan, kau bukan muhrimku jadi, jangan pegang-pegang!"
"Jelaskan dulu tentang berita yang kau maksud tadi tentang Mentari baru aku akan melepaskan tanganmu."
Sarah tampak mengambil ancang-ancang dan Gala yang sadar Sarah akan melepaskan diri berkedip ke arah Kiki.
__ADS_1
"Siap Bos."
Bersambung.