
Suatu hari Gala kembali ke rumah di siang hari karena ada sesuatu yang harus diambil di dalam rumahnya.
"Sarah mana Pa?" tanya Gala saat berpapasan dengan Tama di pintu masuk.
"Tadi papa lihat dia pergi ke dapur," sahut Tama.
"Oh."
"Perlu papa panggilkan? Kenapa kamu tampak terburu-buru?"
"Tidak perlu Pa, karena Gala cuma sebentar saja di rumah. Biasa mau mengambil berkas yang ketinggalan," ucap Gala sambil bergegas menaiki tangga.
Tama mengangguk dan terus melanjutkan langkah keluar dari rumah.
"Mana ya aku naruhnya?" Gala mengacak-acak meja kerjanya.
"Ini dia." Akhirnya menemukan juga yang dicarinya. Gala langsung keluar dan menutup pintu ruang kerja lalu berjalan menuruni tangga.
"Oh ya biasanya aku masakin Sarah siang ini. Sekarang dia masuk dapur pasti lapar." Gala bergegas melangkah menuju dapur. Namun, urung tatkala melihat berkas di tangannya.
"Tapi Sarah bisa nggak makan kalau tidak aku yang masak. Apa makanan yang aku masak tadi pagi masih ada sisanya?" Akhirnya melanjutkan langkah ke dapur.
Namun, sampai di depan pintu Gala kaget mendengar pembicaraan Sarah dengan bibi.
"Emang Non Sarah tidak mual kalau makan masakan bibi?" tanya pembantunya saat Sarah mencoba makan masakan pembantunya itu.
"Nggak Bik."
"Tapi saya tidak tanggung jawab loh Non kalau sampai Non Sarah muntah-muntah banyak seperti waktu itu? Saya tidak mau loh kena marah sama Den Gala."
"Nggak akan Bik, bibik tenang saja, waktu itu sebelum saya mencoba makan masakan bibi sebenarnya sudah mau mual duluan," ucap Sarah dengan begitu tenang.
"Jadi bukan karena masakan bibi? Kenapa setelah itu Den Gala yang harus masakin Non Sarah terus."
"Bukan, tapi saya memang sengaja mengatakan itu pada Pak Gala. Sarah mau mengetes kesabaran Pak Gala," sahut Sarah tanpa rasa berdosa.
Gala yang mendengar pertanyaan Sarah jadi terbelalak.
"Den Ga–"
"Sst!" Gala meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya agar si bibi tidak memberitahukan keberadaan dirinya di tempat itu dan pembantunya itu terlihat mengangguk.
"Jadi selama ini bisa dikatakan Non Sarah mengerjai Den Gala?" tanya sang bibi memastikan.
"Ya begitulah Bik."
Gala hanya menggeleng lalu mengacungkan jempol ke arah pembantunya. Setelah itu pamit pergi dengan mengunakan bahasa tubuh. Sang bibi pun mengangguk paham.
"Pak tolong berikan ini pada Kiki!" Gala memberikan berkas di tangannya kepada Pak sopir.
"Loh Den Gala mau ke mana?" tanya sang sopir heran sebab Gala berbalik dan tidak jadi masuk ke dalam mobil.
"Saya ada sesuatu yang harus dikerjakan di rumah bilang sama Kiki ada sesuatu yang penting yang tidak bisa saya tinggalkan!"
"Baik Den, kalau begitu saya pergi dulu." Akhirnya pak sopir masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Tama menuju kantor.
"Assalamualaikum!" Sengaja Gala mengeraskan suaranya agar didengar oleh penghuni rumah termasuk Sarah.
"Sepertinya Pak Gala pulang Bik," ucap Sarah sambil menghentikan makan siangnya dan berjalan menuju pintu utama rumah dengan tergesa-gesa padahal pintu rumah sama sekali tidak dikunci.
"Sepertinya iya Non biar saya bukakan pintu!"
"Tidak usah Bik biar saya saja yang buka," ujar Sarah dan terus melanjutkan langkahnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Sarah sambil membuka pintu rumah.
"Sarah!" Gala langsung bersandar pada bahu Sarah. Pria itu tampak lunglai.
"Pak Gala kenapa?" Sarah mendadak bingung melihat muka Gala pucat dan seperti tidak memiliki tenaga.
"Nggak apa-apa Sarah," sahut Gala dengan suara lirih.
"Pak Gala sakit?" tanya Sarah sambil meraba dahi Gala. "Nggak panas kok. Ya sudah kita ke kamar saja," ujar Sarah sambil memapah tubuh Gala. Gala mengangguk dan dengan dibantu oleh Sarah masuk ke dalam rumah.
Melewati dapur akhirnya Gala berlari ke dalamnya dan muntah-muntah pada wastafel.
"Hoek, hoek!" Gala langsung menghidupkan kran air agar muntahan yang hanya ludah semata itu langsung tidak ada jejak setelahnya pria itu langsung berkumur-kumur
"Pak?" Sarah menjadi bingung melihat sang suami malah terlihat mual-mual."
"Pak Gala kenapa sih? Mabuk?" tanya Sarah curiga. Dia jadi teringat momen dimana Bintang mabuk kemudian muntah.
Gala tidak menjawab membuat Sarah langsung mencium bibir Gala.
"Nggak bau alkohol," ujar Sarah sedangkan Gala langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum tipis.
Si bibi yang melihat hanya geleng-geleng kepala.
"Lebih baik Non Sarah bawa saja Den Gala ke dokter agar tahu sakit apa," saran bibik yang sontak saja mendapatkan tatapan tajam dari Gala.
"Ya udah kita ke dokter sekarang ya Pak?"
__ADS_1
Gala menggeleng.
"Loh kenapa?"
"Saya sudah dari dokter tadi, tapi kata dokter tidak sakit apa-apa," Jelas Gala dengan suara lemah.
"Aneh," gumam Sarah.
"Ya sudah duduk dulu, biar saya buatkan teh hangat. Akhirnya Sarah mendudukkan Gala pada sebuah kursi yang ada di dapur.
"Ada air hangatnya Bik?"
"Termos nya lagi kosong Non."
"Oke nggak apa-apa." Sarah langsung mendidihkan air dan membuat teh untuk suaminya.
"Diminum dulu Pak." Sarah mengulurkan cangkir berisi teh ke hadapan Gala lalu duduk di sampingnya.
"Masih panas Sarah." Gala menyadarkan kepalanya ke bahu sang istri.
"Bik ambilkan tatakan gelas yang lain!" perintah Sarah karena dirinya tidak bisa beranjak dari duduknya.
"Baik Non." Bibi langsung menuju rak piring dan mengambil satu buah tatakan dari keramik.
"Ini Non."
"Terima kasih Bik."
Pembantunya hanya terlihat mengangguk.
Sarah langsung menuangkan sebagian teh dari cangkir ke atas tatakan atau lepek itu kemudian meniup-niupnya. Setelah teh tidak terlalu panas akhirnya menyodorkan ke bibir Gala.
"Minum dulu Pak biar perut Pak Gala nyaman."
Gala mengangguk dan membuka mulut lalu meneguk minuman yang disodorkan oleh Sarah.
"Sarah sepertinya aku menginginkan makan sesuatu," ucap Gala setelah menghabiskan minumannya.
"Katakan saja Pak mau makan apa biar bibi nanti yang buatkan mumpung ada di sini."
Gala menggeleng.
"Kenapa?"
"Nggak mau masakan bibi," sahut Gala dengan suara manja.
"Terus? Apa aku delivery makanan saja?"
"Tidak, aku pengen masakan kamu saja."
"Iya Sarah dari tadi sejak di kantor saya membayangkan makan masakan buatan kamu, sepertinya enak sekali. Saat makan di kantin aku malah muntah-muntah. Sepertinya perutku menolak makanan itu," terang Gala masih dengan suara yang lemah.
Sarah menganga. "Jangan bilang Pak Gala juga ngidam."
Sarah tidak bisa membayangkan kalau sampai suaminya itu yang ngidam, pasti akan merepotkan sekali.
"Dokter memang menyimpulkan seperti itu saat bertanya dan saya menjawab istri saya sedang hamil. Masakin dong Sarah, please!" mohon Gala.
"Baiklah mau dimasakin apa?"
"Bakso saja."
"Apa?!"
"Iya aku pengennya itu. Pengen lihat juga kamu membentuk pentol nya gitu." Gala tersenyum manis.
"Jadi Pak Gala ingin Sarah proses dari awal?"
Gala mengangguk.
"Nggak ada makanan yang lain saja?"
"Nggak aku pengennya itu bukan makanan yang lain."
"Hah!" Sarah menghembuskan nafas berat.
"Ayolah Sarah dibuatin ya? Kamu nggak mau kan anak kita ileran nantinya?"
"Itu hanya mitos."
"Kalau benar terjadi bagaimana?"
"Iya, iya Pak, Sarah buatin. Ada stok daging nggak Bik?"
"Ada Non di kulkas." Bibi mengambilkan daging sapi dari dalam kulkas sedangkan Sarah mengambil Chopper untuk persiapan menghaluskan daging.
"Saya bantu Non?"
"Saya hanya mau makan masakan Sarah seutuhnya," jawab Gala sebelum Sarah yang menjawab.
"Baiklah kalau begitu saya keluar saja," ujar sang bibi.
__ADS_1
"Silahkan Bik, terima kasih atas pengertiannya," ujar Gala dan bibi itu hanya menggeleng-menggelengkan kepalanya. Dia tahu sang majikan sedang mengerjai istrinya.
Sarah menghaluskan daging lalu mencampur dengan adonan tepung. Wanita itu begitu lincah saat membentuk pentol bakso dan mendidihkannya.
Beberapa saat kemudian.
"Kelar, sekarang tinggal buat kuahnya." Sarah menghela nafas panjang sebelum melanjutkan pekerjaannya sedangkan Gala hanya senyum-senyum saja.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya semangkok bakso sudah terhidang di atas meja.
"Kalau nggak enak jangan komplain ya, soalnya tidak ada bakat menjadi koki." Sarah terlihat tidak pede dengan hasil masakannya sendiri.
"Tidak apa yang penting dibuat oleh tangan istriku sendiri."
Sarah tersenyum pada Gala dan pria itu pun balas tersenyum. Ada kebanggaan sendiri di hati Sarah bisa memasak untuk suaminya sendiri meskipun dirinya belum ada pengalaman dalam memasak makanan kecuali hanya kue-kue semata.
Gala langsung mengendus bahunya. "Kalau dari aromanya enak nih," ujar Gala.
"Makan saja Pak!"
Gala mengangguk lalu mencicipi kuahnya dan juga satu buah pentol bakso.
"Enak," katanya membuat Sarah menyunggingkan senyuman termanisnya.
"Kau yang makan," ujar Gala lalu menyodorkan mangkok tersebut ke hadapan Sarah.
"Loh kan Bapak yang minta masakan itu?" protes Sarah sambil menyodorkan mangkok itu kembali ke depan Gala.
"Tapi aku ngidam pengen lihat kamu masak lalu makan masakanmu sendiri," ujar Gala lalu menyendok bakso dan meniup-niupnya kemudian menyuapi Sarah.
Sarah pun mengunyah bakso tersebut.
"Habiskan biar kamu kenyang, tadi kamu berhenti makan sebelum kenyang, kan?"
"Tunggu-tunggu! Apa Pak Gala tahu semuanya?" tanya Sarah sambil menghentikan tangan Gala yang ingin menyuapi dirinya lagi.
"Tahu apa?" Gala pura-pura tidak mengerti.
"Tahu kalau ...."
"Kalau apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Tahu kalau ...." Sarah terlihat ragu.
"Kalau ngidam mu palsu dan hanya ingin mengerjai ku?"
"Ah siapa bilang?" Sarah masih saja berkilah.
"Tidak ada yang mengatakan, tapi saya merasakannya dan melihat kamu makan dengan lahap tadi masakan bibi. Dosa loh Sarah berbohong pada suami apalagi sampai mengerjainya."
"Maaf," ucap Sarah sambil menunduk.
Gala tersenyum, jarang-jarang dia mendapatkan ucapan permintaan maaf dari Sarah.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan karena saya sudah membalasnya tadi, hahaha." Gala tertawa renyah.
"Ish jadi bakso ini bukan keinginan anak kita, tapi Pak Gala hanya mengerjai Sarah?"
"Ya bisa dibilang begitu."
"Ih jahat, saya sudah repot-repot juga membuatnya." Sarah cemberut.
" Tidak apa-apa Sarah saya pasti akan memakannya. Sana ambilkan lagi! Yang ini untuk kamu saja."
"Habisin dulu yang itu baru ambil lagi, mubadzir."
"Ya sudah kita habiskan sama-sama dulu setelah itu ambil lagi."
Sarah mengangguk. Akhirnya satu mangkok tandas dan mereka berdua mengambil satu mangkok lagi.
"Makan apa sih kok kayak asyik gitu?"
"Eh papa. Makan masakan Sarah Pa," sahut Gala.
"Papa mau? Biar saya ambilkan."
"Boleh Sarah."
"Sebentar Pa, sebentar ya Pak." Sarah bangkit dari duduknya untuk membuatkan semangkok bakso buat mertua.
"Enak Sarah, kau berbakat," puji Tama.
"Terima kasih Pa. Meskipun yang dibuatnya hanyalah menu sederhana, tapi cukup membuat Sarah bangga pada dirinya sendiri.
Kelebihan diri sendiri meskipun sekecil apapun patut disyukuri, bukan?
"Berbakat apa dulu? Jadi tukang bakso," ujar Gala menggoda Sarah.
"Nggak apa-apa, mungkin suatu hari nanti saya akan melebarkan bisnis menjadi tukang bakso juga," ujar Sarah santai.
"Nggak perlu Sarah jangan serakah. Kasihan jika pedagang kaki lima itu harus bersaing denganmu."
__ADS_1
Sarah hanya terkekeh mendengar pemikiran Gala.
Bersambung.