HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 249. Memastikan


__ADS_3

"Arumi terlihat tersenyum mendengar ucapan sang suami. Itu artinya apapun hasilnya dari tantangan yang diberikan pada Bintang tadi, dialah yang akan menjadi pemenangnya.


"Lebih baik tidak usah berpikir tentang pernikahan dulu Pa, biarkan Bintang menikmati kesendirian Bintang dulu. Daripada nikah cerai-nikah cerai mendingan kan memantapkan hati dulu sebelum menikah sebab Bintang sudah dua kali nikah dan gagal terus. Papa tidak mau kan Bintang menikahi sembarangan wanita hanya karena status ingin menjadi seorang suami dan akhirnya bercerai untuk yang ketiga kalinya?"


"Tentu saja tidak," sahut Tuan Winata lalu menghela nafas berat. Dia mengerti apa yang dikatakan Bintang tadi bermakna lebih dalam dari kedengarannya. Bintang tidak ingin menganggap pernikahan itu hal yang remeh lagi seperti dulu adalah pemikiran yang bagus. Sayangnya Tuan Winata juga menangkap bahwa putranya sangat sulit untuk membuka hati buat wanita lain.


"Ma tuh Izzam suapin juga, malah asyik makan sendiri," protes Bintang lalu terkekeh.


"Eh." Arumi langsung menatap Izzam.


"Maaf Oma lupa kalau ada Izzam di sini," ujar Arumi padahal anak itu berada dalam pangkuannya. Arumi lalu mencubit gemas pipi Izzam yang kini nampak cemberut karena merasa tidak dipedulikan sedari tadi.


"Izzam mau juga?" tanya Arumi dijawab anggukan oleh Izzam membuat Arumi langsung bersiap menyuapi mulut anak itu dengan eskrim di tangannya.


"Eits jangan pakai sendok bekas Mama," ujar Bintang memperingatkan.


Sontak Arumi langsung menghentikan gerakan tangannya.


"Ini es krim punya Izzam. Suapi pakai ini saja. Saya tidak tahu akan seperti apa sikap Mentari kalau tahu putranya disuapi bekas Mama," ujar Bintang sambil menggelengkan kepalanya kemudian fokus menyetir kembali.


"Iya-iya bawel amat sih Bin, kayak emak-emak," protes Arumi.


"Biar nggak kalah sama Mama," ucap Bintang kemudian cekikikan.


Setelah itu sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara lagi. Arumi membuka es kirim milik Izzam dan sibuk menyuapinya. Bintang terus fokus menyetir dan Tuan Winata hanya merenung sambil melihat ke luar kaca mobil.


"Hmm, akhirnya sampai juga," ujar Bintang setelah mobil memasuki pekarangan rumah Tama.


Bintang langsung memarkirkan mobilnya dan turun. Setelahnya dia langsung menggendong Izzam dan masuk ke rumah terlebih dahulu. Disusul Arumi yang tampak kesusahan membawa peralatan bayi. Tadi di dalam toko Tama menelpon Arumi. Mendengar adiknya itu mengatakan sedang ada di toko perlengkapan bayi Tama meminta bantuan Arumi untuk membeli beberapa peralatan bayi yang dibutuhkan untuk cucunya karena yakin adiknya itu pandai memilihkan barang-barang.


"Bantuin dong Pa," protes Arumi sebab sang suami melenggang begitu saja.


"Oh butuh bantuan ya Ma?" tanya Tuan Winata membuat Arumi hanya menggelengkan kepala tidak percaya. Bagaimana mungkin sang suami malah bertanya di saat dirinya terlihat kerepotan seperti itu.


"Yang papa lihat bagaimana?!" ketus Arumi lalu berjalan mendahului sang suami.


"Bi tolong bawa masuk belanjaan yang ada dalam mobil!" perintah Tuan Winata sedangkan dirinya langsung menyusul sang istri.


"Ya ampun Papa, dimintai tolong malah tidak mengindahkan sama sekali," protes Arumi.


"Tenaga papa tidak dibutuhkan tuh!" Tuan Winata menunjuk ke arah mobil dimana pembantu Tama sudah mengeluarkan barang-barang dalam mobil.


"Hmm." Arumi tidak melanjutkan ucapannya, tetapi meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mama!" seru Mentari sambil tersenyum saat melihat keberadaan Arumi di tempat itu. Mentari mengambil barang belanjaan dari tangan Arumi dan meletakkan pada suatu tempat. Setelahnya menyalami tangan Arumi berlanjut pada Tuan Winata.


"Silahkan duduk, biar saya buatkan minuman dulu," ujar Mentari lalu beranjak ke dapur.


"Terima kasih Nak Mentari, papa kebetulan memang haus saat ini," ujar Tuan Winata lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Bintang yang sudah terlebih dahulu duduk di sana. Terlihat Izzam memainkan smart Hafidz yang baru saja dibelikan oleh Bintang hingga di ruangan itu terdengar murotal Al Qur'an.


Anak itu terlihat mengantuk hingga beberapa kali menguap.


"Tidur sini," ujar Bintang sambil menepuk pahanya dan Izzam menurut saja.


"Bin kira-kira kapan Sarah dan kakakmu Gala akan pulang?" tanya Tuan Winata sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Katanya sore ini Pa. Mungkin mereka semua masih dalam perjalanan pulang," sahut Bintang.


Sementara Bintang dan sang papa berbincang-bincang, Arumi memilih mengejar Mentari ke dapur.


"Ada apa Ma?" tanya Mentari karena Arumi memilih mengikuti dirinya.


"Kamar bayinya Gala yang mana ya?" tanya Arumi memulai percakapan.


"Yang di tengah-tengah antara kamar Mentari sama Mas Gala Ma. Ada apa?"


"Nggak saya diminta papamu untuk membenahi kamar itu sebelum Sarah dan Gala pulang."


"Ah tidak, mama akan menunggumu saja, lagipula mereka masih belum keluar dari rumah sakit juga, kan?"


Mentari mengangguk sambil tersenyum lalu fokus membuat minuman.


"Nak Mentari bolehkah mama bertanya sesuatu?" tanya Arumi dengan suara yang lirih.


Sontak saja Mentari mengalihkan perhatian dari minuman yang hendak dibuatnya itu kepada wajah Arumi.


"Tanyakan saja Ma, kenapa harus minta izin dulu?"


Arumi mengangguk dan Mentari tampak mengaduk-aduk minuman dalam gelas sebelum dibawanya kepada Bintang dan Tuan Winata.


"Apa Nak Mentari belum bisa memaafkan mama?"


Mentari langsung menatap wajah Arumi kembali.


"Maksud Mama?"


"Apa Nak Mentari masih kesal sama mama atau bahkan benci sama mama karena dulu pernah jahat pada Nak Mentari?" tanya Arumi dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Kenapa Mama beranggapan seperti itu? Setiap kesalahan pantas mendapatkan maaf dan Mentari sendiri bukanlah manusia pendendam walaupun pada kenyataannya segala kehidupan yang begitu pahit akan terkenang selalu bukan berarti Mentari tidak bisa memaafkan."


"Terus kenapa kamu tidak mau kembali pada Bintang?" tanya Arumi dengan suara lembut dan penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin Mentari tersinggung dengan pertanyaannya. Namun, apa boleh buat Arumi begitu penasaran dengan penolakan Mentari pada Bintang beberapa kali itu.


Mentari hanya menanggapi pertanyaan Arumi dengan senyuman membuat Arumi semakin penasaran saja.


"Apa mama tidak boleh tahu? Ya sudahlah kalau begitu." Arumi berbalik dan hendak meninggalkan dapur, tetapi dicegah oleh Mentari.


"Ma!"


"Iya?" Akhirnya Arumi urung pergi dan menghadap ke arah Mentari lagi.


"Mama jangan salah paham, penolakan Mentari yang beberapa kali ini bukan berarti karena Mentari membenci Mama ataupun Mas Bintang. Apapun yang terjadi dimasa lalu, bukankah kita masih satu keluarga?"


Arumi mengangguk.


"Saya mungkin bukan hanya menolak Mas Bintang, akan tetapi semua orang yang mungkin akan melamar Mentari."


"Jadi kau berniat untuk terus hidup tanpa pendamping?"


Mentari mengangguk dengan mantap.


"Apa alasannya sehingga kamu memutuskan seperti itu? Kamu masih muda Nak Me, kau pantas mendapatkan cinta dari pria."


"Tidak Ma sebab Mentari tidak ingin Abi di sana tidak akan menunggu Mentari lagi jika Mentari menikah kembali. Mentari masih ingin bertemu dengannya lagi dan hidup bersamanya meskipun di dunia lain. Dia alam berikutnya."


"Kau salah Nak Mentari, jika kau menikah lagi maka di akhirat kelak kau akan dipilihkan pasangan yang paling sholeh diantara para suami kamu ketika hidup di dunia. Itu artinya apa? Dengan siapapun kamu menikah nanti Insyaallah akan berjodoh kembali dengan ustadz Alzam nantinya sebab mama yakin dialah yang paling takwa nanti diantara suamimu."


"Maaf Ma," tapi Mentari tidak bisa."


"Kamu yakin tidak bisa membalas perasaan Bintang nantinya?"


"Yakin," jawab Mentari.


"Kalau begitu mama akan menjodohkan Bintang dengan wanita lain jikalau keputusanmu itu sudah bulat."


"Silahkan Ma."


Arumi mengangguk. "Maaf jika pertanyaan mama tadi terlalu intim. Mama hanya ingin memastikan apakah Bintang masih punya harapan ataukah tidak hidup bersamamu lagi."


"Tidak apa-apa Ma, maafkan Mentari juga ya yang telah mengecewakan mama karena tidak bisa memenuhi keinginan mama untuk kembali pada Mas Bintang. Yakinlah hubungan kita akan jauh lebih dekat dan lebih baik sebagai bibi dan keponakan dibandingkan sebagai mertua dan menantu."


"Baiklah kalau itu pilihanmu. Kalau begitu saya akan ke kamar putra Gala dulu," ujar Arumi langsung meninggal dapur sedangkan Mentari ikut keluar dari dapur dengan nampan berisi gelas-gelas yang sudah terisi dengan minuman buatan Mentari sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2