HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 208. Tidak Sabaran


__ADS_3

Sampai di dalam salah satu ruangan rumah sakit Mentari dibaringkan dan dokter segera memeriksa sedangkan ustadz Alzam tampak menghubungi keluarganya.


"Ustad istri anda sudah mau melahirkan," ucap seorang dokter kandungan.


"Yang benar saja Dok, taksiran persalinannya masih lima belas hari lagi."


"Iya berarti maju ustadz."


"Baiklah Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya."


"Pasti ustadz, ustadz mau menunggu di dalam atau di luar saja?"


"Kalau boleh di dalam saja Dok. Saya ingin menemani istri saya."


"Baiklah kalau begitu saya tutup pintunya ya."


Ustadz Alzam kembali ke sisi Mentari yang sudah bermandikan keringat.


"Tenanglah Ummi, semua akan baik-baik saja. Jangan lupa membaca istighfar dan sholawat selalu ya!"


"Iya Abi, hufft."


"Silahkan Bu Cahaya berjalan-jalan dulu sebab belum waktunya bayinya keluar karena pembukaannya masih 3. Kalau mau makan juga silahkan biar ada stamina nanti untuk mengejan."


"Bagaimana Ummi mau Abi belikan makanan dulu?"


Mentari menggeleng. "Ummi tidak mau Abi pergi. Ummi tidak mau sendirian di sini."


"Kan ada Bu Dokter? Ya sudah deh Abi telepon ibu saja dulu biar sebelum ke sini mampir di warung sebentar untuk membeli makanan."


"Jangan Abi!"


"Loh kenapa?"


"Ibu tidak ada Sarah, jadi dia ke sini naik angkutan umum. Kasihan beliau jika harus turun naik. Mending telepon papa saja deh biar mampir di perjalanan nanti," saran Mentari.


"Oke, aku telepon papa saja. Syukur-syukur beliau masih belum berangkat sehingga bisa meminta bibi untuk menyiapkan makanan."


Mentari mengangguk kemudian meringis begitu saja. Dia mencoba menahan rasa sakitnya agar tidak membuat sang suami khawatir.


Merasakan sakitnya yang semakin lama semakin bertambah akhirnya Mentari turun dari ranjang dan berjalan mondar-mandir sesuai anjuran dokter. Sesekali dia membungkuk karena tidak kuat dengan rasa sakit.


Duduk berjongkok, berdiri, berjalan ke sana kemari, membungkuk. Begitulah yang hanya bisa dilakukan Mentari saat ini.


"Aduh sakit sekali Abi."


"Baca istighfar sayang biar hatimu tenang dan kekuatanmu ditambah oleh Allah SWT." Ustadz Alzam menutup telepon dan ikut turun dari ranjang lalu mengulurkan tangan ke arah Mentari agar berdiri dari berjongkok nya.


"Abi sakit lagi, perutku rasanya menyengat."

__ADS_1


"Itu mungkin karena bayi kita bergerak mencari jalan keluar Ummi. Abi minta Ummi bersabar ya, Abi minta maaf tidak bisa berbuat apa-apa padahal Abi yang membuat Ummi begini. Andai rasa sakitnya bisa ditransfer seperti pulsa atau uang mungkin sudah Abi minta dikirim semuanya."


"Abi, aduh." Mentari membungkuk lagi dengan satu tangan memegang perut dan tangan yang satunya menggenggam kuat tangan ustadz Alzam.


Setelah rasa sakitnya sedikit mereda Mentari berdiri sempurna kembali dan mulai berjalan mondar-mandir lagi saat rasa sakitnya kembali.


Semakin sakit semakin berjalan dengan cepat Mentari dan anehnya saking paniknya dan tidak tahu harus berbuat apa-apa, ustadz Alzam malah ikut Mondar-mandir bersama sang istri dengan satu tangan saling bertautan satu sama lain.


Tok, tok, tok.


Terdengar pintu diketuk dari luar.


"Masuk!" perintah dokter sedangkan keduanya masih fokus berjalan-jalan di dalam ruangan.


"Dok, ada keluarga dari Ibu Cahaya katanya membawa makanan," lapor seorang suster.


"Suruh masuk!"


"Baik Dok." Suster undur ke pintu.


"Silahkan masuk Pak!"


"Terima kasih Sus."


"Sama-sama."


"Kalian berdua ngapain, sedang berdansa, kah?"


Gala menghentikan langkahnya untuk masuk dan menatap pasangan suami-istri yang terlihat aneh di matanya.


Posisi ustadz Alzam dengan mentari memang terlihat seperti orang berdansa. Mentari bergelantungan pada bahu ustadz Alzam dengan ustadz Alzam yang merengkuh pinggang Mentari. Sebenarnya bukan merengkuh, tetapi ustadz Alzam mencoba mengelus pinggang Mentari yang katanya sedari tadi sakit sekali. Namun, dalam pandangan Gala sungguh berbeda.


"Apa-apaan sih Mas, ini bukan waktunya bercanda." protes Mentari pada Gala.


"Habisnya kalian ngapain begitu tadi?"


"Sakit tahu," ketus Mentari.


"Sudah sayang jangan emosi. Fokus pada proses lahiran bayi kita."


"Iya Abi, habisnya Mas Gala ngeselin. Orang akunya kesakitan dia malah mau bercanda."


"Siapa yang mau bercanda, orang aku nggak tahu," gumam Gala.


"Gala!" Tama memberikan kode dengan dagunya.


"Oh ya ini makanannya." Gala menyodorkan bungkusan ke tangan ustadz Alzam.


"Makasih Mas Gala," ucap ustadz Alzam.

__ADS_1


"Sama-sama."


"Makan dulu yuk Ummi biar ada tenaga!"


Mentari mengangguk sambil berjalan ke tepi ranjang dan duduk kembali. Ustad Alzam pun sama. Pria itu membuka bungkusan makanan dan menyuapkan pada mulut Mentari.


Baru beberapa sendok sakit pinggang dan perutnya kumat lagi. Mentari turun dan mondar-mandir lagi membuat ustadz Alzam pun menyusul istrinya dan menyuapi sambil berjalan seperti seorang ibu yang menyuapi balita yang berlari-larian.


"Saya tunggu di luar ya." Tama tidak tega melihat putrinya yang mengadu kesakitan sedari tadi. Matanya tampak berkaca-kaca sebab kondisi Mentari saat ini mengingatkan dirinya akan Rosa ketika hendak melahirkan putrinya, Cahaya atau Mentari.


"Ya Pa."


"Saya juga." Gala pun ikut keluar.


Kedua suami istri pun tetap melakukan hal yang sama. Mondar-mandir di dalam ruangan. Beberapa saat kemudian Warni datang bersamaan dengan ibu dari ustadz Alzam. Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan.


"Ibu kapan datang?" Di tengah rasa sakitnya Mentari heran sebab Warni malah hadir saat dirinya hendak melahirkan.


"Ada yang memberitahu ibu sehingga ibu datang ke kota ini?"


"Tidak, kebetulan ibu mau berkunjung ke rumah orang tuamu. Ternyata kata si bibi kamu ada di rumah sakit mau melahirkan. Kebetulan juga saat di luar tadi bertemu dengan besan." Warni tersenyum ke arah mertua perempuan Mentari.


Mentari mengangguk. "Terima kasih juga ya Bu, sudah menyempatkan datang ke sini." Kali ini Mentari berbicara pada mertuanya.


"Sama-sama. Sudah sepantasnya ibu ke sini sebab yang mau lahir kan cucu ibu."


Mentari mengangguk dan mencoba tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.


"Aduh pinggangku semakin sakit saja, perut juga."


"Ayo Ibu Cahaya saya VT lagi biar tahu pembukaannya sudah maju ke berapa."


"Baik Dok."


Mentari pun naik ke atas ranjang dan diperiksa oleh dokter kandungan.


"Masih pembukaan 6, masih agak lama waktunya."


"Aduh kok lama sih kapan keluarnya?" Mentari sudah tidak sabaran. Rasanya terlalu lama dirinya menahan rasa sakit.


"Kalau memang sudah nggak kuat kita tempuh jalan operasi. Bagaimana Ummi?" Ustadz Alzam terpaksa menawarkan alternatif agar istrinya segera terbebas dari rasa sakit yang menderanya dari pagi, bahkan sekarang hari sudah sangat siang Mentari belum lahiran juga.


"Nggak Abi, tanggung sudah. Ummi sudah merasakan sakit sedari tadi. Lagipula kalau operasi kan harus puasa juga, bisa tambah lama ini," tolak Mentari.


"Eh tapi kok lama sekali ya? Ayolah bayiku kamu betah banget sih di perut Ummi."


"Sabar Ummiku sayang. Rasa sakit yang kau rasakan sedari pagi akan terbayarkan apabila kau bisa memandang bayi imut kita yang tersenyum padamu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2