HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 26. Terima kasih


__ADS_3

"Kenapa Bintang membiarkan istrinya pergi sendiri sedang dia katanya tadi pergi terburu-buru seperti orang yang menghawatirkan sesuatu. Apa ada hal lain yang membuatnya kepikiran selain istri dan orang tuanya? Mentari baik-baik saja, Om Winata sama Tante Arumi juga. Hari ini dia benar-benar aneh." Gala tampak berbicara sendiri.


"Keperluan dapur sudah, sabun dan peralatan mandi lainnya juga sudah. Buah dan camilan untuk Mas Bintang juga sudah. Apalagi ya yang belum?" Mentari tampak berpikir sejenak. Dari tempat yang agak jauh dia melihat beberapa model pakaian wanita yang menarik hatinya.


"Aku harus membeli pakaian dan kosmetik agar Mas Bintang betah di rumah. Aku tidak mau dia lebih menyayangi Katrina." Ada keinginan untuk merebut hati Bintang agar tidak lebih condong pada Katrina dan memilih dirinya daripada perempuan itu.


Baru saja hendak melangkah untuk mendatangi toko pakaian yang ada di dalam supermarket tersebut tiba-tiba dia mengingat ucapan Arumi tadi.


"Tapi aku tidak mau dikatakan menghabiskan uang Mas Bintang." Mentari mengurungkan niatnya.


"Andai saja punya rekening sendiri aku pasti bisa menarik langsung uang dari hasil menulis ku beberapa bulan ini, tapi aku kan bisa minta Alya untuk mentransfer."


Mentari meraih ponselnya dari dalam tas hendak menghubungi Alya. Namun, saat hendak mencari nomor Alya di kontak ia ingat akan adik dan ibunya. Dia urung lagi, daripada digunakan untuk dirinya mending uang tersebut untuk adik dan ibunya saja biar tidak selalu menerima bantuan dari Tuan Winata.


"Oh iya aku tetap harus menghubungi Alya dan akan meminta dia untuk memberikan uang tersebut pada Ibu dan Pandu saja." Mentari langsung menghubungi Alya.


"Halo Me."


"Iya Al ada apa?"


"Kamu kasih saja uangku ke ibu ya." Tanpa menyebut uang apa Alya pun sudah paham dengan uang yang dibicarakan Mentari.


"Oke siap Bos," ucap Alya sambil cekikikan.


"Al, bisa minta tolong tidak?"


"Boleh, apa sih yang nggak buat kamu Me? Apapun Alya lakukan asal sanggup," ucapnya lagi sambil terkekeh.


"Tolong kasih tahu sama ibu dan Pandu jangan selalu menerima uang pemberian Papa."


"Memang kenapa Me?" tanya Alya heran. Padahal sudah masuk dalam perjanjian antara Mentari dan Tuan Winata bahwa selama Mentari menjadi istri Bintang segala kebutuhan ibu dan adiknya akan menjadi tanggungan Tuan Winata.


"Aku tidak ingin banyak hutang budi pada beliau."


Alya mengernyit, dari suara Mentari gadis itu paham bahwa mentari seolah menahan beban yang begitu berat.


"Kau baik-baik saja Me?" tanya Gadis itu khawatir.


"Aku baik kok Al."


"Rumah tanggamu?" tanya Alya lagi, entah mengapa mendengar suara Mentari kali ini dia memiliki pikiran buruk. Jangan-jangan kehadiran Mentari dalam keluarga Tuan Winata tidak dianggap sama sekali keberadaannya atau bahkan disiksa dan dijadikan pembantu seperti banyak dalam cerita sinetron di televisi. Bisa juga Bintang tidak menganggap Mentari istri selayaknya atau bahkan menduakannya.


Ah Alya dia terlalu sering melihat sinetron. Walau kenyataannya saat ini cerita Mentari tidak jauh berbeda dengan sinetron ikan terbang. Semoga suatu saat nanti takdir cinta Mentari sama sekali tidak seperti yang ada dalam cerita tersebut.

__ADS_1


"Juga baik kok Al."


"Syukurlah aku hanya takut Bintang menyiksamu. Sekarang banyak berita suami yang melakukan kdrt pada istri."


"Apa-apaan sih kamu Al, malah berpikiran macam-macam seperti itu. Mas Bintang baik kok. Terlalu banyak nonton drama sih kamu," protes Mentari.


Alya terdengar tertawa dari balik telepon. "Sorry aku berpikiran buruk tentang suamimu sebab dari tadi bicara, meskipun yang kamu bicarakan hal biasa saja tapi nada bicaramu terdengar melankolis bagiku. Aku kan jadi berpikiran macam-macam." Sebenarnya Alya benar dari tadi Mentari berbicara dengan mata yang berkaca-kaca sebab ingat dengan nasib dirinya yang tidak beruntung. Sudah diduakan suami juga tidak disukai mertua.


"Ya sudah ya Al, aku tutup teleponnya dulu. Aku lagi ada di tempat belanja sekarang mau balik dulu ke apartemen."


"Di pasar?"


"Bukan di supermarket."


"Wah-wah-wah, sekali belanja langsung ke supermarket bukan kayak ibu-ibu di desa ini yang belanjanya di pasar. Kapan-kapan traktir aku dong belanja di situ."


"Iya nanti kalau aku sudah ada uang sendiri, aku pasti traktir kamu."


"Ya, lama dong. Kenapa nggak pakai uang suami kamu saja Me? Kan kamu sudah jadi istri orang kaya," goda Alya.


"Nggak boleh Al, aku nggak enak. Nanti ya kalau aku ada uang sendiri aku pasti bawa kamu ke sini dan traktir kamu belanja sepuasnya, tapi untuk saat ini maaf ya Al aku belum punya uang."


Gala yang mendengar suara Mentari yang sedang menelpon Alya hanya mengangguk. Dalam hati dia mengagumi Tuan Winata yang pandai memilihkan istri untuk putranya. Ternyata Mentari tidak sembarangan menggunakan uang Bintang.


"Iya Me santai aja, aku cuma bercanda kok."


"Sudah Me katanya mau belanja, aku juga lagi bantu ibu nih menyiapkan makan siang." Alya mengerti kalau bicara tentang rasa rindu, Mentari pasti akan menangis seperti sebelum-sebelumnya. Untuk itu ia terpaksa menyudahi pembicaraannya dengan alasan ingin membantu Aisyah.


"Ya sudah kita teleponan kapan-kapan lagi." Mentari langsung menutup panggilan teleponnya.


Baru saja meletakkan ponsel ke dalam tas, ada yang seseorang yang menarik tasnya lalu kabur.


"Tolong copet!" teriak Mentari. Dia meninggalkan belanjaannya yang masih ada di troli dan berlari mengejar pria yang telah lancang membawa kabur tasnya itu.


"Tolong kejar dia!" Wanita itu panik, bagaimana dia bisa membayar belanjaan nanti kalau dompetnya ada dalam tas itu. Apalagi ongkos taksi, dia bisa berjalan kaki ke apartemen yang tempatnya lumayan jauh dari tempat tersebut. Ingin menghubungi Bintang dan Tuan Winata ponsel Mentari pun sudah ada dalam tas tersebut.


Ada sebagian orang-orang yang ikut membantu tetapi mereka kembali dengan tangan kosong. Sepertinya copet itu begitu lihai menerobos diantara para pengunjung supermarket.


Melihat kekacauan yang terjadi di dalam supermarket miliknya itu, Gala langsung menelpon seseorang.


"Tutup jalan keluar dari supermarket dan pastikan tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini sebelum copet tersebut ditangkap!"


Mentari tampak duduk di lantai dengan lemas setelah mengetahui pencopet itu sudah tidak terlihat lagi dan orang-orang sudah tidak ada yang bisa membantunya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Benarkah aku harus jalan kaki? Tapi aku tidak hafal jalan di sini, akankah aku tersesat?" Itulah yang ada dalam pikiran Mentari sekarang


"Ini tasnya." Seseorang menyodorkan tas miliknya di hadapan Mentari. Wanita itu mengangkat Wajahnya yang tertunduk lesu.


"Tasku?"


Gala mengangguk.


"Pak Gala?" Mentari terlihat kaget, dia pikir pria itu sudah pergi dari tempat itu.


"Iya, ini ambil!" perintah Gala sambil tersenyum manis.


Mentari meraih tas tersebut.


"Terima kasih."


"Terima kasih sekali lagi," ujar Mentari karena Gala telah dua kali menolong dirinya hari ini.


Gala mengangguk. "Maafkan, telah dua kali kamu kecelakaan di tempatku," ucap Gala.


"Maksud Bapak?"


"Tadi pagi kamu hampir celaka di perusahaanku dan sekarang kamu kena copet pula di tempatku ini."


"Jadi ini supermarket Bapak?"


"Iya, sebagai permintaan maaf aku ingin traktir kamu," ujar Gala.


"Tidak usah Pak, kita sudah impas. Bapak sudah dua kali menolong saya."


"Kalau begitu terima kasihmu tidak aku terima," ucap Gala pura-pura kesal.


"Tapi Pak saya sudah kenyang," tolak Mentari.


"Siapa yang mau mentraktirmu makan?"


"Terus maksud Bapak tadi itu ...."


"Ayo ikut aku ke sana!" tunjuk Bintang pada sudut supermarket yang memamerkan segala jenis model pakaian wanita.


"Tapi Pak ...."


"Ikut atau aku tidak akan pernah menolong mu lagi jika tiba-tiba melihatmu dalam keadaan yang buruk!"

__ADS_1


"Ah, baiklah," ucap Mentari pasrah lalu mengikuti langkah Gala.


Bersambung.....


__ADS_2