
Satu Tahun Kemudian.
"Wah akhirnya beres sudah." Mentari menepuk kedua tangannya sambil tersenyum sumringah kala kue tart buatannya sudah selesai dan diletakkan di atas meja.
Warni juga Sarah tengah menghias dinding rumah ustadz Alzam dengan kertas grape dan balon-balon. Pandu pun ikut membantu sebisanya. Hari ini adalah perayaan hari ulang tahun yang pertama bagi Abrisam Abqary putra dari ustadz Alzam Abqary dan Mentari sendiri.
"Sini sama Ummi." Mentari meraih putranya yang sedang digendong oleh mertua perempuannya. Baby Izzam mengoceh tidak jelas sambil tersenyum senang.
"Duh lucunya anak Ummi, nggak terasa sudah setahun saja. Bentar lagi kita rayakan ulang tahun ya, nunggu Abi pulang dulu. Abi janji hari ini pulang lebih awal." Mentari mengunyel-unyel pipi baby Izzam dengan pipinya sendiri dan bayi itu terlihat tertawa lebih lebar membuat senyum di wajah Mentari mengembang.
"Minum asi dulu yuk." Mentari pun menyusui putra kecilnya.
"Sudah semuanya Nak?" tanya ibu mertuanya.
"Sudah Bu," jawab Mentari sambil mengusap-usap pipi putranya yang anteng menyusu.
"Anak Ummi udah ganteng, mandi sama siapa? Sama nenek ya?"
"Saya mandi dulu ya Nak Me, entar giliran Nak Meme yang mandi."
"Iya Bu, terima kasih ya bantuin Meme hari ini."
Mertuanya mengangguk dan berlalu ke kamar mandi.
"Sarah, ibu! Belum selesai juga?"
"Hampir Kak, sebentar lagi beres," jawab Sarah disertai anggukan Pandu.
Beberapa saat kemudian dinding sudah didekor dengan indah dan Sarah turun dari tangga serta mengeluarkan tangga dari dalam rumah.
Warni berjalan ke arah Sarah dan meminta baby Izzam yang sudah selesai menyusu. Bayi itu sudah nampak terlelap di pangkuan Mentari.
"Ayo biar ibu saja yang menaruh cucu ibu ke tempat tidurnya. Kamu mandi saja dan bersiap-siap. Semua keluarga sudah diberitahu?"
"Beres Bu," jawab Mentari sambil menyerahkan baby Izzam pada Warni dan dirinya langsung menuju kamar mandi.
Di kamar mandi Mentari terburu-buru sebab mendengar suara putranya menangis. Selesai berpakaian dia langsung berlari mengambil putranya dari tangan Warni.
"Oa ... oa ... oa ...."
"Dia kenapa Bu?" tanya Mentari panik sebab tidak biasanya putranya itu menangis menjerit-jerit.
"Nggak tahu Kak, tadi sudah coba Sarah gendong, dia tetap nangis. Sama ibu juga dia tidak mau." Sarah pun ikut panik.
"Mungkin masih lapar makanya dia tantrum seperti ini," sambung Warni.
"Nyusu lagi ya Sayang." Mentari mencoba memberikan asi lagi siapa tahu anak itu akan diam. Namun, bayi itu semakin menangis kencang.
"Oaaaa, oaaaa, oa...."
"Sayang kamu kenapa sih?" Mentari panik baby Izzam menolak mendapatkan asi.
"Gendong ya sayang." Mentari menimang-nimang putranya, tetapi bayi itu masih saja tidak mau diam.
"Kita jalan-jalan keluar." Mentari lalu terburu-buru membawa putranya keluar dari rumah. Berharap dengan mendapatkan angin segar putranya akan tenang kembali.
Sampai di luar rumah pun bayinya masih saja tantrum. Sarah dan ibu mertuanya menyusul Mentari keluar kecuali Pandu yang masih bertahan di dalam rumah. Warni pun ikut keluar, tetapi tidak menghampiri Mentari melainkan mencari sesuatu di pekarangan rumah ustadz Alzam.
"Kamu kenapa sih Sayang?" Mentari mencoba meraba dahi bayinya siapa tahu putranya demam. Namun, kondisi tubuh baby Izzam normal-normal saja.
"Apa kamu sakit perut?" Mentari mengecek pampers putranya barangkali bayi itu berak.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Me?"
"Tidak ada apa-apanya Bu."
"Sakit perut kali." Warni datang dengan dedaunan yang telah ditumbuk halus dan dicampur dengan minyak kayu putih di tangannya.
"Coba buka bajunya." Sarah membantu Mentari menggeser baju baby Izzam ke atas. Warni membalurkan dedaunan di tangannya. Berharap dengan cara seperti itu baby Izzam akan mengeluarkan kentut dan sakit perutnya hilang.
Namun, apa yang mereka lakukan tidak ngefek sama sekali bayi itu tetap menangis kencang.
"Oaaa ... Oa... Oaaa...."
Bersamaan dengan itu Pandu berlari ke arah Mentari.
"Kak ada telpon," lapornya sambil menyerahkan ponsel pada Mentari.
"Dari siapa Pandu? Mengapa kau tidak angkat saja?
"Dari paman Winata Kak, katanya mau bicara dengan Kak Mentari."
"Baiklah." Mentari memegang bayinya sambil menerima telepon.
"Halo Pa ada apa? Baby Izzam lagi trantum nih Pa."
Tidak di sangka tangis baby Izzam langsung terhenti. Semua orang bernafas lega.
"Me kamu sekarang juga ke rumah sakit ya! Papa sudah mengirim sopir ke sana. Ikutlah bersama dia! "
"Rumah sakit? Ada apa Pa? Apa terjadi sesuatu pada Papa Tama?"
Tidak ada Jawaban sebab Tuan Winata langsung menutup panggilan teleponnya.
Mentari tampak tertegun, tubuhnya bergetar.
"Tidak tahu Bu, hanya saja papa Winata menyuruhku ke rumah sakit sekarang juga."
Deg.
Semua orang langsung terkesiap.
"Itu mobilnya Bu." Dengan masih menggendong baby Izzam Mentari berjalan tergesa-gesa menuju mobil. Bahkan Mentari tidak mendengarkan saat Warni meminta baby Izzam agar dirinya saja yang menggendong.
Setelah semua orang masuk sopir pun menyetir menuju rumah sakit.
"Siapa yang sakit Pak?"
"Nanti Non Mentari akan tahu sendiri," jawab sang sopir membuat Mentari penasaran.
"Sarah telepon Mas Gala!"
"Sudah Kak, tapi tidak diangkat."
"Ya Allah ada apa ini?"
Sopir tampak mengebut di jalanan sehingga tidak sampai menghabiskan banyak waktu mereka sudah sampai.
"Ayo Non ke sini!" Sopir berjalan di depan menuju ruang rawat di mana Tuan Winata berada saat ini.
"Ada apa ini?" Mentari tertegun tatkala melihat Gala, Tuan Winata, Bintang dan papanya sendiri berdiri menghadap brankar di sana. Pikirannya langsung melayang pada sang suami yang tidak terlihat diantara 4 pria yang berdiri.
"Abi," gumamnya. Dia langsung terburu-buru menorobos diantara para pria yang berdiri. Perasaannya benar yang terbaring di sana adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
"Abi!" seru Mentari dengan air mata yang langsung membanjiri pipinya. Tangannya bergetar kala melihat ustadz Alzam terluka di bagian dadanya hingga hampir saja dia menjatuhkan bayinya.
Untung saja Tuan Winata segera menangkap baby Izzam sehingga tidak terjatuh.
"Abi kenapa?"
"Dia terkena tembakan saat melakukan ceramah di suatu majelis," ungkap Tuan Winata.
"Ya Allah, ujian apa ini? Abi bertahanlah, kau akan sembuh," ucap Mentari pada ustadz Alzam yang menatap intens pada bayi dan dirinya secara bergantian.
"Ummi maafkan Abi yang belum menjadi suami yang sempurna," ucap ustadz Alzam dengan suara yang terbata.
"Tidak Abi, kau terlalu sempurna buatku, aku bahagia hidup bersamamu." Mentari berucap dengan suara yang bergetar.
"Aku titipkan Abrizam padamu. Kalau sudah besar nanti sekolahkan dia di pesantren."
"Abi! Apa yang Abi katakan? Abi tidak boleh meninggalkan kita berdua. Kita butuh Abi." Kini bukan hanya air mata yang jatuh. Namun suara terisak terdengar dari mulut Mentari. Wanita itu menciumi wajah ustadz Alzam tiada henti hingga pria yang tadinya tegar itu pun meneteskan air mata.
"Aku ingin mencium putra kita," bisik ustadz Alzam di telinga Mentari.
Tuan Winata yang mendengar langsung memposisikan baby Izzam agar dapat dicium oleh ayahnya.
Ustadz Alzam tersenyum melihat putranya.
"Yaumul Milad ya Sayang. Yaumul Milad Barakallah fii umrik. Jadilah pria yang taqwa dan lindungi Ummimu."
Melihat itu semua Mentari semakin sesak.
"Mas Gala, ku titipkan Sarah padamu."
"Kakak jangan pergi! Jika kau pergi siapa yang akan melindungiku lagi?"
"Semuanya maafkan aku."
"Abi!" Mentari memeluk tubuh ustadz Alzam dengan erat. Pria itu membelai rambut Mentari di dalam hijabnya.
"Carilah kebahagiaanmu sendiri Ummi. Ikhlaskan Abi pergi."
"Tidak aku tidak bisa, aku ingin hidup bersama Abi." Mentari terlihat egois. Dia tidak mau kehilangan sang suami.
"Ibu maafkan Alzam." Sang ibu mengangguk tanpa kata. Dia benar-benar syok.
"Ibu!" Mentari meminta mertuanya mendekat. Mertuanya pun langsung mencium putra satu-satunya.
"Sampaikan maafku pada ayah."
"Bertahanlah Nak!"
"Laa ilaaha illallaah."
Setelah mengatakan kalimat thayyibah ustadz Alzam memejamkan mata dengan senyum yang masih menghias di bibirnya.
"Abi!" teriak Mentari dengan suara keras dan kencang.
Tidak hanya Mentari, semuanya pun meneteskan air mata. Pertanda mereka semua sayang pada ustadz Alzam.
***
Sebanyak apapun ujian yang dialami Mentari dia masih bisa berdiri kokoh tapi tidak kali ini. Dia benar-benar hancur melihat suami tercinta menghembuskan nafas terakhir di sampingnya.
Mentari tidak kuat lagi hingga akhirnya ia pingsan dengan mendekap erat sang suami.
__ADS_1
Bersambung.