HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 134. Malam Pertama Di Siang Bolong


__ADS_3

Wanita itu sampai memejamkan mata saat ustadz Alzam menatap wajahnya di atas tubuhnya yang terbaring saat ini.


Mendapati tubuhnya sudah terasa ringan Mentari menghela nafas lalu membuka mata. Ternyata ustadz Alzam sudah bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu membuat Mentari sedikit merasa kecewa.


Dia memukul kepalanya sebab kesal dengan pemikirannya sendiri yang selalu mengarah ke hal intim padahal yang dimaksud ustadz Alzam bisa saja memang bukan perkara itu. Barangkali efek dari lama tidak tersentuh oleh Bintang membuat otaknya sedikit oleng dan yang terpenting saat ini dia sangat mencintai ustadz Alzam. Salahkah jika dia ingin cepat-cepat memiliki ustadz Alzam seutuhnya?"


Wanita itu memejamkan matanya lagi. Menetralisir kekecewaan dalam hati padahal bukankah dirinya sendiri tadi yang meminta ustadz Alzam menunda malam pertamanya?


Ustadz Alzam tampak memegang handle pintu lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam sebab kalau tidak begitu, bisa saja Sarah nyelonong masuk kamar tanpa izin.


Ustadz Alzam kembali ke atas ranjang dan terlihat komat-kamit seperti membaca mantra. Mentari membuka matanya sedikit untuk mengintip dan saat ustadz Alzam menatap wajahnya, Mentari kembali memejamkan mata, pura-pura tidak melihat apa yang sedang dilakukan suaminya.


Ketika ustadz Alzam kembali ke posisinya semula, jantung Mentari kembali memompa dengan cepat lagi.


Tubuh Mentari terasa sesak. "Abi ...." Belum sempat Mentari meneruskan ucapannya, ustadz Alzam menutup mulut istrinya dengan ciuman penuh cinta.


Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, kini tubuh mereka sudah sama-sama seperti bayi baru lahir. Ustadz Alzam menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Mereka memadu cinta dengan lembut dan penuh gairah. Keringat, Tasbih dan Hamdalah mengiring mereka mencapai puncak nirwana yang membuat mereka merasakan keindahan surgawi duniawi.


Saat sedang panas-panasnya terdengar ketukan dari arah pintu.


"Kak! Kak Alzam! Kak Mentari!" panggil Sarah dari luar.

__ADS_1


"Ada Sarah Abi."


"Biarkan saja pintunya sudah dikunci."


"Kak Alzam, Kak Mentari makan dulu yuk Sarah bawakan makanan untuk kalian ini." Terdengar suara Sarah makin nyaring di luar sana.


"Abi bagaimana ini kita hentikan saja ..."


"Nanti saja Sarah, taruh saja dulu kami sedang beribadah!" seru ustadz Alzam dari dalam, sudah tidak tahan karena Mentari malah minta berhenti saat sedang tanggung-tanggungnya.


Mentari membelalak mendengar jawaban sang suami pada Sarah sedangkan Sarah yang di luar tampak bingung.


"Ibadah apa sih mereka? Masa iya shalat bisa ngomong?" Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ustadz Alzam bernafas lega karena sudah tidak mendengar suara sang adik dari luar sana. Dia melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.


"Terima kasih Ummi." Ustadz Alzam mengecup kening Mentari saat setelah mengakhiri permainannya dan sebelum akhirnya terkulai lemas di samping sang istri. Mentari hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu menatap wajah ustadz Alzam. Ada rasa lelah yang menyergap, tetapi rasa bahagia dan puas lebih mendominasi.


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya ustadz Alzam dijawab gelengan kepala dari Mentari.


Ustadz Alzam menarik tubuh Mentari dan memeluknya kembali. Wajah mereka bersitatap membuat Mentari salah tingkah.

__ADS_1


"Abi!"


"Hem?"


"Kenapa tubuh kita harus ditutup selimut terus?" Tidak tahu harus berkata apa akhirnya pertanyaan ini yang keluar dari mulut wanita itu. Mentari ingin protes sebenarnya sebab dalam kondisi sesi bercintanya yang panas menjadi semakin gerah kala selimut semakin menutupi tubuhnya.


"Biar tidak ada cicak yang melihat tubuhmu karena sekarang ini sudah menjadi milikku seutuhnya," goda ustadz Alzam sambil mengencangkan dekapannya lalu mencium kembali pipi istrinya itu.


"Abi, aku sesak nafas."


"Maaf." Ustadz Alzam mulai melonggarkan pelukannya. Namun, tangannya mulai nakal lagi.


"Abi kita belum shalat dhuhur dan waktunya sudah mepet." Sebenarnya Mentari hanya ingin menggagalkan keinginan ustadz Alzam lagi sebab Mentari yakin kalau pria sudah nakal seperti itu pasti akan terjadi pergulatan lagi. Bisa tidak menghadiri resepsi nanti jika Mentari digempur lagi.


"Astaghfirullah hal adzim." Ustadz Alzam langsung kaget sambil mengusap wajahnya dan bangkit saat melirik jam weker di dekat lampu tidur sudah menunjuk hampir masuk waktu Azhar.


"Ummi kamu mandi di kamar ya, aku mandi di luar saja, waktunya sudah mepet!" perintahnya.


"Baik Abi."


"Ya Allah ampuni hamba, gara-gara keenakan sampai melupakan kewajibanku," gumam ustadz Alzam sambil berjalan ke luar kamar sedangkan Mentari terlihat tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu ikut bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2