HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 110. Terlambat


__ADS_3

"Bagaimana Me?" tanya Reni saat Mentari sampai ke toko.


Mentari menggeleng dengan lemah.


"Kenapa dia tidak mau?" tanya Reni curiga melihat ekspresi Mentari yang tidak bersemangat.


"Bukan cuma tidak mau, tapi dia bahkan menyobek kertas tersebut," sahut Mentari.


"Tenanglah kamu sebenarnya tidak perlu mendapatkan tanda tangan dari dia. Cukup gugat aja di pengadilan, beres," ucap Reni menenangkan Mentari.


"Susah Ren, aku tidak punya bukti untuk menggugat dia dan aku yakin dia akan mempersulit di persidangan nanti."


"Sudahlah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kamu harus bersemangat biar tidak down." Reni menepuk pundak Mentari dan wanita itu hanya mengangguk lemah.


"Ayo-ayo!" Mandor di tempat itu memanggil anak buahnya agar mengangkat barang pesanan pelanggan ke mobil pickup.


"Sudah ya Ren, aku kerja dulu," ucap Mentari dan langsung bangkit berdiri.


Reni mengangguk dan kembali ke meja kasir.


"Kamu kenapa, sakit?" tanya mandor karena melihat wajah Mentari terlihat pucat.


"Tidak Pak, hanya sedikit tidak enak badan saja," jawab Mentari.


"Kalau sakit mending pulang nggak usah kerja, ini bukan romusa," ujar mandor tersebut. "Di toko ini ada kompensasi untuk karyawan yang sakit atau memiliki kepentingan yang mendesak," lanjut mandor itu lagi.


"Tidak Pak, saya tidak apa-apa. Lagian saya tidak mau gaji saya nanti dipotong," ucap Mentari.


"Percayalah itu tidak akan pernah terjadi. Pemilik toko ini tidak sepelit itu," jelas mandor itu lagi.


"Oh ya Pak, sebenarnya pemilik toko ini siapa sih? Kok sejak saya bekerja di sini tidak pernah menampakkan diri?" tanya Mentari penasaran.


"Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab pak mandor membuat Mentari mengernyitkan dahi. Sengaja pak mandor tidak memberitahu Mentari atas perintah ustadz Alzam.


"Ya sudah Pak kita kerja nggak enak sama yang lain. Nanti kita dikatakan makan uang buta lagi," ucap Mentari sambil tersenyum.


Pak mandor itu mengangguk dan berjalan ke arah para pekerja yang lainnnya diikuti Mentari di belakangnya.


"Kamu bawa cat aja biar kami para lelaki yang mengusung triplek," perintah sang mandor.


Mentari mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya tidak seimbang dan ambruk ke lantai.


"Mentari!" teriak Reni dan langsung berlari ke arah wanita itu.


Para lelaki pun menghentikan aktivitasnya dan menggotong tubuh Mentari ke bagian depan mobil pickup dan meletakkan tubuh wanita itu di kursi samping kemudi.


"Ren kamu ikut, kamu tahu kan dimana letak tempat kosannya?"


Reni mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil pickup.


Salah satu karyawan yang bertugas menyopir mobil pickup itupun melajukan mobilnya ke alamat yang disebutkan Reni.


"Mentari, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reni khawatir karena Mentari masih menutup mata.

__ADS_1


Reni meraba dahi Mentari.


"Dia panas," gumamnya.


"Kenapa?" tanya temannya yang menyopir itu.


"Sepertinya dia demam Kang, kita berhenti di klinik dulu saja ya."


"Oke, sepertinya di depan sana ada klinik."


Reni mengangguk.


Kini mobil itupun sudah terparkir di halaman depan klinik. Sebab Mentari belum sadar juga, karyawan yang menjadi sopir itu terpaksa menggendong tubuh Mentari masuk ke dalam. Untunglah klinik masih nampak sepi sehingga Mentari langsung dapat di tangani.


Selesai diperiksa Mentari langsung diperbolehkan pulang setelah wanita itu sadar. Reni dan temannya itupun membawa Mentari pulang ke kosan.


"Kau sebaiknya tidak kembali dulu Ren sebab dia butuh orang untuk menjaganya," saran pria yang sedari tadi mengawal dan mengantar Mentari dan Reni itu.


Reni mengangguk.


"Biar saya yang lapor sama bos." Reni mengangguk lagi dan pria itu langsung pamit kembali karena harus segera mengantarkan pesanan ke tujuan.


"Terima kasih ya Ren kamu sudah repot-repot menjagaku," ujar Mentari.


"Sudahlah jangan dipikirkan, ini sudah kewajibanku sebagai teman. Kau makan dulu ya setelah itu minum obat."


Mentari mengangguk. Reni berjalan ke arah meja makan yang memang sudah disediakan makanan oleh ibu kos.


"Permisi ya Bu, saya ingin mengambilkan makan untuk Mentari," pamit Reni dan ibu kos mengangguk.


"Tidak usah Bu terima kasih, saya sudah makan di rumah tadi."


"Oh ya ambilkan yang banyak ya, sepertinya Mentari memang belum makan pagi ini sebab pagi-pagi sekali dia terburu-buru pergi," jelas bu kos lagi.


"Iya Bu." Setelah mengambil makanan ke dalam piring, Reni membawa ke kamar Mentari dan meminta wanita itu agar lekas makan. Mentari yang memang sudah merasa lapar pun akhirnya menurut. Dia langsung menyuap makanan ke mulutnya sendiri.


Saat Mentari fokus makan terdengar pintu kamar diketuk dibarengi ucapan salam. Mentari mengentikan makannya dan menjawab salam. Tampak ibu kos membuka pintu depan dua orang ada dibelakangnya.


Mentari menyipitkan mata agar jelas siapa orang yang dibawa ibu kosnya itu.


"Ustadz Alzam?" Mentari nampak kaget. Dalam hati berpikir darimana pria itu tahu keberadaannya. Yang lebih kaget lagi ustadz Alzam datang bersama Sarah.


"Sarah?" Mentari menunduk. Bukankah Sarah tidak ingin melihat dirinya lagi, tetapi kenapa dia datang menjenguknya dan bersama ustadz Alzam lagi.


"Kak maafkan Sarah ya, waktu itu Sarah emosi. Sarah tidak ada maksud untuk memecat Kak Mentari dari toko Sarah." Sarah langsung duduk di samping Mentari.


Mentari hanya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf saya hanya bawa ini," ujar ustadz Alzam kemudian duduk di samping Sarah.


"Allahumma Rabban Naas adzhibil ba'sa isyfi Antasy-Syaafii laa Syafiya illa Anta Syifaa an laa yughaadiru saqaman." Ustadz Alzam mencium kedua tangannya.


"Terima kasih buah tangan dan doanya ustadz," ujar Mentari. Pria itu hanya mengangguk.

__ADS_1


"Sarah tahu darimana aku ada di sini?" tanya Mentari penasaran.


"Ceritanya panjang Kak, mungkin lain kali Sarah ceritakan. Sekarang kak Mentari lanjutkan makanan lalu beristirahat.


Ustadz Alzam bangkit berdiri dan mendekati Reni.


"Kau boleh kembali biar Sarah yang jaga dia." Reni mengangguk dan langsung berpamitan pada semua orang.


Di tempat lain Gala dan Tuan Winata yang mendengar kabar dari salah satu suruhannya bahwa mereka sempat melihat Mentari bekerja di salah satu toko bangunan segera mendatangi tempat Mentari bekerja.


Sayangnya sampai di sana mereka tidak melihat keberadaan Mentari.


"Apa orang ini bekerja disini?" tanya Gala pada salah satu karyawan.


Para karyawan hanya saling pandang dan tidak ada yang menjawab.


"Bagaimana pernah melihat tidak?"


"Pernah," jawab salah seorang dari mereka keceplosan. Sontak pria itu langsung mendapat tatapan tajam dari yang lain.


"Dimana dia sekarang?" tanya Gala to the poin.


"Saya hanya melihat di televisi," jawab karyawan tadi.


"Kalian jangan bohong orang-orang suruhan saya melihatnya bekerja di sini," ucap Gala lagi.


Reni berjalan mendekat. "Cari siapa Mas?"


"Mentari, ini dia fotonya. Apakah benar kerja disini?"


"Oh Mentari?"


"Iya-iya dimana dia sekarang aku ingin bertemu?"


"Maaf, Mas nya sudah terlambat. Sejak kemarin Mentari memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini," bohong Reni. Dia pernah melihat pria ini di televisi, tetapi tidak tahu ada hubungan apa dengan Mentari. Daripada mendapat protes dari Mentari mendingan dia berbohong saja.


"Mbak tahu dia tinggal di mana?"


Reni menggeleng.


"Ya sudah kalau nanti Mbak lihat dia lagi hubungi saya ya. Ini kartu identitas saya." Gala memberikan kartu namanya pada Reni.


"Baik Mas."


"Terima kasih."


Gala dan Tuan Winata kembali ke mobil.


"Kita sudah terlambat Paman. Kita harus mencari kemana lagi?" tanya Gala tak tahu lagi harus mencari kemana. Mereka sudah mencari ke kampung tetapi tidak menemukan Mentari di sana.


"Untuk sementara kita lebih baik cari yang namanya Pak yanto itu biar saat Mentari ketemu masalah langsung clear," usul Tuan Winata. Mereka sudah menemui bagian cctv di apartemen Bintang dan jawabannya sama dengan informasi yang didapatkan ustadz Alzam.


"Baik Paman."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2