HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 153. Cemburu


__ADS_3

Selesai bercinta sepasang suami istri itu bingung bagaimana caranya membersihkan diri.


"Abi coba intip Mas Gala di kamarnya mungkin dia sudah keluar!"


"Sebentar." Ustadz Alzam membuka pintu kamar Mentari dan mengintip ke kamar sebelah.


"Pintunya ditutup Ummi, mungkin Mas Gala sedang beristirahat di dalam. Kita mandi di bawah saja ya."


Mentari menggeleng. "Malu," ucapnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Ngapain malu sama papa sendiri dan pembantu?" protes ustadz Alzam.


"Sebentar aku lihat ke luar dulu barangkali Mas Gala Sudah pergi ke rumah sakit." Mentari bangkit dari ranjang dan membuka tirai jendela tatkala melihat seperti ada suara mobil di bawah sana.


"Benar Abi, Mas Gala sudah mau pergi," ucap Mentari dengan wajah yang ceria saat melihat Gala masuk ke dalam mobil. Namun, tak bertahan lama wajah cerianya berganti murung kembali.


"Kenapa?" tanya ustadz Alzam yang merasa aneh dengan perubahan wajah Mentari yang secara tiba-tiba. Pria itu berjalan dan mendekati sang istri, kemudian ikut menyingkap tirai jendela dan melihat keluar kamar.


"Oh ada dia rupanya yang membuatmu murung." Ustadz Alzam menyadari keberadaan Bintang di bawah sana.


Mentari mengangguk. "Mau apa dia ke sini?" gumam Mentari.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Kalau dipikir-pikir dia itu juga kerabatmu, bukan? Siapa tahu dia hanya ingin menemui Papa Tama."


"Abi benar cuma perasaanku saja yang tidak enak kayak berpikir dia ke sini ada maunya. Ummi takut dia cari masalah dan akan memisahkan kita."


"Tidak perlu takut pada sesama manusia sebab hanya Tuhan yang bisa memutuskan segalanya dalam kehidupan kita. Kalau kita memang sudah berjodoh, maka tidak akan ada yang mampu untuk memisahkan kita berdua termasuk dia. Namun, kalau seumpama kita memang bukan berjodoh, tanpa kehadirannya pun kita akan terpisah."


"Apapun yang terjadi jangan pernah kecewakan ummi ya Abi. Ummi sudah banyak berharap pada Abi dan tidak tahu akan seperti apa kalau sampai Abi mengecewakan Ummi."


"Insyaallah, karena seyogyanya manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan yang menentukan segalanya."


"Iya Abi, semoga Tuhan merestui hubungan kita berdua hingga hanyalah ajal yang bisa memisahkan kita."


"Iya Ummi, amin. Sudah ayo mandi, katanya Mas Gala sudah pergi."


"Iya Abi, kalau begitu ummi duluan ya yang mandi," pamit Mentari sambil menyambar handuk lalu berlari keluar kamar menuju kamar sang kakak.


"Iya Ummi hati-hati. Jangan terburu-buru nanti kepleset!"


Seperginya Mentari, ustadz Alzam duduk lagi di tepi ranjang. Tidak jauh berbeda dengan Mentari dia juga berpikir pasti ada sesuatu yang ingin dilakukan Bintang di tempat ini.


"Apapun itu semoga tidak ada hubungannya dengan pernikahan kami," ucap ustad Alzam penuh harap.


"Semoga dia mendapatkan jodoh yang tepat secepatnya agar tidak menjadi duri dalam pernikahan kami," gumamnya lagi.


Beberapa saat kemudian Mentari selesai mandi dan kembali ke dalam kamar. Melihat suaminya yang termenung segera Mentari menghampirinya.


"Apa yang Abi pikirkan? Tidak akan ada yang memisahkan kita kecuali hanya maut saja," bisik Mentari di telinga ustadz Alzam.


Ustadz Alzam memandang wajah sang istri dan tersenyum kala wajah Mentari sudah terlihat lebih segar.

__ADS_1


"Sekarang waktunya Abi yang mandi. Setelah ini kita akan makan bersama dan ummi akan membantu bibi menghidangkan makanan di meja makan."


Ustadz Alzam mengangguk dan tersenyum lalu keluar dari kamar Mentari menuju kamar Gala sedangkan Mentari tampak mencari pakaian yang akan dipakainya sekarang.


Setelah selesai berganti baju Mentari teringat akan ustadz Alzam yang tidak ada baju ganti. Segera ia menelpon Gala untuk meminjam baju sang kakak untuk dipakai suaminya.


"Ambil di lemari saja. Di deretan paling atas ada baju yang masih baru dan ada bandrolnya. Berikan saja sama suamimu biar aku beli yang lain saja." Terdengar suara Gala dari balik telepon.


"Gratis nggak?"


"Gratis Ca, ya ampun kamu pikir aku pedagang pakaian apa," protes Gala.


"Baiklah terima kasih kalau begitu Mas Gala ku yang paling baik."


"Cih."


Mentari langsung menutup panggilan teleponnya dan melangkah masuk ke dalam kamar Gala.


"Abi bajunya aku taruh di ranjang Mas Gala." Tanpa menunggu jawaban dari ustadz Alzam, wanita itu langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makan buat sang suami terlebih untuk dirinya sendiri yang sudah kelaparan setelah melayani suaminya tadi.


Sampai di tangga bagian bawah Mentari terdiam. Dia ragu untuk meneruskan langkahnya kala melihat sang Papa sedang berbicara dengan Bintang.


"Oh iya ya, aku kok lupa sih ada Mas Bintang di sini." Mentari menggaruk di atas telinganya dengan jari telunjuk.


"Mending aku telepon si bibi saja deh buat nganterin makanan ke kamar." Mentari berbalik dan hendak menapaki tangga lagi menuju ke atas. Namun, ternyata Bintang sudah terlebih dulu melihatnya.


"Mau kemana Me?" sapa Bintang sambil tersenyum.


"Eh, eh mau ke atas. Mau memanggil Abi agar makan," sahut Mentari.


"Ustadz Alzam ada di sini?" Wajah Bintang terlihat tidak senang. Dia yakin ustadz Alzam sudah menjelaskan semua sebelum Bintang mengatakan yang sebenarnya pada Mentari. Begitulah pikir pria ini saat sekarang.


"****! Aku keduluan," umpatnya dalam hati. Kalau saja tadi dia tidak memata-matai Katrina lebih dulu dia mungkin lebih cepat sampai ketimbang ustadz Alzam.


"Ca, bilang ke bibik dulu untuk mempersiapkan makanan sebelum memanggil suamimu agar Nak Alzam tidak harus menunggu terlalu lama!" perintah Tama.


"Iya Pa." Akhirnya Mentari meneruskan langkahnya menuju dapur untuk menemui sekaligus membantu sang bibi. Toh keberadaan dirinya sudah terlihat oleh Bintang.


Beberapa saat kemudian ustadz Alzam turun dari atas dengan rambut basahnya dan berjalan mendekat ke arah Bintang.


"Assalamualaikum," sapa ustadz Alzam dengan salam.


"Waalaikumsalam," jawab Bintang sedang dalam hati berdecih dan kesal. "Sok alim dia padahal menepati janji saja tidak bisa."


Ustadz Alzam yang mengerti Bintang sedang menghujat dirinya dalam hati hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Abi sudah siap, si bibi sudah menyiapkan segalanya," lapor Mentari.


Ustadz Alzam mengangguk.


"Nak Bintang mumpung ada di sini ikut makan sekalian ya," ajak Tama.

__ADS_1


"Boleh Paman," jawab Bintang antusias. Dia senang jika bisa berlama-lama melihat wajah Mentari.


Mentari menarik nafas berat mendengar papanya menawarkan makan juga pada Bintang. Namun, Mentari tidak ingin protes sebab tidak baik kalau mereka mau makan tapi tidak menawari tamunya makan juga.


"Papa tidak makan juga?"


"Hmm, sebenarnya papa sudah kenyang. Papa, kan sudah makan masakan kamu tadi, tapi tak apalah papa makan lagi sedikit untuk menemani kalian."


Mentari mengangguk dan kembali ke meja makan diikuti ketiga pria di belakangnya.


Sampai di meja makan seperti biasa Mentari melayani sang suami mengambilkan nasi.


"Ikannya mau daging atau cumi Abi?" tanya Mentari pada ustadz Alzam.


"Cumi aja deh." Mentari mengangguk dan mengambilkan sesuai dengan pesanan suaminya.


"Kalau sayur biasa Abi suka terong balado, iya nggak?"


"Tahu aja seleraku," kata ustadz Alzam sambil tersenyum manis.


"Iya dong apa yang nggak ummi tahu dari Abi," balas Mentari dan ustadz Alzam hanya mengangguk.


"Papa mau Cahaya ambilkan lauk yang mana?"


"Tidak usah Ca, biar papa ambil sendiri. Kamu layani saja suamimu. Ayo Nak Bintang ambil nasinya!"


"Eh, iya paman." Bintang malah tidak fokus dengan makanan yang terhidang di meja karena sedari tadi lebih mengawasi keduanya ketimbang melihat menu yang terpampang di hadapannya.


"Sepertinya enak," batin Bintang lalu mengambil nasi dan lauk pauk yang diinginkannya. Dia yang tadi pagi hanya sarapan mie instan sangat tergoda dengan menu di rumah pamannya ini.


Bintang dan Tama langsung memulai makannya.


"Abi pimpin doa dulu!"


"Papa sudah terburu-buru," lanjut Mentari menggoda Tama.


Ustadz Alzam pun memimpin doa, setelah itu keduanya ikut makan.


"Kamu beneran nggak mau cuminya?"


"Nggak Abi takut alergi seperti Mas Gala."


"Ah cuma sedikit doang nggak apa-apa. Ini cobain!" Ustadz Alzam mengulurkan sendok ke depan mulut Mentari yang membuat wanita itu terpaksa membuka mulut.


Mentari mengunyah makanannya sambil menunjukkan jempol pertanda enak, membuat ustadz Alzam berinisiatif untuk menyuapi istrinya lagi.


Ting.


Dentingan sendok beradu dengan piring terdengar jelas dari ruangan itu. Semua orang menoleh pada Bintang.


"Maaf Paman Bintang sudah kenyang, Bintang pergi." Tanpa mau mendengarkan jawaban dari semua orang, Bintang langsung bangkit dari duduknya dan pergi keluar.

__ADS_1


"Apa maunya tuh anak?" Tama menggeleng melihat sikap Bintang yang aneh. Dulu saat hidup bersama dengan Mentari wanita ini disia-siakan sekarang setelah menjadi milik orang lain malah diinginkannya kembali.


Bersambung.


__ADS_2