HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 117. Menemui Ustadz Alzam


__ADS_3

Sepulang dari bekerja Bintang tidak langsung pulang ke apartemen maupun ke rumah sakit untuk menjenguk putranya melainkan dia mampir dulu ke toko Sarah.


"Mau pesan kue apa Pak?" tanya Nanik menyambut Bintang yang berdiri di luar toko di depan etalase. Meskipun tahu Bintang ada masalah dengan Mentari dan ustadz Alzam bukan berarti Nanik harus menelantarkan pelanggannya, bukan? Siapa tahu Bintang masih berkenan membeli kue di toko tempatnya bekerja itu meskipun kemungkinan sangat kecil setelah apa yang terjadi antara ustadz Alzam dan Bintang.


"Ustadz Alzam ada?" tanya Bintang to the poin membuat Nanik terperangah. Dia berpikir pasti Bintang akan membuat masalah lagi.


"Tidak ada Pak, ustadz Alzam tidak ada di sini," jelas Nanik.


"Kapan biasanya dia ke sini?" tanyanya lagi.


"Biasanya pagi atau siang, kalau sore atau malam beliau jarang ke tempat ini. Ada apa ya Pak? Nanti saya sampaikan pada beliau."


"Bilang saja ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ujar Bintang.


"Baik nanti saya sampaikan," ucap Nanik.


"Ini nomor telepon saya. Nanti kalau ustadz Alzam kemari tolong kabari," pinta Bintang pada Nanik.


"Baiklah," jawab Naik sambil meraih kartu nama Bintang.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bintang lalu berbalik dan pergi.


"Eh Pak tunggu!" Nanik mencegah Bintang pergi.


Bintang menoleh. "Ada apa? Apa kau tahu dimana ustadz Alzam berada?"


Nanik menjawab dengan gelengan kepala.


"Jadi?"


"Saya hanya ingin menanyakan kabar Mentari," ucap Nanik hati-hati takut Bintang tersinggung. Setelah kejadian penolakan Sarah atas diri Mentari waktu itu, Nanik tidak pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Ponsel Mentari pun sudah tidak bisa dihubungi lagi. Ya Mentari mengganti nomornya kembali.


"Oh dia? Aku tidak tahu dimana dia sekarang," ucap Bintang dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak Nanik.


"Jadi dia tidak tinggal bersama Bapak lagi?" tanya Nanik penasaran.


"Tidak kami sudah bercerai," jawab Bintang jujur.


Nanik tampak kaget, tetapi kemudian berekspresi seperti biasa.


"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya pergi," ucap Bintang dijawab anggukan Nanik.


Bintang berjalan menuju mobil dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit untuk melihat perkembangan putranya.


"Bagaimana keadaan Aldan sekarang?" tanya Bintang pada Katrina.


"Sudah mulai membaik, tetapi tidak tahu kapan bisa dibawa pulang," sahut Katrina. "Padahal saya sudah tidak sabar membawanya pulang," imbuhnya.


"Biarkan saja dokter menangani Aldan dan menentukan kapan bisa dibawa pulang. Takutnya kalau terburu-buru malah berbahaya," nasehat Bintang.

__ADS_1


Katrina pun mengangguk setuju.


Bintang mendekati putranya dan mengajaknya bicara. Bayi itu hanya merespon dengan tersenyum.


"Pekerjaanmu bagaimana Bin?" tanya Katrina pada Bintang yang lagi fokus mengajak putranya berbincang-bincang itu.


"Semuanya lancar. Kamu sampai kapan cutinya? Apa mau berhenti saja?"


"Sampai masa nifas selesai Bin. Nanti aku cari baby sister saja untuk merawat Aldan. Eman-eman Bin, kerja di perusahaan Gala gajinya gede. Susah cari pekerjaan zaman sekarang kalau sekarang aku berhenti."


"Baiklah terserah kamu yang penting aku minta kebutuhan Aldan akan asi jangan sampai kekurangan. Jangan mengandalkan susu formula sebab keadaan Aldan tidak seperti bayi pada umumnya," nasehat Bintang.


"Gampang kalau masalah itu mah, nanti akan saya atur."


Bintang mengangguk lalu meraih ponsel dalam saku celananya karena bergetar.


Bintang tersenyum melihat Nanik yang menelpon.


"Siapa Bin?" tanya Katrina penasaran melihat ekspresi Bintang saat melihat siapa orang yang menelponnya kini.


"Teman kantor ada kabar baik dan saya diminta untuk kembali ke sana," bohong Bintang, tetapi Katrina percaya dan mengangguk.


"Saya pergi dulu ya!" pamitnya dan langsung bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Katrina.


Katrina hanya tersenyum, dalam hati berharap Bintang naik jabatan untuk sementara sebelum Tuan Winata menyerahkan perusahaan pada putranya itu. Katrina yakin setelah mengetahui Bintang telah mentalak tiga Mentari Tuan Winata tidak ada jalan lain akan merestui hubungan dirinya dengan Bintang mengingat Tuan Winata begitu perduli pada Aldan.


Bintang langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke toko Sarah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu ustadz Alzam mengingat ucapan Gala yang akan menikahi Mentari.


"Silahkan duduk! Sebentar saya tinggal dulu," pamit ustadz Alzam lalu pergi menghampirinya Mega.


"Bisa minta tolong sebentar?"


Mega yang sedang mengoven kue mengeluarkan pan dari dalam oven yang berisi kue-kue kering yang sudah matang dan mematikan oven untuk sementara.


"Boleh Ustadz, ada apa?"


"Buatkan tamu kita minuman dan bawa juga beberapa kue yang sudah matang itu!"


"Baik Ustadz." Mega bangkit berdiri dan melakukan apa yang telah diperintahkan.


"Apa kabar?" tanya ustadz Alzam sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Bintang.


"Baik," jawab Bintang singkat.


"Alhamdulillah," jawab ustadz Alzam pun singkat.


"Maaf apa gerangan yang membawa Anda kemari?" tanya ustadz Alzam langsung, dia tidak suka berbasa-basi.


"Sebelumnya saya mau minta maaf atas sikapku yang kasar telah memukul ustadz." Bintang memulai topik pembicaraan.

__ADS_1


"Sudah ku maafkan," jawab ustadz Alzam santai dan tulus.


"Terima kasih," ucap Bintang lagi.


"Sama-sama," jawab ustadz Alzam.


Pembicaraan keduanya nampak kaku. Sarah yang mengintip dari balik kaca greget melihat keduanya terutama sang kakak. Kalau Sarah yang berada diposisi ustadz Alzam dia tidak akan memberi maaf sebelum membalas tonjokan dari Bintang. Sayang sang kakak tidak mengizinkan dirinya nimbrung dalam percakapan keduanya.


Tampak Mega berjalan ke arah mereka dengan nampan berisi dua gelas kopi dan satu toples kue nastar lalu menghidangkan di atas meja.


"Silahkan ustadz, Pak," ucap Mega mempersilahkan keduanya untuk minum dan menikmati camilan.


"Terima kasih Mega."


"Sama-sama ustadz, saya permisi dulu."


"Silahkan."


"Mari diminum dulu!" Ustadz Alzam mempersilahkan Bintang untuk minum.


"Terima kasih." Bintang langsung menyeruput kopi hangat dari gelas tersebut.


Setelah selesai meneguk kopinya, Bintang menghela nafas panjang sebelum menyampaikan keinginannya.


"Begini ustadz saya telah salah paham terhadap kalian dan begitu marah terhadap Mentari. Setelah saya melihat video itu saya merasa setiap yang dilakukan Mentari itu selalu salah di mataku. Kemarin saya memarahi dia dan bahkan mentalak dia saat mendengar dia menjatuhkan Aldan putraku hingga masuk rumah sakit."


Ustadz Alzam terperangah mendengar pernyataan dari Bintang.


"Padahal apa yang kudengar belum dibuktikan kebenarannya atau mungkin benar, tapi Mentari tidak sengaja melakukan hal itu," lanjut Bintang.


"Terus apa hubungannya denganku?" tanya ustadz Alzam pada Bintang. Tidak paham dengan arah pembicaraan Bintang seharusnya pria itu curhatnya di pengadilan saja.


"Itu karena talak yang ku jatuhkan bukan talak biasa yang bisa rujuk melainkan talak tiga," terang Bintang lagi. "Ustadz paham kan itu artinya apa?"


Entah apa yang harus dikatakan ustadz Alzam mendengar berita ini, Innalilahi ataukah


Alhamdulillah?


Jujur pria itu memang menyukai Mentari sejak pertama kali bertemu, apalagi saat Sarah menceritakan banyak hal tentang pertemuannya dengan Mentari. Hanya saja ketika mengetahui Mentari sudah bersuami ustadz Alzam berusaha menepis perasaan itu meski tidak pernah berhasil.


Ustadz Alzam selalu berdoa kepada Tuhan sang pemilik hati, sang maha pembolak-balik perasaan agar rasa cintanya pada Mentari itu dicabut karena dia menganggap perasaan mencintai istri orang itu tidaklah benar.


"Ustadz?"


"Ah iya," ucap ustadz yang baru tersadar dari lamunannya.


"Ustadz Alzam, saya ingin anda menjadi muhallil untuk Mentari agar dia bisa kembali padaku lagi."


"Apa?" Ustadz Alzam kaget setengah mati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2