
Mentari kembali ke sisi Bintang dan ikut duduk di sampingnya.
"Pasti sudah nggak enak rasanya ya Mas?" Mentari menatap Bintang yang sedang mengunyah makanannya.
"Nggak masih enak kok Sayang, apalagi aku juga sudah lapar sekali. Tadi sebenarnya Pak Gala mau menyuruh karyawan lain untuk membawakan makanan ke sini. Mungkin karena bertemu kamu di bawah, jadi dia urungkan."
Mentari mengangguk. "Enak ya, atasannya yang di suruh cari makanan," goda Mentari.
"Bukan begitu, aku tadi dia suruh menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Katanya dia jenuh duduk terus dalam ruangan. Jadi sekalian dia mau jalan-jalan ke bawah."
"Oh begitu ya?"
"Iya, kamu sendiri sudah makan?"
Mentari menatap wajah Bintang sambil menggeleng.
Dia belum sempat makan pagi sebelum berangkat ke perusahaan Gala karena saking bersemangatnya untuk bertemu Bintang, juga melihat-lihat gedung tempat suaminya bekerja. Dia juga tidak ingin Bintang menunggunya terlalu lama.
Dirinya pun tidak ada niat untuk berlama-lama di kantor tersebut. Paling tidak setelah mengantarkan makanan kepada Bintang dia akan berjalan-jalan sebentar lalu pulang dan makan.
Nyatanya semua tidak sesuai prediksi karena ulah Katrina yang telah menahan dirinya di lantai bawah tadi.
"Aaaa, ayo makan!" Bintang mengarahkan sendok yang berisi makanan ke bibir Mentari tetapi wanita tersebut menolaknya.
"Nggak usah Mas. Kamu makan saja sendiri, aku bisa makan di rumah nanti."
"Ayolah makan, kalau kamu telat makan dan sakit aku juga nanti yang repot," bujuk Bintang.
Bersamaan dengan itu Katrina berjalan ke arah mereka sambil menatap tajam keduanya. Namun posisi Bintang yang membelakangi tidak melihat keberadaan Katrina.
__ADS_1
Hal itu membuat Mentari yang tadinya menolak keinginan Bintang akhirnya membuka mulut.
"Nah gitu dong," ucap Bintang sambil menyuapi Mentari. Wanita itu tersenyum lalu mengunyah makanannya.
"Sekarang giliranku," ucap Mentari sambil meraih sendok di tangan Bintang lalu giliran dia yang menyuapi suaminya itu.
Jadilah kedua suami istri itu main suap-suapan, membuat Katrina yang menatap keduanya jadi jengah. Hendak protes pada Bintang, tetapi tidak berani karena melihat Gala menatap ke arahnya. Dia tidak ingin Gala curiga bahwa dia dan Bintang sudah menikah.
Sedangkan Galaksi Pradiatama, pemilik perusahaan sekaligus atasan Bintang itu sebenarnya tidak memandang ke arah Katrina melainkan menatap Mentari dengan kagum. Dia tahu Mentari terpaksa menikahi adik sepupunya itu karena keadaan ekonomi keluarganya yang memprihatinkan.
"Ah, andai saja aku lebih dulu bertemu wanita itu. Akan ku jadikan dia satu-satunya dalam hatiku. Kasihan dia harus di madu oleh Bintang." Gala menarik nafas panjang.
"Sayang aku baru tahu bahwa Bintang telah menikahi Katrina setelah mereka menikah. Andai saja aku tahu lebih awal, akan aku cegah keinginan Paman Winata untuk menikahkan dia dengan Bintang. Akh, mengapa aku jadi ngelantur seperti ini? Ya ampun, dia itu istri orang, kenapa aku harus memikirkannya? Tapi apakah Paman Winata tahu tentang semuanya?"
Bintang meraup wajahnya. Mengapa dia harus memikirkan Mentari sedang satu jam lagi dia harus berjuang dengan perusahaan lain untuk memenangkan tender.
Namun, tidak bisa Gala pungkiri pesona Mentari membuatnya jatuh hati meski dia baru pertama kali bertemu hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dan selalu memukau meski dengan penampilannya yang sederhana sekalipun.
Bahkan Katrina sebelum berpacaran dengan Bintang sempat merayu dirinya. Namun, Gala sama sekali tidak bereaksi sebab hatinya telah mati untuk seorang wanita. Karena tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan tidak pernah menanggapi setiap rayuan para wanita, banyak yang menganggap bahwa Gala adalah laki-laki yang tidak normal.
Namun, ketika melihat Mentari mengapa getaran di hatinya kini kembali?
"Oh tidak, lebih baik aku makan." Gala meraih kotak makan yang ada di hadapannya.
Matanya terbelalak melihat makanan yang dulu sering ia dibuatkan oleh almarhumah mamanya, Rosa.
"Dulu aku sering minta Mama dibuatkan Risoles seperti ini buat camilan sewaktu kecil." Pikiran Gala melayang ke beberapa tahun silam. Terbayang wajah Rosa yang tersenyum padanya.
"Ah Mama aku jadi rindu."
__ADS_1
Dia mengusap wajahnya lagi sebelum air mata mengembun di pelupuk matanya, tidak ingin berlama-lama mengenang sang mama. Kalau tidak bisa jadi dia tidak akan konsentrasi nanti saat meeting dengan beberapa pengusaha lain.
Gala menggigit risoles yang ada di tangan lalu mengunyah dan diam sebentar. "Ini seenak buatan mama. Ada isian jamur dan potongan crab stick serta daging yang tidak terlalu banyak." Mungkin bagi orang lain rasanya akan aneh tapi bagi Gala dia sangat menyukai kombinasi itu.
"Mama banyakin jamurnya, dagingnya kasih sedikit aja ya! Jangan lupa crab stick-nya juga!"
"Iya Sayang mama udah hafal risoles kesukaan kamu yang seperti apa," ucap Rosa sambil memeluk tubuh Gala dan mengecup puncak kepala sang putra.
Kali ini Gala tidak bisa menahan lagi, air matanya menetes sudah. Dia teringat bagaimana sosok Rosa yang sangat menyayangi dirinya. Merawat dirinya dari kecil hingga mengembuskan nafas terakhir.
"Ah Mentari mengapa kau mengingatkanku pada sosok Mama Rosa." Gala meletakkan risoles di tangannya dan meraih air minum lalu meneguknya. Sebentar ia meratapi nasib kedua orang tuanya. Mungkin Gala bisa dikatakan tidak beruntung. Rosa sang Mama meninggalkan dirinya saat ia belum dewasa dan sang Papa sampai kini seperti orang stres karena merasa kehilangan sang istri.
Gala meraih tisu yang ada di depannya lalu mengelap air mata di pipinya. Bisa dipastikan sekarang wajahnya terlihat memerah karena habis menangis.
Karena merasa tidak nyaman takut wajahnya dilihat para karyawan dia masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya.
Dia menarik nafas panjang lalu duduk kembali di kursi kebesarannya.
Gala melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, itu berarti tiga puluh menit lagi pertemuannya dengan para pengusaha lain akan segera dimulai.
Ia mengambil kotak makan pemberian Mentari tadi dan memakan hidangan yang ada di dalam sana. Dia mencoba menepis bayang-bayang Rosa meski nasi yang dibawakan oleh Mentari pun adalah nasi goreng selimut yang sering Rosa buatkan juga untuknya sewaktu kecil.
"Fix dia benar-benar mirip mama. Itukah alasan mengapa aku bisa menyukainya dan sangat ingin dekat dengannya? Huft, sadarlah Gala sebentar lagi kau harus berjuang, jadi hilangkan segala pikiran yang akan mengganggu konsentrasimu. Kali ini kau harus menang lagi," gumam Gala menyemangati diri sendiri.
Kali ini Gala fokus menyantap makanan tanpa memikirkan Rosa ataupun Mentari lagi. Dia paham akan dirinya yang apabila dalam keadaan lapar akan benar-benar terpecah konsentrasinya nanti.
Bersambung....
Mampir juga yuk ke novel karya kak Mayya_ Zha di bawah ini! Dijamin ceritanya keren dan seru abis👍
__ADS_1