
"Kenapa kau malah kepikiran ingin seperti itu Gaffi?" tanya Sarah kenapa tiba-tiba Gaffi menginginkan naik pesawat dan salju.
"A ... bang gitu," ucap Gaffi sambil mengucek kedua matanya.
"Hah, sebentar!" Sarah meninggalkan kamar Gaffi dan menuju kamar Izzam. Tak menemukan anak itu di sana akhirnya mencarinya di kamar Mentari.
"Kalian mau kemana?" tanya Sarah heran melihat keduanya nampak berkemas.
"Mau pindah ke rumah Bintang sekarang juga?" tanya Sarah kemudian meskipun tidak yakin sebab tas yang mereka bawa berbeda.
"Kau belum bilang sama papa, Mas?" tanya Mentari kaget. Harusnya kalau Bintang sudah meminta izin dengan papanya paling tidak Gala akan tahu dan tentu saja saudaranya itu akan memberi tahu istrinya.
"Mau bulan madu ke Switzerland Sarah," jawab Bintang santai dan saya sudah meminta izin pada paman dan beliau mengizinkan.
"Ini serius Kak?" tanya Sarah untuk memastikan perkataan Bintang serius atau hanyalah gurauan semata.
"Iya Sarah," jawab Mentari disertai anggukan.
"Memangnya saya pernah bicara tidak serius denganmu Sarah?" protes Bintang.
"Pantas saja Gaffi bicara tentang pesawat dan salju pasti dia tahu kalian akan keluar negeri," ujar Sarah dan Izzam yang nampak duduk di atas sebuah sofa terlihat menunduk karena takut dimarahi oleh Sarah akibat membuat adiknya itu menangis.
"Ikut!" rengek Gaffi memeluk betis Sarah dengan erat sambil meneteskan air mata.
"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini semua dan Gaffi menangis? Kenapa juga ekspresi Izzam seperti itu, apa mereka habis bertengkar?" tanya Gala yang tiba-tiba ada di belakang Sarah.
"Bukan Mas tapi ingin ikut bareng Izzam," terang Sarah.
"Ya sudah izinkan saja, nitip
Gaffi ya Bin!" pinta Gala.
"Loh nitip gimana Mas, mereka itu mau keluar negeri dan putra kita mau ikut dengan Izzam," jelas Sarah.
"Kemana Bin?" tanya Gala dengan ekspresi tenang.
"Switzerland," jawab Bintang singkat.
"Ikut penerbangan kapan?"
"Nanti malam jam 9."
"Oke kalau begitu masih ada waktu 'kan untuk pesankan kami tiket juga?"
"Mas?" Sarah nampak bingung.
"Nggak apa-apa sekalian kita juga ikut. Jarang-jarang 'kan kita liburan?"
"Tapi mereka mau bulan madu." Sarah tidak enak jikalau mengacaukan rencana Mentari dan Bintang.
"Nggak apa-apa 'kan Bin? Kalau kalian keberatan kami ganggu kau tenang saja nanti aku akan menyewa hotel yang berbeda dengan hotel yang kalian sewa."
"Tidak apa-apa Gala, justru ini akan bertambah seru jika kita berlibur bersama. Hitung-hitung kalian bisa menjaga Izzam untuk kami di sana." Bintang terkekeh.
__ADS_1
"Boleh juga," ujar Gala.
"Sebentar aku telepon teman saya dulu untuk mendapatkan tiket, untuk 3 orang, kan?"
"Iya Bin."
"Oke." Bintang pun langsung menelpon seseorang untuk mendapatkan tiket bagi Gala dan keluarga.
"Mas Gala serius ini? Apa tidak apa-apa meninggalkan papa seorang diri? Bukankah sebaiknya mengajak papa sekalian?" usul Sarah.
"Tidak perlu Sarah, membawa orang tua itu tidak seru," ujar Gala dan langsung membuat Sarah menggeleng tidak percaya dengan pendapat Gala.
"Benar Gala kita akan merasa tidak bebas," ujar Bintang lalu terkekeh. Kemudian melanjutkan kembali pembicaraan dengan temannya di telepon.
"Apa bedanya dengan membawa anak kecil," protes Sarah.
"Tenanglah saya sudah menyiapkan seorang pembantu untuk mengurus Izzam di sana, sekalian dengan Gaffi nanti. Oh ya, tiketnya sudah ada. Kita bisa mengambil nanti langsung di bandara."
"Thanks Bin kalau begitu kami kembali ke kamar untuk bersiap-siap juga," ujar Gala dan Bintang menjawab dengan anggukan.
"Ikut Papi." Gaffi masih merengek, dan sekarang pada papinya.
"Iya Gaffi dan kita semua akan pergi bersama Om Bintang dan Izzam. Oleh karena itu Gaffi tidak perlu menangis lagi," ujar Gala lalu menggendong putranya kemudian menurunkan saat tiba di kamar anak itu.
"Sekarang bantu mami mengemasi baju Gaffi yang akan dibawa!"
"Baik Papi," jawab Gaffi lalu mendekat ke arah Sarah. Keinginannya membantu, tetapi menurut Sarah hanya merecoki saja.
"Gaffi duduk saja di sana ya Nak, biar pekerjaan mami bisa lebih cepat sebab mami masih mau mengemas barang papi dan punya mami sendiri. Kalau kelamaan nanti ditinggal sama Om Bintang dan Izzam."
Gala sendiri masuk ke dalam kamarnya sendiri sambil menelpon Kiki dan menyerahkan tugasnya pada asistennya itu untuk beberapa minggu.
"Paling lama satu bulan Ki, tenanglah nanti kamu aku kasih gaji tambahan," ujar Gala melalui sambungan teleponnya.
"Nah kalau gitu aku jadi bersemangat, setahun
Pak Gala nggak ngantor nggak masalah asalkan gaji saya di double," ucap Kiki lalu terkekeh.
"Dasar!" ucap Gala dan langsung menutup panggilan telepon kemudian Gala masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan melaksanakan shalat. Kedua pasangan suami istri langsung menemui Tama untuk menyampaikan keinginan mereka meskipun sebenarnya untuk Bintang sendiri sudah memberi tahu lebih awal.
"Kenapa harus barengan sih? Ini mau bulan madu apa mau liburan keluarga?" tanya Tama bingung. Biasanya jika pasangan suami istri hanya pergi berdua saja, tetapi anak dan menantu mereka begitu aneh. Mereka pergi bersamaan seperti pasangan yang double date saja.
"Biar seru Pa," sahut Gala.
"Kalau papa sih tidak masalah jika kalian pergi bersama, tapi bagaimana menurut Nak Bintang? Bisa-bisa dia terganggu dengan kehadiran kalikan bertiga."
"Saya sudah berembuk dengan Bintang dan dia setuju, iya Kan, Bin?"
"Iya paman."
"Baiklah kalau begitu papa juga setuju. Jam berapa penerbangannya?"
__ADS_1
"Jam 09.00 malam Pa."
"Oke nanti papa antar kalian ke bandara. Sekarang kita makan saja dulu!" perintah Tama sambil berjalan ke ruang makan.
"Iya Pa."
"Kedua cucu papa mana?" tanya Tama melihat Izzam dan Gaffi tidak ada bersama anak dan menantunya.
"Mereka kompak tidur Pa, entah apa maunya. Mungkin takut kelelahan karena akan melakukan perjalanan jauh, tapi kalau dibangunkan kasihan juga sebab baru tidur," jelas Gala.
"Baiklah, tapi sebelum berangkat jangan lupa memberikan mereka makan, takutnya mabuk pesawat dan perutnya dalam keadaan kosong."
"Baik Pa."
Jam 8 malam Bintang dan Gala membangunkan anak-anak sedangkan para istri mereka sedang merias diri di kamar masing-masing.
"Izzam masih ngantuk papi," ujar Izzam sambil mengucek matanya kemudian memeluk guling lagi dan memejamkan mata.
"Gaffi juga," ujar Gaffi menirukan gerakan Izzam mengucek mata lalu berbaring lagi memeluk guling.
"Sekarang waktunya naik pesawat atau kalian nggak mau ikut karena pesawatnya sudah mau terbang."
Mendengar kata pesawat akhirnya keduanya bangkit bersamaan dan duduk.
"Ayo bangun dan mandi," ucap Gala lalu menggendong putranya ke kamar mandi begitupun dengan Bintang, Izzam yang ada dalam kamar Gaffi dia bawa ke kamarnya dan memberikan pada Mentari untuk dimandikan.
"Kamu siapkan makanan untuk Gaffi saja biar kali ini aku yang memandikan nih anak," ucap Bintang saat Sarah ingin mengambil Gaffi dari gendongannya.
Sarah mengangguk lalu beranjak ke dapur dan menyiapkan dua kotak makanan untuk Gaffi dan Izzam. Sarah yakin keponakannya itu juga belum makan.
Jam delapan lewat lima belas menit Gaffi dan Izzam pun sudah siap.
"Suapi mereka di dalam mobil saja, saya takut waktunya tidak cukup sebab jarak rumah ini ke bandara jauh," ujar Bintang saat melihat Sarah memegang kotak makan sedangkan waktunya sudah mepet.
"Bagaimana sudah siap?" tanya Tama yang melangkah ke arah anak dan menantunya yang terlihat sibuk dengan memegang kunci mobil di tangan.
"Siap Pa."
"Ya sudah ayo saya antar!"
Mereka mengangguk dan melangkah mengikuti Tama. Kedua anak kecil itu berada dalam gendongan ayahnya masing-masing sedangkan koper dan Travel bag para pembantu mereka yang membawanya. Sarah dan Mentari hanya memegang kotak makan untuk masing-masing putranya.
"Pembantumu mana Bin?" tanya Gala sebab tidak melihat pembantu yang katanya akan mengasuh Izzam dan Gala sampai di negara tujuan.
"Oh iya ya, saya kok lupa ya menghubungi Bik Jum. Mungkin ada pembantu disini yang bisa menggantikan beliau?" tanya Bintang terus melangkah ke arah mobil mereka.
"Itu Mas, Bik Jum sudah ada di depan bersama papa," ujar Mentari sambil menunjuk ke luar pagar dimana Tuan Winata memarkirkan mobilnya.
"Papa ikut menjemput? Kalau begitu Pak sopir tidak perlu mengantar," ujar Bintang pada sopir Gala. Sopir itu mengangguk dan undur diri.
Gala, Sarah dan Gaffi ikut mobil yang dikendarai Tama sedangkan Bintang, Mentari, Izzam, dan Gaffi serta Bik Jum ikut mobil Tuan Winata. Kedatangan mereka di bandara beberapa menit sebelum keberangkatan tiba.
Akhirnya jam sembilan pas mereka melakukan penerbangan ke negara tujuan.
__ADS_1
Bersambung.