HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 207. Kontraksi


__ADS_3

Setelah Katrina berlari keluar dari apartemen Bintang Arka menyusul di belakang. Begitupun saat Katrina mengendarai mobilnya, Arka mengikuti arah mobil wanita itu melaju. Hingga sampai di depan pagar rumah orang tua Katrina Arka menghentikan mobil.


Tentu saja orang tua Katrina merasa aneh dengan kedatangan putrinya yang tiba-tiba dengan keadaan yang kacau setelah sekian lama wanita itu jarang pulang.


"Kenapa pulang sendiri lagi, mana Bintang?" Ferdinand berjalan mendekati putrinya.


"Kami sudah bercerai Yah."


"Dan akhirnya dia memilih kembali dengan wanita yang dijodohkan Winata?"


Katrina menggeleng. "Mentari masih bersama ustadz Alzam dan tidak akan mungkin kembali pada Bintang."


"Berarti dia sudah mendapatkan lelaki terbaik dan kau pun harus mengikuti jejaknya. Lupakan cintamu yang buta ini terhadap Bintang."


"Iya Yah, Kate mau masuk dulu, Kate lelah." Padahal cinta Katrina bukan cinta buta, tapi karena gila harta.


Ferdinand mengangguk dan Katrina pun masuk ke dalam rumah.


Ferdinand melihat ke arah pagar, ada mobil yang berhenti di sana. Pria setengah tua itu mengernyit lalu berjalan mendekat.


"Maaf Anda mencari siapa?"


Arka turun dari mobil dan berjalan ke arah Ferdinand sambil mengulurkan tangan.


"Perkenalkan nama saya Arka."


Ferdinand pun menerima jabatan tangan Arka dan juga memperkenalkan diri.


"Ada kepentingan apa ya datang kemari?"


"Saya ingin melamar putri bapak." Arka to the poin padahal dirinya belum begitu yakin bahwa Ferdiand itu ayah dari Katrina. Namun, kalau bukan ayahnya siapa lagi? Begitu kira-kira pemikiran Arka.


"Apa kamu tidak salah alamat?" Ferdinand tidak yakin.


"Tidak Pak, ini rumah Katrina, bukan?"


"Ya betul. Berapa tahun kenal dengan anak saya?"


"Sudah bertahun-tahun, bahkan sebelum kenal dengan Bintang."


"Hmm, baiklah kalau begitu silahkan masuk dulu dan untuk urusan jodoh anak saya, biarkan dia memutuskan sendiri apalagi dia baru bercerai dari suaminya si Bintang."


Arka mengangguk. "Saya perlu bicara dengannya."


"Baiklah, mari silahkan masuk."


Ferdinand membalikkan badan dan berjalan ke dalam rumah sedangkan Arka ikut di belakangnya.


Setelah mempersilahkan Arka duduk dan menyuruh pembantunya untuk membuatkan minuman untuk tamunya segera Ferdian memanggil Katrina.


"Tamu siapa sih Yah, kan Kate sudah bilang Kate lelah. Kate mau istirahat."


"Temui sebentar, sepertinya dia datang dari jauh."

__ADS_1


Katrina yang sudah merebahkan tubuhnya terpaksa bangun dan berjalan menuju ruang tamu. Saat melihat Arka yang duduk di kursi ruang tamu, Katrina merengut lalu berbalik.


"Kate!" panggil Arka lalu bangkit menyusul Katrina yang hendak kembali ke kamarnya. Pria itu menahan tangan Katrina.


"Mau apa ke sini? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa diantara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi? Pergilah!"


"Aku datang kemari ingin melamarmu dan sepertinya ayahmu setuju."


"Gila kamu ya! Aku tidak ingin hidup denganmu lagi."


"Kate berikan kesempatan," mohon Arka.


"Tidak ada kesempatan untukmu," ketus Katrina.


"Aku memang salah padamu karena mendua, tetapi bukankah saat berhubungan denganku kau juga mendua dengan Bintang?" Arka protes, ini tidak adil baginya. Dia bisa menerima Katrina apa adanya kenapa Katrina malah tidak bisa memberikan maaf padanya.


"Itu beda Arka, yang aku khianati itu Bintang bukan kamu dan yang kamu khianati itu aku. Kau tahu bahkan Bintang tidak bisa memaafkanku jadi jangan harap aku juga memaafkanmu."


Arka menggeleng, sepertinya dia melampiaskan kekecewaan pada. Bintang pada kesalahan Arka.


"Pergilah jangan harap aku mau kembali padamu!" usirnya.


"Kau yakin ingin berpisah denganku?" tanya Arka kemudian.


"Ya keputusanku sudah bulat," jawab Katrina mantap.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dan mulai hari ini aku tidak akan mengganggumu lagi." Arka balik badan dan berjalan keluar.


"Pak saya permisi," pamitnya pada Ferdinand saat sampai di luar ruangan.


"Begini rasanya dikhianati, mengapa sakit sekali?" Katrina mencampakkan dirinya ke atas ranjang.


3 Bulan Kemudian.


"Assalamualaikum, sedang apa?"


Mentari yang sedang merias diri di kamar menoleh ke arah pintu.


"Abi?" Wanita itu tersenyum manis menyambut kepulangan sang suami yang bertugas di luar kota. Mentari hendak bangkit, tetapi segera dicegah oleh ustadz Alzam.


"Nggak usah ke sini biar aku yang ke sana saja." Ustadz Alzam paham istrinya mulai susah untuk bergerak akibat perutnya yang sudah membesar.


Mentari mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk bangkit dari kursinya.


Ustadz Alzam segera mendekat lalu memeluk Mentari dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu sang istri.


"Ditinggal beberapa hari saja sudah semakin cantik saja." Tangannya terulur memainkan rambut sang istri.


Mentari mencebik. "Gombal, kayaknya modus nih mau nagih jatah." Mentari meringis sendiri.


"Paham sudah ya?"


"Jangan Abi masih pagi, malu sama ibu. Oh ya ada kabar baik? Kok Abi datang-datang langsung kelihatan senang?" Mentari mengalihkan perhatian agar suaminya melupakan tentang keinginannya tadi. Dia baru saja mandi, malas mandi lagi.

__ADS_1


"Ya senang lah kan mau ketemu istri."


"Yakin nggak ada yang lain?"


"Apa ya? Ada sih, tapi belum tentu kabar baik buat kamu." Ustadz Alzam terkekeh.


"Apaan sih?" Mentari jadi curiga.


"Yakin mau dengar?"


Mentari mengangguk.


"Oh ya, dua hari yang lalu saat saya mengisi ceramah di sebuah desa seorang tokoh terkemuka di sana mendekati saya dan mengutarakan sesuatu."


"Apa sih, aku jadi kepo."


"Beliau meminta saya untuk menikahi putrinya."


"Apa?" Mentari terbelalak.


"Katanya beliau ingin keturunan dari saya."


Mentari menatap ustadz Alzam dengan tatapan mengintimidasi.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Ustadz Alzam terkekeh.


"Terus Abi tidak bilang kalau sudah punya istri?"


"Sudah katanya tidak mengapa putrinya jadi istri kedua." Mentari semakin terbelalak.


"Terus Abi jawab apa? Cantik tidak wanita itu?"


"Cantik dan masih gadis lagi."


Mentari cemberut tidak suka suaminya menilai orang lain cantik padahal dirinya sendiri yang bertanya.


"Tapi lebih cantik Ummi." Ustadz Alzam mengusap pipi istrinya. Namun, Mentari tidak perduli.


"Terus menurut Abi bagaimana dan Abi menjawab apa?"


"Boleh juga sih, mubadzir juga ya kalau ditolak, tapi-"


Niatnya ingin menggoda sang istri. Namun, sebelum menuntaskan kalimatnya Mentari mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa Ummi?"


"Aduh, aduh."


"Maaf tadi Abi hanya bercanda."


"Abi sakit Abi, sakit. Huuuft." Mentari menahan rasa sakitnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ustad Alzam segera menggendongnya tubuh Mentari dan melarikan istrinya ke rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Salam.🙏


__ADS_2