
Catatan Author:
[ Ingat ya di tanggal 1 akan dipilih 2 orang pemenang yang akan mendapatkan pulsa masing-masing 15 ribu buat dukungan tertinggi di fans. Peraturannya aku ubah ya akun Berildiaz Imamah( akunku sendiri tidak akan saya hitung juga tidak berlaku untuk sesama Author). Jadi yuk tingkatkan dukungannya!💪🙏
🌟🌟 Happy Reading 🌟🌟
"Huh, seorang wanita kampung yang bermimpi menjadi Cinderella dalam kehidupan putraku," ucap Arumi dengan senyum mengejek lalu meninggalkan keduanya begitu saja. Tubuh Mentari membatu seketika. Ucapan Arumi benar-benar membuatnya beku.
Mentari menekan dadanya, ucapan Arumi langsung menghujam jantungnya. Aliran darah di tubuhnya seakan berhenti seketika.
"Non! Non!"
Sentakan Bik Jum mengembalikan kesadaran Mentari. "Ah iya, apa Bik?"
"Jangan didengarkan ya perkataan Nyonya tadi. Dia itu kalau belum mengenal seseorang memang suka menjudge seenaknya, tetapi percayalah jika dia tahu bagaimana sikap seseorang yang sebenarnya dia akan sangat menyayangi Nona. Sama Bik Jum saja dia baik kok apalagi dengan menantunya sendiri."
"Iya Bik Jum," sahut Mentari sambil mencoba tersenyum seolah dirinya baik-baik saja padahal di dalam sana menganga luka yang tidak bisa disentuh, semoga masih bisa diobati. Dia pura-pura tegar hanya tidak ingin Bik Jum prihatin kepadanya. Padahal dalam hati berpikir mana mungkin menantu yang tak dianggap oleh Arumi itu akan menjadi menantu kesayangan. Bisa, tapi hanya dalam dunia halu seperti novel online yang ditulisnya.
"Sudah yuk Non masuk ke dalam, cuaca di luar hari ini tidak enak buat tubuh," ajak Bik Jum sambil melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti. Mentari hanya mengangguk dan langsung mengikuti langkah Bik Jum masuk ke dalam rumah.
Menginjakkan kaki di lantai satu sudah membuat Mentari terhipnotis dengan keadaan sekitar. Beberapa sofa yang besar dan furniture mewah menghiasi ruang tamu. Lampu gantung yang berbahan kristal pun semakin menambah kharisma dan kemegahan ruangan tersebut.
"Ini ruang tamu dan yang mengelilingi ruangan ini adalah kamar-kamar para tamu yang ingin menginap atau sekedar beristirahat di dalam kamar." Mentari tampak tercengang, dalam hati bertanya kira-kira seberapa banyak tamu yang datang ke tempat ini hingga menyediakan kamar tamu sebanyak itu. Kalau rumah ini milik Mentari sendiri pasti sudah dia kontrakan atau dijadikan kos buat para pelajar.
"Yang diujung sana itu dapur dan tempat itu nyambung dengan rumah belakang tempat para pembantu di rumah ini bernaung." Bik Jum menjelaskan tata letak kamar-kamar yang ada di lantai bawah.
Mentari hanya mengangguk.
"Sekarang kita ke lantai dua," ucap Bik Jum lagi.
"Iya Bik." Mereka menaiki tangga.
Kalau yang itu kamar tidur Nyonya Arumi. Di sebelahnya itu ruang kerja Tuan Winata. Nah, ruangan yang bersebrangan itu tempat gym pribadi keluarga. Hanya tempat olahraga yang bisa dilakukan di dalam ruangan saja. Kalau olahraga yang biasa dilakukan di luar, dalam artian yang membutuhkan lapangan luas itu ada di lantai satu di belakang rumah." Mentari semakin terkagum-kagum mendengar penjelasan Bik Jum. Apalagi saat Bik Jum membawa Mentari ke dalam ruangan gym tersebut.
"Kalau kamar Mas Bintang yang sebelah mana bik?"
"Oh kalau kamar Mas Bintang ada di lantai tiga. Rupanya Nona sudah tidak sabar ya ingin tahu kamar Den Bintang." Mentari hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Mari kita ke sana sekarang. Mau naik lift atau lewat tangga lagi?"
__ADS_1
Mentari terlihat kaget. "Naik lift Bik?"
"Iya Nona, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa sih Bik, tapi ini rumah atau perusahaan sih, pakai lift segala. Atau malah stadion? Lengkap amat fasilitasnya." Mentari menatap keluar melalui kaca bening yang menjadi pembatas dengan lingkungan luar. Dari dalam ruangan itu terlihat lapangan olahraga di belakang rumah dan kolam di depan rumah.
"Iya Nona, Tuan Winata menyukai olahraga dan tidak hanya satu olahraga yang beliau suka melainkan banyak macamnya. Jadi, ya di sini disediakan fasilitas lengkap karena sebenarnya beliau memang tidak suka lama-lama berada di luar rumah. Jadi semua harus ada dalam rumah." Mentari mengangguk paham.
"Ayo Nona kita ke lantai tiga. Katanya sudah nggak tahan pengen lihat kamar Den Bintang."
"Iya Bik mari. Naik tangga saja ya biar Mentari bisa sambil melihat-lihat sekitar."
"Oke siap Non. Lift itu sebenarnya hanya digunakan ketika penghuni rumah terburu-buru, kalau tidak mereka juga lebih suka naik turun tangga."
Mereka berdua menaiki tangga dengan pelan.
"Ini Non kamar Den Bintang." Bik Jum membuka pintu kamar Bintang dan mempersilahkan Mentari masuk.
"Silahkan Non Mentari beristirahat dan ini kunci kamarnya. Selama ini Den Bintang menitipkan kunci kamarnya pada bibik. Ya meskipun yang bertugas membersihkan ruangan di rumah ini bukan tugasku tapi khusus untuk kamar Den Bintang bibik yang melakukannya karena Den Bintang hanya mempercayai bibi. Istirahatlah bibik pamit turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaan bibi, menyiapkan menu untuk makan malam."
"Iya Bik."
Bik Jum keluar dari kamar dan menutup pintu dari luar, berharap Mentari bisa langsung beristirahat tanpa harus repot-repot menutup pintunya terlebih dahulu.
Mentari tampak berpikir sekilas bagaimana caranya dia mendapatkan pakaian ganti. Ingin menyuruh Bik Jum membelikan dia tidak membawa uang sepeserpun. Ingin tetap pada pakaiannya sekarang Mentari merasa tidak nyaman karena sudah bau keringat.
"Pakai baju Mas Bintang saja." Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja.
Mentari berjalan mencari keberadaan lemari, yang dia lihat justru penampakan walk in closet yang begitu besar. Ketika melihat baju Bintang terpajang di dalam walk in closet itupun membuat Mentari terkagum-kagum. Ternyata Bintang memiliki koleksi baju-baju dan sepatu yang banyak. Mentari berpikir mengapa Bintang tidak memilih tinggal di sini saja daripada apartemennya sedangkan di tempat ini semua serba ada dan komplit dibanding apartemennya itu.
"Ah, sudahlah terserah Mas Bintang saja. Dia menarik sebuah kaos yang tergantung di dalam sana. Namun tak sengaja ada dress yang ikut ketarik dan terjatuh.
Mentari terkejut lalu meraih dress tersebut. "Punya siapa ini?"
"Ah, sudahlah punya siapapun itu yang penting baju ini bisa aku pakai." Tanpa pikir panjang Mentari membawa baju tersebut ke dalam kamar mandi.
Di tempat lain, di apartemen Bintang.
"Kemana dia? Apa belum pulang sampai sekarang?" Bintang menanyakan keberadaan Mentari pada Katrina saat pulang dari kantor.
__ADS_1
Katrina tampak cemberut. "Aku ada di sini kok malah nanyain dia sih Bin?"
"Bukan begitu aku masih kesal sama dia. Seenaknya saja menyakitimu hanya karena permintaanku."
Mendengar ucapan Bintang Katrina tersenyum puas. "Kalau dia datang mau kamu apain?" tanya Katrina penasaran.
"Ya dihukum lah memang diapain lagi?"
Hati Katrina semakin bahagia. "Tapi sepertinya dia tidak akan pernah berani kembali ke apartemen untuk selamanya."
"Memangnya kenapa?" tanya Bintang, bingung mengapa Katrina bisa menyimpulkan seperti itu.
"Alasannya dia takut sama kamu. Bukankah kamu tadi bilang akan menghukumnya kalau dia kembali? Sebagai seseorang yang sangat bersalah pasti dia ada feeling seperti itu.
Bintang mengangguk, tetapi dalam hati juga khawatir bagaimana kalau sampai Mentari menghilang. Jawaban apa yang akan dia beri jika papanya dan keluarga Mentari menanyakan keberadaan istrinya tersebut.
Dalam tertegun ponselnya bergetar. Segera Bintang mengangkat telepon, tetapi sebelumnya memberikan kode agar Katrina tidak bicara terlebih dahulu.
"Iya Pa ada apa?"
"Sekarang juga papa minta kamu datang ke rumah!"
"Sekarang? Ada apa Pa?"
"Tidak usah banyak tanya kalau tidak ke sini sekarang papa akan pecat kamu dari kartu keluarga," ancam Tuan Winata.
"Iya Pa, Bintang akan segera ke sana."
"Bagus."
Bintang menutup panggilan telepon Tuan Winata dan bersiap-siap, melepas jas kerja dan menggantinya dengan jaket.
"Mau kemana Bin?"
"Mau menemui papa sebentar, sepertinya ada yang serius."
"Jangan-jangan wanita itu mengadu yang nggak-nggak lagi sama Paman Winata," tuduh Katrina.
"Kamu tenang saja kalau sampai dia melakukan hal itu ku pastikan aku tidak akan pernah memaafkan dirinya."
__ADS_1
Katrina menghembuskan nafas lega, dalam hati lebih banyak berharap Mentari sudah pergi jauh dan tidak akan pernah berani untuk kembali lagi.
Bersambung....