
"Ada apa ribut-ribut? Mana perampoknya? Dua orang security menyibak kerumunan para karyawan yang hanya berdiri dan mematung melihat keberadaan Katrina dan mentari di ruangan Gala. Sepertinya semua orang bingung apa yang harus dia lakukan. Yang satu anak pemilik perusahaan dan yang satu adalah atasan mereka.
"Seret dia Pak!" perintah Katrina pada security tersebut sambil mencoba menyeret tubuh Mentari. Namun, wanita itu masih berusaha menepis tangan Katrina.
"Maaf mana malingnya?" tanya Security itu lagi mengingat tidak ada yang menjawab pertanyaannya tadi.
"Dia Pak, dia yang mau mencuri di ruangan ini. Bagaimana mungkin Bapak dan semua karyawan ceroboh memasukkan orang asing dan membiarkan berkeliaran di dalam perusahaan. Bagaimana kalau dia adalah suruhan perusahaan pesaing yang ingin mencuri data yang ada di perusahaan ini? Mau kalian dipecat oleh Pak Gala?"
Semua orang hanya menggeleng di tempat masing-masing.
"Apa yang masih Bapak pikirkan? Cepat seret perempuan ini ke luar dari kantor!"
Security itu hanya menatap Mentari.
"Kenapa kalian kayak kambing congek semua sih!" Katrina kesal dan langsung berjalan ke depan dua security yang masih tidak bergeming di tempatnya.
"Kalian seret dia atau akan dipecat!" ancamnya.
Kedua security itu menggeleng. "Maaf Bu kami tidak berani."
Katrina terbelalak mendengar jawaban dari kedua orang di depannya. Tidak biasanya ada yang menolak perintahnya di kantor.
"Kalau saya perintahkan kalian menyeret Katrina keluar dari perusahaan, mau?" Rupanya Mentari ingin bermain-main dengan wanita itu.
Kedua security itu kaget dan saling pandang tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau berani-beraninya berkata begitu. Kalau tidak ada yang berani biar saya saja yang menyeretmu keluar dari tempat ini. Dasar perempuan sampah." Dengan kekuatan ekstra Katrina langsung menangkap kedua tangan Mentari dan menyeret wanita itu keluar. Mentari yang tidak siap jadi lengah. Namun, dia tetap mempertahankan posisinya di dalam ruangan Gala.
"Lepas Kate! Kau tidak tahu berurusan dengan siapa sekarang."
"Cih perempuan sampah tempatnya di luar sana, najis kalau menyentuh lantai-lantai mewah di sini."
Mentari tampak melawan, tetapi tetap tidak bisa melepaskan diri dari tangan Katrina.
"Jangan Bu! Jangan!" Beberapa karyawan dan security langsung bertindak dan segera memisahkan keduanya. Namun Katrina kembali lagi dan hendak menyeret Mentari lagi.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Gala datang dari luar dan berlari memasuki ruangannya.
"Kenapa kalian diam saja?" Gala protes pada semua orang.
"Bukan diam Pak tapi Bu Katrina saja yang seperti kerasukan setan, tenaganya kuat sekali," jelas seorang security tidak mau disalahkan.
"Eh Pak Gala, syukur Pak Gala sudah kembali. Nih orang ngotot ingin masuk ruangan Pak Gala dan berpura-pura membawa makanan. Padahal saya tahu dia hanya ingin mencuri sesuatu dari dalam sana," lapor Katrina pada Gala.
"Apa yang kau bicarakan dan kenapa kau menyeretnya?"
"Jangan bilang Bapak masih prihatin sama dia. Dia bukan lagi istri dari Bintang berarti dia bukan sepupu Bapak lagi. Jadi sudah sepantasnya kan saya mengusir orang yang tidak berkepentingan yang nyelonong saja tanpa aturan. Jangan bilang Bapak masih menginginkan dia, dia sudah jadi istri orang Pak."
"Omong kosong apa yang kau beberkan dari tadi?"
__ADS_1
Berharap dapat pujian malah mendapat tatapan tajam dari Gala.
"Ca sekarang saya ingin tahu apa yang kamu inginkan dari dia?"
"Ca?" Katrina menoleh ke sana kemari mencari orang yang dipanggil Ca oleh Gala. Mungkin saja kekasih baru Gala pikir Katrina. Namun, dia hanya menemukan Kiki di belakang Gala.
"Baiklah karena Pak Gala sudah menyerahkan semua keputusan padaku, maka terpaksa saya mengambil keputusan." Mentari maju ke depan Katrina.
Katrina tampak kaget melihat Mentari yang berbicara.
"Aku Cahaya Roseline Pradiatama menginginkan dia di pecat dari perusahaan ini!" sentak Mentari sambil menuding wajah Katrina.
Sontak saja Katrina terbelalak mendengar pengakuan dari Mentari yang mengatakan dirinya adalah Cahaya. Katrina bukannya tidak tahu dengan nama itu. Nama itu adalah nama yang sering disebutkan oleh Tama ketika dirinya sedang stres dan hal itulah yang membuat Gala sering meninggalkan tugas kantor dan menyerahkan pada dirinya dan Bintang. Apalagi di ujung namanya yang disebutkan Mentari adalah nama perusahaan yang menaungi dirinya kini.
"Tidak itu tidak mungkin, kau hanya menghalu, bukan?" Katrina tampak menggelengkan kepala.
"Tidak dia tidak berhayal, kamu saja yang menghalu ingin tetep bekerja di sini dengan akhlak yang tidak benar itu. Ingat Kate sampah yang kau maksud tadi adalah berlian yang hilang di tempat sampah dan kamu adalah sampah yang sebenarnya. Kau tahu dia adalah adikku yang hilang belasan tahun yang silam. Pergilah sekarang kau kupecat!" Perkataan dengan nada suara yang halus. Namun, isi kalimatnya cukup menyayat hati Katrina.
"Pak Gala tidak bisa begini Pak, saya yang dari awal membantu perusahaan ini cepat berkembang." Terpaksa mengungkit jasa-jasanya dan berharap ada toleransi dari Gala supaya tidak jadi memecat dirinya.
Gala mengembuskan napas berat.
"Ki!" perintahnya pada sang asisten.
"Iya Pak."
"Kau tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Ini Pak."
"Berikan padanya dan suruh dia pergi sebelum aku marah!"
Kiki pun mengangguk dan menaruh uang itu di lantai di hadapan Katrina.
"Ini uang jasamu dan pergilah!"
"Tidak aku tidak mau berhenti dari perusahaan ...."
"Pergilah atau pak Satpam yang akan menyeretmu!" bentak Gala.
"Pak .... " Kiki memberi aba-aba untuk menyeret Katrina keluar dari perusahaan. Namun, sebelum tangan security menyentuh tubuhnya Katrina langsung berdiri.
"Tidak perlu kalian seret, aku bisa pergi sendiri," ucap Katrina dengan posisi wajah yang menunduk sambil mengambil uang di lantai lalu berbalik dan berlari keluar.
"Ingat jangan sampai ada yang melalkukan kekerasan di perusahaan ini apalagi kepada keluarga saya sendiri. Kalau ketahuan kalian akan bernasib sama seperti dia!" Gala mengingatkan semua karyawannya yang berdiri di tempat itu.
"Iya Pak," jawab mereka serempak sambil mengangguk.
"Baiklah Semuanya bisa bubar!" perintah Gala. Semua orang mengangguk dan langsung kembali ke tempat masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa.
__ADS_1
"Kau dipecat!"
"Kau dipecat!"
Kata-kata Gala dan Mentari itu terngiang-ngiang di telinga, mengiringi setiap langkah Katrina keluar dari perusahaan. Sebelum langkahnya keluar dari pagar perusahaan Katrina menatap gedung tempatnya bekerja sedari dulu seolah mengucapkan salam perpisahan.
"Tenanglah Kate. Perusahaan besar bukan perusahaan ini saja. Masih banyak perusahaan yang bisa menampung dirimu. Ingatlah kemampuanmu yang luar biasa. Tidak akan ada yang menolak dirimu jika kau sudah melamar pekerjaan di perusahaan mereka." Suara hati Katrina meyakinkan dirinya agar tidak putus asa.
"Benar, jika aku bisa diterima di perusahaan lain, aku bersumpah akan menghancurkan perusahaan Gala," gumam Katrina sambil mengepalkan tangannya lalu keluar dari area perusahaan.
"Ki kau harus mengantisipasi agar tidak ada perusahaan lain yang menerima dirinya. Buat catatan buruk tentang wanita itu sehingga tidak akan ada yang sudi menerima dia menjadi salah satu karyawan di perusahaan."
"Baik Pak." Kiki langsung bergegas untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Gala.
"Kau tidak apa-apa kan Ca?" tanya Gala khawatir melihat sang adik meniup-niup lengannya. Gala meraih lengan Mentari untuk memeriksanya.
"Tidak apa-apa Mas ini hanya luka kecil biasa sebentar lagi juga bakal sembuh." Memang luka Mentari hanya berupa goresan saja.
"Jangan menyepelekan sesuatu, sini saya obati!" Gala beranjak ke tempat penyimpanan kotak obat dan hendak membantu Mentari mengoleskan obat mereh.
"Sini aku bisa sendiri." Mentari merampas kotak obat di tangan Gala.
"Mas Gala makan saja, Mentari sudah membuatkan makanan kesukaan Mas Gala. Habis dari sini Mentari juga akan pulang ke rumah papa mau mengantarkan makanan juga."
"Cahaya bukan Mentari," protes Gala.
"Sama saja, dua-duanya adalah namaku," bantah Mentari.
"Terserahlah, ucap Gala pasrah. "Tapi perlu diingat nama Cahaya itu pemberian Mama," imbuh Gala.
Mentari hanya mengangguk lalu mengobati lukanya sendiri sedangkan Gala langsung meraih rantang yang ada di hadapannya lalu membukanya.
Setelah melihat apa yang dimasak Mentari Gala langsung memakannya. Mentari melirik dengan ekor matanya Gala yang makan dengan lahap.
"Mas Gala tadi memang belum makan?"
"Nggak, ketemu klien tadi hanya pesan minuman dan makanan ringan."
"Oh pantes rakus," ucap Mentari.
"Iya memang sebab masakanmu mengingatkan aku akan mama. Bukan hanya jenis makanannya tapi juga rasanya," ujar Gala.
"Mas Gala masih enak bisa merasakan kasih sayang mama, nah aku ...."
"Hus, sudahlah jangan mengingat itu nanti mama sedih di alam sana," potong Gala akan perkataan Mentari.
"Iya Mas, ya sudah ya Mentari mau kembali ke mobil kasihan Sarah menunggu dari tadi di luar." Mentari menutup kotak obat dan bangkit berdiri.
"Oh itu yang di luar mobil Sarah?"
__ADS_1
"Iya Mas sudah ya aku pamit," ucap Mentari sambil melenggang pergi. Gala hanya mengangguk dan meneruskan makannya.
Bersambung.