HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW PART 79. Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Sampai sore hari barulah Mentari terbangun dari tidurnya sedangkan Bintang sudah terlihat fresh sehabis mandi dan duduk santai di sofa.


"Me!" panggil Bintang saat melihat Mentari keluar dari kamar. Wanita itu tidak menjawab bahkan pura-pura tidak mendengar panggilan Bintang. Dia masih sangat kesal dengan Bintang.


"Me!" panggil Bintang lagi, tetapi tetap saja wanita itu tidak menjawab bahwa Mentari berjalan keluar dari unit apartemen.


Bintang mengikuti langkah Mentari keluar, takut-takut istrinya itu kabur kembali. Namun, ketika melihat Mentari menuju unit apartemen Sarah, Bintang memutuskan untuk mengawasi dari jarak jauh saja. Bintang yakin Mentari masih marah padanya sehingga dia tidak ingin menambah kemarahan Mentari kalau tahu dirinya diikuti.


Beberapa saat terlihat Sarah membuka pintu. "Eh Kak Meme apa kabar?" Sarah begitu sumringah bisa bertemu Mentari lagi.


"Baik Sarah," ucap Mentari berbohong tak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan keadaan dirinya.


Sarah mengernyit melihat wajah Mentari yang ada plesternya. "Baik? Tapi kenapa muka Kak Mentari benjol begitu?" tanya Sarah khawatir sambil meraba dahi Mentari.


"Tidak apa-apa Sarah hanya kejedot pintu tadi," bohong Mentari.


"Kok bisa?" tanya Sarah lagi, dia tidak yakin dengan jawaban Mentari.


"Iya aku pusing tadi jadi ya tidak sadar kejedot pintu begitu keras hingga benjol seperti ini," jelas Mentari.


"Oh begitu ya Kak? Kak Meme tinggal di sini lagi sekarang?"


Mentari hanya mengangguk.


"Sudah akur sama Bintang?"


"Kami tidak bertengkar kok Sarah," kilah Mentari.


Sarah hanya mengangguk beberapa hari lalu dia memang menjelaskan pada Sarah dirinya pergi dari apartemen bukan karena berselisih dengan Bintang melainkan dengan Katrina yang bisa saja berbuat nekad.


"Oh ya Sarah, bisa tolong aku?"


"Apa itu Kak? Masuk dulu yuk!" Sarah menarik Mentari ke dalam dan membawa wanita itu duduk di kursi. Namun, wanita itu lupa menutup pintu yang kini masih terbuka lebar.


"Tolong belikan aku pakaian ya Sarah, aku tidak ada baju ganti lagi di sini. Mau ambil baju-bajuku lagi di rumah papa, aku lagi malas. Aku juga lagi malas keluar apartemen."


"Kak Mentari bisa pakai baju Sarah, kayaknya ukuran tubuh kita mirip deh."


"Tidak Sarah terima kasih, belikan saja ya, ini uangnya." Mentari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Oke, beli berapa setel?" tanya Sarah sambil meraih uang yang disodorkan oleh Mentari.

__ADS_1


"Sedapatnya lah Sarah. Uang itu bisa beli berapa pakaian?"


"Tergantung sih Kak kalau dibelikan yang mahal paling cuma dapat satu atau bahkan uangnya masih kurang. Kalau yang kualitasnya rendah mungkin dapat banyak." Sarah terkekeh.


"Yang sedang saja lah Sarah jangan yang mahal, juga jangan yang jelek-jelek amat," sahut Mentari.


"Oke Kak, eh tapi baju yang kakak pakai ini beli dimana? Kok motifnya bagus banget?"


"Baju ini ... baju ini dikasih ...."


"Eh ada tamu rupanya," ujar ustadz Alzam sambil membawa dua gelas jus alpokat ke meja. Pesanan adik manjanya yang lagi malas bergerak dan yang satunya untuk dirinya sendiri.


"Assalamualaikum ustadz," sapa Mentari.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi," sahut ustadz Alzam. Pria itu tersenyum ketika melihat pakaian yang pernah diberikannya dipakai oleh Mentari meski kerudung yang menjadi setelannya masih belum dipakai. Ustadz Alzam berdoa dalam hati agar suatu hari nanti Mentari tergerak hatinya untuk menutup kepalanya dengan kerudung meski bukan pemberian darinya.


"Terima kasih ustadz, bajunya bagus dan sangat aku butuhkan saat ini."


Ustadz Alzam hanya mengangguk dan tersenyum kemudian menunduk.


"Waw pemberian Kak Alzam?" Sarah bertanya pada diri sendiri.


"Aku aja nggak pernah dibelikan," protesnya.


"Itu Sarah yang membeli, Kak Alzam hanya membayar," kilah Sarah.


"Astagfirullah al adzim Sarah, itu bedanya dimana ya?" tanya ustadz Alzam tak habis pikir dengan pemikiran adiknya.


"Beda lah Kak, kan Sarah pilih sendiri sedangkan Kak Mentari kan Kak Alzam yang memilihkan," jelas Sarah.


"Masalahnya kamu selalu tidak cocok dengan pilihan kakak. Daripada nanti jadi keset kan mending pilih sendiri."


"Hmm, alasan!"


"Ah Terserahlah kamu mau bilang apa," ucap ustadz Alzam pasrah.


"Oh ya Mentari diminum dulu jusnya atau kalau tidak suka dengan jus alpukat saya bisa buatkan yang lainnya."


"Tidak perlu ustadz saya suka kok.Terima kasih ya," ucap Mentari dengan senyum.


Setelah mengangguk ustadz Alzam kembali ke dapur, entah apa yang akan dilakukan Pria itu. Mungkin saja akan membuat minumannya sendiri karena yang tadi sudah untuk tamu adiknya.

__ADS_1


Dari arah yang tidak begitu jauh Bintang memasang matanya tajam-tajam. Dalam hati bertanya siapa lagi pria itu yang bahkan bisa membuat Mentari tersenyum dalam keadaan seperti ini.


"Hai Bin lihat apa?" Katrina menepuk bahu Bintang yang menatap tak berkedip ke arah unit apartemen Sarah.


"Oh dia sudah kembali?" tanya Katrina melihat Mentari tampak berbincang-bincang dengan Sarah dan di sisi mereka tampak seorang pria berjalan menjauh dari keduanya.


"Kau tahu siapa dia Kate?" tanya Bintang penasaran.


"Yang mana, perempuan itu?" tanya Katrina menunjuk Sarah.


"Mungkin temannya," ucap Katrina tidak perduli.


"Bukan, yang pria maksudku."


Katrina memandang ustadz Alzam yang sudah terlihat semakin menjauh lalu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu."


"Ya sudahlah kita kembali ke apartemen kita," ucap Katrina lagi sambil menarik tangan Bintang.


"Jelaskan Bin kenapa kamu harus keluar dari perusahaan," pinta Katrina setelah mereka sudah masuk ke dalam unit apartemennya sendiri.


"Aku lagi malas untuk menjelaskan Kate," ucap Bintang.


"Ayolah Bin aku kan perlu tahu. Suami istri itu tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Kau tahu? Karena kamu mengundurkan diri aku semakin sibuk di kantor dan disuruh ini itu oleh Pak Gala," ujar Katrina lagi mengeluarkan keluh kesahnya.


"Kan sudah kubilang berhenti saja."


"Terus kalau semua berhenti, darimana kita akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita," protes Katrina.


"Nanti aku akan cari kerja di tempat lain," ucap Bintang.


"Hmm, iya kalau cepat dapat Bin, kalau tidak? Sudahlah aku ingin kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dengan Pak Gala."


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya tapi kamu harus menepati janji kamu dulu untuk berbaikan dengan Mentari," ujar Bintang.


"Gampang mah itu Bin asal dianya mau aku ajak berbaikan," sahut Katrina.


Bintang pun menceritakan kejadian yang terjadi pagi tadi di rumah Gala dan Katrina menyimak dengan seksama.


"Begitulah ceritanya dan dia sekarang masih marah dan tidak mau berbicara denganku lagi." Bintang mengakhiri ceritanya lalu menghembuskan nafas panjang.


"Bagus aku harap Mentari bersikap begini terus pada Bintang agar Bintang lelah dan akhirnya melepaskan perempuan kampungan itu dan siapa pria tadi, haruskah aku mencari tahu tentangnya?" batin Katrina.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2