HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 123. Perbincangan Ustadz Alzam dan Mentari


__ADS_3

"Bagaimana Mentari, diterima tidak?" tanya ustadz Alzam melihat Mentari tidak menjawab pertanyaannya.


"Gimana ya ustadz?" Mentari terlihat ragu untuk mengambil keputusan.


Di satu sisi dia ingin menerima ustadz Alzam karena tidak ingin lagi mengingat Bintang dan jujur diapun menyukai ustadz Alzam bahkan sejak dulu. Namun, di sisi lain dia tidak mau gosip yang beredar di luaran akan semakin menjadi dan orang-orang malah akan memberikan kesimpulan bahwa dirinya dan ustad Alzam memang ada main di belakang Bintang.


"Ayo Kak dijawab! Saya harap Kak Mentari bisa membalas perasaan Kak Alzam. Asal Kak Mentari tahu saja, Kak Alzam sudah lama mencintai Kak Mentari, tetapi dia sadar Kak Mentari sudah menjadi milik orang lain," mohon Sarah.


"Ustadz!"


"Iya?"


"Boleh aku minta waktu?"


"Silahkan, saya tidak mendesak kamu menjawab sekarang juga kok."


"Iya ustadz sebab saya perlu berunding dengan ibu dulu," ujar Mentari.


"Lakukanlah dan jangan lupa shalat istikharah agar Tuhan yang menentukan bahwa saya ini jodohmu atau bukan."


"Iya ustadz insyaallah."


Ustadz Alzam mengangguk dan setelah ini mereka sama-sama terdiam seolah tiba-tiba saja menjadi canggung satu sama lain.


"Kalian kok jadi kaku sih," protes Sarah. Ya sudah deh saya ke sana dulu," tunjuk Sarah ke meja yang dikerumuni oleh para karyawan kakaknya.


"Sarah jangan pergi," mohon Mentari dengan tatapan memelas.


Namun, Sarah tidak mengindahkan permintaan Mentari.


"Aku lapar," ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Mentari pasrah.


Setelah Sarah pergi keduanya tidak ada yang bicara lagi hingga ustadz Alzam merasa bosan berdiam diri saja.


"Kenapa tidak bicara?" tanya ustadz Alzam pada Mentari.


"Tidak tahu harus bicara apa," sahut Mentari.


"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan saja," ucap ustadz Alzam.


"Memang boleh?"


"Sejak kapan orang bertanya tidak boleh?" Ustadz Alzam mengulum senyum.


"Seumpama saya menolak Ustadz, Ustadz tersinggung tidak?" tanya Mentari hati-hati.


"Kenapa harus tersinggung? Setiap manusia punya pilihan masing-masing. Jika saya bukan pilihanmu, saya bisa apa? Palingan hanya kecewa," ucap ustadz Alzam masih tidak lepas dari senyumnya.


"Kalau boleh saya yang bertanya Kenapa tidak mau? Apa saya bukan kriteriamu?" tanya ustadz Alzam menggoda Mentari.


"Sebenarnya ... sebenarnya ... saya tidak siap menjadi istri seorang ustadz," jawab Mentari.


"Kenapa?" tanya ustadz Alzam heran.


"Saya takut dipoligami. Saya jera," ujar Mentari tersenyum miris. Mengingat banyak ustadz yang senang mengikuti sunnah nabi yang satu itu walaupun ada beberapa juga yang tidak. Dia tidak mau kehidupannya dengan Bintang berulang kembali meskipun Bintang bukanlah seorang ustadz.


Ustadz Alzam tersenyum sambil menggeleng. "Kenapa berpikiran seperti itu?"


"Ya karena kebanyakan dari mereka kan melakukan itu dengan alasan mau mengikuti sunnah Rasul," keluh Mentari.


"Mau mengikuti sunnah Rasul tidak harus dengan cara berpoligami. Banyak Sunnah-sunnah yang lain yang bisa dilakukan. Untukku sendiri yang masih belum sempurna melaksanakan amalan-amalan lain insyaallah tidak akan memilih jalan itu. Kalau yang sunnah yang lain saja kadang masih bolong, mengapa harus berpikiran untuk melakukan sunnah yang satu itu yang cenderung menyakiti hati wanita sebab pada prakteknya banyak yang tidak sesuai dengan ajaran nabi. Saya sadar, saya tidak akan bisa sesempurnanya nabi yang bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Begitupun dengan seorang istri, banyak jalan surga yang bisa dicapai selain harus di poligami. Siti Khodijah meraih surga tanpa dipoligami dan nabi Muhammad pernah melakukan monogami bersama Siti Khadijah selama 25 tahun. Itu artinya apa? Bukan hanya poligami yang di sunnahkan, tetapi monogami juga," jelas ustadz Alzam panjang lebar.

__ADS_1


"Tetapi saya tak sesempurna seperti Siti Khotijah."


"Saya pun tidak sesempurna Nabi kita."


Mentari hanya terdiam. Lebih tepatnya kagum dalam diam dengan pemikiran ustadz Alzam yang berbeda dengan yang lainnya.


"Kenapa diam? Perlu kamu tahu saya bukanlah seorang ustadz, pemahamanku masih minim untuk mendapat gelar seorang ustadz. Saya hanya manusia biasa yang senang membagikan ilmu yang pernah saya dapat."


"Sama saja," sanggah Mentari.


"Kamu tahu nabi kita Muhammad SAW tidak pernah melakukan poligami terhadap Siti Khotijah, istri pertamanya. Jadi kalau mau mengikuti Sunnah Rasul yang jangan setengah-setengah," ulang ustadz Alzam lagi.


"Jadi maksud ustadz, kalau mau poligami harus sama istri kedua nanti?" Mentari terlihat cemberut.


"Bukan begitu maksudku, saya hanya ingin meyakinkan dirimu agar mau menerima lamaranku," ucap ustadz Alzam lalu tersenyum manis.


"Modus dia," sambung Sarah yang kemudian kembali lagi ke samping keduanya.


"Ah Sarah, dukung kakak dong!"


Suasana mulai mencair karena keduanya sudah tidak canggung berbicara satu sama lain.


"Kau tahu? Saya bisa menerapkan sunnah Nabi yang satu lagi kalau berhasil menikah denganmu," goda ustad Alzam.


"Apa itu Kak?" tanya Sarah penasaran.


"Menikahi janda," jawab ustadz Alzam dengan ekspresi yang tenang membuat Mentari memalingkan wajahnya malu.


Sarah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Ada-ada saja nih kakakku."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2