HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 256. Ancaman Bintang


__ADS_3

"Aku tidak ingin menikah!" putus Bintang dan segera pergi dari rumah Gala.


"Bintang! Bintang!" panggil Arumi, tetapi Bintang tidak mengindahkan mamanya yang berteriak memanggil nama Bintang.


"Kenapa semua orang egois, kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku? Arrgh!" Wanita itu tersenyum puas memukul setir dengan keras sebelum menghidupkan mesin dan meninggalkan kediaman Gala sekeluarga.


"Mentari juga, apakah kesalahan yang aku lakukan masih membekas di hatinya hingga aku merasa dia seolah masih membenci diri ini? Arggh!" Bintang memukul setir lagi hingga tidak sengaja mobilnya berbelok dan hampir menabrak mobil orang lain.


Tut tut tutut!


"Hei kalau tidak bisa berkendara jangan berkendara!" teriak orang di mobil lain.


"Astaghfirullah haladzim, maaf." Bintang langsung memutar kemudi dan menyetir pelan. Dia tidak ingin keadaannya yang tidak baik-baik saja juga membawa orang lain tidak dalam keadaan baik.


"Kamu tenang Nak Diandra, nanti saya bicara dari hati ke hati dengan Bintang. Mungkin karena saya membicarakan ini semua di hadapan orang banyak maka Bintang tidak suka," ujar Arumi agar Diandra tidak tersinggung.


"Iya Tante," sahut Diandra singkat.


"Sebentar aku mau ke papa dulu," pamit Arumi.


"Kau mau saja dijodohkan dengan Bintang?" tanya Gala saat Arumi sudah pergi. Dia sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan Diandra, tetapi karena ini menyangkut Bintang mau tidak mau Gala harus ikut campur.


Diandra tidak menjawab, wanita itu malah menunduk.


"Ingat satu hal, kalau pria melakukan sesuatu secara terpaksa maka akan ada 2 kemungkinan. Yang pertama dia akan menerima keadaan itu tapi dalam jangka waktu yang lama atau kedua dia tidak akan bisa menerima sesuatu itu untuk selamanya. Kalau kamu bisa bertahan tidak masalah termasuk harus menerima kemungkinan buruk akan dikecewakan untuk selamanya."


"Mas Gala ngomong apa sih? Mas Gala secara tidak langsung menakut-nakuti Diandra tahu!" protes Mentari.


"Saya tidak menakut-nakuti Ca, hanya saja menasehati dia supaya tidak berharap banyak. Dulu bibi Arumi juga begitu setuju dengan Katrina dan pada saat itu Bintang juga mencintai wanita itu, tapi apa yang terjadi? Bintang melepaskan Katrina juga. Bagaimana jika dalam perjodohan tidak ada cinta sedangkan yang ada cinta saja begitu?" Sebenarnya Gala berkata seperti itu agar Diandra sadar seperti apa posisinya sekarang.


Gala memang menginginkan Bintang cepat menikah, tetapi tidak dengan wanita seperti Diandra sebab Gala tahu seperti apa Diandra itu yang sebenarnya. Wanita yang suka menebar pesona dan melakukan apapun agar tujuannya tercapai.


"Tidak semua seperti itu Mas, buktinya Sarah dan Mas Gala bahagia meskipun dijodohkan," bantah Mentari.


"Kami memang dijodohkan, tapi sebelumnya kami memang saling mencintai walaupun tidak sekalipun, tapi saya yakin Sarah adalah gadis yang baik-baik."


Ucapan Gala membuat Diandra tersinggung.


"Rupanya Pak Gala tidak percaya akan perubahan seseorang termasuk perubahan dari Pak Bintang sendiri. Maaf, sepertinya saya harus pergi sekarang sebab bisa saja tenaga saya dibutuhkan oleh Pak Bintang di kantor. Permisi! Diandra langsung bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun, tangannya di cekal oleh Kiki.

__ADS_1


"Ada apa Pak Kiki?" tanya Diandra dengan tenang.


"Apa kau serius menyetujui pernikahan ini meskipun sudah jelas-jelas Bintang tidak menginginkanmu?"


"Tidak ada salahnya kan dicoba Pak Kiki? Apalagi sudah dapat lampu hijau dari calon mertua. Apakah itu bukanlah hal yang baik?"


"Terserah kamu deh!" ucap Kiki lalu melepaskan pegangan tangannya di lengan Diandra dan Sarah yang melihatnya hanya menggeleng.


Diandra menghampiri Arumi dan pamit kepada wanita itu.


"Kenapa aku jadi takut ya Mas," ucap Sarah kemudian.


"Takut kenapa?"


"Takut dia mendekati Bintang hanya ingin membalas dendam pada kita," ucap Sarah pelan.


"Dendam apaan? Orang kita nggak pernah mengusik dia, tapi dia yang mengusik hubungan kita." Gala bersikap tenang.


"Nah itu dia Mas. Aku takut dia tetap ngotot akan masuk ke kehidupan Bintang meskipun tahu Bintang tidak mencintainya hanya untuk mengusik rumah tangga kita karena Mas Gala waktu itu memecat dia."


"Kau terlalu parno, katanya tadi ogah cemburu pada Diandra. Sudahlah Sarah seberat apapun cobaan yang akan mengguncang rumah tangga kita, selagi pondasi kita masih kokoh tidak akan pernah membuat hubungan kita goyah. Kau tahu kan fondasi apa itu? Cinta, kesetiaan dan kepercayaan," ujar Gala mantap.


"Memangnya ada apa sih dengan Diandra dan kalian?" tanya Mentari bingung mendengar pembicaraan Sarah dengan Gala.


"Jelaskan Ki!" perintah Gala.


"Saya?" tanya Kiki tidak percaya.


"Iya siapa lagi yang namanya Kiki disini?!"


"Hmm, baiklah. Diandra itu pernah memfitnah dan membuat Bu Sarah benci pada Pak Gala," jelas kiki singkat dan padat.


"Jadi?" Mentari kaget.


"Iya Ca, dia itu bukan perempuan baik-baik. Jadi saya khawatir dengan Bintang jika harus membiarkan bibi Arumi menjodohkan mereka."


"Berarti Mas Gala beritahu mama Arumi saja."


"Ya, tapi nanti sajalah."

__ADS_1


***


Diandra sampai di kantor dan duduk di kursi kerjanya. Baru saja duduk langsung mendapat telepon dari Arumi.


Bintang menghampiri wanita itu dan berdiri di depannya.


"Ada yang harus saya kerjakan Pak?" tanya Diandra dan langsung mengakhiri panggilannya.


"Kau boleh jalan-jalan, belanja-belanja sama mama, tapi aku minta tolak permintaan untuk menjodohkan kita karena aku hanya mencintai Mentari." Bintang malas berdebat dengan Arumi jadi jalan satu-satu Arumi harus mendapatkan penolakan dari Diandra sendiri.


"Kalau kamu menuruti permintaan mama dan memaksa aku menikahimu maka kau tidak akan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi aku jamin rumah tangga kita akan menjadi neraka duniamu," ancam Bintang membuat Diandra langsung menelan ludah.


Ponsel di tangan Diandra bergetar lagi membuat keduanya langsung menatap layar ponsel tersebut.


"Mama!"


"Tante Arumi!"


"Lakukanlah apa yang sekiranya bisa membuat hidupmu selamat dan tenang!" perintah Bintang penuh penekanan.


"Halo Tante, maaf besok pagi saya tidak bisa pergi bersama Tante."


"Memangnya kenapa? Bukankah besok kamu libur kerja?" Terdengar suara Arumi dari balik telepon.


"Saya lupa Tante bahwa besok tunangan saya yang dari London akan datang. Dia memintaku untuk menemaninya berkeliling kota ini."


"Tunangan? Kau sudah bertunangan? Kamu tidak berbohong, kan?"


"Tidak Tante, awalnya saya tidak ingin memberitahu Tante bahwa saya sudah punya tunangan, tetapi mengingat tadi Tante mengatakan ingin menjodohkan saya dengan Pak Bintang jadi Tante harus tahu walaupun mungkin saja Tante hanya bercanda saja."


"Yasudahlah, kalau begitu anggap yang saya utarakan tadi di rumah Gala memang hanya candaan semata." Arumi langsung menutup panggilan teleponnya.


Mendengar kalimat terakhir dari Arumi, akhirnya Bintang bisa menghembuskan nafas lega."


"Sudah Pak," lapor Diandra.


"Bagus, kalau begitu silahkan bekerja seperti biasa."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2