HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 75. Masih Merahasiakan


__ADS_3

"Pak Gala maaf saya datang telat sekarang, ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Pak Gala tenang saja tugas dari pak Gala tempo hari itu sudah selesai, nanti saya kirim online," ujar Bintang dan langsung menutup panggilan telepon Gala.


Bintang kembali mendekat ke arah papanya, tetapi tentu saja menjaga jarak dan sedikit bersembunyi agar tidak terlihat oleh Tuan Winata.


Dari balik kaca Bintang melihat Tuan Winata asyik bermain dengan temannya yang bernama Bram itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Mentari di sana.


"Pak sopir selain mengantarkan papa ke kantor, sehari-hari mengantarkan papa kemana saja?" Bintang mencoba memancing sopir pribadi papanya. Dia yakin dari semua penghuni rumah pak sopir ini yang paling tahu karena kemana-mana bersama papanya.


"Kemana ya Den? Paling nganterin mama Aden belanja. Terus juga ke rumah sakit untuk check up kesehatan meskipun tidak tiap hari sih. Kadang ke panti asuhan untuk memberikan donasi. Kemana lagi ya Den?" Pak sopir tampak berbelit-belit di mata Bintang.


"Apa pak sopir tidak pernah papa ajak untuk menemui Mentari?" Tak tahan lagi akhirnya bertanya meski tahu pak sopir tidak akan memberikan informasi berhubung sopir itu terlalu setia pada papanya. Siapa tahu hari ini pak sopir lagi khilaf dan mau diajak kerjasama.


"Sejauh ini tidak pernah Den."


Bintang menampakkan raut tidak percaya dan pak sopir mengerti itu.


"Papa Aden sekarang kadang membawa mobil sendiri. Mungkin beliau tidak ingin saya juga tahu Nona Mentari ada dimana." Terpaksa berbohong karena sudah diancam oleh tuannya.


"Baiklah Pak kalau begitu." Bintang terlihat kecewa. Sebenarnya pak sopir kasihan melihat anak majikannya itu, tapi mengingat cerita Tuan Winata yang mengatakan bahwa Bintang lebih memilih Katrina dibandingkan Mentari dan juga berani melawan papanya karena wanita itu, pak sopir mencoba untuk bisa tega.


Bintang masih menunggu Tuan Winata sampai selesai bermain. Dia merasa bosan di luar. Ingin pergi, tetapi masih penasaran dengan keberadaan Mentari, ingin menunggu, tetapi dia malas berlama-lama berada di tempat itu. Tidak ada yang menarik di sana sedangkan posisinya yang menghindar dari sang papa agar tidak terlihat juga membuatnya tidak nyaman.


Tiba-tiba Tuan Winata menghentikan permainannya di tengah jalan.


"Loh kenapa berhenti?" tanya Bram ketika pada giliran Tuan Winata pria itu malah meletakkan tongkat bilyard-nya.


"Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku lakukan," ucap Tuan Winata dengan terburu-buru.


"Sudah fresh? Sudah mau kerja lagi? Semangat Winata kamu pasti bisa," ucap Bram menyemangati.


"Terima kasih Bram aku pergi dulu. Terima kasih juga atas waktumu yang telah aku ganggu."


"Iya Winata, santai saja lagi."


Tuan Winata mengangguk dan berlalu keluar dari ruangan. Bintang yang melihat papanya keluar kembali bersembunyi agar tidak terlihat.


Setelah Tuan Winata masuk ke dalam mobil Bintang mengikuti mobil itu lagi.

__ADS_1


"Sekarang kemana Tuan?" tanya pak sopir di sela-sela menyetirnya. Kini dia berani bertanya karena wajah tuannya sudah tidak terlihat aura kemarahan lagi. Sopir itu melirik ke arah spion, terlihat Bintang masih mengikutinya. Pak sopir menggeleng ternyata Bintang masih terus memata-matai papanya agar bisa mengetahui Mentari ada dimana sekarang. Kalau Tuan Winata mengatakan akan ke rumah Gala terpaksa dia akan mencegah dan memberitahukan tentang Bintang yang mengikutinya.


"Ke toko roti seperti biasa. Ke toko milik Sarah."


"Siap Tuan."


Pak sopir pun tancap gas mengarahkan mobilnya ke jalan menuju toko Sarah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan meski Bintang pun terus mengikuti mobilnya karena Mentari tidak ada di sana.


Beberapa saat kemudian Tuan Winata turun dari mobil dan berjalan ke arah toko Sarah.


"Ngapain papa ke sini? Apa Mentari ada di sini? Ah tidak, Ini kan toko yang sempat aku datangi Beberapa hari yang lalu dan Mentari tidak ada di sana. Para pegawainya pun mengatakan tidak mengenal Mentari. Mungkin papa mau beli kue, di sini kuenya kan memang enak," batin Bintang mengingat beberapa waktu yang lalu dia memesan kue ulang tahun Katrina di tempat ini juga."


"Nona Mentari tidak ada di sini Den, lebih baik Den Bintang berangkat kerja saja karena sepertinya hari ini Tuan Winata tidak akan menemui Nona Mentari." Perkataan pak sopir terdengar mengejek di telinga Bintang. Namun, pria itu harus bersabar dan memastikan dulu Mentari ada atau tidak di tempat ini.


Tuan Winata tampak berbincang-bincang dengan Sarah. Dia meminta Sarah untuk mengizinkan Mentari tidak bekerja beberapa hari ini atau kalau jadi, mungkin Mentari juga akan berhenti bekerja. Namun, Tuan Winata meminta kapanpun Mentari akan bekerja lagi supaya Sarah menerimanya kembali. Sarah tidak keberatan. Apapun kebaikan untuk Mentari dia pasti akan mendukungnya. Apalagi alasan yang Tuan Winata sampaikan sangat menggugah hatinya.


"Iya Tuan tidak apa-apa. Saya bisa mencari karyawan lagi kok untuk toko ini. Jadi saya sama sekali tidak pernah menekan Mentari untuk bekerja di sini," Jelas Sarah.


"Iya saya mengerti cuma Mentari sepertinya tidak enak pada Anda," terang Tuan Winata.


"Katakan padanya tidak apa-apa," ucap Sarah kemudian.


"Iya Tuan, silahkan."


Sayangnya pembicaraan mereka yang panjang lebar tidak didengar oleh Bintang yang jaraknya jauh. Dia tidak berani mendekat karena takut terlihat oleh papanya. Kalau sampai itu terjadi bisa saja papanya itu akan semakin menyembunyikan Mentari dari Bintang.


Tuan Winata pun sudah sampai di Samping mobil. "Sekarang ke kantor!" perintahnya pada sang sopir.


Mendengar papanya menyuruh sopir untuk membawanya ke kantor, Bintang tidak mengikuti lagi. Dia memilih mendekati Sarah untuk bertanya.


"Ini kan mobil Bintang ya Pak?" Tuan Winata baru tahu Bintang ada di tempat itu juga.


"Iya Tuan memang dari tadi Den Bintang mengikuti Tuan sejak dari tempat bilyard," beber sopir pribadinya.


"Cck, kenapa kamu baru bilang sekarang sih?" protes Tuan Winata.


"Selagi aman tidak apa-apa Tuan. Di sini kan tidak ada Nona Mentari."

__ADS_1


"Ceroboh, bagaimana kalau dia mendapatkan informasi dari Sarah?" Tuan Winata langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor Sarah. Untung tadi dia sempat meminta nomor telepon Sarah di sela-sela pembicaraan mereka.


"Ya Tuan ada apa?"


"Sarah jangan kamu berikan informasi mengenai Mentari pada pria yang berjalan menuju tokomu itu!" pinta Tuan Winata.


"Siap Tuan."


"Terima kasih."


Setelah mengatakan itu Tuan Winata langsung menutup teleponnya. "Sekarang jalan Pak!"


"Baik Tuan," jawab sang sopir.


Sedangkan Sarah setelah panggilan telepon berakhir mengintip siapakah yang berjalan ke arahnya. Dia menganga ternyata itu adalah Bintang.


Sarah hendak masuk ke dalam, tetapi sudah terlambat.


"Sarah dimana Mentari?" Bintang langsung bertanya tentang Mentari sebab yakin Sarah akan tahu keberadaan sahabatnya itu.


"Aku tidak tahu," jawab Sarah berbohong.


"Kau pasti tahu," tuduh Bintang.


"Tidak karena dia sudah tidak bekerja padaku lagi," elak Sarah.


"Terus apa yang kamu bicarakan dengan papa tadi?" tanya Bintang masih tidak percaya sebab sang papa keluar dari tempat itu tidak membawa apa-apa.


"Oh itu ... papamu hanya ingin memesan kue saja," bohong Sarah.


"Kamu tidak bohong, kan Sarah?" tanya Bintang tidak percaya.


"Kau dosa jika ikut andil dalam menyembunyikan istri orang," lanjut Bintang.


"Dan lebih dosa lagi jika seorang suami mengabaikan salah satu istrinya hanya karena istri yang lain," sindir Sarah.


"Kamu ... " Bintang terlihat kesal dan mengepalkan tangan. Namun ia hanya memukul udara untuk mengekspresikan kekesalannya. Tidak mungkin kan dia memukul Sarah? Bisa dilaporkan ke polisi dia atas tuduhan penganiayaan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2