
Selamat pagi menjelang siang Pak Kiki," sapa Sarah di depan pintu ruangan Kiki dengan tersenyum ramah. Kebetulan pintu ruangan terbuka lebar.
"Selamat siang Sarah. Masuk!"
Sarah mengangguk dan langsung berjalan mendekat ke meja Kiki.
"Duduklah!"
Sarah mengangguk lagi dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Kiki.
"Kau sudah tahu bukan apa yang saya inginkan terhadapmu?"
"Tahu Pak," jawab Sarah sambil mengangguk.
"Pak Herman sudah menjelaskan semuanya, bukan? Jadi saya tidak perlu menjelaskan ulang," ujar Kiki lagi.
"Siap Pak saya sudah mendapatkan penjelasannya dari Pak Herman tadi di ruangannya."
"Oke ini materi presentasi yang perlu kamu pelajari. Saya berharap kamu bisa sukses merebut hati klien agar mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Lumayan berkolaborasi dengan perusahaan mereka akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kita."
"Baik Pak." Sarah menerima map yang diulurkan Kiki ke hadapannya.
Sarah tampak membuka lembaran pertama dan membacanya. Mumpung ada di ruangan Kiki, dia bisa langsung bertanya apabila ada yang tidak dimengerti.
Saat Sarah sedang serius-seriusnya membaca materi presentasi, terdengar derap langkah sepatu mendekat ke arah mereka berdua.
"Jadi dia yang kamu maksud mahasiswi pintar dan bisa diandalkan?" Tiba-tiba saja Gala keluar dari ruangannya dan berjalan mendekat ke arah Kiki.
"Iya Pak," jawab Kiki tenang sedangkan Sarah langsung menoleh dan menganga melihat Gala yang katanya masih ada di luar kota malah terlihat keluar dari ruangannya sendiri.
"Yakin kamu, dia bisa membuat klien kita mau bekerja sama?" tanya Gala meremehkan.
"Saya harus pergi menemui klien dengan dia Pak?" tanya Sarah pada Kiki tanpa menghiraukan pertanyaan Gala yang bernada meremehkan itu.
"Sangat yakin Pak. 99,9 persen yakinnya," sahut Kiki terkekeh.
"Iya Sarah, kau pergi dengan Pak Gala besok untuk mewakili Ibu Diandra," jelas Kiki pada Sarah dan gadis itu hanya bisa menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Saya mengundurkan diri saja Pak kalau begitu." Sarah langsung mengambil keputusan. Dia enggan pergi berdua bersama Gala.
"Hahaha, dia kecil nyalinya ternyata. Kiki-kiki, kau salah orang kalau memilih dia untuk meyakinkan klien kita. Bukannya tertarik malah sebaliknya klien kita akan kabur kalau dengar dia bersuara." Gala tertawa kencang membuat Sarah kesal sebab Gala telah menyepelekan dirinya.
"Kau pikir aku kuntilanak apa, orang dengar suaraku langsung kabur," protes Sarah tidak terima dengan perkataan Gala.
"Bukan seperti kuntilanak sih tapi suaramu akan terdengar sumbang di telinga mereka. Mana mungkin orang akan mendengarkan bujukan mu, sedangkan kau sama sekali tidak kompeten dalam meyakinkan seseorang. Jangankan orang yang tidak kau kenal, aku saja tidak yakin denganmu, paling kamu bisanya cuma ngoceh, nge-mixer sama mengoven." Gala terkekeh membuat Sarah geram dan ingin membungkam mulut pria itu.
"Saya tarik ucapanku Pak," ujar Sarah kemudian.
"Maksudnya Sarah?" tanya Kiki memastikan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Sarah.
"Saya mau menggantikannya Ibu Diandra," tukasnya.
"Wah mantap itu, aku suka keberanianmu," ujar Kiki bangga.
"Boleh saja kalau nyalimu gede. Awas jangan sampai ciut di depan mereka nanti. Kalau sampai gagal kau harus dihukum. Berdiri satu jam dengan satu kaki di depan karyawan banyak, bagaimana setuju?" tantang Gala.
"Boleh juga," sahut Sarah sama sekali tidak gentar dengan tantangan yang diberikan oleh Gala.
Sedikit sombong di depan orang seperti Pak Gala ini tidak mengapa, bukan? Tuhan semoga Engkau berpihak padaku sehingga pria sombong di depan hambamu ini bungkam.
"Bagus kalau begitu saya akan tunggu saat-saat kau hanya berdiri dengan satu kaki dan menjadi bahan tertawaan semua orang.
"Tapi Pak Gala tidak boleh curang. Jikalau Sarah kalah ada hukumannya, berarti jika Pak Gala yang kalah juga harus ada hukumannya dong, biar adil."
"Oke siapa takut," tantang Gala.
"Wah kayaknya ada pertandingan seru nih." Kiki malah bersorak-sorai mendengar kedua orang di depannya kini malah bertaruh satu sama lain.
"Apa hukumannya Sarah? Spil dong biar aku nggak kepo." Kiki tertawa lagi. "Biar aku yang jadi jurinya," imbuhnya.
"Coba Ki kamu tidak usah tertawa terus. Nggak bosan apa dari tadi tertawa mulu. Ingat! Kata orang-orang itu kalau kita kerjaannya ketawa mulu di belakang pasti ada kesusahan yang menunggu."
"Alah itu mitos Pak," bantah Kiki.
"Dibilangin nggak percaya. Ya sudahlah," ujar Gala pasrah.
__ADS_1
"Kalau Pak Gala yang kalah berarti Pak Gala harus berkeliling kantor sambil menjewer kedua telinganya sendiri, bagaimana siap?"
"Itu mah hukuman cemen kalau buat aku," ujar Gala. "Lagian mana mungkin aku yang kalah?" Gala begitu yakin bahwa Sarah tidak akan bisa meyakinkan kliennya dan Gala sendiri harus mengantisipasi semua itu nanti. Kalau sekiranya nanti Sarah tidak bisa meyakinkan maka dia yang akan mengambil alih dan kalau sudah seperti itu berarti Sarah kalah.
"Oke kalau begitu sepakat ya."
"Sepakat lah," sahut Gala.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu untuk melanjutkan tugas yang sempat terhenti kemudian juga ingin mempelajari materi presentasi ini agar bisa mengalahkan Pak Gala."
"Pergilah dan selamat berpusing ria," ujar Gala sambil memberi kode dengan tangannya supaya Sarah keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau ada yang tidak jelas atau ingin ditanyakan, langsung menghubungi saya ya Sarah! nomor teleponku minta saja sama Pak Herman!"
"Oke siap pak Kiki. kalau nanti ada permasalahan dalam memahami materi presentasi ini saya akan langsung menghubungi pak Kiki."
"Oke siap, kapan saja saya siap untuk dihubungi."
Sarah mengangguk dan langsung pergi dari ruangan tersebut.
Sampai di dalam ruangannya sendiri Sarah langsung kembali ke pekerjaannya. Namun, karena Sarah mendapatkan tugas yang lain dari atasan maka dia dibebaskan dari pekerjaannya hari ini. Sarah diberikan kesempatan oleh Pak Herman untuk mempelajari materi persentasi yang telah diberikan oleh Kiki tadi.
Jam makan siang sudah tiba. Semua karyawan dan para mahasiswa magang sudah bersiap-siap pergi ke kantin kantor untuk menikmati makan siang mereka. Mengisi perut kosong mereka yang sedari tadi sudah berbunyi keroncongan sebab cacing-cacing dalam perut mereka sudah pada demo. Apalagi tenaga juga sudah terkuras habis sebab yang namanya mahasiswa magang pasti akan disuruh ke sana kemari , melakukan tugas ini itu oleh karyawan kantor lainnya.
"Sar nggak makan?" tanya mahasiswi magang lainnya melihat Sarah masih enggan beranjak dari duduknya.
"Kamu duluan saja lah nanti saya nyusul belakangan. Saya masih ada yang harus dikerjakan."
"Oke kalau begitu saya pergi duluan ya. Semoga cepat kelar kerjaanmu."
Sarah mengangguk dan gadis yang menyapanya tadi sudah beranjak ke luar ruangan.
"Apa aku bisa dengan waktu yang begitu mepet seperti ini?" Sarah bergumam sendiri seakan ragu dengan kemampuannya sendiri.
"Tidak aku pasti bisa." Menyemangati diri sendiri dan fokus kembali menatap layar komputernya. Hari ini dia harus kelar membuat slide presentasi sebab besok sudah harus dibawa bertemu klien.
Bersambung.
__ADS_1