HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 102. Diacuhkan


__ADS_3

"Ngapain kamu kesini?" sentak Katrina saat melihat Mentari membuka pintu unit apartemen. Mentari tidak menjawab, tetapi tetap masuk ke dalam.


"Hei kamu tuli ya!" bentak Katrina karena Mentari tidak menggubris perkataannya.


"Kenapa masih bertanya? Aku punya hak di tempat ini jadi aku ke sini untuk pulang." Mentari terus melangkah masuk dan mencari keberadaan Bintang.


"Hei!" Katrina menarik tubuh Mentari hingga tubuhnya bergeser mundur.


"Apa sih!" Mentari menghempaskan tangan Katrina.


"Dasar tidak tahu malu ya kamu. Tuh lihat di berita sekarang dirimu viral." Katrina menunjuk layar televisi yang menempel di dinding.


Mentari diam dan melirik sebentar ke arah yang ditunjuk oleh Katrina. Dia menghembuskan nafas berat, ternyata video yang sama seperti yang Bintang tunjukkan tadi padanya diputar berulang-ulang.


Dalam hati Mentari mengumpat siapa yang telah tega menyebarkan berita tidak benar itu.


"Sayangnya viral bukan karena kelebihan atau prestasi melainkan sebagai tukang selingkuh. Kasihan Bintang harus memiliki istri yang hina sepertimu. Mempermalukan suami saja."


Mentari mengembuskan nafas panjang dan berlalu dari hadapan Katrina tanpa merasa perlu menjawab. Baginya percuma saja menjelaskan kebenaran terhadap wanita itu apalagi Mentari tahu saat ini Katrina memang membenci dirinya perihal tanda tangan. Yang terpenting saat ini adalah meyakinkan Bintang agar salah paham itu tidak semakin berlarut.


"Mas! Mas Bintang!" panggil Mentari mencari keberadaan suaminya.


"Bintang tidak ada di sini," bohong Katrina.


Mentari tidak menggubris perkataan Katrina dan terus mencari keberadaan Bintang. Tidak menemukan di kamarnya, Mentari beranjak ke dapur. Tak ada di dapur ia memeriksa ruang kerja suaminya. Masih belum menemukan Bintang ia langsung beranjak ke kamar Katrina.


"Ngapain ke kamarku? Kau dilarang masuk!" Katrina mencegah Mentari di depan pintu.


"Minggir!" Mentari sedikit menggeser tubuh Katrina agar tidak menghalangi jalannya masuk.


"Auw sakit!" pekik Katrina, dirinya terjatuh.


"Mas Bintang izinkan aku menjelaskan semuanya," mohon Mentari yang kini sudah duduk di tepi ranjang Katrina menghadap suaminya.


Bintang tidak menjawab ucapan istrinya. Dia malah bersikap cuek dan sama sekali tidak mau memandang ke arah Mentari.


"Mas video dan berita itu tidak benar. Ustadz Alzam waktu itu hanya menolongku saat ...."

__ADS_1


"Aw sakit sekali. Aduh perutku sakit Bin. Ini pasti gara-gara Mentari mendorongku tadi. Uh ... uh sakit," ringis Katrina sambil meremas perutnya.


Mendengar perkataan Katrina segera Bintang menatap Mentari tajam lalu bangkit untuk membantu Katrina bangun.


"Sakit banget ya sayang?" tanya Bintang sambil menggendong tubuh Katrina dan membawanya ke ranjang.


Mendengar Bintang memanggilnya sayang Katrina meledek Mentari dengan cara menjulurkan lidahnya. Dia hanya pura-pura kesakitan agar mendapatkan perhatian lebih dari Bintang. Mentari tidak perduli dalam hati tidak ada waktu untuk iri pada orang lain. Yang dia inginkan sekarang cuma satu Bintang mau mendengarkan dan bisa mempercayai dirinya sehingga masalahnya akan segera clear.


Bintang membawa Katrina ke atas ranjang. Mentari menggeser tubuhnya untuk memberi jalan.


Baru saja terbaring di atas ranjang tiba-tiba Katrina benar-benar kesakitan.


"Aduh Bin sakit sekali ini, huh ... huh ... huh. Bin bagaimana ini?"


"Mungkin dia mau melahirkan," tebak Mentari.


"Kita ke rumah sakit." Dengan sigap Bintang mengangkat tubuh Katrina lagi dan kali ini membawa keluar dari apartemen menuju rumah sakit.


Bintang sama sekali tidak perduli lagi pada Mentari sehingga merasa tidak perlu pamit pada istri keduanya itu.


"Hah aku dikacangin, bagaimana nanti kalau anaknya memang lahir?" Hati Mentari terasa risau.


Di dalam sebuah gedung rumah sakit Bintang mondar-mandir di depan ruangan bersalin. Ternyata benar tebakan Mentari, Katrina sekarang memang akan melahirkan.


"Mama lama banget sih?" Bintang tampak gelisah, dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi orang yang mau melahirkan.


Dari tadi berada di dalam ruangan malah membuat situasi dalam ruangan tidak kondusif sebab semakin membuat dokter kandungan gusar melihat sikap Bintang yang tidak mau diam sehingga mengganggu konsentrasi mereka.


Dari arah depannya berdiri Arumi melangkah dengan anggun tanpa melepas senyumannya. Dia sangat bahagia mendapat kabar bahwa cucu pertamanya akan segera lahir.


"Bagaimana Bin sudah selesai lahirannya?" tanya Arumi sambil berjalan mendekat.


"Belum Ma." Bintang masih nampak gelisah.


"Terus kenapa kamu di sini? Bukannya ada di dalam menemani istrimu," protes Arumi.


"Bintang diusir Ma, dokternya menjengkelkan," kesal Bintang. Bagaimana tidak diusir setiap kali Katrina berteriak-teriak kesakitan dokternya yang disalahkan.

__ADS_1


Arumi mengernyit lalu mengetuk pintu beberapa kali. Seorang suster tampak membuka pintu dan mempersilahkan masuk.


Beberapa jam Bintang menunggu dengan gelisah akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Saat itulah Bintang baru bernafas lega.


"Bintang!" Arumi memanggil Bintang untuk masuk ke dalam.


"Bagaimana Ma?"


"Bayimu sudah lahir memang benar laki-laki. Dia yang akan mewariskan semua harta kekayaan kita nantinya."


Bintang mengembangkan senyum dan mengangguk. Mereka semua merasa bahagia terutama Katrina yang mendengar ucapan Arumi tadi. Sepertinya selangkah lagi impiannya akan tercapai dan sebentar lagi dia akan menyaksikan sendiri Bintang melempar Mentari ke jalanan.


Katrina terlihat senyum-senyum sendiri. Merasa puas dengan semuanya.


****


Malam menjelang, Bintang belum juga pulang. Mentari mencoba menelpon, tetapi sama sekali tidak diangkat bahkan Bintang menonaktifkan ponselnya.


"Ckk, bagaimana ini. Apa terjadi sesuatu sama Katrina. Mengapa belum ada kabar juga?" Mentari sudah tidak sabaran menjelaskan tentang semuanya.


Mentari meletakkan ponselnya di atas ranjang di sisi tubuhnya sendiri yang sedang duduk dengan gelisah berharap Bintang nanti akan memberikan kabar. Namun, nyatanya nihil Bintang sama sekali tidak menghubungi dirinya.


Malam semakin larut Mentari memutuskan untuk tidur dan menjelaskan besok saja.


Saat berbaring ternyata dia masih penasaran dengan ponselnya. Dia punya keinginan untuk menelpon satu kali lagi sebelum benar-benar memejamkan mata.


Masih tidak bisa dihubungi, iseng ia membuka wa dan menulis chat yang menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya. Mentari berharap setelah menjelaskan pada Bintang laki-laki itu bisa membantu agar video dirinya dicabut dari peredaran. Paling tidak agar tidak semakin menyebar. Mentari tidak ingin adik dan ibunya tahu akan berita tersebut. Semoga saja mereka berdua belum melihatnya.


Masih centang satu.


Mentari terlihat malas, dia duduk kembali. Rasanya dia tidak akan bisa tidur malam ini. Dia menjadi gabut, mencoba membaca status dari teman-temannya untuk mengisi waktunya.


Ternyata malah tidak sengaja melihat status Bintang yang berfoto dengan bayi kecilnya, Katrina dan Arumi. Semua nampak tersenyum bahagia.


Mentari tampak kecewa berarti ponsel Bintang sempat online. Bagaimana bisa tidak menemukan panggilan tak terjawab dari dirinya yang sampai berkali-kali.


Mentari bangkit dari duduknya, mengambil obat dan meneguknya. Satu butir saja sudah bisa membuat dia mengantuk. Malam ini dia tidak ingin berpikir keras lagi.

__ADS_1


Meminum obat tidur adalah cara satu-satunya agar dia bisa cepat terlelap dan melupakan masalah untuk sementara.


Bersambung.


__ADS_2