HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
BAB 83. Kena Mental


__ADS_3

"Nah kalau begini kan adem aku lihatnya," ucap Bintang sambil tersenyum senang.


Dia kemudian kembali ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi Bintang masuk ke dalam ruang kerjanya. Menyiapkan beberapa berkas yang akan dibawa hari ini untuk melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan yang dia temukan kemarin dalam jejaring internet sedang membuka lowongan.


Sesudah menyelesaikan masaknya Mentari lalu membawa makanan itu ke meja makan dibantu oleh Katrina. Namun, saat Katrina berusaha untuk mengajaknya bicara, Mentari sama sekali tidak merespon atau menghiraukan dirinya sama sekali. Mentari tidak pernah menjawab sepatah katapun saat Katrina berbasa-basi bertanya padanya tentang suatu hal.


Setelah hidangan siap di meja Mentari pun langsung kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya begitupun dengan Katrina.


Sama-sama selesai berganti pakaian mereka sama-sama kembali ke meja makan. Bedanya Mentari berjalan melenggang begitu saja ke arah meja sedangkan Katrina memanggil Bintang terlebih dahulu.


Bintang yang sudah siap dengan mapnya berjalan ke arah Katrina dan meletakkan map yang dipegangnya di meja ruang tamu sebelum akhirnya mereka melangkah bersama ke ruang makan.


Di ruang makan ternyata Mentari sudah makan terlebih dahulu dan tidak menghiraukan keduanya.


"Ayo Bin kita makan." Katrina melirik Mentari masih terlihat cuek sambil melayani Bintang makan seperti halnya istri-istri pada umumnya. Mengambil nasi dan lauk-pauk yang diinginkan suaminya.


"Bagus kalau begini terus aku yakin Bintang lambat-laun juga tidak akan perduli padanya," batin Katrina kemudian ikut makan.


"Kamu mau kemana sih Bin kok tadi bawa map segala?" tanya Katrina di sela-sela makannya.


"Mau melamar pekerjaan. Kemarin aku lihat ada lowongan di salah satu perusahaan properti. Mungkin posisi yang ditawarkan masih kosong jadi aku akan coba melamarnya."


"Kenapa tidak melamar online saja sih Bin biar tidak repot?" tanya Katrina lagi.


"Iya juga ya, kenapa aku tidak kepikiran ya? Tapi ya sudahlah biar aku bisa langsung survei keadaan tempat kerjanya. Sekalian biar bisa langsung melamar di tempat lain kalau tidak keterima. Rencananya aku mau memasukkan surat lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan."


"Oh bolehlah kalau begitu, biar kesempatan dapat kerja semakin besar."


Mentari sama sekali tidak perduli dengan pembicaraan kedua orang di hadapannya. Dia masih saja fokus makan tanpa ada keinginan untuk ikut campur sedikitpun.


"Kamu masih mau kerja?" tanya Bintang kemudian saat menyadari pakaian yang dipakai Katrina adalah pakaian formal.


"Iya Bin aku harus lebih rajin lagi bekerja biar bisa bertahan di perusahaan itu. Aku harap Pak Gala tidak akan mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadinya denganmu." Katrina melirik Mentari yang pura-pura tidak mendengar.


"Tapi Kate bagaimana kalau kamu sakit perut di kantor? Apa tidak sebaiknya kamu cuti dulu?"


"Nggak enak lah Bin kemarin aku dah cuti, tapi kamu yang nyuruh aku masuk kerja. Nah sekarang sudah kerja lagi masa harus mengajukan cuti lagi? Apalagi kamu juga sudah resign dari kantor, bisa-bisa Pak Gala langsung merekrut asisten dan sekretaris baru sekalian."

__ADS_1


Bintang mengacak rambutnya menyadari kesalahannya telah meminta Katrina masuk kantor saat dalam masa cuti.


"Tapi Kate aku khawatir sama kondisi kamu. Apa tidak sebaiknya kamu resign saja?"


"Nggaklah Bin lagipula kamu tidak usah khawatir, kan aku sudah ada obat dari dokter. Jadi kamu tenang saja aku akan selalu membawa obat itu untuk antisipasi," kekeuh Katrina.


"Baiklah kalau kamu masih ngotot. Sudah makan lagi, kapan kelarnya kalau kita bicara terus."


Katrina mengangguk dan melanjutkan makannya. Bersamaan dengan itu Mentari telah menyudahi makannya dan meneguk segelas air putih.


Setelah selesai, Mentari bangkit dari duduknya dan mencangklong tas di pundaknya.


"Me kamu mau kemana?" tanya Bintang saat menyadari penampilan Mentari seperti orang yang ingin pergi juga.


"Kerja," jawab Mentari singkat.


"Kenapa harus kerja lagi sih?" protes Bintang.


"Kalau dia bisa keluar dari tempat ini untuk bekerja kenapa aku tidak?" tunjuk Mentari ke arah Katrina. "Lagipula setelah kamu berhenti bekerja masih mampukah memenuhi kebutuhan dua orang istri?"


Bintang hanya terdiam mendengar protes dari Mentari.


"Baiklah," ucap Bintang dengan suara lemah menyadari Mentari sudah tidak ada di hadapannya.


Bintang dan Katrina pun melanjutkan sarapannya sebelum beraktivitas masing-masing.


***


"Hei Me akhirnya kau bekerja lagi," sambut Nanik di depan pintu.


"Iya nih sepi tahu kalau nggak ada kamu," sambung Mega. "Ustadz Alzam jadi jarang ke sini lagi," imbuh Mega sambil mengedipkan matanya.


Mentari mengernyit. "Apa hubungannya aku dengan ustadz Alzam?" tanyanya sama sekali tidak paham dengan pemikiran Mega.


"Dia kan menyukaimu jadi kalau ada kamu di sini dia sering meninjau toko ini, kalau tidak ada kamu, mulai jarang deh dia ke sini."


Mentari dan Nanik menggeleng bersamaan.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adzim. Jangan menuduh orang sembarangan kamu, nanti jatuhnya fitnah. Mau kamu masuk neraka hanya karena berburuk sangka para orang lain?" nasehat Mentari.


"Hehe, nggak," jawab Mega sambil cengengesan.


"Aku boleh bekerja bersama kalian lagi, kan?" tanya Mentari sambil mengulas senyum.


"Bolehlah, aku pikir Bu Sarah juga tidak akan keberatan," jawab Nanik.


Mentari mengangguk dan berjalan ke arah Mega. "Apa yang bisa aku bantu? Sepertinya belum ada pembeli yang datang nih," ucap Mentari.


"Sini bantuin meng-oven kue-kue ini!" panggil Mega yang sudah berjalan ke arah belakang.


"Oke." Mentari menyusul Mega dan membantunya.


***


Maaf Pak posisi sebagai manager sudah terisi. Kami sudah mendapatkan orang yang handal untuk mengisi posisi tersebut," ucap salah satu penanggung jawab perusahaan yang ditugaskan untuk mencari para pekerja baru.


Bintang mengacak rambutnya, ternyata dirinya sudah terlambat.


"Mungkin ada posisi yang lain yang kosong begitu Pak? Tidak apa-apa kalau hanya sebagai karyawan biasa," ucap Bintang penuh harap.


"Tidak ada Pak, di sini sudah tidak ada lowongan pekerjaan lagi. Maaf ya Pak."


"Iya tidak apa-apa, kalau begitu saya pamit dulu ya Pak. Kalau ada lowongan lagi tolong kabari saya. Ini kartu nama saya," ucap Bintang sambil memberikan kartu nama pada lawan bicaranya.


"Baik-baik Pak, nanti akan saya kabari."


"Terima kasih." Bintang meraih map di atas meja dan berjalan keluar dari perusahaan dengan rasa penuh sesal pada dirinya sendiri. Andai dirinya tidak bodoh dan menerapkan seperti saran Katrina kemarin untuk mendaftar online, mungkin saja dia tidak akan terlambat dan dirinya saat ini pasti sudah menduduki kursi manager.


"Ah benar kata Mentari kalau keadaanku seperti ini terus bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan istriku." Bintang mengacak rambutnya lagi, dia terlihat frustasi.


"Sabar Bintang masih banyak perusahaan yang belum kamu masuki. Dari sekian banyak pasti salah satu dari mereka bisa menampung mu di perusahaan itu." Bintang mengelus dadanya sendiri agar tidak down. Dia melanjutkan langkahnya kembali meninggalkan perusahaan itu untuk masuk ke perusahaan lain.


"Kasihan dia padahal kalau melihat CV-nya sepertinya dia komputen untuk mengisi posisi manager, tapi apalah daya pak bos tidak menginginkan dia untuk mengisi kursi yang sebenarnya masih kosong sekarang."


Bersambung.

__ADS_1


Sambil menunggu Othor up lagi, mampir yuk ke karya temanku, dijamin ceritanya seru seperti menonton layar lebar film luar negeri. Keren pokoknya. Nih dia cover dan judulnya.



__ADS_2