HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 198. Sidang


__ADS_3

"Tolong Carikan aku seorang tukang pijat profesional. Tubuhku remuk hari ini!" perintah Gala setelah siuman dari pingsannya.


"Saya sudah memanggil seorang dokter Pak," lapor Diandra.


"Aku tidak butuh dokter. Sudah kubilang aku hanya butuh tukang pijat."


"Baik Pak," ucap Diandra pasrah dan langsung menelpon dokter itu lagi agar tidak datang, sedangkan Pak Herman langsung memerintah seseorang untuk membawa tukang pijat ke ruangan Gala.


"Puas kamu melihatku seperti ini atau mungkin kau menginginkan aku mati!" seru Gala saat melihat Sarah juga ada di dalam ruangannya.


"Lebay banget sih Pak, harusnya tuh bapak bersyukur dikhawatirin oleh Sarah. Jarang-jarang loh Sarah bisa khawatir sama orang lain yang mengesalkan macam Bapak. Baiklah, karena kehadiran Sarah tidak diinginkan di sini ya sudah Sarah keluar saja. Bye!"


Sarah hendak keluar dari ruangan Gala. Namun, dicegat oleh Diandra. "Jaga omonganmu kepada atasan apalagi kamu cuma mahasiswa magang. Keberadaanmu di sini bisa dilempar keluar kapan saja, camkan itu!"


"Baik Ibu sekretaris, lain kali kalau bekerja itu yang profesional. Kalau cuma sakit dikit dan ada tugas penting diharapkan masuk kantor, jangan sampai tugasmu menjadi tanggung jawab orang lain."


"Kau ...." Diandra geram. Namun, Sarah segera menepis tangan perempuan itu dan berjalan keluar ruangan dengan tenang. Dia sama sekali tidak memperdulikan tatapan aneh orang-orang padanya.


Bodoh amat dengan semuanya!


"Pak Gala seharusnya senang dong calon istri dan anak perduli pada Pak Gala," goda Kiki membuat pria itu langsung mendapat pukulan di bahu dari Gala.


Plak.


"Kau mau aku pingsan lagi?"


Kiki menggeleng, beberapa karyawan yang mengintip di balik pintu malah terkekeh.


"Minggir, minggir!" Seorang karyawan menggeser posisi karyawan lain yang menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam membawa seorang tukang pijat.


"Ini Pak tukang pijat profesional yang Bapak pesan."


"Baik terima kasih dan kamu bisa kembali ke pekerjaanmu lagi."


Pria itu menunduk dan pamit keluar ruangan.


"Pak Herman dan kamu juga bisa kembali Diandra!" perintah Gala.


"Baik Pak," jawab keduanya serempak dan langsung bergegas keluar.


"Kamu Ki?"


"Nggak, aku mau ngantri. Tubuhku remuk juga Pak Gala dan itu semua gara-gara Bapak."


"Ya udah kalau kau mau ngantri, ngantri saja. Nggak usah ada buntut dari kalimat itu."


Gala melepaskan pakaiannya membuat para karyawati yang masih berdiri di depan pintu mendesis kegirangan. Mereka kagum dengan bentuk tubuh Gala yang atletis.

__ADS_1


Banyak diantara mereka yang melayangkan kalimat pujian terhadap Gala, tetapi ada juga yang menyayangkan sebab Gala telah menggunakan tubuh indahnya itu untuk memperdaya wanita seperti Sarah.


"Kalian ngapain masih berdiri di situ?" Gala kesal karyawannya sekarang seolah tidak menghargai dirinya seperti dulu lagi dan itu gara-gara Sarah. Ini hanya beberapa hari Sarah berada di kantornya bagaimana kalau sampai sebulan? Pasti semua orang kantor akan menertawakan dirinya.


"Ingin melihat Pak Gala dipijit ah," sahut seorang karyawati yang terlihat begitu genit.


"Astaga!" Rasanya Gala ingin benar-benar mengutuk semua karyawannya menjadi kodok.


"Tapi kalau mereka semua menjadi kodok siapa yang akan mengerjakan tugas-tugas di perusahaanku?"


"Mana kodok Tuan?" tanya tukang pijat.


"Tidak Mbah saya hanya berhalusinasi saja," jawab Gala membuat Kiki langsung terkekeh.


"Kenapa belum pergi! Awas kalau pekerjaan kalian tidak beres maka kalian yang akan beres dari tempat ini!" ancam Gala dengan suara membentak sambil melepaskan sepatunya dan hendak melempar ke arah pintu.


Menyadari sang atasan murka segera mereka berlari menghindar dan pergi dari ruangan Gala sehingga sepatu Gala hanya mengenai daun pintu saja.


Kiki tertawa geli.


"Mau aku lempar sepatu yang sebelah padamu!"


"Hehe tidak Pak." Kiki hanya cengengesan.


"Jangan terlalu banyak marah-marah Tuan, sebab saraf akan ikut tegang dan tidak baik untuk kesehatan."


"Baik Mbah." Gala menarik nafas panjang. "Kita pindah tempat ya Mbah, tidak enak di sini."


Gala membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menikmati sentuhan demi sentuhan dari tukang pijat yang membuat tubuhnya terasa nyaman dan bahkan dia merasa mengantuk saat ini.


Sementara di ruangan lain Sarah langsung mendapat interogasi dari sesama teman-teman magangnya.


"Kamu benar hamil Sarah?"


"Nggak, siapa bilang aku hamil," sahut Sarah masih bersikap tenang seperti semula.


"Kau gila seluruh kantor viral dengan berita kehamilanmu oleh Pak Gala. Kenapa kamu tidak menepisnya sih kalau memang tidak hamil?"


"Percuma Fal, Pak Gala ngotot memberitahu informasi palsu dan itu membuat semua orang percaya padanya dan tidak akan perduli dengan penjelasanku. Biar dia klarifikasi sendiri. Ya aku ngakunya dia yang menghamili. Pusing sendiri dia, kan?"


"Kamu benar-benar Gila Sar. Kau tahu nama baikmu dipertaruhkan loh untuk lelucon ini."


"Ya mau bagaimana lagi? Udah terjadi. Aku mau tenang saja kalau cuma orang yang memandang rendah diriku asalkan Tuhan tidak. Cepat atau lambat semua akan terkuak sebenar-benarnya."


"Bisa ya elo sesantai itu. Bagaimana kalau sampai keluargamu mendengar berita ini?"


"Aku yakin mereka akan percaya padaku, tapi kalau nggak aku bisa ngajak mereka ke dokter untuk mengetes kehamilan. Kalau perlu tes keperawanan pun akan aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku belum pernah dijamah lelaki."

__ADS_1


Falsa menganga mendengar perkataan Sarah dan karyawan yang lain malah menggeleng tak percaya. Benar-benar gadis yang nekad.


***


"Den dipanggil Tuan di ruang keluarga!" seru bibi dari luar pintu.


"Iya Bi tunggu dulu sebentar!"


Setelah memasang pakaiannya Gala langsung bergegas menemui Tama.


"Ada apa Pa?"


"Duduklah!" Tama menepuk tempat duduk di sampingnya. Gala mengangguk dan menurut.


"Ustadz Alzam mana Ca, kok kamu sendirian aja?"


"Pulang sebentar," jawab Mentari singkat.


Gala hanya mengangguk.


"Kapan kamu rencananya mau menjenguk Alya?"


"Sudah kemarin sambil mengantar Ibu dan Pandu."


"Oh."


"Pa ada apa sih? Kalau tidak apa-apa mending Gala makan aja. Lapar nih masa baru pulang kerja disuruh ngumpul di sini."


"Sebentar, aku ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu."


"Katakan saja Pa saya benar-benar sudah lapar."


"Kita masih menunggu seseorang dulu."


"Seseorang? Siapa?"


"Nah itu dia mereka datang." Tama menunjuk ustadz Alzam yang menggandeng tangan Sarah.


"Ngapain dia bawa Sarah?" protes Gala.


"Duduk Sarah!" perintah Tama dan Sarah mengangguk dan langsung duduk di samping Mentari.


Perasaan Gala tiba-tiba tidak enak begitupun dengan Sarah.


"Baik karena kalian sudah berkumpul semua di tempat ini, saya akan langsung berbicara. Saya sudah mendengar berita di kantor hari ini dan saya dengan Nak Alzam memutuskan untuk ...."


Sarah saling pandang dengan Gala dengan ekspresi muka yang sama-sama tampak meringis.

__ADS_1


Mampus aku!


Bersambung.


__ADS_2