HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 17O. Menggoda Sarah


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, segera ustadz Alzam menelpon Sarah.


Setelah mendapati informasi tentang keberadaan kamar Mentari, ustadz Alzam lalu bergegas ke sana dengan langkah setengah berlari.


Kreek.


Pintu kamar rawat dibuka, kepala ustadz Alzam menyembul dari balik pintu.


"Abi!" seru Mentari sambil tersenyum bahagia karena suaminya sudah datang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada dalam ruangan itu serempak.


"Eh ada Mas Gala sama Papa juga di sini," sapa Ustadz Alzam sambil melangkah ke arah Mentari dengan kedua tangan yang bersembunyi di belakang tubuhnya.


Mentari mengernyit melihat ustadz Alzam tidak menyalami kakak dan papanya. Namun, Mentari sadar suaminya menyembunyikan sesuatu di tangannya.


"Abi bawa apa?" tanyanya penasaran.


"Bawa apa, coba tebak?" goda ustadz Alzam.


"Nggak tahu," jawab Mentari malas mikir.


"Tara! Nih bunga kesukaan kamu," ucap ustadz Alzam sambil mengulurkan buket bunga ke hadapan Mentari.


"Abi?" Mentari sangat bahagia. Wanita itu memang tidak pernah neko-neko dengan menginginkan benda yang mewah, begini saja sudah bisa membuatnya merasa diistimewakan. Sederhana itu memang kebahagiaan Mentari saat ini. Mentari mengambil bunga tersebut lalu menciumnya.


Mentari hendak duduk, tetapi langsung dicegah oleh ustadz Alzam. "Tidak usah duduk dulu Ummi, istirahatlah!"


Setelah mengatakan itu ustadz Alzam berbalik dan menyalami tangan mertua dan kakak iparnya, sedangkan Arumi sudah sedari tadi pulang karena ditelepon oleh Tuan Winata.


"Aku nggak disalami Kak," protes Sarah karena sang kakak melewati dirinya dan duduk di tepi ranjang Mentari.


"Nggak perlu kakak sedang kesal padamu," jawab ustadz Alzam tanpa mau menoleh sedikitpun pada Sarah sedangkan Mentari hanya tersenyum saja melihat sikap suaminya pada Sarah. Mentari tahu ustadz Alzam hanya mengerjai gadis itu.


"Aish." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Sarah. Dia tidak berani berkata lagi sebab takut kakaknya dalam mode ngambek setelah merasa di kerjain oleh dirinya.

__ADS_1


"Tapi kan aku nggak ada niatan mengerjai Kak Alzam. Itu semua tidak disengaja," batin Sarah.


"Mana Aish? Di sini nggak adalah yang namanya Aisyah," goda Gala lalu cekikikan.


Sarah hanya melotot ke arah Gala karena bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini Gala masih mengerjai dirinya. Apa Gala tidak tahu mode ngambek ustadz Alzam bisa membuat Sarah pusing. Dia bisa dihukum tidak boleh keluyuran di luar sedangkan Sarah suka berpetualang di luar rumah. Kalau tidak ke toko ya dia harus ngumpul dengan teman-temannya. Berdiam diri di rumah sangat membosankan menurut Sarah.


"Bagaimana keadaanmu Ummi? Apanya yang sakit?" tanya ustadz Alzam pada Mentari yang masih fokus menciumi buket pemberian suaminya itu. Ustadz Alzam meraba tubuh Mentari.


"Katanya di sini sudah ada dedek bayinya?"


Mentari mengangguk membuat senyum di bibir ustadz Alzam mengembang seketika.


"Nggak ada Abi sudah enakan kok, tadi hanya merasa lemah dan sakit perut saja. Abi aku mau duduk, mau dipeluk Abi," rengek Mentari.


"Aih, kenapa Kak Mentari jadi manja begitu," keluh Sarah sambil menggelengkan kepala.


"Alhamdulillah kalau begitu. Ayo aku bantu duduk." Ustadz Alzam membantu Mentari duduk. Mentari langsung mendekap erat suaminya itu seakan mencoba menepis perasaan takut akan perlakuan Bintang yang masih tersisa di ingatannya.


"Rasanya sangat nyaman dalam dekapan hangat Abi."


"Kalau nggak nyaman hijabnya dibuka saja, kan tidak ada orang lain di dalam ruangan ini," saran ustadz Alzam merasakan Mentari keringatan padahal ruangan yang ditempatinya ada ac nya. Berbeda dengan dirinya sendiri yang memang berkeringat sedari tadi karena pikirannya yang kacau memikirkan keadaan Mentari sebelum bisa melihat sendiri keadaan istrinya itu.


Mentari mengangguk dan melepas hijabnya tanpa mau melepaskan pelukannya dari ustadz Alzam.


"Tubuh Abi harum banget." Mentari mengendus bau tubuh suaminya.


"Kak Mentari aneh nih, Kak Alzam keringetan begini dibilang harum yang ada bau ketek," protes Sarah.


"Harum Sarah, harum begini dibilang bau ketek." Mentari tidak terima suaminya dikatakan bau.


"Iya deh iya. Orang jatuh cinta tuh memang aneh, jangankan bau badan bau kentut pun seperti harum nangka."


Gala mengernyit melihat Sarah seolah kesal.


"Ada apa dengan gadis ini?" tanyanya dalam hati.


"Baper aja nih orang," protes Gala.

__ADS_1


"Baper emang, masa di depan para jomblo mereka ciuman begitu?" Sebenarnya Sarah hanya kesal sebab kakaknya tidak ada reflek sama sekali dengan ucapannya sedari tadi. Sang kakak memang terasa begitu cuek padanya.


Gala malah terkekeh. "Kamu aja kali yang jomblo aku mah nggak."


"Emang kamu sudah ada kekasih Gala? Kalau sudah ada kenalkan sama papa," ujar Tama dan Gala hanya nyengir kuda tanpa mau menjawab pertanyaan dari sang papa.


"Paman Tama juga jomblo," ujar Sarah.


"Aku keluar dulu aja ah. Mau cari angin segar," ujar Tama kemudian berlalu dari ruang rawat putrinya.


"Biar nggak baper lagi, mau aku peluk?" goda Gala setelah melihat sang papa sudah tidak ada lagi di ruangan itu.


Sarah mengernyit. "Ogah najis," ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari kamar rawat Mentari.


"Peluk Abi kok aku jadi lapar ya?" Mentari melepaskan pelukannya.


"Bilang aja kamu lapar," ujar ustadz Alzam sambil menyentuh hidung Mentari dengan jari telunjuknya membuat Mentari tersenyum dan mengangguk.


"Sarah tolong ambilkan makanan yang ada di mobil. Sekalian


Buah-buahannya juga dibawa ya!"


Sarah tersenyum mendengar sang kakak sudah mau bicara lagi padanya. Gadis itu mengusap dadanya, lega lalu menoleh dan tersenyum.


"Oke Kak, mana kunci mobilnya?"


"Ini tangkap!" ustadz Alzam melempar kunci mobil ke arah Sarah dan Sarah menangkapnya. Setelah mendapatkan kunci mobil Sarah berbalik dan langsung pergi menuju mobil untuk mengambil pesanan dari ustadz Alzam.


"Secepat itu dia berubah ceria? Benar-benar aneh," batin Gala.


Tidak menunggu lama Sarah datang dari luar dengan membawa bak besar itu di kepalanya dan keranjang buah di tangannya. Tadinya ingin membawa keduanya di tangan, tapi rasanya begitu sulit. Jadi terpaksa menaruh salah satunya di kepala.


"Jual nasi apa Neng? Nasi uduk, nasi pecel apa nasi kebuli?" tanya Gala saat Sarah sudah masuk ke dalam kamar rawat Mentari kembali. Pria itu tertawa puas menggoda Sarah sedangkan Sarah tampak cemberut melihat Gala suka menggoda dirinya.


"Akh, kau memang mengesalkan," ketus Sarah lalu memanyunkan bibirnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2