HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 264. Pernikahan


__ADS_3

Satu bulan kemudian tibalah saatnya pada acara pernikahan Bintang dan Mentari dan mereka memilih menikah di kediaman Tama.


Mentari tampak dirias begitu cantik, tapi wanita itu ekspresinya biasa saja seolah tidak ada yang istimewa di hari ini.


Setelah pengantin pria datang, keduanya pun diarak menuju ijab qabul.


"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu setelah kedua mempelai duduk dan keluarga dekat sudah berkumpul semua di samping dan belakang kedua mempelai.


Izzam dan Gaffi tampak duduk bersila di belakang Mentari dan Bintang. Keduanya tampak berceloteh kecil.


Bintang melihat kedua orang tuanya yang terlihat mengangguk sambil tersenyum untuk memberikan semangat kemudian melihat ke arah wajah Mentari yang tertunduk.


"Me!"


"Mulai saja!" perintah Mentari tanpa ada keinginan untuk mengangkat wajahnya.


"Siap Pak," jawab Bintang akan pertanyaan pak penghulu.


Pak penghulu pun langsung menyuruh Tama untuk membacakan kalimat ijab.


"Benar sudah siap Nak Bintang?" tanya Tama memastikan kesiapan Bintang.


"Siap Paman," jawab Bintang mantap.


"Oke kalau begitu kita mulai sekarang."


"Iya Paman."


Tama pun langsung membacakan kalimat ijab dan dengan sekali hentakan Bintang langsung menjawabnya dengan kalian kabul tanpa ada kata yang belibet sedikitpun.


"Bagaimana para saksi apakah sah?"


"Sah!"


Semua orang yang hadir meneriakkan kata 'sah'.


"Alhamdulillah."


Semua orang mengucapkan kalimat hamdalah.


"Ye sekarang Izzam sudah punya papi kayak dedek Gaffi," ucap Sarah sambil mencubit kedua pipi keponakannya yang menggemaskan itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap anak itu sambil tersenyum bangga.


Pak penghulu langsung memimpin doa.


"Saya ingin membacakan taklik Pak untuk meyakinkan Mentari bahwa saya tidak main-main dengan pernikahan ini," pamit Bintang.


"Silahkan!"


Bintang pun membacakan kalimat taklik itu. Setelahnya dia bernafas lega.


Bintang melirik wajah Mentari, ada air mata yang menetes di hari pernikahan ini.


"Ya Tuhan! Dulu ada senyum di bibirnya saat pertama kali dia menikah denganku meskipun dia juga terpaksa dan akhirnya pernikahan itu berakhir dengan air mata. Sekarang ada air mata yang jatuh di pipinya semoga setelah pernikahan ini akan selalu ada senyuman manis di bibir kami," batin Bintang. Dia tahu tangis yang keluar di mata Mentari bukanlah tangisan haru, tetapi adalah tangis kesedihan.


Namun, Bintang percaya dengan kebesaran dan kekuatan Allah SWT, suatu saat nanti Mentari akan dapat mengembalikan cintanya yang pernah hilang itu.


Bintang hanya bisa bersabar sambil memberikan perhatian lebih dan yang terpenting tidak akan lupa berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga mereka.


"Aku ingin masuk kamar!" pamit Mentari pada Bintang.


"Pa, Pak penghulu bolehkah kami pergi sekarang?" tanya Bintang yang sontak mendapatkan sorakan dari para tamu yang tak lain dari pihak keluarga, teman-teman dan beberapa perwakilan dari perusahaan.


"Huuu! Pengantinnya tidak sabaran!"


Yang lain terlihat tertawa sedangkan Sarah merasa khawatir karena mereka meninggalkan tempat begitu cepat. Namun, Sarah hanya bisa memandang punggung mereka sambil menahan Izzam yang hendak menyusul Mentari dan berdoa dalam hati agar keduanya baik-baik saja.


Sampai di kamar Mentari langsung mendudukkan bokongnya dengan kasar lalu menghembuskan nafas berat.


"Kau kenapa?" tanya Bintang berbasa-basi padahal sudah tahu bahwa Mentari tidak menyukai acara ini.


"Aku tidak apa-apa hanya ingin menangis saja, berikan aku waktu!" mohon Mentari.


"Baik kalau begitu saya pamit keluar dulu, jika ada apa-apa kau bisa langsung meneleponku," ujar Bintang dan Mentari langsung mengangguk.


Bintang langsung pergi dan meninggalkan Mentari yang sesenggukan di pinggir ranjang. Sebenarnya wanita itu tadi berpikir ingin fokus dengan pernikahannya, tapi saat dirinya dipanggil ke meja ijab tidak sengaja melihat foto pernikahan dengan ustadz Alzam yang masih terpajang di dinding dekat pintu kamar. Ditambah lagi Bintang yang membacakan taklik talak tadi juga mengingatkan akan pernikahannya dengan ustadz Alzam.


Entah mengapa tukang rias kamar pengantin melewatkan foto itu, atau mungkin lupa meminta izin pada pemilik rumah untuk mencopot bingkai foto tersebut sehingga akhirnya dibiarkan begitu saja.


"Maafkan aku Abi, aku serasa mengkhianatimu, tapi ini juga permintaan putra kita." Mentari menatap kembali foto tersebut kemudian mengusap air matanya. Setelahnya keluar kamar dan menyusul Bintang karena merasa tidak enak jika meninggalkan tamu terlalu lama.


"Eh Mbak, saya benahi make up nya dulu," ujar seorang tukang rias yang gerakannya terlihat gemulai.

__ADS_1


Mentari yang sadar pasti make up nya berantakan sehabis menangis menyanggupi tawaran tukang rias itu.


"Mbak pasti habis menangis ya? Kawin paksakah?" Lelaki gemulai yang ingin dipanggil Mbak itu mulai kepo.


"Nggak Mas, eh Mbak. Saya hanya terharu saja bisa kembali bersatu dengan mantan suami saya itu. Saya sama sekali tidak menduga bisa bersama lagi," bohong Mentari.


"Wah CLBK dong Mbak?"


"Ya bisa dibilang begitu."


"Terkadang takdir susah ditebak Mbak."


"Ya Mbaknya benar, saya merasa dipermainkan oleh takdir," ucap Mentari sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Semoga setelah ini nggak lagi ya Mbak, semoga bahagia until jannah."


"Aamiin," ucap Bintang sambil mendekati keduanya hingga membuat Mentari langsung menoleh.


"Bisa keluar sekarang Me, tamu-tamu banyak yang ingin berpamitan."


"Baik, terima kasih ya Mbak sudah benahi make up ku."


"Sama-sama Mbak Cahaya semoga bahagia selalu."


"Aamiin."


Kini Bintang dan Mentari naik ke pelaminan untuk menyambut para tamu yang ingin memberikan selamat sekaligus berpamitan bagi yang sudah ingin pulang terlebih dahulu.


Setelahnya mereka kembali ke kamar mereka. Bintang tersenyum sendiri mengingat pembicaraan antara Mentari dengan tukang rias tadi di ruang tamu.


Pria itu langsung memeluk tubuh Mentari yang berdiri membelakangi sambil tersenyum.


"Akhirnya kita bertemu lagi setelah menempuh persimpangan jalan yang berbeda," ujar Bintang.


"Kita mungkin akan terus bersama jika kau tidak keluar jalur. Namun, jangan pernah mengharapkan rasa ini akan utuh seperti semula sebab cintaku hanya utuh untuknya. Untuk orang yang engkau anggap sebagai Muhallil," ucap Mentari.


Bintang menghela nafas panjang lalu melepaskan pelukannya.


"Ternyata aku salah sangka. Maaf aku mandi dulu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2