HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 268. Maafkan Aku lagi


__ADS_3

Mendengar kepasrahan dari Mentari, Bintang tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan membawa istrinya ke atas kasur.


"Kau yakin mau melakukannya?" tanya Mentari.


"Apakah aku terlihat bercanda?"


Mentari menggeleng. "Tapi di sini ada Izzam Mas," protes Mentari. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana saat dirinya sedang berhubungan intim dengan Bintang tiba-tiba Izzam terbangun.


"Sebentar saja, saya yakin tidak akan membangunkan dia."


"Baiklah," ujar Mentari pasrah walaupun dalam hati ragu.


Bintang pun langsung mendudukkan Mentari di atas ranjang kemudian membaringkannya secara lembut.


"Mas–" Mentari hendak protes lagi. Namun sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Bintang mampu membangkitkan gairah wanita itu. Pikiran Mentari langsung melayang ke 5 tahunan yang lalu pada malam saat dirinya pertama kali dijamah oleh Bintang.


"Mas!" Mentari menatap intens wajah Bintang. Tidak ada yang berubah di sana bahkan garis wajah Bintang pun juga tidak ada yang berubah meskipun umurnya sudah semakin tua.


"Heh?" tanya Bintang sambil menghentikan aksinya sementara.


"Tidak, aku tidak ingin ngomong apa-apa." Mentari langsung menutup mulut.


Bintang tersenyum lalu melanjutkan aksinya. Mereka berdua menyambut pagi dengan gejolak yang tertahankan. Letupan perasaan cinta dan hasrat yang sudah lama tak menemukan muaranya akhirnya melebur dalam satu rasa. Rasa nikmat dan puas yang tiada tara membuat mereka melupakan segalanya.


"Ummi!" Saat sedang fokusnya menikmati indahnya surga dunia, suara Izzam membuyarkan konsentrasi mereka.


"Mas!" Mentari terlihat panik, Bintang menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan tubuh Mentari.


"Apa Sayang?" tanya Bintang memiringkan tubuhnya ke arah Izzam dan membelakangi tubuh Mentari sebab wanita itu terlihat syok.


Izzam tidak menjawab, ternyata anak itu hanya mengigau saja.


"Izzam!" bisik Bintang, tetapi anak itu tidak menjawab juga.


Bintang menggerakkan tangannya di depan mata Izzam untuk mengecek apakah anak itu tidur ataukah bangun.


"Ah ternyata dia hanya mengigau saja," ucapnya lalu bernafas lega dan mengubah posisinya menghadap Mentari.


"Kita lanjutkan!" Ucapan Bintang langsung membuat Mentari terbelalak. Namun, akhirnya dia mengangguk saja.


Baru lima menit melanjutkan aksi mereka yang tertunda, terdengar suara Izzam lagi.

__ADS_1


"Papi!"


"Tuh kan Mas." Mentari meringis menyadari keadaannya sekarang sangatlah tidak pas untuk menikmati malam pertama. Apalagi Izzam ada di samping mereka berdua.


"Izzam ada apa sayang?" tanya Bintang.


"Terima kasih papi mobil truk nya bagus sekali," kata Izzam.


"Dia hanya bermimpi, sebentar Me!" Bintang memasang sarungnya kembali lalu bangkit dari ranjang dan menggendong Izzam lalu membawanya keluar ruangan.


"Mas mau dibawa kemana?"


"Ssst! Jangan berisik," bisik Bintang agar Izzam tidak benar-benar terbangun.


"Tapi sarung Mas Bintang melo–"


"Bintang langsung mengalihkan pandangan pada sarung yang membungkus bagian bagian bawah tubuhnya yang kini melorot karena memang memasangnya secara sembarangan sebab terlalu terburu-buru.


Bintang mengangguk dan langsung berjalan cepat keluar kamar sebab merasa tanggung juga jika menaruh tubuh Izzam kembali.


"Mas Bintang!" geram Mentari


"Sudah kubilang tadi nggak percaya," protes Mentari pada Bintang, tapi yang mendengar hanyalah angin saja.


Setelah menidurkan Izzam di kamarnya sendiri, Bintang segera kembali ke kamar mereka lalu menguncinya dari dalam.


"Sekarang tidak akan ada yang menganggu kita lagi," ucap Bintang.


"Masih mau dilanjutkan?"


"Lah apa gunanya aku membawa Izzam pergi sebentar kalau berakhir sampai di sini?"


"Baiklah." Mentari tidak ingin memperlambat keadaan sebab kasihan Bintang jika menahan hasratnya terlalu lama. Bisa-bisa hasrat yang ada di ubun-ubun itu terjun bebas kembali.


Mereka pun melanjutkan permainan mereka dan berakhir tepat adzan subuh berkumandang.


"Terima kasih ya Me," ucap Bintang lalu mendekap tubuh Mentari dan seakan tidak mau melepaskannya. Dalam sekejap pria itu langsung tertidur.


Bintang membuka mata saat mendengar suara tangisan. Saat dia perhatikan tenyata suara itu berasal dari Mentari.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Bintang melihat Mentari tergugu di samping ranjang. Wanita itu tidak menjawab.

__ADS_1


Bintang mendekati Mentari lalu mendekap tubuh sang istri sambil menyingkap anak rambut Mentari yang menutupi matanya.


"Hei apa ada yang sakit? Apa aku melakukannya terlalu kasar tadi?" Bintang khawatir Mentari kesakitan akibat ulahnya tadi. Ya Bintang menyadari dirinya terlalu agresif sebab sudah terlalu lama tidak pernah menyentuh wanita sedangkan Mentari sendiri mungkin akan merasakan kesakitan karena sudah lama tidak tersentuh.


Wanita itu hanya terlihat menggeleng.


"Terus kenapa?" tanya Bintang sambil mengusap kepala sang istri.


"Maafkan aku. Apa yang kamu lakukan tadi mengingatkanku akan Abi. Jam-jam segini biasanya dia yang memberikan kehangatan untukku." Mentari tidak sengaja berbicara seperti itu. Dia langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


"Oh ingat dia?" Ekspresi Bintang terlihat datar. Pria itu memunguti pakaiannya lalu berjalan ke kamar mandi.


"Mas Bintang, maafkan aku!" teriak Mentari. Dia merasa bersalah, Bintang pasti sangat kesal padanya mendengar ia menyebut mantan suaminya. Seperti halnya dulu ia kesal ketika Bintang menyebut nama Katrina di depannya.


Beberapa saat kemudian Bintang keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang.


"Mas Bintang maafkan aku," ucap Mentari lagi sambil menunduk. Dia tidak ingin melihat ekspresi Bintang yang mungkin saja marah padanya.


"Sudahlah tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya tahu kamu masih dalam situasi berkabung karena telah kehilangan ustadz Alzam. Keadaanlah yang memaksamu untuk menerima diriku kembali secepat ini. Aku mengerti keadaanmu yang tidak mungkin bisa melupakan dia dalam waktu sesingkat ini."


Padahal waktu 2 tahun bukanlah waktu yang singkat dan keadaan berkabung itu seharusnya sudah lama berakhir. Namun, Bintang merasa sikap Mentari seperti baru ditinggalkan oleh ustadz Alzam.


"Maafkan aku yang belum bisa melupakan dia. Aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi."


"Tidak masalah, aku tidak ingin membuatmu melupakan dia, tetapi bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu. Cukup kau terima kehadiranku di sisimu. Jangan lupakan dia, bagaimanapun dia adalah Abi dari Izzam. Namun, anggaplah aku juga ada Me."


"Mas Bintang, aku tidak bermaksud menganggap dirimu tidak ada tapi ...,"


"Sudahlah Me, jangan terlalu dipikirkan aku tidak apa-apa. Mandilah sana, sebentar lagi adzan subuh berkumandang jadi kita masih bisa sholat tahajjud bersama."


Mengapa aku jadi mengingat Abi lagi sih. Kenapa coba ucapannya seperti abi saat membangunkan ku untuk sholat tahajjud. Rohmu tidak menyusup ke Mas Bintang kan Abi? Astaghfirullah hal adzim.


"Kenapa masih bengong? Ayolah Me mumpung Izzam tidak bangun."


"Mas Bintang tidak sadar ya bahwa ini sudah memasuki waktu subuh?"


"Apa?!" Bintang benar-benar tidak menyangka dirinya bisa menggauli istrinya terlalu lama padahal Bintang sebenarnya takut masih loyo seperti dulu. Namun, meskipun tidak pernah diasah ternyata alat kelaminnya masih berfungsi dengan baik.


"Iya Mas." Mentari turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaan dengan sang suami.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2