
"Dasar, ini semua gara-gara kamu." Bintang memarahi guling yang hanya bisa diam membisu dan pasrah.
Bintang lalu melempar guling itu sembarangan karena masih teramat kesal seolah hal yang terjadi seutuhnya kesalahan bantal guling itu. Kalau saja bantal guling itu tidak jatuh pastilah sekarang Bintang bisa meneruskannya mimpinya. Tak apalah dia hanya bertemu dengan Mentari dalam mimpi malam ini daripada tidak sama sekali.
Bintang naik kembali ke atas kasur, menatap langit-langit kamar sambil berharap pada Tuhan pertemuannya dengan Mentari bukanlah hanya mimpi semata. Bintang berdoa agar mimpi itu benar-benar akan terwujud besok.
Lelah kembali terasa pada tubuhnya apalagi ditambah terjatuh tadi. Rasanya tubuh Bintang seperti remuk saja.
"Aku harus datang ke tukang pijit besok." Bintang adalah pria yang malas berolahraga tidak seperti papanya yang gemar berolahraga. Saat tubuhnya terasa kaku dan sakit ketika akan digerakkan maka dia lebih memilih untuk datang ke tukang urut langganannya untuk membuat aliran darah yang tidak lancar bisa lancar kembali dengan pijitan tukang urut.
Bintang menguap menahan kantuk. "Ah tidur saja deh, besok harus kerja."
***
Di tempat lain Mentari mondar-mandir tak karuan. Dia menyesal tadi tidak meminta Gala untuk menghentikan mobilnya di depan toko pakaian. Kalau begini dia kan tidak ada baju ganti.
"Astaga kecut banget ini." Mentari mencium baju yang dipakainya sendiri yang sejak dari tadi pagi masih belum terganti. Tadi pagi dia terpaksa meminjam baju pembantu Gala saat pria itu mengajak Mentari ke kantor Tuan Winata.
"Kenapa gelisah seperti itu?" tanya Gala melihat Mentari banyak gerak dan terlihat bicara sendiri.
"Pak antarkan aku beli baju dong, masa aku harus terus pakai baju ini," keluh Mentari. Tak mungkin kan Mentari meminjam baju si bibi kembali. Dia masih merasa sungkan kalau meminjam terus.
Gala tepuk jidat, mengapa dirinya sampai lupa tadi mengantar Mentari ke toko pakaian. Bukankah saat ke rumah Tuan Winata dirinya dan Mentari tidak mendapatkan barang-barang Mentari yang ingin diambil oleh keduanya.
"Oh, jadi itu alasan kamu masih belum mandi sampai sekarang?"
Mentari mengangguk. Memang benar dirinya tidak mandi karena tidak ada baju ganti. Percuma dong mandi kalau bajunya yang masih bau keringat harus dipakai lagi sedangkan bajunya sendiri belum sempat dia cuci.
"Baiklah ayo kita pergi sekarang!" ajak Gala pada Mentari.
__ADS_1
Mentari mengangguk dan langsung bergegas hendak keluar rumah. Gala menyusul di belakangnya.
"Mau kemana lagi? Kenapa kalian selalu meninggalkan papa?" Tama terlihat begitu manja kini saat ada Mentari.
"Mau beli pakaian untuk Mentari Pa, kasihan dia tidak ada baju ganti," jelas Gala.
"Kenapa tidak memakai pakaian mamamu saja?"
Gala mengernyit, bukankah Tama tidak pernah mengizinkan orang lain menyentuh pakaian istrinya itu. Kalau saja itu tidak terjadi mungkin Gala sudah memberikan baju-baju mamanya kepada orang yang mau memakainya.
"Jangan Pa, biar saya belikan Mentari yang baru saja. Kasihan dia kalau harus pakai baju bekas. Bukankah papa sudah menganggap Mentari seperti anak papa sendiri jadi papa harus merawat Mentari juga," rayu Gala.
"Tapi aku tidak ingin ditinggal," rengek Tama seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal ibunya pergi. "Kalau kalian pergi aku ikut," lanjutnya.
"Tapi ini sudah malam, papa tidak boleh keluar malam terus," bantah Gala.
"Ya sudah Pak, Mentari tidak apa-apa kok kalau diizinkan akan memakai baju mama pak Gala untuk sementara waktu sampai baju-baju Mentari bisa diambil di rumah papa."
Namun, bagi Mentari semua itu tidak masalah sama sekali. Dia bukanlah wanita yang perfect yang tidak mau menggunakan bekas orang lain. Dia sudah biasa bertukar pakaian dengan Alya saat di kampung bahkan kadang ada tetangga yang punya baju masih layak dipakai tetapi sudah tidak muat di tubuh mereka, mereka memberikannya pada Mentari.
Ah Kadang Mentari benci dengan sikapnya ini. Mungkin karena terbiasa memakai pakaian bekas Tuhan juga menakdirkan dirinya punya suami bekas orang lain. Eh salah bukan bekas karena Bintang belum mau dibuang oleh Katrina.
"Iya Pak saya yakin."
"Kamu tidak apa-apa memakai barang bekas mama?" tanya Gala meyakinkan.
"Iya Pak tidak apa-apa yang penting masih layak pakai."
Gala benar bangga pada Mentari, wanita itu memang terlihat apa adanya dan tidak mau merepotkan orang lain. Padahal dia bisa saja kan menuntut pada Gala dan Tama karena merekalah yang memaksa Mentari tinggal di rumah mereka.
__ADS_1
"Ayo!" Tama melambaikan tangannya agar Mentari ikut bersamanya.
Mentari mengangguk dan mengikuti langkah kaki Tama menuju kamar tidurnya. Untuk memastikan keamanan Mentari, Gala menyusul keduanya.
Tama terlihat membuka lemari pakaian almarhumah sang istri.
"Silahkan kamu pilih yang kamu sukai atau dibawa ke kamarmu semua juga boleh. Bibi sudah menunjukkan kamarmu yang mana, kan?"
"Iya, sudah Pa." Mentari menjawab dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Gala menghela nafas karena ketika melihat senyuman Mentari Tama begitu antusias dan seperti mempunyai semangat hidup lagi. Bagi Gala senyuman Mentari juga menyiratkan seolah-olah semuanya akan baik-baik saja.
"Ambillah beberapa Me dan kembalilah ke kamarmu. Kau harus segera mandi karena setelah ini kita akan makan malam bersama," titah Gala.
Mentari mengangguk lalu menarik beberapa potong pakaian karena dia tidak tahu sampai kapan akan bisa mengambil baju-bajunya di rumah Tuan Winata.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit. Kini Mentari sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Setelah memoles tipis wajahnya dengan bedak dan menyemprotkan parfum dia turun ke bawah menemui Gala dan Tama yang telah terlebih dulu menunggu di meja makan.
"Selamat malam Pa, selamat malam Pak Gala!" Sebelum sampai pada tangga terbawah, terlebih dahulu Mentari menyapa keduanya.
Kedua laki-laki itu menoleh dan terpukau melihat penampilan Mentari yang begitu mempesona.
Gala sangat terpukau dengan kecantikan Mentari yang begitu cantik dengan polesan make up tipis dan baju dari Rosa yang menambah aura kecantikannya. Apalagi posisi Mentari sekarang berada dibawah sorot lampu yang semakin menambah kesan cerah dan bersinar di wajahnya.
"Benar-benar kecantikan yang paripurna," batin Gala
Sedangkan Tama yang melihat Mentari memakai baju Rosa malah menganggap wanita itu semakin terlihat mirip saja dengan almarhumah istrinya.
"Selamat malam semuanya," ulang Mentari karena merasa risih melihat keduanya malah memandang tak berkedip pada dirinya.
__ADS_1
Gala tersadar dari lamunannya. "Ah iya, ayo silakan duduk kita langsung makan sekarang," ucap Gala untuk menghindari kecanggungan diantara mereka bertiga.
Bersambung.