HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 262. Hari Ultah


__ADS_3

Ternyata kabar baik yang didengarnya tak lantas membuat Izzam lekas sembuh, buktinya sampai hari ketiga dia masih belum pulang dari puskesmas.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Bintang yang menyempatkan mengunjungi Izzam di tengah-tengah kesibukannya di kantor. Bukannya pergi makan siang pria itu malah menjenguk Izzam di Puskesmas.


"Suhu tubuhnya sudah stabil, kata dokter nanti sore dia sudah bisa pulang." Semenjak mengambil keputusan untuk menerima lamaran Bintang, Mentari mencoba bersikap ramah kembali terhadap Bintang padahal sebelum-sebelumnya terkesan acuh terhadap pria itu.


"Nanti sore aku jemput."


"Tidak usah Mas, Mas Bintang fokus bekerja saja," tolak Mentari. Dia tidak ingin merepotkan orang lain sebab masih ada keluarga dekat yang bisa dimintai tolong. Mentari lupa, bahkan jika tidak ada rencana pernikahan antara mereka berdua, Izzam pun masih memiliki tali kekerabatan dengan Bintang.


"Ayolah Me, Gala baru balik nanti sore dari luar kota dan kau tidak mau kan dia mengebut di jalanan jika harus menjemput Izzam?"


"Ada papa Mas, jadi Mas Bintang tidak perlu khawatir."


"Tidak perlu merepotkan paman mereka sedang membantu Sarah di rumah. Sekarang kita makan dulu," putus Bintang lalu menyodorkan bungkusan di tangannya.


"Apa ini Mas?" tanya Mentari sambil membuka bungkusan itu.


"Gado-gado, bukankah dulu kamu menyukai makanan itu?"


Mentari hanya mengangguk.


"Untuk Izzam aku belikan sup krim jagung, katanya itu bagus buat orang yang demam."


"Mas Bintang repot-repot harusnya tidak usah, kan Izzam sudah ada jatah makan dari puskesmas ini sedangkan saya bisa beli di kantin, di luar sana."


"Sudahlah tidak apa-apa, saya tidak repot kok tadi aku beli di rumah makan dekat perusahaan."


"Mas Bintang sendiri sudah makan?"


"Sudah tadi, lebih baik kamu makan sekarang biar saya yang nyuapin Izzam." Terpaksa Bintang berbohong agar Mentari segera makan sebab menurut Tama semenjak Izzam dirawat di tempat itu Mentari jarang makan.


"Mau kan sayang?" Bintang beralih menatap pada anak yang sedari tadi hanya diam saja dan Izzam hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kenapa dari tadi hanya diam saja?" tanya Bintang sambil membuka cup dan langsung menyuapi Izzam setelah sebelumnya sempat meniup-niup sup yang hangat itu.


"Izzam lelah papi," jawab anak itu yang masih merasa belum bertenaga.


"Iya tubuhmu itu masih dalam pemulihan, wajar jika masih merasa lelah dan lemah, makanya harus banyak makan."


"Iya papi," jawab Izzam sambil terus membuka mulut saat Bintang menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Habiskan Me!" ujar Bintang saat melihat Mentari bersemangat makan.


Mentari hanya mengangguk kemudian fokus kembali pada gado-gado di depannya yang seolah-olah melambai minta dihabiskan.


Bintang tersenyum melihatnya. Ternyata Mentari masih seperti dulu. Masih sesederhana itu dalam makanan. Padahal melihat kondisi ekonominya saat ini yang merupakan anak orang kaya Mentari bisa saja membeli makanan yang lebih enak di luaran.


Selesai menyuapi Izzam, Bintang pamit untuk kembali ke kantor dan kembali pada sore hari untuk menjemput Izzam.


"Sudah siap?" tanya Bintang yang melihat Mentari sudah berkemas dan Izzam sendiri sudah duduk di tepi ranjang.


"Sudah, tapi menunggu papa yang masih ada dalam perjalanan."


"Tadi Paman menelpon, katanya tidak bisa menjemput karena sangat sibuk, jadi beliau mengutusku untuk menjemput kalian." Padahal sebenarnya Bintang sendiri yang menelpon Tama dan mengatakan keinginannya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Mentari pasrah padahal sangat berharap sang papa meluangkan waktu agar sebelum Bintang menjemput mereka berdua sudah pulang duluan.


"Ayo biar aku yang menggendong Izzam." Bintang langsung meraih tubuh keponakannya itu dan menggendong keluar dari kamar rawat.


Mentari hanya menatap punggung Bintang dari belakang lalu menggeleng. Wanita itu merasa Bintang mencari perhatian dan itu membuat Mentari sedikit tidak suka.

__ADS_1


"Ya Allah kenapa perasaanku masih ragu untuk menikah dengannya? Aku takut tidak bisa mencintainya seperti dulu lagi. Dosakah jika aku masih mencintai orang lain setelah aku menjadi istrinya nanti?" Mentari memejamkan mata, meskipun sudah dua tahun ditinggal mendiang ustadz Alzam, tapi cintanya tidak pernah terkikis sedikitpun.


Di depan sana Bintang menoleh karena tidak mendengar langkah kaki Mentari di belakang dirinya berjalan.


"Me, ayo!"


"Ah, iya Mas." Dengan setengah berlari Mentari menyusul Bintang dan putranya.


Kini mereka bertiga sudah duduk dalam mobil tanpa ada satupun yang berbicara. Mereka sama-sama asyik menikmati pemandangan di sekitar jalanan.


"Nah sudah sampai," ucap Bintang sambil menoleh ke arah Izzam. Anak itu mengangguk sebelum akhirnya digendong turun oleh Mentari.


Bintang tidak mengikuti langkah Mentari melainkan mengambil kado terlebih dahulu di bagasi mobilnya.


"Tara!" Selamat ulang tahun Izzam dan selamat kembali ke rumah." Sarah dan semua penghuni rumah menyambut kedatangan Izzam di pintu sambil memegang kado masing-masing.


Gala tampak menusuk beberapa balon sehingga suasana menjadi ramai.


Izzam yang berada dalam gendongan Mentari langsung merosot dan berlari ke dalam rumah. Anak itu ceria dan bersemangat kembali, bahkan yang tadinya merasa tidak ada tenaga kini langsung seperti orang sehat.


Anak itu melihat seluruh ruang tamu yang sudah dihias indah. Kini anak itu mendekat ke arah meja dimana sudah ada kue tart bergambarkan kartun Bus Tayo kesukaannya.


"Ummi!" serunya ketika Mentari menyusul dirinya.


"Kenapa sayang?" tanya Mentari sambil tersenyum.


"Izzam suka ini semuanya," ucap anak itu dengan senyuman yang terus saja mengembang.


"Alhamdulillah kalau begitu sayang. Barakallah fi umrik ya sayang. Semoga Izzam panjang umur, jadi anak yang baik, shaleh, sukses dunia akhirat, dan bahagia selalu," ucap Mentari sambil mengecup kening putranya.


"Terima kasih ya Ummi, Ummi memang yang terbaik." Izzam mendekap erat tubuh Mentari membuat semua orang terharu.


"Terima kasih ya semuanya sudah membantu Meme, padahal Meme ingin menyiapkan sendiri. Namun, apalah daya takdir berkata lain dan aku harus merepotkan kalian semua," ujar Mentari sambil berlinang air mata.


"Iya Me, sudah tidak usah sungkan. Kalau butuh bantuan katakan saja pada kami, kami siap membantu," ujar Nanik disertai anggukan semua orang.


"Terima kasih ya Mbak Nanik, Mega, kalian sudah meluangkan waktu untuk membantuku," ujar Mentari sekali lagi.


"Tidak usah berterima kasih Me, sebab ini sudah tugas kami, kalau kami tidak mau bisa dipecat oleh Bos," timpal Mega membuat Sarah hanya terkekeh.


Lalu semua orang satu persatu memberikan kado mereka.


"Terima kasih Tante," ujar Izzam sambil mengambil kado satu persatu dari tangan Mega, Nanik, Sarah dan Gala, juga Bintang.


"Terima kasih Om, papi."


"Kalau Opa tidak punya kado barang, tapi Opa sudah menyiapkan kamar seperti dedek Gaffi untuk Izzam," ujar Tama dan langsung membuat Izzam penasaran.


"Mau lihat?"


"Iya Opa."


"Oke ayo!" Tama segera menggendong tubuh Izzam.


"Sebentar ya semuanya!" Setelah pamit Tama segera membawa Izzam ke dalam kamarnya.


"Wah!" Anak itu kagum dengan kamarnya sekarang.


"Bagus?" tanya Tama.


"Bagus," jawab Izzam.

__ADS_1


"Izzam suka, kan? Itu di dinding-dinding sudah ada gambar beberapa film kartun kesukaan Izzam. Izzam suka, kan?"


"Suka, tapi–" Raut anak itu kembali sedih.


"Tapi kenapa?"


"Berarti Izzam tidak akan tidur lagi dengan Ummi." Tama tidak habis pikir dengan Izzam yang seolah mengerti dengan jalan pikirannya.


Tama memang sengaja membuatkan kamar tersendiri bagi cucunya agar tidak menggangu malam pertama putrinya nanti.


"Nggak masih bisa kok, ini kamar Izzam bisa dipakai apabila ingin tidur sendiri. Pokoknya sesuka hati Izzam deh mau tidur di sini atau di kamar ummi. Lagipula ini kamar kan sebelahan dengan kamar ummi. Jadi Izzam bisa berpindah dengan cepat apabila menginginkan."


Barulah Izzam ceria kembali mendengar penjelasan opanya.


"Sudah yuk kita ke bawah, sudah ditunggu pastinya oleh orang-orang."


Sampai di bawah, orang-orang menyayikan lagu ulang tahun saat Tama dan Izzam menuruni tangga.


Ketika Tama kembali ke bawah, dia langsungmenyuruh Bintang untuk memimpin doa sebelum akhirnya menyuruh Izzam untuk memotong kuenya.


"Ummi mau nasi Kuningnya aja," ucap Mentari saat Izzam terlihat akan memotong kue tartnya.


Izzam mengangguk. Namun, sudah terlambat sehingga Izzan sudah berhasil memotong kue.


"Ya udah deh ini untuk papi aja," ujar Izzam sambil menyodorkan kue ke tangan Bintang.


"Amazing loh Bin, belum jadi ayahnya saja, Izzam sudah menomor satukan dirimu. Kami kalah denganmu bahkan Cahaya juga," protes Gala.


Bintang terlihat cuek. "Terima kasih sayang," ucapnya pada Izzam lalu memakan kuenya.


Izzam mengangguk lalu beralih memotong nasi kuning dan menyuap ke mulut Mentari.


"Terima kasih ummi," ucapnya antusias.


Setelah itu Mentari langsung membantu Izzam memotong kue untuk membagi-bagikannya kepada yang lain.


"Oh ya Kak kami juga sudah membelikan kado yang dipesan Kak Mentari untuk kado Izzam, ujar Sarah dan langsung menunjuk ke arah sepeda yang Juga nampak dihias.


"Wah terima kasih ya Sarah, berkat engkau semua berjalan lancar."


"Alhamdulillah Kak, tidak usah berterima kasih padaku."


Selanjutnya Mentari langsung membawa Izzam ke dekat sepedanya.


"Bagus nggak sayang?"


Izzam mengangguk.


"Ini dari ummi?" Izzam terlihat ragu untuk menyentuh.


"Iya Sayang, sesuai janji Ummi, kan Ummi akan membelikan sepeda saat Izzam sudah berumur 3 tahun."


"Terus hadiah ayahnya?" Anak itu terlihat bingung.


"Tetap sayang, ummi akan tetap menikah dengan papi Bintang," ujar Mentari sambil memandang wajah Bintang dan pria itu terlihat mengangguk.


"Tapi hadiah yang itu jangan sekarang ya Sayang! Ummi sama papi belum siap, oke? Tapi nanti pasti ummi akan menepati janji," imbuh Mentari.


"Asyik, Izzam dapat kado banyak!" Anak itu berteriak kegirangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2