
Saat Izzam berteriak kegirangan Tuan Winata dan Arumi datang bersamaan dengan mertua perempuan Mentari. Tentu saja mereka semua tidak datang dengan tangan kosong, melainkan juga memberikan kado untuk cucu mereka.
Tak banyak yang datang karena keluarga Tama hanya mengkhususkan ultah itu untuk dihadiri keluarga dekat saja, kecuali Mega dan Nanik yang memang diundang sekaligus untuk membantu persiapan ulang tahun Izzam.
Setelah acara ulang tahun usai mereka makan-makan bersama, barulah sekeluarga mendiskusikan tentang hari pernikahan antara Mentari dan Bintang sedangkan Izzam dan Gaffi tampak asyik bermain balon. Bahkan keduanya suka membuat balon itu meledak secara mendadak sehingga membuat para orang tua kadang kaget.
Dari Hasil diskusi keluarga mereka sepakat bahwa pernikahan antara Mentari dan Bintang akan diadakan bulan depan dan juga akan digelar dengan sederhana karena permintaan keduanya, terutama Mentari yang merasa malu pada orang-orang sebab dirinya telah menikah untuk yang ketiga kalinya. Mentari takut orang-orang menganggap dirinya gagal dalam pernikahan walaupun sebenarnya orang-orang sudah tahu bahwa dirinya dengan ustadz Alzam hanyalah bercerai mati. Entahlah Mentari benar-benar tidak percaya diri pernikahan mereka dihadiri orang banyak.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke butik untuk urus baju pernikahan?" usul Arumi.
"Jangan sekarang Ma, besok saja mumpung hari Minggu Bintang libur kerja. Kalau sekarang khawatir Mentari masih capek karena sehabis dari rumah sakit dan pastinya beberapa hari ini jarang tidur," tolak Bintang.
"Bagaimana Nak Mentari, bisa kan besok?"
"Bagaimana kalau Mama yang nentuin saja, Meme tinggal terima beres." Mentari sebenarnya malas kemana-mana sekaligus sebenarnya tidak bahagia dengan pernikahan ini. Ya, dirinya memang terpaksa demi kebahagiaan sang putra. Namun, demikian Mentari merasa harus berhati-hati bersikap sebab tidak ingin membuat semua pihak kecewa, terutama Bintang.
"Takut nggak pas ukurannya Nak Meme, lebih baik ikut saja ya!" bujuk Arumi.
Mentari terlihat berpikir sejenak.
"Ikut saja Kak, nanti kalau nggak sesuai selera dengan Kak Mentari bagaimana? Nanti Tante Arumi yang akan disalahkan oleh semua orang."
Perkataan Sarah didukung oleh Tama dan Gala, terbukti keduanya mengangguk-angguk setuju.
Mentari menatap mertuanya yang juga terlihat mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah besok saya ikut." Akhirnya Mentari pasrah.
Esok hari.
Jam 8 pagi Arumi dan Bintang sudah berada di rumah Tama untuk menjemput Mentari.
"Sudah siap?" tanya Bintang dan Mentari hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ummi ikut!" Melihat Bintang menjemput Mentari, Izzam merengek sambil memegang bagian bawah tunik yang dipakai Mentari.
"Izzam di rumah saja ya, ummi paling hanya sebentar." Mentari bukannya tidak ingin membawa putranya itu, akan tetapi khawatir dengan keadaan Izzam yang belum benar-benar pulih. Mentari takut Izzam akan masuk angin jika hari ini dibawa bepergian.
Mendengar penolakan dari Mentari bibir Izzam langsung mengerucut. Dia cemberut dan hampir menangis dengan wajah yang menunduk.
Tidak ingin Izzam sedih Bintang langsung menerima permintaan anak itu.
"Ya sudah Izzam boleh ikut."
Anak itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Bintang tidak percaya.
"Boleh Papi?" tanya anak itu untuk memastikan dirinya benar-benar bisa ikut serta.
"Boleh dan ambil jaketmu dulu!"
Anak itu kini mengulas senyum. Namun, beberapa kemudian beralih menatap Mentari dengan tatapan yang mengiba. Dia takut umminya akan marah.
"Sudah sana!" perintah Mentari dan anak itu langsung berlari menaiki tangga.
"Jaketmu ada di atas ranjang Izzam!" sambung Mentari ikut berteriak.
Setelah mereka siap berangkat Gaffi pun merengek untuk ikut dengan kakak sepupunya itu. Ketika dilarang anak itu malah menarik kaos yang dikenakan Izzam.
"Yasudah Sarah kamu ikut saja," ujar Bintang.
"Mas?" Sarah meminta pendapat Gala, takut-takut suaminya tidak memberi izin.
"Ikut saja," ujar Gala dan semuanya pun ikut ke butik langganan Arumi.
Saat Bintang dan Mentari mencoba memakai baju pilihan Bintang kedua anak kecil merengek dan juga meminta ingin memakai baju yang sama.
"Ya ampun aku pusing nih dengan kalian," keluh Sarah menghadapi kedua anak kecil di sampingnya.
__ADS_1
"Ya sudah nanti dibuatkan yang kecil ya, tante mau jahit-jahit dulu," bujuk pemilik butik untuk menghentikan rengekan mereka.
Izzam mengangguk senang dan Gaffi pun mengekor kakaknya. Mengangguk-angguk dengan antusias.
"Dasar anak kecil," ucap Sarah sambil menggeleng.
"Tapi kayaknya lucu deh kalau mereka dibuatkan pakaian yang sama dengan ini, bagaimana kalau dijahitkan beneran?" usul Gala.
"Terserahlah asal gratis," ujar Sarah lalu terkekeh.
"Dasar pelit," cibir Bintang dan Sarah malah tertawa.
"Nggak malu ya sama jabatan suami?" kelakar Bintang lagi.
"Nggaklah, kan yang punya acara bos yang satunya lagi. Anggap saja mereka berdua dayang kalian," ujar Sarah kembali terkekeh.
Bintang hanya menggeleng kemudian meminta pemilik butik untuk mengukur kedua anak itu. Tentu saja kedua anak kecil itu sangat antusias dan mengikuti aba-aba yang diperintahkan oleh pemilik butik saat mengukur tubuh mereka.
"Tapi ini cocok menurutmu Me?" tanya Bintang meminta pendapat Mentari.
"Kalau menurut Mas Bintang?" tanya Mentari sambil menilik gaun putih dengan aksen manik-manik yang menempel di tubuhnya.
"Pas di tubuhmu, kau semakin cantik memakai itu. Rasanya sedap di mata dan tidak bosan dipandang."
"Ehem-ehem, jangan manis-manis takutnya diabet," ujar Sarah lalu terkekeh.
"Ckk, merusak suasana," protes Bintang sambil tersenyum.
"Ummi aku pengen baju itu!" Izzam menunjukan sebuah baju anak kecil yang tergantung di salah satu ruangan dalam kaca.
"Gaffi uga mau Ma ... mi." Gaffi ikut-ikutan.
"Masyaallah kalian kayak anak kembar saja," ucap Mentari sambil mengusap kepala kedua anak kecil itu.
__ADS_1
"Yasudah ambil saja Sarah biar saya yang bayar nanti," ujar Mentari.
Bersambung.