HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 106. Tak Tega


__ADS_3

"Tapi ini malah lowongan di panti pijat." Mentari tampak kecewa setelah membaca dengan seksama tulisan di kertas itu.


"Tapi ...." Dia mulai ragu melihat isi rekeningnya yang tidak seberapa. Mentari menarik kertas tersebut.


"Baiklah aku akan mencoba, mungkin ilmu yang di dapatkan saat sekolah dulu bisa berguna kali ini." Mentari mengingat dia pernah ikut ilmu pijat yang diadakan guru keseniannya dulu dengan mengundang tenaga ahli sebagai pengajarnya dan saat itu Mentari iseng ikut.


Dia melihat alamat yang tertera dan langsung bergegas ke tempat tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang kasir perempuan muda menyambut dirinya dengan ramah.


"Kalau tidak salah si sini ada lowongan pekerjaan," ucap Mentari sambil memberikan kertas yang diambilnya tadi dari tiang.


"Oh iya benar," jawab perempuan itu tetap dengan senyum yang merekah.


"Kalau bisa tahu tenaga yang dibutuhkan dibagian apa ya?" tanya Mentari lagi. Dia berharap di bagian kasir atau di bagian yang lainnya yang tidak langsung sebagai tukang pijat. Tidak salah kan dia berharap lebih?


"Sebagai tukang pijat Mbak. Kebetulan di tempat ini menambah kelas yaitu kelas memijat bayi." Mentari tersenyum bahagia sepertinya dia tepat mendatangi tempat ini. Memijit bayi dirasa aman untuk dirinya dibandingkan memijit orang dewasa. Namun, resikonya juga ada dan sepertinya berat.


"Nanti kalau belum lihai akan ada yang ngajarin," ucap perempuan itu lagi.


"Baik Mbak saya mau." Mentari mengambil keputusan karena mengingat dirinya selalu ditolak saat melamar kerja ke kafe, restoran atau toko-toko yang ada di kota itu.


"Baiklah kalau begitu Mbak silahkan duduk dulu, saya akan memanggil bos saya."


Mentari mengangguk dan duduk. Perempuan muda itu tampak masuk ke dalam dan kembali dengan seorang pria setengah baya.


"Ini Bos yang katanya mau melamar kerja di tempat ini," lapor perempuan tadi.


Pria itu memandang wajah Mentari dan tersenyum. Mentari pun membalas senyum pria itu dengan ramah.


"Benar apa yang dikatakan dia?"


Mentari mengangguk.


"Kalau begitu aku tes dulu keahlianmu. Tenang saja meski tidak begitu lihai nanti akan ada yang mengajarimu."


Mentari menatap pria itu yang seakan tersenyum manis kemudian berganti menatap perempuan kasir itu yang hanya mengangguk. Mentari merasa ada yang aneh.


"Ayo masuk ke dalam. Di sana sudah banyak teman-teman yang sama denganmu. Ingin melamar kerja di tempat ini. Jadi mohon maaf nanti hanya ada beberapa yang akan kami ambil dan mendapatkan bimbingan." Mentari sedikit lega mendengar penuturan yang satu ini. Berarti di dalam banyak orang.


"Ayo!" ajak pria itu lagi dan Mentari mengangguk dan ikut masuk. Sampai di dalam saat tidak menemui ada orang satupun Mentari langsung curiga.


"Mana yang lainnya?" Mentari masih mencoba untuk untuk bersikap tenang dan bertanya.


"Masih ada di sana." Pria itu menunjuk ke arah depan. Mentari tidak jadi melangkah tetapi tetap diam dibalik pintu.


"Ayo!" pria itu menarik tangan Mentari.


"Aku tidak jadi bekerja di sini," ucap Mentari sambil membalikkan tubuhnya. Dia punya firasat yang buruk sekarang, seolah kalau masuk lebih dalam lagi ke ruangan itu dia akan terperangkap dalam hal yang buruk. Padahal saat tadi melihat bacaan di depan gedung kalau tempat ini sudah ada izin beroperasi Mentari yakin tempat ini pasti aman.


"Hei tidak ada yang boleh keluar begitu saja dari tempat ini sebelum melakukan perintahku." Pria itu tersenyum smirk sambil memainkan kunci di tangannya. Mentari baru sadar pintunya ternyata sudah dikunci.


"Hehe iya, aku juga butuh uang sih untuk menyambung hidup. Tadi cuma bercanda mau balik." Mentari terlihat terkekeh.


Pria itu mengangguk senang." Aku senang nih kalau dapat anak buah yang penurut."

__ADS_1


"Pastinya," ucap Mentari sambil tersenyum manis.


Pria itu memandang takjub ke arah Mentari. Wanita ini lebih terlihat cantik dari sebelumnya.


Buk!


Mentari menendang bagian tengah paha pria itu saat pria itu lengah.


"Auw." Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit.


"Maaf Pak tadi ada cicak di sana jadi saya reflek menendangnya," ucap Menteri sambil meraih kunci yang sudah terlepas dari tangan pria itu dan kini tergeletak begitu saja di lantai.


Setelah mendapatkan kunci buru-buru Mentari membuka pintu dan kabur.


"Hei mau kemana-mana kamu?" Pria itu mengejar Mentari dengan terkangkang-kangkang. Perempuan kasir tadi hanya memandang tidak mengerti.


"Saya tahu Bapak mau melakukan hal yang tidak senonoh pada saya. Bye!" Mentari kini sudah naik di atas sepeda motor sambil melambaikan tangan.


"Jalan Mas!" perintahnya pada sopir ojek online.


"Mbak memangnya mau diapain sama dia?" tanya sopir ojek online yang ternyata sempat mengantarkan Mentari ke apartemen dua hari yang lalu."


"Ceritanya panjang Mas, yang pasti dia ingin melakukan hal yang buruk padaku," jawab Mentari.


"Baiklah sekarang Mbak mau ke apartemen itu lagi?"


"Eh kamu yang waktu itu ya?" tanya Mentari baru menyadari siapa sopir ojeknya.


"Iya Mbak."


Sopir itu hanya mengangguk dan mempercepat laju motornya.


"Sekarang kemana Mbak?" tanya sopir ojek menyadari pria tadi tidak mengejarnya. Mentari bingung harus menjawab apa.


"Pulang ke apartemen, kah?"


"Oh tentu tidak, aku lagi mencari pekerjaan sekarang." Akhirnya berkata jujur.


"Jari pekerjaan yang seperti apa?" tanya pria itu lagi.


"Sembarang lah yang penting halal," sahut Mentari.


"Ih kalau begitu ada Mbak. Kemarin aku lihat salah satu toko emas mencari seorang karyawan perempuan. Kalau Mbak mau akan saya antarkan ke sana.


"Boleh, tapi kamu tidak akan menipuku kan kayak bapak tadi?"


"Emang tampang saya seperti orang jahat begitu Mbak!" protes pria itu.


"Kali aja, orang zaman sekarang susah dibedakan mana yang baik mana yang tidak. Mana yang tulus mana yang tidak."


"Wah kayaknya Mbak pengalaman dikecewakan," ujar pria itu.


"Sudah ah jangan banyak bicara antarkan cepat ke toko emas itu."


"Siap Mbak."

__ADS_1


Sampai di toko tersebut ternyata Mentari mendapat penolakan lagi. sebenarnya pemilik emas sudah mau menerima Mentari. Namun, saat salah satu karyawati berbisik di telinganya wanita itu mengurungkan niatnya.


"Sama suaminya aja dia nggak jujur, suka nyeleweng. Bagaimana kalau saat bekerja disini dia malah menyelewengkan emas atau uang hasil penjualan."


Mentari berdecak kesal dalam hati ingin rasanya dia mendorong perempuan itu hingga terjungkal ke belakang. Mentari kesal meskipun berbisik suaranya masih terdengar si telinganya.


"Maaf ya Mbak, saya tidak bisa menerima Mbak bekerja di tempat ini," sesal pemilik toko.


"Baiklah tidak apa-apa Bu. Terimakasih atas waktunya."


Mentari berbalik dan pergi.


"Bagaimana Mbak?" tanya tukang ojek tadi yang memang diperintahkan untuk menunggu oleh Mentari.


"Ditolak," jawab Mentari dengan nada kecewa. Dia baru sadar sekarang bahwa orang-orang tidak bisa menerima Mentari bekerja di tempat mereka karena alasan kabar perselingkuhan tersebut.


"Ada rekomen tempat lain tidak?"


"Sebentar ya Mbak?" pria itu tampak berpikir. "Ada sih sebenarnya, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Itu toko bangunan, jadi kerjanya kasar. Harus ngangkut-ngangkut barang berat.


"Ada perempuannya tidak yang bekerja di sana?"


"Ada, tapi cuma seorang dan dia kasir."


"Tidak apa-apa, antarkan saya ke sana!"


"Serius Mbak?"


"Serius lah masa aku bercanda."


"Okey."


***


Yakin Mbak nya mau bekerja di sini? Di sini kerja kasar loh, full pakai tenaga."


"Tidak apa-apa Pak, insyaallah saya mampu." Bagi Mentari biarlah bekerja seperti ini dulu sambil mencari-cari pekerjaan lain yang lebih cocok baginya.


"Lebih baik Mbak cari pekerjaan lain. Pekerjaan kuli seperti ini tidak cocok bagi wanita seperti Mbak."


"Apa Bapak meragukan kekuatanku? Baik akan saya tunjukkan." Mentari menggotong semen, kemudian kayu kemudian beralih ke dus yang berisi keramik.


"Apakah bapak masih ragu?" Pria-pria di samping Mentari terlihat kaget, pasalnya kalau dilihat dari postur tubuh Mentari. Wanita ini tidak memungkinkan bekerja berat.


"Jadi aku mohon untuk sementara terima saya yah!"


"Sebentar aku telepon Bos dulu." Salah satu pria yang Mentari tebak adalah mandor di tempat itu menelpon seseorang.


"Baiklah kalau dia memaksa terima saja," ucap ustadz Alzam dari balik telepon. Saat mendengar cerita Sarah pada Nanik bahwa Mentari keluar dari apartemen Bintang lelaki itu memutuskan untuk mengawasi Mentari dari jarak jauh. Bagaimanapun dia masih merasa kesusahan yang dialami Mentari ini tidak lepas dari kesalahan dirinya. Dari keinginan menolong berujung fitnah.


"Ah kasihan sekali kau Mentari, tapi aku kagum ternyata kau adalah wanita yang kuat," ucap ustadz Alzam lalu menyetir mobilnya kembali meninggalkan toko bangunan itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2