HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 211. Melarikan Diri


__ADS_3

"Apa?" Arka kaget lalu berbalik dan langsung berlari menuju lift.


"Kejar dia jangan sampai lolos!" teriak Aaron pada orang-orang yang duduk di samping pintu masuk ruangan. Semua orang pun berdiri dan siap siaga. Sesaat setelah melihat Arka keluar dari ruangan mereka langsung mengejarnya.


"Mati aku, kenapa tadi saat masuk tidak mencurigai bahwa orang-orang tersebut adalah para bodyguard." Arka semakin mengencangkan larinya dan orang-orang yang bertubuh kekar dan bertato tersebut berlari dengan langkah yang besar.


Hingga saat masuk ke dalam lift hampir saja seorang pria juga ikut masuk. Namun, pintu lift segera tertutup dan saat tangan pria itu hendak menahannya terlambat sudah.


"Kau kejar menggunakan lift lain dan saya akan melewati tangga. Perintahkan yang lain untuk mencegat pria tadi di depan pintu keluar!"


"Oh Tuhan aku harus lari ke arah mana?" Arka kebingungan melihat penjagaan ketat di lantai dasar. Arka merasa nyawanya akan tamat sekarang juga.


"Ampuni aku Tuhan aku banyak dosa. Beri kesempatan untuk bertobat." Menengadahkan tangannya ke langit lalu meraupnya.


Setelah menoleh dan melihat seorang OB dia tersenyum sebab tiba-tiba muncul ide di otaknya. Dia yakin orang-orang yang mengejarnya belum melihat wajahnya dengan jelas. Mereka pasti hanya akan mengenali dari baju yang dipakainya saja.


Arka dengan mengendap-endap menghampiri pria tersebut dan berbisik di telinga bapak-bapak itu.


"Oke Pak siap." Pria itu memperlihatkan jari jempolnya lalu melepaskan pakaiannya. Mereka bertukar pakaian dan Arka memberikan uang sebagai imbalan.


Dengan pakaian OB, Arka berbaur dengan karyawan lainnya yang sedang berdiskusi untuk melakukan aksi penuntutan terhadap pihak perusahaan agar gaji terakhir mereka diberikan.


"Jangan cuma rencana saja, lebih baik kita lakukan aksi protes sekarang juga!" Arka berbicara dengan setengah berbisik.


"Pak Arka?"


Arka mengangguk. "Saya siap membela kalian karena gaji saya pun belum dibayar bahkan bukan cuma 1 bulan, melainkan 3 bulan." Arka mulai memprovokasi semua karyawan yang berkumpul di sisinya sedangkan matanya melirik pada anak buah pemilik perusahaan yang tampak awas dan berjaga-jaga dari kemungkinan keluarnya orang yang diincar oleh mereka saat ini, lebih tepatnya dirinya sendiri.


"Jadi kita harus apa Pak Arka?"


"Demonstrasi sekarang juga biar kasus ini viral dan pemilik perusahaan akan semakin merasa malu jika tidak mampu menggaji kita semua."


"Ide yang bagus."


Seseorang mulai maju ke depan dengan meneriakkan tuntutan keadilan diikuti banyak orang di belakangnya.


"Hei ada apa ini?"


"Dimana kalian menyembunyikan ibu Starla? Kami akan menuntut gaji."

__ADS_1


"Tenanglah!"


"Bagaimana kami mau tenang kalau belum ada kepastian?" teriak seseorang.


"Perusahaan sedang mengalami masalah, biarkan kami berdiskusi dulu dengan para atasan dan beri kami waktu."


"Jangan bohongi kami. Kalau sampai gaji kami tidak dibayar jangan salahkan kami jika langsung berbondong-bondong mendatangi kediaman ibu Starla dan merusak fasilitas apa saja yang ada di sana. Bagaimana teman-teman?"


"Betul."


"Setuju."


"Setuju."


Suasana terdengar riuh, bahkan diantara mereka ada yang melakukan orasi seperti demonstrasi terhadap pemerintahan saja.


Namun, Arka tidak perduli dengan semua itu dan lebih memilih masuk diantara orang-orang dan berjalan di tengah-tengah mereka sehingga akhirnya sampai juga ke pintu gerbang perusahaan.


Saat melihat Arka menyetop taksi salah seorang anak buah dari suami Starla baru sadar bahwa dirinya terkecoh sebab saat itu yang tertangkap oleh mereka adalah seorang karyawan cleaning servis bukan Arka.


"Itu dia orangnya!"


"Kejar dia jangan sampai lolos!"


"Cepat jalan Pak!" perintah Arka setelah masuk dalam taksi, bahkan dirinya belum duduk saat ini.


"Kemana Mas?"


"Kemana saja."


Sopir taksi menggeleng mendengar jawaban penumpangnya. Namun, tanpa banyak bertanya lagi pria itu langsung mengemudikan taksi tanpa tujuan yang jelas.


Arka menoleh ke belakang dan melihat beberapa mobil dan motor mengejar dirinya.


"Yang cepat Pak menyetirnya!"


"Lebih cepat lagi Pak!"


Sopir taksi mengikuti apa yang diperintahkan Arka.

__ADS_1


Satu jam berlalu sopir taksi jenuh menuruti keinginan Arka yang memintanya belok kiri, belok kanan, masuk ke jalan yang satu keluar di jalan yang lain begitu seterusnya.


"Sebenernya Mas nya mau kemana sih?"


"Bapak cukup ikuti terus perintah saya."


"Malas Mas, Mas nya kira saya pembalap apa? Kalau saya pembalap nggak bakal nyopir taksi paling sekarang sudah berada di arena balap bersama Mark Marques."


Rasanya Arka ingin melempar pria itu ke jalanan dan merebut setir, tapi dirinya masih waras.


"Saya ini memang bekerja pada orang, tetapi keselamatan juga penting." Meskipun berkata seperti itu sopir taksi masih melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Saya terpaksa meminta bapak melajukan mobil dengan kencang karena saya dikejar penjahat Pak di belakang." Arka menunjuk mobil-mobil dan motor yang sedang mengikuti dirinya.


"Jadi mereka dari tadi mengejar kita? Kenapa saya tidak sadar ya?" Pak sopir menggaruk kepala dengan jari telunjuknya.


"Itu karena Pak sopir terlalu serius menyetir tanpa memikirkan apapun yang ada di sekitar. Tolong Pak bantu saya agar mereka tidak bisa menangkapku. Bapak lihat sendiri kan itu preman-preman yang menggunakan motor badannya kekar semua, bisa mati saya di tangan mereka."


"Mengapa tidak mengatakan dari tadi sih? Kalau tahu begitu tadi saya masuk ke area kantor polisi."


"Ah jangan, jangan Pak, jangan melibatkan polisi!"


"Loh kenapa?" Sopir taksi heran bukankah cara paling ampuh adalah melapor pada polisi agar para penjahat tidak melanjutkan rencana jahatnya.


"Bisa saja mereka berkilah bahwa mereka tidak akan melakukan aksi kejahatan dan kita tidak punya bukti untuk melapor kepada polisi."


"Iya juga ya."


Pak sopir tidak berbicara lagi, pria itu terlihat fokus pada setirnya agar jangan sampai orang-orang di belakang bisa mengejar mobil yang dikendarainya.


Hingga beberapa saat kemudian mobil taksi yang ditumpangi Arka di kepung di segala arah.


"Bagaimana ini Mas, mobil ini sudah tidak bisa bergerak." Sopir taksi terlihat khawatir.


Arka mengeluarkan dompet dan membayar ongkos taksi. Pelan-pelan Arka turun dan menelusup diantara penjahat yang turun dari mobil dan motornya lalu berjalan ke arah taksi. Mereka lengah karena sudah merasa menang. Arka langsung berlari dan saat tangan mereka hendak menangkap, Arka begitu gesit menggerakkan tubuhnya hingga terbebas dari cengkeraman mereka.


Arka lalu berlari sekuat tenaga dan menjauh dari jalanan tadi. Semua orang yang mengejar pun kembali kepada kendaraan masing-masing.


Terlalu lama menghidupkan mesin mobil dan motornya membuat mereka kehilangan jejak Arka. Entahlah mereka yang bodoh ataukah Arka yang memang masih memiliki nasib baik.

__ADS_1


Kita berpencar dan apapun caranya harus menangkap pria itu!"


Bersambung.


__ADS_2