
Gala melirik sang papa yang terlihat pulas di sampingnya. Rasanya bahagia sekali bisa melihat papanya bisa tidur seperti itu. Biasanya setiap tidur Tama pasti sering terbangun dan selalu mengigau.
Gala mengalihkan pandangannya ke depan, pada Mentari yang masih menatap jalanan. Pria itu tersenyum karena melihat wajah Mentari yang begitu manis diterpa cahaya bulan. Sungguh Gala benar-benar menyukai wanita itu. Andai saja dia bukan istri dari adiknya, andai Mentari masih single. Gala tidak akan berpikir panjang lagi. Dia pasti akan langsung melamar wanita ini.
Apalagi kedatangan Mentari membawa aura positif bagi sang papa. Merubah sang papa yang biasanya diam mulai mau berbicara lagi meski tidak banyak. Bagi Gala itu adalah kemajuan yang luar biasa.
"Argh, mengapa aku masih seperti ini? Mengapa aku seolah masih mengharapkan dia jadi pendamping hidupku?"
Gala membuang nafas kasar.
"Aku tidak mungkin jadi pebinor. Apalagi dia istri adik sepupuku sendiri. Apa kata paman nanti? Ah, Gala singkirkan rasa sayangmu yang berlebihan ini kepada Mentari." Gala masih bermonolog dalam hati.
"Bapak belum tidur?" tanya Mentari karena saat menoleh ke belakang untuk melihat Tama dia malah melihat Gala belum memejamkan mata dan seperti memikirkan sesuatu.
"Ah tidak, aku tidak bisa terlelap."
"Memikirkan sesuatu?" tebak Mentari.
"Ah tidak juga, cuma tidak bisa tidur saja. Entah kenapa, atau mungkin karena memang tidak biasa tidur terlalu awal," bohong Gala padahal dalam hati berucap. "Karena memikirkanmu."
"Cobalah Pak pejamkan mata barangkali nanti bisa tertidur sendiri. Bapak juga harus menjaga kesehatan. Bapak juga butuh istirahat. Nanti Om Tama sembuh, tetapi malah bapak yang sakit."
Ah, ayolah Mentari jangan membuatku baper dengan perhatianmu ini.
Gala menyandarkan bahunya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Beberapa saat kemudian akhirnya dia berhasil tidur menyusul si bibi di depannya yang sudah terlebih dahulu pulas.
"Ini jalannya ke mana ya Non? Ambil jalan ke kanan apa ke kiri?"
"Yang kanan Pak," jawab Mentari.
"Baik Non. Kira-kira berapa kilo lagi ini Non?"
"Mungkin 3 kiloan lebih baru sampai di rumah sakit Pak."
"Oke Non, maaf ya bapak banyak tanya sebab bapak tidak tahu jalanan di sini."
"Tidak apa-apa Pak santai saja mah kalau sama Mentari."
"Iya Non."
Mentari bersandar di sofa. Memejamkan mata sekilas lalu menghembuskan nafas.
"Uhuk-uhuk." Terlihat Tama terbatuk-batuk karena tersedak air ludahnya sendiri akibat ngorok sedari tadi. Tama terlihat memegang tenggorokannya.
Buru-buru Mentari menuangkan air panas dari dalam termos kemudahan dicampur dengan air mineral.
"Minum dulu Om." Mentari mengulurkan gelas yang berisi air hangat itu kepada Tama.
"Terima kasih." Tama langsung meneguk air minum. Rasanya begitu lega.
"Tidur lagi Om, perjalanan masih tinggal beberapa jam lagi," saran Mentari. Padahal bisa saja hanya beberapa menit saja sampai kalau tidak ada halangan di jalan.
"Tidak putriku kalau sudah terbangun seperti ini aku tidak akan bisa tidur lagi semalaman," tolak Tama.
Mentari menelan ludah. Masih saja pria ini menganggap dirinya adalah putrinya yang hilang.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara karena si bibi dan Gala masih tertidur pulas. Hanya ada Tama, Mentari dan pak sopir yang tidak tidur.
Tama selalu melihat Mentari ke arah Mentari membuat wanita itu sedikit tidak nyaman. Ingin mengalihkan perhatian Tama, tetapi Mentari tidak tahu harus berbicara apa.
Mobil terus melaju melewati pinggiran sebuah hutan. Sebenarnya rumah Mentari tidak terlalu jauh dari tempat ini. Namun, mereka tidak akan pulang ke rumah Mentari melainkan ke rumah sakit yang jaraknya masih lumayan jauh.
"Berapa kilo lagi kira-kira Non?"
"Paling 1 kiloan lebih lagi Pak. Sebentar lagi kita sampai."
"Oke." Pak sopir kembali fokus menatap jalanan.
__ADS_1
"Ini, tempat ini? Sepertinya aku mengingat sesuatu," tunjuk Tama pada hutan yang mereka lewati. Keringat mulai bercucuran dari tubuh Tama. Sepulang dari tempat inilah istrinya langsung sakit-sakitan.
"Ada apa Om?" tanya Mentari khawatir melihat perubahan raut wajah Tama. Pria itu tampak seperti orang yang melihat sesuatu yang buruk di hadapannya.
"Om Tama melihat apa?"
"Tidak! Tidak! Ini semua tidak benar."
"Om!" seru Mentari melihat Tama seperti orang yang menggigil.
"Dia masih hidup. Dia masih hidup. Putriku masih hidup. Harimau itu hanya bercanda, kan? Dia tidak menyantap putriku, kan?"
Seketika Mentari langsung ingat dengan cerita Gala. Dia menarik kesimpulan di tempat inilah Tama menemukan jejak sang putri. Namun, hanya jejaknya saja karena putrinya sudah tiada.
"Tidak yang kulihat bukan kenyataannya. Aku yakin putriku masih hidup. Kalau tidak mana mungkin Rosa selalu datang dalam mimpiku dan menitipkan dia. Dia putri kecilku, Cahaya." Tama semakin menggigil dengan air mata yang membanjiri tubuh, menyatu dengan peluh.
Mentari melihat ke samping dan ke belakang ternyata Gala dan si bibi masih terlelap. Sama sekali tidak mendengar suara Tama dan tubuh pria itu yang nampak gelisah.
Mentari berdiri, menidurkan sofa yang didudukinya lalu berjalan ke belakang untuk memberikan semangat kepada Tama.
"Om sadar Om."
"Putriku masih hidup, kan?" tanya pria itu yang sekarang sama sekali tidak mau melihat ke arah manapun. Tama memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya itu.
"Iya putri Om Tama pasti masih hidup." Mentari yang tidak tahu cara menenangkan pria itu bicara sekenanya.
Mendengar suara Mentari Tama membuka mata dan langsung menatap wajah Mentari. "Wajahmu seperti Rosa aku yakin kau putriku."
Siapa lagi Rosa? Ah, belum masuk ke dalam keluarga Pak Gala aku sudah pusing bagaimana kalau nanti aku merawatnya?
Mentari mencoba tersenyum dalam kerisauan hati.
Tama langsung memeluk tubuh Mentari kembali. Mentari diam tidak menolak, dalam hati berharap pelukan ini bisa sedikit membuat Tama bisa tenang kembali.
"Panggi aku Papa jangan panggil Om lagi!"
Mentari terbelalak kaget.
"Bagaimana? Bisa, bukan?"
"Emm," Mentari tampak berpikir.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Gala terbangun dari tidurnya.
"Aku ingin dia memanggilku papa," jawab Tama dengan nada suara merengek seperti anak kecil saja.
"Apa lagi ini?" batin Gala.
"Aku yakin dia itu putriku yang hilang," jawab Tama seenaknya berbicara tanpa memikirkan Mentari yang terlihat kebingungan.
Apa salahnya sih membuat Om Tama senang, cuma memanggil papa saja," batin Mentari kemudian.
"Pa kita sudah sampai," ucap Mentari dan langsung membuka pintu mobil karena ternyata mobil tersebut telah berada dalam area parkiran rumah sakit.
Tama tersenyum mendengar Mentari memangilnya papa.
"Haruskah dia menjadi adik angkatku?" tanya Gala pada diri sendiri. Ia mengacak rambutnya karena tidak mengerti dengan jalan pikiran sang papa.
"Mentari tunggu!" teriak Gala karena Mentari langsung berlari memasuki lobby rumah sakit.
Gala dan Tama pun menyusul Mentari sedang sopir dan bibi, Gala menyuruhnya agar pergi keluar sebentar untuk membelikan buah buat adik Mentari. Tidak mungkin kan dia datang hanya dengan tangan kosong.
"Mentari!" panggil Gala saat wanita itu masih mengobrol dengan resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Pandu.
"Pak Gala ikut masuk?" tanya Mentari heran. Dia pikir mereka semua hanya ingin mengantar saja. Setelah dirinya sampai mereka semua akan berbalik dan pulang ke rumah atau mungkin menginap di tempat lain.
"Kakak?" Pandu terlihat bersemangat melihat Mentari datang. Anak itu tampak menggeser tubuhnya kemudian hendak bangun. Namun, ditahan oleh Mentari.
__ADS_1
"Berbaringlah Dek tidak usah bangun dulu." Mentari menyentuh dahi Pandu. "Masih sangat panas."
Pandu mengurungkan niatnya untuk bangkit.
Kenapa sampai kejang-kejang Bu?" tanya Mentari pada Warni, ibunya.
"Apa tidak ibu kasih obat? Apa dia tidak diperiksa Bu?"
"Sudah Nak, dia sudah ibu bawa ke dokter, tetapi dia tidak mau meminum obatnya. Jangankan minum obat makan aja dia tidak mau. Dia hanya terus saja menyebut namamu dalam tidur dan demamnya."
"Jangan manja kamu Dek, kasihan ibu. Jangan bikin dia susah lagi."
"Iya Kak maafkan Pandu. Pandu tidak bermaksud menyusahkan ibu. Jujur Pandu memang sangat rindu pada Kak Mentari cuma kalau demamnya ini memang kebetulan Kak. Kakak sih selama menikah tidak pernah pulang lagi ke rumah. Wajar kan kalau Pandu rindu berat," protes Pandu.
"Maafkan Kakak ya Pandu kakak selama ini sibuk jadi tidak ada waktu untuk datang kemari," bohong Mentari padahal dia sudah berulang kali mengajak Bintang untuk mengunjungi keluarganya, tetapi Bintang selalu berjanji nanti, nanti, dan nanti.
"Kalau jadi istri orang kaya jadi sibuk ya Kakak. Kak Mentari memang ngerjain apa sih? Apa ngitung uang setiap hari ya mengingat Mas Bintang kaya raya."
"Ada-ada saja sih kamu Pandu. Nggaklah kakak kerja yang lain."
"Kerja apa Kak?"
"Sudah ah rahasia."
"Cih mulai main rahasia-rahasiaan nih Kakak." Pandu nampak cemberut.
"Nanti Kakak akan cerita kalau kamu sudah sembuh. Makanya harus semangat untuk sembuh."
"Benar ya Kak?"
"Iya."
"Kakak janji?"
"Iya, suer deh kakak beneran janji. Nanti kalau Pandu sehat kembali, kakak akan menceritakan semuanya sekaligus membawamu jalan-jalan di kota."
"Permisi!" Gala dan Tama yang menahan diri di depan pintu dari tadi akhirnya masuk ke dalam setelah satu keranjang buah sudah ada di tangan. Gerak cepat juga si bibi mencari toko untuk membeli oleh-oleh padahal hari kan sudah larut malam.
Terlihat Gala memegang sekeranjang buah dan Tama menenteng bingkisan berjalan ke arah Pandu.
"Siapa Kak, kok bukan Mas Bintang sama Tuan Winata yang ke sini?"
"Mereka berdua sibuk, jadi Pak Gala dan Om Tama yang mewakilkan mereka berdua untuk mengantar kakak."
"Oh gitu ya Kak."
"Memang mereka siapa?"
"Sepupu sama pamannya Mas Bintang."
"Oh."
"Selamat malam!" sapa Gala lagi.
"Malam juga Pak," sahut Pandu.
Warni terlihat mengerenyitkan dahi mengingat seperti ia pernah melihat pria di hadapannya kini.
"Siapa dia mengapa aku seolah pernah melihatnya. Apakah pria ini pernah datang ke pesta pernikahan Mentari dan Bintang sehingga aku seolah tidak asing melihat wajah pria ini." Warni terus berusaha mengingat.
"Tidak mereka tidak hadir. Terus dimana ya aku pernah melihat wajahnya?" Warni masih bertanya-tanya dalam hati.
Warni berpikir lebih keras lagi agar bisa mengingat. Setelah ingat dia langsung menutup mulutnya.
"Pria itu kan orang yang berkeliaran di hutan waktu itu. Aku harus berhati-hati. Jangan sampai nyawa Mentari terancam apabila pria ini tahu semuanya," batin Warni sambil memandang Tama tak berkedip.
"Bu! Ibu!" panggil Mentari.
__ADS_1
"Iya Nak kamu bilang apa tadi?"
Bersambung....