
Rasain kamu," ujar Gala tersenyum dalam hati.
"Benar kamu Sarah, sudah hamil?" Pak Herman pun ikut syok mendengar informasi dari Gala. Bukankah dalam biodata gadis tersebut dinyatakan bahwa Sarah masih belum menikah.
"Hmm, ti-"
"Iya Pak Herman, tidak percayaan amat sih sama saya. Memang kapan saya pernah berbohong dengan Pak Herman?" potong Gala akan jawaban Sarah.
Sarah terlihat menggeleng, entah kenapa lidahnya seolah kelu untuk membantah perkataan Gala ini.
"Bukan begitu Pak Gala sebab yang saya tahu Sarah itu single dan belum pernah menikah, bagaimana dia bisa hamil?"
"Hah Pak Herman kurang update informasi remaja zaman sekarang. Zaman sekarang itu banyak anak-anak muda yang bebas bergaul sehingga sampai kebablasan dan hamil diluar nikah."
Sarah sampai menganga mendengar penjelasan Gala ini. pria itu benar-benar membuatnya geram.
"Masa sih saya lihat Sarah itu wanita baik-baik kok," ucap Pak Herman tak percaya.
"Pak Herman kalau menilai orang itu jangan dari covernya saja, tapi lihat hatinya."
Kiki yang sedari tadi mendengar perkataan ngawur Gala hanya bisa diam membisu. Dia pun tidak tahu apa yang dikatakan Gala itu benar tidaknya.
"Sarah kalau kamu benar-benar hamil maka kamu harus segera meminta pertanggung jawaban kepada pria yang telah berani menghamilimu itu. Jangan sampai anakmu lahir tanpa ayah," nasehat Pak Herman.
Gala mengerlingkan mata ke arah Sarah sebagai pertanda dirinya telah berhasil mengerjai dan mempermalukan gadis itu.
__ADS_1
"Sayangnya pria itu tidak mau bertanggung jawab Pak," ucap Sarah memelas membuat Gala langsung terkekeh sebab bukannya membantah, Sarah malah masuk ke dalam permainannya. Yaitu mengerjai gadis itu agar malu dan meminta keluar sendiri dari perusahaannya. Lama-lama berada dalam satu kantor dengan gadis itu membuat atmosfer lingkungan kantornya menjadi tidak nyaman dan gerah bagi Gala.
"Kamu harus paksa dia agar mau bertanggung jawab Sarah. Bagaimanapun anakmu itu pasti butuh sosok seorang ayah," ujar Pak Herman lagi.
"Iya Pak tapi sayangnya dia tetap tidak mau," ujar Sarah sambil menunduk.
"Katakan siapa pria itu biar saya yang akan memberikan pelajaran!"
"Pak Herman yakin?" Gadis itu meragukan Pak Herman. Mata Sarah tampak berkaca-kaca sehingga menimbulkan perasaan iba bagi siapa saja yang melihatnya.
"Yakin, lah serahkan semuanya pada Bapak. Bapak tidak terima dengan pria yang lepas tangan begitu saja dan pengecut seperti itu apalagi bapak juga seorang ayah dari dua anak perempuan yang juga sudah menginjak usia remaja."
"Baiklah tapi bapak jangan syok ya kalau tahu siapa ayah dari anak dalam kandunganku ini." Sarah terlihat mengusap-usapnya perutnya sedangkan Kiki dan Gala mengernyit. Dalam hati bertanya-tanya apakah Sarah benar-benar hamil padahal Gala tadi hanya bercanda saja.
Dia hamil anak siapa? ~ Gala.
Ih wanita murahan. Jilbab aja dipanjangin otaknya nggak ada. ~Diandra.
"Katakan siapa Sarah!" perintah Pak Herman.
"Dia!" Sarah menunjuk pria yang berdiri di hadapannya.
Pak Herman benar-benar syok. "Pak Kiki?" tanyanya dan Kiki semakin membeku seperti orang yang terkena hipnotis saja sedangkan Gala langsung menatap tak percaya ke arah Kiki.
"Bukan, bukan Pak Kiki, tetapi Pak Gala." Sudah dibuat malu biar orang yang membuat dirinya malu ini, juga kena getahnya.
__ADS_1
Sontak saja semua orang menjadi kaget setengah mati. Bukan hanya Pak Herman dan Kiki. Diandra dan Gala pun menjadi syok.
"Pak Gala menghamili siswa magang?" Ternyata banyak karyawati yang sudah berhamburan masuk ke dalam kantor tadi kembali karena kepo dengan pembicaraan beberapa atasan mereka yang terlibat pembicaraan serius di luar ruangan.
"Ki, tiba-tiba kepalaku mendadak pusing Ki," ucap Gala sambil menekan kepalanya dengan kuat. Matanya tampak berkunang-kunang lalu tubuhnya terjungkal ke belakang.
Untung saja Kiki segera menahan tubuh sang atasan. Kalau tidak tubuh Gala pasti sudah membentur lantai.
"Pak Bangun Pak, malah pingsan lagi!" Kiki menepuk-nepuk pipi Gala. Namun pria itu tidak bereaksi sama sekali.
"Diangkat saja Pak Kiki dan dibawa ke ruangannya biar saya telepon dokter sekarang," usul Diandra.
Kiki pun mengangguk dan langsung mengangkatnya tubuh Gala. Sayangnya pria itu tidak kuat membara tubuh Gala yang kekar itu.
"Pak Herman bantu dong!" pintanya.
"Kenapa kalian berdua jadi lemah sih. Yang satu gampang pingsan dan yang satu nggak kuat cuma gendong satu orang doang," keluh Pak Herman.
"Jangan terlalu banyak protes Pak kalau tidak ingin kami pecat," ancam Kiki.
Mendengar ancaman Kiki Pak Herman tidak berkomentar lagi. Dia langsung membantu Kiki mengangkat tubuh Gala dan membawanya masuk ke dalam ruangan kantor.
"Bapak tahu kenapa saya tidak kuat menggendong tubuh Pak Gala sendirian? Itu karena pinggang saya encok Pak akibat terjatuh tadi," jelas Kiki. Dia tidak mau dipandang sebagai pria yang lemah.
Bersambung.
__ADS_1