
"Tanyakan sendiri pada kakakmu ini memangnya aku ngapain dia. Asal kau tahu saja Mentari ini adik iparku," jelas Gala sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Malas meladeni wanita yang satu ini.
"Beneran Kak?" tanya Sarah sambil menilik wajah Mentari. Dia masih Curiga pada pria itu.
"Benar Sarah."
"Hah, syukurlah kalau begitu. Kalau dia macam-macam sama kakak dia akan mendapatkan ini dariku," ujar Sarah sambil meninju udara.
Gala hanya menggeleng lalu melengos. Gadis ini membuat Gala menjadi ilfil.
Dalam pandangan Gala seharusnya seorang wanita itu memiliki tutur kata yang lemah lembut seperti Mentari. Nah ini nggak masuk akal pakaian berhijab, tetapi sikapnya seperti perempuan urakan.
Ah sudahlah aku tidak perduli.
Gala bangkit dari duduknya. "Maaf Mentari saya akan segera kembali ke kantor. Apa kamu masih mau di sini? Kalau iya nggak apa-apa, ini akan saya kasih kuncinya."
Mendengar kalimat pengusiran secara halus Sarah langsung menarik tangan Mentari untuk keluar.
"Ayo Kak, Sarah sibuk. Misi kita belum selesai."
"Iya Pak saya pamit ya!" Suara Mentari sedikit berteriak karena Sarah telah menariknya menjauh.
"Hati-hati Mentari!" seru Gala.
"Misi? Benar-benar gadis aneh." Gala beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu. Menutup apartemen dan langsung turun ke lantai bawah. Setelah sampai di dalam mobil ia langsung mengemudikan mobilnya kembali ke kantor.
Sementara Mentari dan Sarah menuju unit apartemen Bintang.
"Kamu serius Sarah mereka sudah keluar?"
"Iya Kak mereka sudah pergi. Lagian kenapa sih harus menghindar dari mereka. Kakak kan cuma mau ambil barang-barang Kakak?"
"Aku malas bertemu perempuan itu lagi," ucap Mentari lalu menghembuskan nafas panjang.
"Ya sudah Kak buruan sana masuk biar Sarah yang jaga-jaga di luar saja."
"Baiklah." Mentari masuk ke dalam dan mengambil barang-barangnya. Selain mengepak pakaian dia juga membawa perhiasan-perhiasan pemberian Bintang agar tidak dicuri oleh Katrina. Dia harus berjaga-jaga karena feeling-nya mengatakan keadaan apartemen tidak akan baik-baik saja semenjak Katrina datang.
Tak lama kemudian Mentari keluar dan menghampiri Sarah.
"Sudah?" tanya Sarah.
Mentari mengangguk.
"Sini biar Sarah yang bawa." Sarah membantu menyeret koper Mentari keluar.
"Kita antar ini dulu ke tempat Kakak tinggal sekarang."
Mentari mengangguk dan memberikan alamat Tuan Winata padanya.
"Oke kita langsung ke sana sekarang." Sarah menyetir mobilnya menuju kediaman Tuan Winata.
Mentari turun dari mobil dan menghampiri pak satpam.
"Mama Arumi belum kembali Pak?"
"Belum Non." Pak satpam membukakan pintu pagar.
Bik Jum yang tidak sengaja keluar rumah melihat Mentari jadi berlari mendekat.
"Nona biar saya yang bawakan." Bik Jum meraih koper dari tangan Mentari dan menyeretnya ke dalam.
__ADS_1
"Terima kasih Bik."
Bik Jum mengangguk dan terus melangkah.
"Pakai lift aja ya Bik, Mentari buru-buru."
"Siap Nona."
Mereka pun naik ke lantai tiga dengan menaiki lift.
Tidak butuh waktu lama Mentari pun sudah masuk kamar dan menata pakaian serta menaruh perhiasan di tempat yang sekiranya aman lalu menguncinya.
"Sudah Bik, terima kasih atas bantuannya dan Mentari pamit pergi lagi."
Bik Jum mengangguk dan mengikuti langkah kaki Mentari turun.
Sarah masih menunggunya di mobil sehingga Mentari bisa langsung kembali ke toko.
"Semuanya beres Sarah saya sudah bisa tenang bekerja. Terimakasih ya atas bantuannya."
"Iya Kak sama-sama. Nggak mau mampir ke mana dulu sebelum kembali ke toko?"
"Memang mau mampir ke mana sih Sarah?"
"Ke restoran atau kemana saja yang kamu mau."
"Aku sudah kenyang."
Sarah mengangguk.
"Tapi haus," imbuh Mentari.
"Baiklah kita berhenti di depan sana sebentar."
"Ho'oh." Sarah pun mengemudikan mobilnya memasuki area parkir coffee shop.
"Coffee Latte satu Mas." Sarah memesan minumannya. "Kamu pesan apa Kak?" tanyanya kemudian pada Mentari.
"Ice Caramel Macchiato aja deh. Lagi pengen yang segar-segar nih."
"Oke. Mas, Ice Caramel Macchiato satu juga ya."
"Iya Mbak sebentar."
Sarah mengangguk.
Tak berapa lama pesanan datang. Mereka berdua langsung menyeruput minumannya masing-masing. Sebelum membayar dan pergi tak lupa mereka memesan ice tea untuk Nanik dan Mega beserta camilan kentang untuk dinikmati bersama nanti di toko.
Mereka berdua pun kembali ke to toko.
"Ini Mbak uangnya aku kembalikan, dan ini minuman buat Mbak Nanik dan juga Mega."
"Wah cocok dong, aku lagi haus ini. Kau pengertian sekali Me. Terbaiklah pokoknya."
"Ah biasa aja Mbak Nanik nggak usah lebay," ucap Mentari dan langsung terkekeh.
Nanik pun ikut tertawa dan langsung memberikan minuman yang satunya kepada Mega.
Setelah itu itu mereka semua pun beraktivitas seperti biasa.
"Masih ada pesanan yang belum dibuat Mbak Nanik?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Sudah beres semua kok, Bu Sarah."
"Bagus kalau begitu kamu dan Mega istirahat dulu biar saya dan Kak Mentari yang melayani pelanggan."
Tentu saja Nanik senang. Jarang sekali dia bisa senggang seperti itu. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengajak Mega ke kamar untuk beristirahat sebentar.
"Ah ada gunanya aku bekerja dari dini hari." Nanik merenggangkan tangannya kemudian berbaring. Lumayan bisa menghilangkan penat sebentar.
Siang hari saat waktu jam makan Sarah hendak keluar untuk membeli makanan.
"Beli lauknya aja Bu sebab tadi pagi Mega sudah memasak nasi. Hanya nggak ada lauknya. Tadi pagi kami beli lauk tapi hanya untuk sekali makan, jadi habis," tutur Nanik.
"Iya Mbak." Baru saja hendak pergi ustadz Alzam sudah ada di depan pintu.
"Kakak!" seru Sarah sambil mendekap ustadz Alzam membuat semua orang menoleh padanya.
"Kakak bawa apa?" tanya Sarah kemudian karena melihat kakaknya menenteng bungkusan.
"Makanan. Ibu masak buat kamu, tapi banyak biar sekalian bisa makan bareng sama karyawan kita."
"Wah kebetulan sekali untung Sarah belum pergi. Sarah siapkan dulu ya Kak."
"Iya sana."
Semua orang sudah duduk di meja termasuk ustadz Alzam. Dia memimpin doa sebelum memulai makan bersama.
Mentari yang mendengar suara ustadz Alzam mendongak dan menatap wajah pria itu.
Ya ampun suaranya. Jadi penasaran ingin mendengar dia mengaji.
Mentari terlihat kagum.
Ustadz Alzam yang melihat Mentari menatap dirinya hanya tersenyum lalu menunduk.
"Ya Tuhan dia begitu sempurna," batin Mentari. Tiga kali bertemu kali ini baru sadar bahwa ustadz Alzam begitu tampan. Sikapnya yang ramah dan lembut kepada wanita membuatnya semakin kagum saja.
"Ah aku berdosa telah mengagumi laki-laki lain padahal diriku sudah bersuami."
"Kak Meme!" panggil Sarah.
Mentari langsung gelagapan melihat aksinya yang menatap pada ustadz Alzam dipergoki Sarah.
Mentari meraup wajahnya kasar. "Astaghfirullah hal adzim." Untuk kedua kalinya Mentari beristighfar karena telah mengagumi ustadz Alzam. "Tundukkan pandanganmu Me," batin Mentari.
"Kalau cuma kagum nggak apa-apa Kak, tidak dosa." Sarah terkekeh seolah tahu apa yang dipikirkan Mentari.
"Silahkan dimakan," ucap ustadz Alzam mendengar tidak ada suara orang yang mengambil makanan.
Mereka semua mengangguk dan langsung makan. Berbeda dengan Mega yang baru hari ini melihat ustadz Alzam. Ketika yang lain makan dia malah menopang dagu dan tidak berkedip menatap ke arah ustadz Alzam yang sedang mengunyah makanan.
"Ya Tuhan semoga dia jodohku," batin Mega sambil senyum-senyum tidak jelas.
Nanik mendorong kepala Mega ke depan karena paham apa yang dipikirkan gadis itu.
"Kalau kamu mau jadi istri dia, jadi wanita Sholeh dulu. Pakai hijab pinter ngaji dan rajin shalat tidak boleh bolo ...."
Segera Mega menutup mulut Nanik agar tidak meneruskan ucapannya. Bisa malu dia kalau Nanik membuka aibnya tentang tingkat ketakwaannya yang minim.
"Kalau makan tidak boleh bicara," ucap Mega berkilah.
Bersambung.....
__ADS_1