HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 255. Keinginan Arumi


__ADS_3

"Kenapa kau bertanya seperti ini Nak?" tanya sang mertua langsung.


"Saya merindukan Abi Bu," jawab Mentari dengan ekspresi sendu.


"Sudah hampir satu tahun ini Abi tidak pernah datang walaupun hanya dalam mimpi," terangnya kemudian.


"Terus kau ingin menyusulnya ke alam kematian begitu? Terus Izzam bagaimana? Apakah setelah dia menjadi yatim kau ingin membuatnya menjadi seorang yang piatu juga?" protes ibu mertuanya lagi.


"Maaf Bu, bukan maksudku ingin meninggalkan Izzam, tapi ...."


"Sudahlah tidak perlu diperpanjang, ibu hanya ingin meminta padamu agar bicara yang baik-baik saja sebab ucapan bisa menjadi doa yang terkabulkan."


"Baik Bu," jawab Mentari lalu menunduk. Tiba-tiba dia merasa tidak enak pada mertuanya itu.


"Kita ke bawah yuk Mas, tidak baik meninggalkan para tamu dalam keadaan lama seperti ini," ucap Sarah kemudian agar menghilangkan rasa canggung antara Mentari dan ibunya.


"Nggak apa-apa, tamunya hanya tinggal Kiki sama Diandra. Yang lainnya keluarga kita. Untuk Pak Kiai ada papa yang menemani."


"Tapi aku mau bergabung mumpung Gaffi lagi tertidur, please, ya!" Sarah memaksa.


"Yakin sudah sehat? Entar pingsan lagi. Kupikir tadi pingsan karena melihat Diandra." Gala cekikan.


"Ogah. Oh ya Mas, siapa yang mengundang dia? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia?" tanya Sarah memastikan.


"Mana aku tahu," jawab Gala acuh.


"Apa dia kerja di perusahaan Mas Gala lagi?"


"Tidak, mungkin Kiki yang mengajaknya. Ya sudah ayo kalau mau bergabung bersama yang lainnya!"


Sarah mengangguk dan bangkit berdiri.


"Ayo Kak, katanya Kak Mentari juga mau menyusul bibi Arumi!" ajak Sarah pada Mentari yang masih menunduk.


"Iya, ayo!" Mentari pun ikut mengangkat wajahnya dan bangkit.


"Ibu tidak ikut ke bawah?" tanya Gala.


"Kalian pergilah, ibu mau menjaga Gaffi, takut-takut dia terbangun saat tidak ada orang."


"Baiklah kalau begitu kami bertiga turun ya Bu?"


Mertuanya hanya mengangguk.


Setelah ketiga anak dan menantunya itu keluar kamar, perempuan tua itupun ikut keluar dari kamar Gala dan Sarah kemudian masuk ke kamar Gaffi, cucunya.


"Wah akhirnya kalian turun juga," ujar Arumi melihat Gala, Sarah dan Mentari menuruni tangga.

__ADS_1


"Selamat bergabung dan menikmati hidangannya," ujar Kiki. Pria itu berlagak seperti tuan rumah saja.


"Terima kasih semua ya atas pengertiannya, duduklah Sarah saya mau ke papa dulu, sepertinya pak kiai sudah mau pulang," ujar Gala lalu berjalan ke arah Tama yang masih tampak asyik mengobrol dengan pak kiai.


Ternyata anak-anak yatim dan pengasuh pondok pesantren yang hadir di sana belum pulang juga, tidak seperti dugaan Gala yang menganggap semua tamu sudah pulang semua dan hanya meninggalkan para kerabat dekat saja.


Melihat pak kiai berdiri para lelaki yang tadi duduk-duduk bersama Kiki, kini mengikuti langkah Gala dan ikut bersalaman.


Bersamaan dengan itu pengasuh pondok pesantren dan anak-anak panti beserta pendampingnya pun ikut pamit pulang.


"Sepertinya lebih baik kita ke sana juga Bik, Kak. Tidak enak jika hanya duduk-duduk di sini," ucap Sarah, dan Arumi beserta Mentari mengangguk lalu langsung menyusul para lelaki.


Setelah semuanya berpamitan Sarah dan semuanya kini kembali duduk dan mengobrol di ruang tamu.


"Bagaimana keadaannya Bu Sarah sudah enakan?" tanya Diandra saat Sarah menatap dirinya.


"Alhamdulillah sudah baik. Maaf Diandra, kamu tahu darimana kalau hari ini di rumah kami ada acara? Atau kebetulan lewat jadi sekalian mampir?"


Diandra hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Sarah. Sebelumnya dia sudah tahu bahwa Sarah pasti akan penasaran dengan kedatangan dirinya.


"Oh ya, karena semuanya sudah berkumpul di tempat ini saya ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua," ucapan Arumi mengalihkan perhatian semua orang, yang tadinya menatap Diandra kini beralih menatap pada dirinya.


Sarah dan Gala terlihat mengernyit sedangkan Bintang terlihat penasaran dengan apa yang akan diucapkan Arumi selanjutnya.


"Oh ya perkenalkan ini namanya Diandra, sepertinya Sarah sudah kenal ya?" tanya Arumi memastikan.


"Oh ya, Nak Mentari juga kenal?" Kini Arumi beralih menatap Mentari.


"Tidak Ma," jawab Mentari.


"Tidak kenal? Tidak tahu siapa dia?" tanya Sarah heran.


"Memang dia siapa Sarah?" tanya Mentari membuat Gala dan Sarah juga Kiki kompak menepuk jidat.


"Kalian apaan sih? Mau ikut dance? Atau mau ikutan challenge menepuk jidat?" protes Bintang melihat gerakan ketiganya terlihat kompak.


"Nggak, heran aja sama adik sendiri. Masa nggak tahu dengan mantan sekretaris di perusahaan saya?"


Ternyata bukan hanya Mentari yang kaget, Bintang dan Arumi juga.


"Sekretaris di perusahaanmu?" tanya Bintang tidak percaya.


"Ya," jawab Kiki.


"Dan sekarang dia sekretaris di perusahaan Bintang," sambung Arumi membuat Gala dan Sarah terlihat kaget.


"Jadi Pak Bintang tidak membaca profil dia sebelum menerima Diandra jadi sekretaris?" Kiki bingung dengan Bintang.

__ADS_1


"Atau mungkin Diandra tidak mencantumkan pengalaman kerja di perusahaan kami?" lanjut Kiki.


"Bukan begitu, tapi aku menyerahkan semuanya pada asisten saya. Selama ini sih kinerjanya bagus. Apa ada masalah dengan dia hingga harus keluar dari perusahaan Pradiatama?" tanya Bintang lebih lanjut.


Diandra langsung terlihat tegang.


Gala hendak menjawab, tetapi Sarah yang mendahuluinya.


"Tidak ada, dia keluar karena ingin istirahat sebentar dari dunia kerja, bukan begitu Diandra?"


"Ah iya," jawab Diandra gugup.


"Oh," ucap Bintang.


"Terus apa hubungannya dengan bibi Arumi?" tanya Gala tambah penasaran.


"Begini ... karena Mentari meminta saya agar segera mencarikan Bintang jodoh sebab tidak ingin menganggu dirinya maka Saya kabulkan permintaan Mentari. Jadi–"


Sebelum Arumi menyelesaikan kalimatnya semua orang sudah dapat menebak apa yang ingin dikatakan oleh Arumi termasuk Bintang yang saat ini menatap Arumi tidak percaya.


"Bintang akan dijodohkan dengan Diandra?" Sarah terlihat kaget bahkan Diandra sendiri pun ikut kaget.


"Ya, kau benar Sarah, agar dia tidak menganggu iparmu lagi," jawab Arumi begitu antusias.


"Ma!" protes Bintang.


"Nggak apa-apa Bin, semua sudah mengenal Diandra, bukan? Jadi dia tidak akan canggung lagi jika berbaur dengan keluarga kita."


"Tapi Ma–"


"Jangan menolak! Lihatlah baju yang dipakai Sarah, apakah kau mau ingkar dengan perjanjian kita?"


"Lah apa hubungannya dengan bajuku?" Sarah menatap pakaian yang sekarang dikenakannya.


"Kenapa tidak memakai baju yang dibelikanku Sarah?" tanya Arumi.


"Kekecilan Bik, mungkin karena Sarah baru melahirkan, jadi tubuh Sarah terlihat masih melar meski bayinya sudah keluar. Mungkin suatu hari akan muat setelah Sarah langsing kembali."


"Tuh dengar sendiri Bin, kau kalah dan harus menurut pada mama."


"Tidak bisa Ma, tunggu beberapa bulan lagi dan baju itu pasti muat di tubuh Sarah.


"Sudah terima saja Mas Bintang. Apa yang Mas Bintang cari? Cantik dia cantik pinter apalagi. Kurang apalagi?" ujar Mentari begitu mendukung keinginan Arumi.


"Kau–" Bintang terlihat geram.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2